
Stela menangis sejadi-jadinya dipelukan ketiga saudara kembar yang menjadi saksi pertikaian Lauren dan adik kembarnya.
Awal tertawa bahagia di pedok, kini harus menelan pil pahit atas penghinaan yang diberikan Lauren pada Stela.
Gadis itu masih menangis dalam pelukan Stefan yang merasa bersalah atas apa yang menimpa adik kecilnya.
Steiner menggelengkan kepalanya, ingin rasanya dia meremas mulut singa Lauren Bennett walau dia merupakan orang terpandang di sana.
Stevie justru tampak santai menghadapi situasi ini, wajah ke-tiganya yang hampir mirip satu dan yang lain membuat mereka tampak kompak untuk menghadapi permainan keluarga Silutak Panjaitan kembali. Memisahkan Stela dari Adrian Martadinata menjadi topik penting dikepala mereka bertiga.
Penyelengaraan Motor Cross Grand Prix kembali mengumumkan pertandingan untuk 450cc. Masing-masing sesi tersebut memiliki durasi 30 menit yang ditambah lagi dengan dua lap.
"Kejuaraan Motor Cross Grand Prix akan dilakukan beberapa menit lagi, bukan hanya kondisi motor yang harus maksimal, tetapi fisik pembalap harus optimal disertai dengan skill yang rider miliki." Cerita reporter dari arah luar sana.
Hal ini menjadi bekal untuk Steiner kembali fokus agar bisa mengikuti perlombaan hingga garis finish.
Untuk kejuaraan yang satu ini, Steiner memerintahkan pada team mekanik agar mesin disetting sempurna sesuai gayanya sebagai rider pada team pabrikan tersebut. Termasuk pada setting handling dan suspensi yang akan mempengaruhi kenyamanannya untuk menghadapi pertandingan, dengan segala tekanan yang masih berkecamuk dikepalanya.
Steiner mengusap punggung Stela, sembari berkata, "Aku bertanding dulu, selesai sesi pertandingan kita akan menyelesaikan semua masalah mu dengan Adrian Martadinata. Kamu mengerti!?"
Stela mengangguk patuh, "Aku permisi dulu mau beristirahat di ruangan yang sudah di persiapkan team management."
Steiner mengangguk, bahkan memandang kearah Stefan dan Stevie untuk menemani Stela.
Namun, diindahkan oleh kedua pria tampan itu, karena ingin menyaksikan sesi pertandingan saudara kembarnya.
Stela beranjak dari pedok, berjalan pelan kearah belakang. Wajah cantik itu masih terlihat sangat lelah bahkan stress. Niat awal Stela yang ingin melaksanakan tugasnya sebagai team Badan Narkotika Internasional, kini harus menelan pil pahit akan cinta terlarangnya pada sang komandan.
Saat dia akan menaiki anak tangga, tangannya ditarik oleh seorang pria yang tengah bersembunyi dengan wajah memar yang masih membekas.
Ya, dialah Adrian. Cinta yang gila bagi keluarga mereka, namun tidak untuk keduanya.
__ADS_1
Stela yang terkejut memandang kearah Adrian, sedikit berteriak karena kaget, "Aaaagh.... Abang!? Apa yang Abang lakukan disini? Bukankah Aunty ada disini? Dia mencari mu! Jangan gila, Bang! Pergilah....!!"
Adrian tidak kuasa menahan rasa cintanya pada gadis muda tersebut, dengan cepat dia memeluk erat tubuh Stela yang masih terasa ramping, "Aku merindukan mu, baby! Please.... ikutlah denganku! Tinggalkan Jerman saat ini juga, kita lanjutkan tugas kita seperti diawal."
Stela menahan tangannya agar tidak merasakan kehangatan dari pria yang masih berdiri kokoh dengan wajah memohon.
"Please baby! Jangan lakukan ini padaku. Aku sangat mencintaimu, sungguh mencintaimu!" ucap Adrian penuh perasaan.
Namun, saat mereka tenga saling menatap, seketika tangan kekar seorang pria bertubuh kekar kembali melayang di wajah Adrian.
BHUUUUG.....!!!
BHUUUUG.....!!!
