
Cuaca cerah, namun tidak secerah suasana hati Stela yang tenga berada di dua pilihan.
Pertama, sebagai seorang wanita yang berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya di negaranya.
Kedua, ternyata cinta kedua lebih menantang di bandingkan kisah cintanya bersama pria lain yang seumuran dengan gadis berwajah cantik tersebut.
Kebodohan? Entahlah, kali ini Stela benar-benar terbius oleh pesona seorang Adrian Martadinata yang bermarga Panjaitan. Laki-laki Batak, yang telah mampu memberikannya kenyamanan dan keberanian dalam menghadapi situasi yang sangat membingungkan.
Adrian menoleh kearah Stela yang tampak sangat memilukan, wajahnya kaku mengisyaratkan bahwa dia tidak mampu berfikir dengan baik saat ini.
Adrian, yang mengetahui bagaimana kondisi batin seorang wanita muda, dia hanya bisa menahan diri, agar tidak terlihat sangat ketakutan karena telah melarikan anak gadis orang dalam kondisi yang tidak baik.
Adrian mengusap lembut lengan gadis yang duduk mematung di sebelahnya sambil mengendarai mobil sport buatan Eropa pemberian Lauren, "Tenang lah, Stel! Kita akan terbang menuju Roma untuk beberapa waktu hingga suasana kembali tenang. Aku akan menemui keluarga mu setelah semua benar-benar selesai. Aku juga sudah meminta pada pengacara ku untuk mengurus perceraian kami!"
Stela hanya diam membisu, dia tidak ingin melanjutkan cerita tentang keseriusan atau apapun. Saat ini yang ada dibenak nya hanyalah kedua orang tuanya. Bagaimana mungkin seorang anak pengusaha ternama bisa menjadi seorang pelakor, bahkan simpanan komandan. Ini akan menjadi cemoohan semua orang, bahkan hal yang paling dibenci di keluarganya.
Namun, Stela hanya mengarahkan pandangannya kesebelah kirinya, melihat dari balik kaca spion, melihat mobil sport berwarna merah metalik mengikuti kecepatan mobil mereka.
Stela menoleh kearah Adrian, tampak sangat ketakutan, wajah yang tadinya tenang, kini kembali di kejutkan dengan kehadiran orang suruhan Stefan yang sangat diketahui oleh Stela pemilik mobil sport tersebut.
"Vinsen! Mobil itu milik Vinsen....!!" teriak Stela menegaskan ketelinga Adrian.
Adrian melirik ke belakang, dia yang tidak memiliki keahlian dalam menghadapi pengejaran yang sangat mencekam, meminta Stela agar mengendalikan kendaraannya yang tengah melaju kencang.
"Oooogh shiiit.... ini tidak mungkin, Bang! Are you crazy!?" teriak Stela.
"Tekan tombolnya Stel, dan pindah segera kesebelah, kendalikan mobil ini. Aku akan melumpuhkan mereka jika terjadi sesuatu! Cepat lakukan....!"
Tanpa berfikir panjang lagi, Stela mengingat saat Steiner pernah melakukan hal ini.
__ADS_1
Bergegas dia menekan tombol merah agar mobil berhenti mendadak, tanpa harus turun dari stir kemudi.
Sontak mobil sport berwarna merah melaju kencang lebih dulu meninggalkan mereka di belakang sangat jauh.
Adrian berpindah ke posisi Stela, sementara Stela berpindah ke stir kemudi, kembali menekan tombol agar dapat kembali memacu kecepatan untuk mengalihkan perhatian lawan.
"Move.... kita keluar jalur tol, menuju Munich...!!!" tunjuk Adrian menggunakan telunjuk kirinya.
Tentu Stela melajukan kendaraannya, dengan sangat cepat bahkan mendahului beberapa mobil yang berada didepan mereka dengan kecepatan tinggi.
Stela kembali teringat pada handphone miliknya yang masih menyala, dan dapat diketahui dimana keberadaannya, memberi perintah pada pria yang berada di sampingnya, "Bang, tolong matikan handphone ku! Cepat...! Sebelum Kak Stef dapat menemukan aku dan menyeret ku untuk kembali!"
Sebelum Stela teringat akan handphone miliknya, Stevie lebih dulu berada diatas mereka menggunakan helikopter yang dia miliki dengan beberapa orang sniper telah siap menembus mobil sport berwarna hitam.
