
"Tinggalkan aku, Bang! Tinggalkan aku.... jangan pernah temui aku lagi. Pergilah, ini akhir dari semua urusan percintaan kita. Aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku! Hanya demi laki-laki seperti mu!"
Adrian hanya menatap langit-langit kamar yang masih hancur berantakan, karena tembakan senjata api Stela.
Mereka saling terdiam tanpa mau bicara, lidah terasa kelu bahkan lebih tepatnya kedua insan ini tengah berperang dengan perasaan sendiri.
Cinta yang tumbuh tak biasa menjadi terbiasa, membuat mereka harus bijak dalam mengambil keputusan.
Kini Stela duduk disamping Adrian, diatas sofa yang empuk. Adrian tidak bisa melihat jelas wajah cantik Stela, karena bengkak diseputaran matanya terlihat sangat memar.
"Aku akan kembali ke Melbourne, mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Jangan mencari ku! Kita sudah berakhir, dan aku tidak ingin melanjutkan hubungan ini. Abang masih resmi menjadi suami dari Aunty Lauren Bennett, aku tidak ingin menghancurkan semua harapan keluargamu!"
Mendengar kalimat yang terucap dari bibir Stela, membuat Adrian tidak ingin memaksa keadaan. Cinta tidak pernah salah, namun dia tumbuh selalu dalam kondisi yang tidak tepat, bahkan sangat menyakitkan bagi mereka berdua.
Adrin menghela nafas panjang, "Baiklah, aku tidak akan mengganggu mu! Tapi lakukan tugas mu, sesuai dengan tujuan kita diawal! Aku permisi!"
Adrian berdiri tegap, meraih pakaiannya, berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk meninggalkan kamar hotel Stela.
Lima menit Adrian keluar dari dalam kamar mandi, mengambil jaket hangatnya, kembali menatap gadis yang masih menunduk sambil menangis.
"Ehem... saya permisi...!!!" Adrian berlalu pergi, meninggalkan Stela sendiri dikamar hotel.
Sungguh sangat menyesakkan dada bagi gadis Padang serapuh Stela Chaniago. Dia kembali menangis sejadi-jadinya, tidak menyangka cinta yang dia rasakan sangat berbeda manjadi bala petaka bagi Stela dan keluarga besar tentunya.
Stela berteriak sendirian, dikamar yang luas, dengan tetesan darah segar masih menempel dilantai kamar, karena perseteruan Stefan dan Adrian.
Hatinya sangat sakit, bahkan lebih sakit saat harus kehilangan Adrian, dibandingkan hinaan pedas dari seorang wanita sekelas Lauren Bennett.
"Sakit.... ini sakit banget Tuhan! Aku mencintaimu, Bang!" isak tangis Stela semakin menggema hingga disudut ruangan, membuat Stefan dan Stevie yang menguping pembicaraan mereka sejak tadi, mengurungkan niat mereka untuk meninggalkan Stela.
Stela rapuh, sangat rapuh, bahkan dia tidak bisa membedakan antar cinta dan tuntutan pekerjaan. Jika ditanyakan, kenapa kamu tidak propesional? Mungkin jawabannya adalah, karena terlalu terlena dengan sebuah kata 'nyaman'.
Stela tidak mengejar Adrian, dia benar-benar membulatkan tekad untuk melupakan, bahkan tidak ingin mengenal pria yang berstatus jenderal bintang dua, menjebaknya dalam sebuah pekerjaan yang sangat rumit bahkan harus berfikir keras dalam bertindak dan mengambil keputusan, agar tidak menyesal dikemudian hari.
__ADS_1
Yang membuat tekad itu semakin kuat, saat dia tidak bisa mempertahankan hubungan dengan pria beristri, yang akan menjadi gunjingan bahkan ejekan semua orang untuknya dan keluarga.
Stela jatuh kelantai, tubuhnya lemah tak mampu berpijak. Separuh jiwanya pergi, "My soul... my everything!"
Kalimat itu keluar dari bibirnya dalam raungan panjang dimalam hari yang dingin di kota Frankfurt.
Stefan yang tidak kuat menahan rasa iba, membuka pintu kamar connecting dengan cepat, merangkul Stela yang duduk menangis dilantai kamar hotel.
"Oogh baby I'm sorry I hurt you! I'm so sorry, but this is what you have to do, for our sakes dear." (Maafkan aku telah menyakitimu! Aku sangat menyesal, tapi ini harus kita lakukan, demi kita sayang)
Stefan mendekap tubuh Stela yang tengah meratapi nasibnya, seperti kehilangan dalam kematian.
