
Kedua insan masih terlelap dalam selimut tebal berwarna putih, dikamar hotel Shanghai yang bernuansa klasik modern. Hembusan semilir angin sangat terasa menyentuh telapak kaki kedua insan yang masih berpelukan mesra karena cuaca dingin menyelimuti negeri tirai bambu.
Stela membuka matanya perlahan, mengecup bibir pria yang ada disampingnya. Wajah cantik kembali memerah, saat Adrian perlahan mendekap tubuh indahnya.
"Hmm, terimakasih untuk malam yang indah, maafkan aku, karena telah berani mengancam Abang tadi malam," Stela membalas pelukan Adrian dengan penuh perasaan.
Adrian tersenyum, "Aku berharap setelah ini, kita akan terus bersama selamanya."
Stela menggeleng, wajah cantiknya terlihat lebih ceria bahkan semakin menggairahkan bagi pria berwajah tampan tersebut.
Adrian sangat mengetahui, bagaimana wanita cantik itu dapat menjalin hubungan serius dengannya, bergumam dalam hati, memperhatikan gadis kecil itu tampak manja dipelukannya, "Jika dia memang tidak menyukaiku, pasti dia akan marah, bahkan sangat emosi saat aku menyentuhnya, tapi dia justru tampak menikmati setiap sentuhan yang aku berikan."
Perlahan Stela meraih baju yang berserakan dilantai, untuk menutupi tubuh mulusnya dari pandangan Adrian yang semakin mendekap.
"Mau kemana baby, hmm?" Adrian melilitkan tangan kekarnya diperut ramping Stela.
Stela diam tak bergeming, matanya melirik kearah Adrian, tersenyum tipis, mendengar pertanyaan sang komandan, "Mau mandi Bang, kita mau menyelidiki William hari ini. Jiak terlambat, aku takut kita kehilangan jejak mereka."
Alasan Stela sangat masuk akal bagi Adrian, dia memberi kecupan manis di pagi hari pada gadis yang membuatnya semakin terpesona, bahkan menjadi candu baru baginya.
Stela beranjak dari ranjang, melilitkan selimut tipis, menutupi tubuh mulusnya, agar tidak menjadi pusat perhatian bagi Adrian yang sejak tadi memperhatikan lekukan tubuh seksi itu.
Perlahan kaki Stela melangkah, dan menghilang dari pandangan Adrian menuju kamar mandi, melakukan ritual seperti biasa. Bukanlah Adrian Martadinata namanya, jika dia tidak berani menggoda gadis yang sudah berlalu lebih dulu meninggalkannya sendirian diranjang peraduan mereka tadi malam.
"Aku akan menggoda mu, baby!" Adrian berlari kecil, masuk kedalam kamar mandi.
Sontak kehadiran Adrian, membuat Stela terlonjak kaget, dan berteriak. Namun teriakan kencang itu seketika lenyap menjadi suara merdu yang saling bersahutan manja.
Stela tak mampu menahan rasa nikmat yang diberikan Adrian padanya, sentuhan jemari lentik pria bertubuh kekar itu sangat menggairahkan bahkan mampu membawanya kembali terbang menuju nirwana surga dunia.
__ADS_1
"Aaaagh... bang...!" dessahan manja itu membuat Adrian semakin bersemangat untuk memompa tubuh gadis yang berada digendongannya.
Lebih dari satu jam kedua insan itu saling berpelukan erat, bahkan tidak sedikitpun Adrian memberi celah bagi Stela untuk menghindarinya.
"Bang, lepaskan aku! Tanganku sudah keriput terlalu lama didalam kamar mandi," Stela mendorong tubuh Adrian agar melepas pelukannya.
Adrian tertawa, "Ya, kita akan selesai setelah ini."
Adrian membawa Stela agar duduk dipangkuannya, kembali bermain-main diujung mutiara kecil, agar gadis itu kembali mencapai kebahagiaan yang tidak mampu diucapkan dengan kata-kata.
Stela hanya bisa mengerang dan mengerang, kedua kakinya kembali menaut, agar mencapai satu titik yang sama dengan Adrian yang terus mempercepat ritme permainan mereka.
Adrian menggendong tubuh Stela untuk bergegas meninggalkan kamar mandi, setelah pertempuran hangat mereka pagi itu, meminta petugas hotel untuk membawa sarapan pagi kekamar indah itu.
