Gairah Cinta Kedua

Gairah Cinta Kedua
Surprise


__ADS_3

Suasana di lapangan balap yang basah, masih tampak riuh seperti tengah menyaksikan pertandingan yang sangat menegangkan. Posisi Steiner seketika digantikan oleh rider dari team pabrikan lain karena insiden yang dialaminya.


Bergegas team marshal membawa tubuh Steiner kepinggir, untuk menghindari tabrakan beruntun dari pihak yang tengah fokus menyelesaikan race hingga finish.


Sementara di sudut lain, terlihat kepanikan Adrian dan Stela saat mereka dihadang oleh team penyelenggara seperti seorang maling yang tertangkap basah.


Stela menatap memohon seraya berkata kearah Petter selaku asisten Steiner, "Jangan biarkan mereka menghabisi Bang Adrian, Pett.... aku mohon. Biarkan dia pergi, dan aku akan ikut dengan kalian!"


Bayangan Stela terhadap keselamatan Adrian yang mengancam karena mengetahui kegilaan Stefan dan Stevie, sedikit membuat pikirannya semakin ketakutan.


Petter menarik lengan Stela, membuat Adrian tidak mampu menahan. Wajahnya tampak tenang walau didalam hati ada kekhawatiran, "Ini gila.... jika aku tetap membawa Stela meninggalkan tempat ini, aku akan dihabisi oleh mereka. Lebih baik aku segera meninggalkan tempat ini, sebelum aku mati ditangan mereka!" bisiknya.


Adrian menyesiasati situasi untuk segera melarikan diri, matanya tertuju pada Stefan yang tengah berlari kencang mendekati mereka, sontak membuat dia ketar-ketir agar segera meninggalkan area lapangan.


Senjata api yang sudah dipersiapkan Stefan sejak awal, dengan sangat cepat dia keluarkan dari balik baju, sebelum dirinya kehilangan jejak laki-laki brengsek yang akan membawa adik kembarnya Stela untuk berpisah dari mereka.


Saat Stefan tengah menodongkan senjatanya didepan pintu masuk gerbang utama lapangan, saat itu pula matanya menatap wanita gendut dan pria tegap paruh baya, yang berada di hadapannya dengan pengawalan ketat bak seorang selebritis.


"Papa.... Mama... surprise...!!" gumam Stefan dalam hati.  


Stela yang tengah di pegang kuat oleh Petter sontak terkejut melihat kehadiran sosok kedua orang tuanya yang ada di hadapannya, "Mama... Papa...!!"


Tentu ini merupakan satu kejutan luar biasa bagi mereka sekeluarga karena tidak merencanakan apapun untuk bertemu dengan ke-empat saudara kembar disana.


Stela yang mereka ketahui tenga berada di Shanghai kini berada di Sachsenring. Tentu ini menjadi pertanyaan besar di kepala Leonal yang menatap lekat kearah Adrian.


Mereka semua saling menatap, ada pertanyaan saat melihat senjata Stefan yang masih berada ditangan.

__ADS_1


Bergegas Stefan menyembunyikan senjata api yang dia miliki, menghampiri Leo dan Paras dengan menundukkan kepalanya.


Mengapa semua seperti telah terencana dengan baik? Apakah semua ini ada skenario yang tengah dipermainkan oleh Kennedy dan Adrian? Pertanyaan-pertanyaan itu seketika menari-nari dalam benak Stefan.


Saat semua tengah sibuk dengan pikiran mereka, terdengar suara ambulance dari arah belakang, melihat team management berada disana.


Terlihat Stevie sudah berada di atasnya tanpa mengetahui keberadaan kedua orang tuanya disana.


"Siapa yang kecelakaan?" tanya Stefan.


Salah satu team marshal menyampaikan dengan suara pelan, "Rider Steiner, sepertinya kembali patah tulang, hanya saja dia tidak sadarkan diri."


Mendengar penuturan dari team informasi marshal sontak membuat keluarga Leonal yang berada disana terlonjak kaget dan panik.


Bagaimana mungkin mereka tidak mengetahui keadaan saudara kembarnya.


Tanpa pikir panjang, mereka bergegas meninggalkan lapangan balap, tanpa menghiraukan Adrian yang masih tampak tegang saat menoleh kearah Stela. Wajah blesteran Batak Netherland itu sedikit memelas mengharapkan belas kasih untuk dikasihani sebagai seorang kekasih bayangan.


