
Cuaca sangat semakin sejuk, saat mobil terhenti di parkiran mansion mewah milik Fredy. Wajah tampan nya masih terlihat karena perawakan sebagai seorang dokter spesialis kandungan yang terkenal di Napoli.
Perjalanan panjang mereka berdua, memberikan kenyamanan bagi Stela, karena sejak awal Will memang memiliki perasaan cinta hingga memutuskan untuk menikah. Namun keduanya harus terpisah karena keadaan.
Fredy membuka pintu utama, melihat kehadiran putra kesayangannya, membawa seorang wanita.
Will memeluk erat tubuh tegap sang Daddy, "Hai Pa! Kenalkan, ini mantan istri ku, Stela."
Fredy menatap lekat wajah Stela, mencoba mengingat wajah gadis yang berdiri di hadapannya.
"Stela?" tanya Fredy mencoba mengingat nama itu.
Will mengangguk, merasa sungkan karena sejak Lauren dan Fredy berpisah, tidak pernah ada komunikasi yang berarti antara mereka. Ditambah dengan kegiatannya yang cukup banyak, dalam menjalani bisnis haramnya bersama Stefan.
"Daddy, Stela ini kembaran Stefan dan Stevie! Apa Daddy mengingat bayi kembar empat Papa Leo dan Mama Paras?"
Fredy ternganga, bola matanya membulat, menatap lekat Will yang masih tersenyum di hadapannya tanpa perasaan berdosa pada sang Papa.
Fredy bertanya sambil merapatkan giginya, "Apa kamu bilang? Mantan istri? Dan dia anak kembar Leo dan Paras?"
PLAAAAK ...!
Fredy menampar pipi Will, karena dia tidak tahu tengah berhadapan dengan keluarga siapa.
"Aaagh Pa!" usap Will meringis menahan rasa panas dari tangan Papa tercinta.
"Are you crazy!?" tegas Fredy menoleh kearah Stela yang berlindung di belakang Will.
Stela tampak gugup. Merasa kehadirannya memperkeruh suasana dalam keluarga Will.
Sejak perselingkuhan nya dengan Adrian Martadinata, yang telah di ketahui oleh keluarga mereka, kehidupan Stela semakin terancam. Apalagi kehadiran nya yang tidak di inginkan oleh Fredy.
__ADS_1
Will memohon pada Fredy, "Please Pa, biarkan aku masuk ke rumah. Aku sangat lelah, kita bahas besok! Biarkan aku istirahat!"
Will berlalu menarik tangan Stela, masuk ke dalam yang tidak begitu besar, namun sangat nyaman.
Fredy mendengus kesal, karena merasakan ada yang tidak beres pada diri putranya.
"Will, Stela hanya bisa tidur di kamar mu! Karena kamar yang satu, sudah Papa jadikan gudang!" teriaknya.
Will mengacungkan jempolnya, menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Fredy hanya bisa mempersiapkan makan malam untuk putra kesayangan, sebelum berangkat ke klinik pribadinya. Dalam hatinya berpikir, "Apakah benar Will menikahi anak pengusaha Leo? Sementara aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka ... Apa-apaan ini? Kenapa Will tidak bicara padaku? Dan kenapa mereka bercerai ...?"
Fredy melirik kearah tangga, melihat Stela yang baru selesai membersihkan diri, menuruni anak tangga.
Stela menghampiri Fredy, menyalami pria yang sangat dia hormati. Dia memeluk tubuh yang masih terlihat kekar itu.
"Apakah Papa masih mengingat aku?" tanyanya.
"Papa Leo dan Mama Paras, sahabat Papa. Kala itu Papa yang membantu dalam proses kelahiran kalian. Tentu saja Papa masih mengingat putri satu-satunya dari empat anak kembar yang semuanya selamat," senyumnya.
Stela membulatkan bibir mungilnya, melihat-lihat seisi rumah yang tampak tenang dan sangat berbeda dari apartemen Steiner di Jerman.
"Pa, kenapa kalian berpisah dari Aunty Lauren? Bukankah setahu ku, kalian di nikahkan atas dasar perjodohan?"
Fredy hanya tersenyum tipis, menoleh kepada Stela, "Kami terlalu sibuk, dan berpisah dalam waktu lama. Jadi dia lebih memilih pria muda itu daripada Papa."