Stela mencepol tinggi rambut coklatnya yang sudah mengering, memperlihatkan leher indah yang semakin menawan.
Stela terdiam sejenak, merasakan sesuatu yang bergerak lembut di leher belakangnya, menanti pria dewasa itu berdiri dihadapannya.
Jemari mungilnya menyentuh kalung yang sudah berada dileher indahnya, secepat kilat berbalik menatap Adrian.
"Apa ini? Apa Abang sengaja mengikat aku? Bukankah kita hanya just for fun?" Stela mencari jawaban yang pasti dari tatapan mata Adrian.
Adrian mengecup lembut kening Stela, "Aku membelinya di Jakarta, baby. Pakailah, kalung ini sebagai bentuk cintaku dan kekaguman pada wanita secerdas mu."
Stela menggigit bibir bawahnya, bergumam dalam hati, "Ternyata dia pria baik, dan juga sangat romantis."
"Makasih yah? Setidaknya kita bisa menjadi partner yang baik dalam menyelesaikan tugas William Danu Barata," Stela mengecup bibir basah Adrian, memeluk tubuh Adrian penuh perasaan bahagia.
Adrian tersenyum tipis, hatinya semakin merasa sangat senang, dengan perubahan gadis yang ada dihadapannya. Perlahan dia melepas pelukannya, menuju meja yang sudah tersedia beberapa menu makanan Cina.
__ADS_1
Adrian memperhatikan semua menu yang dihidangkan, "Baby, kamu sudah meminta menu vegetarian? Kenapa mereka memberikan kita menu seafood pagi ini? Apa kamu yang memintanya?"
Stela mendekati meja makan, melihat dan mencium aroma yang terhidang, "Ini kedelai Bang. Mereka membuat semua bentuk vegetarian, dan menciptakan rasa yang sama. Tapi bukan dicampur seafood. Itu yang selalu aku makan jika jalan-jalan bersama Mama dan Papa. Jadi sangat aman untuk ku."
Adrian mengangguk mengerti, menarik pinggul ramping gadisnya, agar duduk dipangkuannya.
"Duduklah, baby! Aku akan memanjakan mu hari ini," Adrian menyuapkan salad menggunakan sumpit perak kedalam mulut Stela.
Stela melahap makanan yang diberikan Adrian. Wajahnya semakin tersipu-sipu malu, bahkan sangat menyenangkan jika sudah berada dalam pelukan Adrian. Dekapan pria Batak blesteran Jerman itu semakin hangat, bahkan membuat gadis itu semakin nyaman.
Perlahan keduanya semakin mesra, tanpa memikirkan tugas yang diemban dipundak ke-duanya.
Handphone milik Stela bergetar, membuat gadis itu mengalihkan perhatiannya dengan sangat cepat dia beranjak dari pangkuan Adrian, menuju nakas.
Stela melihat nama Steiner yang tertera dilayar utama handphone pipih miliknya. Wajahnya sedikit menunduk, meletakkan telpon ditelinga kanan, menjawab dengan suara pelan.
"Hai... apa kabar?"-Stela.
"Kamu dimana baby? Bukankah kamu akan dibawa kabur oleh Stefan dan Stevie? Apakah kamu mencintai pria tua bangka itu? Ingat Stel, jika kamu tidak tiba di bandara 30 menit lagi, kami akan menghilang dari peredaran. Aku pikir kamu sudah sangat bijak dalam menangani dan memilah sebuah kasus. Ternyata aku salah!" Steiner menutup telfonnya, membuat Stela meremas rambut dengan sangat kasar.
Adrian menoleh kearah Stela, memperhatikan gadisnya dengan seksama, "Baby, apa yang mengganggu pikiranmu? Siapa yang menelepon?"
Stela menggeleng, menyembunyikan semua kegundahan hatinya. Dia memeluk Adrian, mendekap erat tubuh pria tampan yang saat ini menjadi komandannya.
"Bagaimana jika kita merencanakan sesuatu, aku akan membawa Calita kembali padamu. Aku harus segera pergi, karena mereka sedang menungguku. Maafkan aku bang," Stela mengecup bibir Adrian.
Adrian hanya terdiam, keinginan untuk terus bersama pupus sudah. Stela memiliki visi dan misi yang berbeda.
"Lakukan jika itu yang terbaik menurut mu, jaga diri dan kesehatanmu," Adrian kembali memeluk Stela, setelah gadis itu membisikkan sesuatu dicuping kirinya.
__ADS_1