"Tahan...!! Biarkan Stefan yang menghabisi pria tua bangka yang tidak tahu malu itu!" perintah Stevie meminta mengalihkan penerbangan mereka ke sesuatu tempat, "Aku akan menyelesaikan mu tua bangka...!" geramnya dalam hati.
Stela membawa Adrian menuju Munich sesuai arahan Adrian.
.
Sementara Stevie sudah dapat memastikan dimana posisi Stela berada, sehingga memberi kabar dan perintah pada Stefan agar menyusulnya ke Munich segera.
Stevie masih beristirahat disebuah guest house milik rekan kerjanya, menanti kehadiran Stefan yang akan menyusul hingga akan menyelesaikan semuanya, untuk merebut Stela kembali dari tangan Adrian.
Jika cinta yang di tanya dihati kedua pria kembar itu, mungkin tidak pernah akan terbuai atas nama cinta, melainkan hanya ingin mencicipi gadis yang mereka sukai. Apa itu cinta? Tidak-tidak-tidak, cinta itu hanyalah kebutuhan, kebutuhan yang membuat mereka sangat candu, dan tidak ingin bermain hati karena memiliki rasa kecewa dalam memperebutkan hati seorang gadis cantik bernama Alea.
Namun, saat Stefan yang tengah berada dalam perjalanan menuju Munich, dia justru mendapatkan pesan dari Calita, gadis yang pernah dia kencani merupakan putri kesayangan Kennedy bersama selingkuhannya.
["Aku di Berlin, menunggu mu disini."]
__ADS_1
Stefan mengusap wajahnya kasar, "Ini tidak mungkin. Aku tidak mungkin berbalik arah hanya untuk seorang Calita. Aku harus menyelesaikan urusan ku dengan Adrian, Adrian Martadinata!! Bukan Calita!!!" geramnya.
Rahang Stefan yang mengeras, bisa dipastikan jika dia bertemu dengan Adrian, maka akan tinggal nama yang akan di masukkan kedalam peti mati tanpa hati.
Jika cinta berlandaskan dendam, ini bukanlah cinta, namun azas manfaat yang akan menjadi lebih mematikan bagi kedua insan yang tidak mampu membedakan antara cinta dan dendam.
Mereka berpencar mencari keberadaan Stela, setelah dapat memastikan kondisi sang Papa dan Steiner dalam keadaan baik-baik saja.
.
Justru karena perbuatan ini Leonal segera menghubungi Simon sebagai pengacara keluarga yang tenga mencari keabsahan data putra Silutak Panjaitan.
"Mana mungkin putri ku mau mencintai pria beristri."
Hanya kata-kata itu yang dapat dia keluarkan saat Paras duduk disamping Leonal.
Paras dengan sangat tenang merawat Leonal, karena mengalami tekanan darah tinggi, setelah mendapatkan kabar tentang hubungan gelap putri kesayangannya.
"Ndut, bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Kenapa anak-anak kita tidak ada yang baik? Stefan, ternyata semakin ganas. Berani sekali dia kemana-mana membawa senjata api. Stevie, sama sekali tidak mau bicara pada ku! Ada apa, Ndut? Apa yang harus aku lakukan? Apakah kita harus diam? Seperti Papi Baros memperlakukan kita saat masih muda?" tanya Leo dalam pelukan Paras.
Paras menghela nafas panjang, "Tenanglah, Bowl. Saat mereka punya masalah, kita juga jarang mendengar kan mereka. Kita hanya sibuk dengan dunia kita. Sekarang kita harus pasrah, memohon pada Tuhan untuk membawa anak-anak kembali kepelukan kita. Bagaimanapun keadaannya, sukses atau gagal mereka kita harus menerima mereka dan memperlakukan anak-anak dengan sangat baik. Aku yakin, cinta Stela pada Adrian itu adalah karena terbiasa bersama. Seperti aku dan kamu."
Leo menggelengkan kepalanya, "Kita beda, Ndut! Kamu masih single, aku juga duda kala itu. Stela istri Will, Adrian suami Lauren Bennett. Apa kata Mami, Ndut!? Semakin hancur aku di mata Mami...!!!"
Paras terdiam, dia harus melakukan sesuatu. Mencari cerita sebenarnya, tentang Adrian dan Lauren melalui Fredy, batinnya.
______
Siap-siap dikuliti Adrian....
__ADS_1
like and komentar dong...💐😘