Stela menghela nafasnya dalam, dia memejamkan mata, merasa sakit jika mengingat kebodohannya yang jatuh cinta pada seorang Adrian, "Aaagh, ternyata dia selalu merusak rumah tangga orang lain. Pantas saja dia tidak ingin menyakiti Lauren atas dasar kasihan, dan aku yakin rasa cinta yang dia miliki hanya untuk mengejar wanita kaya itu ..."
"Oooogh ya Pa. Apakah Papa tahu siapa Adrian Martadinata memiliki marga?" tanya Stela ingin tahu.
Fredy mengangguk. Dia kembali menatap Stela yang bersandar di meja dapur.
__ADS_1
"Kenapa? Apakah kamu mengenal nya?"
"Uhuug-uhuug-uhuug ..." Stela tersedak, saat mendengarkan pertanyaan Fredy.
'Bagaimana aku harus jujur pada Papa Fredy? Jika aku jujur pasti akan berdampak pada Papa Fredy juga Will. Lebih baik aku simpan saja rahasia ini ...'
Fredy memutar kran air di wastafel menampung dengan gelas putih, memberikan pada Stela.
Stela meneguk air pemberian Fredy, mengusap matanya yang berair.
Akan tetapi, Fredy sedikit menunduk agar dapat menatap lekat mata putri kesayangan Keluarga Leonal.
"Stel, apa kamu mengenalnya? Karena beberapa waktu lalu, Mama kamu menghubungi Papa. Hanya saja Papa tidak yakin dengan yang di bicarakan Paras. Apa benar kamu ada hubungan cinta terlarang sama Adrian? Bagaimana dengan Will? Apakah pria itu mengetahui kamu ke Napoli bersama Will? Jika dia mengetahui, Papa yakin dia akan mengejar kamu sampai Napoli," tanya nya santai seraya menjelaskan.
Stela mengalihkan pandangannya, menatap ke langit-langit atas, dengan mata berkaca-kaca.
"Aku jatuh cinta padanya, Pa!" tunduknya menangis.
Kali ini dia benar-benar hancur bahkan karirnya terancam kandas hanya untuk seorang Adrian Martadinata Panjaitan.
Fredy menepuk pundak Stela, "Hmm bukan cinta yang salah. Tapi kamu yang terlalu baik untuk menyelesaikan semua permasalahan mu. Pergilah ke Swiss. Kalian sudah lama tidak bertemu Pedro, kan? Aku yakin, cinta kamu untuk Adrian hanya sesaat ..."
Stela menggelengkan kepalanya, menolak karena Fredy mengatakan bahwa cintanya salah untuk Adrian, "Tidak Pa, Adrian mau meninggalkan Lauren untuk aku! Dia akan menjemput ku kesini!"
Sontak saja, ucapan Stela membuat Fredy terkejut. Bagaimana bisa seorang gadis muda jatuh hati pada Adrian, "Tapi kenapa Stel? Bukankah kamu telah menikah dengan, Will? Apakah dia penyebab retaknya hubungan mu dan Will?"
Stela menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Wajah cantik itu memerah seketika. Iya menangis, menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Fredy.
"Tenang sayang, Papa akan membantu mu jika dia datang ke sini. Kamu tahu bagaimana keluarga kamu sangat menyayangi mu? Dan tidak ingin melihat hidup mu hancur seperti ini?" Fredy menghela nafas panjang, kepalanya sedikit pusing, "Ternyata kau dendam pada Lauren sehingga menyakiti putra ku, Adrian ...! Aku yakin, kau akan menyesali semua perbuatan mu pada anak ku! Laki-laki brengsek ...!" geramnya.
Fredy merenggangkan pelukannya, memberi ruang pada Stela agar tetap tenang dan kuat, "Mungkin minggu depan Papa Leo dan Mama mu, akan tiba di sini. Aku yakin mereka ingin yang terbaik untuk mu, Stela! Lupakan Adrian, kembalilah ke pelukan, Will. Dia anak ku yang paling baik, kamu tidak akan menyesal telah menikah dengannya. Kamu harus ingat, bahwa Adrian merupakan Keluarga Silutak! Pria yang berusaha merebut Mama mu dari tangan Papa Leo, hingga menyakiti Keluarga Oma Baros!"
__ADS_1
Stela mengusap wajahnya lembut, mengerejabkan matanya karena merasa perih, "Tapi bagaimana jika aku hamil anak Adrian, Pa?" ucap bibirnya pelan.