Stevie yang tidak tega melihat adik kembarnya seperti ini, hanya bisa mengusap air matanya yang berlinang. Entah apa yang ada didalam kepalanya, jika dia meninggalkan Stela saat perseteruan mereka tadi. Mungkin gadis itu akan menembak mati diri sendiri, hanya untuk pria beristri seperti Adrian Martadinata Panjaitan.
Dengan sigap Stevie berbisik pada Stefan, atas perintah Yu Jing Zhou harus meninggalkan Frankfurt dini hari itu juga.
"Kita harus meninggalkan Frankfurt segera! Bawa Stela, kita akan ke Sachsenring untuk menguji adrenalin disana. Kita tidak aman disini! Cepat...!!" Perintah Stevie menepuk pundak Stefan.
Perjalanan yang cukup panjang, juga melelahkan, membuat mereka harus memiliki tenaga ekstra meninggalkan Frankfurt.
Ya, selama beberapa tahun menetap di Jerman, Steiner yang merupakan pembalap MXGP yang membawa nama negara Deutschland, telah mengganti warga negaranya sendiri, karena prestasi dan juga beberapa ajang lomba yang dia menangkan sejak kecil.
Tidak pernah terpikir oleh Leo dan Paras bahwa putra kesayangannya akan meninggalkan negara kelahirannya, saat memutuskan menanda tangani kontrak di salah satu motor cross kelas eksekutif dunia.
Keputusan yang diambil Steiner ditentang keras oleh Leo, namun tidak untuk Paras.
Steiner menerima panggilan telepon darurat dari Stevie, yang masih menjalin komunikasi dengan baik dengan pria berwajah mirip tersebut.
"Hmm hola...!"-Steiner.
"Aku dihotel yang sama. Tapi sepertinya pengawalan mu sangat ketat, sehingga menyulitkan ku untuk masuk kedalam kamar!"-Stevie.
"Ya-ya-ya... besok kita akan bertemu pagi, jangan ganggu aku! Oya, jangan lupa membeli kan aku pisang, karena aku tidak bisa makan sebelum pertandingan. Bawa ke pedok saja! Mungkin aku akan melaksanakan sesi latihan pukul 09.00!"
__ADS_1
Tut... tut... tut...!
Steiner yang tidak suka berbasa-basi, menutup telfonnya, melanjutkan tidurnya untuk bertanding esok hari.
Bukan hal yang mudah bagi Stevie untuk menerima perubahan yang sangat signifikan dari seorang Steiner menjadi pria yang kaku seperti saat sekarang.
"See... kamu lihat bagaimana Steiner memperlakukan kita? Seperti tidak ada harganya kita dimata dia! Damn it....!" Stevie melempar handphone miliknya keatas ranjang, yang telah tersedia.
"Tenanglah, kita hanya memiliki waktu dua jam untuk beristirahat, mungkin besok akan menjadi hari yang baik untuk kita berempat. Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini. Apalagi semenjak kita berjauhan dan memilih hidup dengan dunia masing-masing!" Stefan menepuk pundak Stevie, hanya mengangguk setuju tersenyum kearah saudara kembarnya.
"Willkommen in der Welt des Motocross...!" (Selamat datang di dunia motor cross)
Teriak Stevie penuh antusias memeluk Stefan, namun matanya mengarah pada Stela yang tengah duduk disofa dengan wajah terlihat sembab.
Stevie menelan salivanya, mendekati Stela adik kembarnya, "Ooogh dear... tersenyumlah, jangan menyiksa dirimu sendiri. Aku sangat mengerti bagaimana perasaan mu! Tapi kita baru saja akan berkumpul, dan kita akan menghabiskan waktu bersama selama beberapa jam di arena balap, tersenyum sayang... please...!"
Stevie memohon pada Stela yang tengah duduk bersimpuh dihadapannya, menangis dipangkuannya seperti Stela seorang kekasih hati.
Stela yang mendengar penghiburan dari Stevie, memeluk Kakaknya erat, kembali menangis hanya untuk seorang pria seperti Adrian Martadinata Panjaitan.
______
Asyiiik.... kita pacu adrenalin untuk bab selanjutnya...
Fillen danke....
Visual Stefan, Stevie dan Steiner....
"Saat rapuh... hanya keluarga tempat kita kembali..."
__ADS_1