"Dasar laki-laki brengsek kau, Tuan!!! Tinggalkan lapangan ini, karena jika kau masih disini akan mengganggu adikku....!!! Laki-laki bajingan, anjiing.... kau urus istri kau yang tidak lebih dari seorang tante girang! Pantas saja Uncle Fredy sangat membenci mu! Karena kau lah yang telah merebut istrinya!!! Pergi kau...!!!" teriak Stefan penuh amarah.
Stela yang melihat kejadian tersebut, memeluk Stefan, agar menghentikan kegilaannya menyakiti orang yang sangat dia cintai, "Please Kak.... aku mohon, jangan lakukan ini padaku!!" tangisnya pecah.
Adrian masih terdengar meringis menahan rasa sakit yang teramat sangat karena ulah saudara kembar Stela. Wanita yang sangat dia cintai saat ini, "Aaaah.... kenapa aku diperlakukan seperti ini oleh karma ku sendiri!?" batinnya.
Adrian menoleh kearah Stefan, tentu dia tidak ingin kehilangan Stela, seketika menarik tangan gadis yang masih berada dalam pelukan saudara kembarnya untuk berlari kencang meninggalkan lapangan balap.
Stela yang tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh seorang pria yang dia cintai, merasa diperjuangkan demi kebersamaan mereka. Dia mengikuti langkah kaki Adrian Martadinata, berlari mencari jalan keluar.
Tentu ini hal yang sangat tidak disangka-sangka oleh Stefan, dengan penuh amarah dia mengejar mereka, agar tidak dapat melarikan diri dari lapangan.
"Stev.... Stevie....!!" teriak Stefan panik.
Stevie yang tengah menyaksikan pertandingan balap melalui layar televisi, berlari kencang karena mendengar suara teriakan Stefan yang membuat konsentrasinya pudar seketika.
Stefan berkata dengan wajah panik, "Stela.... Stela di bawa kabur oleh si tua bangka itu! Bagaimana ini? Kita harus mendapatkannya, dan membawanya kembali ke Jakarta. Aku tidak ingin dia berada disini, karena akan berdampak pada keselamatannya!"
__ADS_1
Stevie ternganga mendengar penuturan Stefan, segila inikah Adrian melarikan adik bungsunya? Ooogh Tuhan, ini akan menjadi musibah untuk semua keluarganya.
"Kearah mana mereka kabur? Cepat hubungi yang lain, agar menutup pintu masuk dari segala arah!" ucap Stevie panik.
Bergegas mereka menghubungi beberapa team, agar segera menutup pintu keluar masuk lapangan, karena mereka kehilangan adik kembarnya.
Stefan mengambil senjatanya dari balik baju, memeriksa beberapa butir peluru yang akan dia hujamkan di kepala Adrian jika bertemu, "Akan ku habisi dia jika bertemu!" geramnya.
Sementara di sisi yang lain, Adrian dan Stela masih terus berlari kencang mencari jalan keluar yang masih dalam pengawasan team penyelenggara.
Beberapa orang suruhan team management sudah berpencar mencari keberadaan Stela dan Adria melalui sensor kamera yang tersedia diarea lapangan.
Steiner yang masih dalam sesi pertandingan seketika pandangannya buyar karena teror cahaya dari arah yang tidak disangka-sangka. Cahaya merah menyala yang sangat menggangu konsentrasi saat diarea balap membuat dia sedikit goyang saat melakukan step up kedua diudara.
Seketika pikirannya buyar, terbayang wajah Stela yang menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang Kakak laki-laki, seketika.....
Preeeenk.... preeeenk... preeeenk...
BRAAAK.....!!!
Steiner terpental dari motor dan terlempar jauh hampir mengenai berem pembatas lapangan yang terbuat dari gundukan tanah.
Tubuh kekar yang masih terbalut pelindung, seketika tak mampu berdiri. Pandangannya seketika membayang, kepala yang masih terpasang helm dan gogle untuk melindungi mata seketika mengalami sakit yang teramat sangat.
Sontak team marshal mengibarkan bendera kuning, agar berhati-hati karena terjadi kecelakaan.
Sementara di pedok semua team tampak berteriak dan kaget karena kejadian tersebut.
"Ooogh no.... Steiner... wake up please....!!!" teriak mereka bersamaan.
______
__ADS_1
Komen... komen... komen...
Terimakasih..