Stela masih memikirkan nasib hubungan percintaannya dengan Adrian, bagaimana jika Stefan menyampaikan semua ini pada Mama dan Papa? Apa yang harus dia katakan jika orang tuanya menanyakan tentang keberadaan Will? Kepalanya berkecamuk seketika.


Berbeda dengan Stefan, dia hanya memikirkan bagaimana keadaan Steiner. Apa yang menyebabkan saudara kembarnya insiden tersebut?


Mereka tiba disalah satu rumah sakit yang terletak sangat jauh dari area balap, yang merupakan salah satu rumah sakit pihak manajemen agar mendapatkan tindakan segera.


Pihak rumah sakit bergerak cepat menghampiri ambulans yang membawa pembalap team pabrikan segera untuk melakukan tindakan diruang gawat darurat.


Sementara Stevie tampak terkejut saat melihat kehadiran orang tuanya bersama Stela. Wajah dia seketika berubah memerah saat beradu tatap dengan Leonal.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan putra ku!" ucap Leo pada salah satu team management yang berdiri disamping Stevie.


Mereka hanya menjawab, "Kita tunggu dokter saja, Tuan."


Stevie mencoba mengalihkan pandangannya, karena tidak suka melihat kehadiran sang Papa diantara mereka. Ini merupakan hal yang paling memuakkan bagi kedua putra kembar Leonal, Stevie dan Stefan.


Wajah Leo sangat tidak menyukai saat beradu tatap dengan sang putra kembarnya. Dia bahkan enggan untuk menyapa, karena perbedaan dalam memilih bisnis dan saat ini dia hanya mendengar dari pihak lain tentang putranya, tanpa mau mendengar penjelasan dari Stefan dan Stevie untuk membela diri.


Stefan tiba di rumah sakit, hanya melihat pemandangan yang sangat mengganjal di hatinya, "Ck..... kenapa mereka ada disini? Aku masih malas untuk berdebat dengan Papa," geramnya.


Stefan menghampiri Stevie, sedikit berbisik menyampaikan agar segera meninggalkan keluarganya, tanpa mau menyapa lebih dulu pada kedua orang tuanya. Wajah kaku dan dingin seketika menjadi dilema bagi Paras yang berdiri dihadapan mereka.


Paras memeluk Stefan yang tampak sangat gagah dan tampan. Begitu pula Stevie, wajah mereka yang mirip membuat sang Mama memeluk erat kedua putra kesayangan dihadapan suaminya.


"Apa kabar kalian?" tanya Paras lembut, saat melepas pelukannya.


Stefan mencium kedua pipi Paras, terakhir mengecup kening sang Mama, "Aku baik, dan semakin tampan. Mungkin setelah bertemu dengan Steiner aku akan kembali ke Italia. Aku sangat merindukanmu, Ma!"


Ucapan Stefan membuat kedua rahang Leonal menggeram. Bagaimana mungkin putranya tidak menginginkan kehadiran mereka. Malah ingin meninggalkan Jerman segera dan kembali ke Italia.


Leo bergumam dalam hati, "Dia pikir dia siapa? Hingga menyalami ku pun dia tidak mau! Dasar kedua anak durhaka. Mereka pikir aku kesini untuk bertemu mereka? Aku hanya ingin melihat putra ku yang sedang bertanding. Bukan untuk bertemu mereka!"


Paras, sama sekali tidak memperdulikan apapun tentang Leonal. Baginya bertemu dengan ke-empat anaknya saat ini merupakan obat dari segala obat atas kerinduan yang selama ini dia pendam jauh dari lubuk hatinya.


Perlahan Paras mendekati Stel putrinya, "Bagaimana kabar mu sayang? Mana Will? Apakah dia tidak datang bersama mu? Oya, tadi Mama melihat komandan mu. Apakah kalian kesini bersama-sama?"


Stela mematung kaku, menatap bergantian kedua saudara kembarnya, "Bagaimana ini? Apa yang aku pikirkan sejak tadi, ternyata kejadian. Aaaagh....!!!" bisiknya dalam hati.

__ADS_1


Wajah Stela seketika tampak bingung, bahkan semakin salah tingkah. Jantungnya berdegup kencang, takut pertanyaan yang sama keluar dari bibir sang Papa.


"Aaaagh..... Damn it....!!!"


__ADS_2