Gairah Cinta Kedua

Gairah Cinta Kedua
Bingung


__ADS_3

Malam yang semakin mencekam, mengharuskan mereka untuk terbang meninggalkan Shanghai menuju Jerman.


Ini merupakan hal terberat bagi Stela dan juga Adrian. Karena harus kembali kepelukan istri tercinta Lauren Bennett.


Lebih kurang 13 jam mereka berada didalam pesawat terbang bisnis, yang sudah diatur oleh Steiner selaku pembalap Moto Cross Grand Prix kelas dunia, membawa bendera negara panser tersebut.


Steiner Leonal Alkhairi, menanti kedatangan kedua saudara kembarnya, dan dua orang yang asing bagi keluarga mereka dibandara Internasional Frankfurt Deutschland.


William yang sudah mengenal pembalap terbaik Jerman itu, memeluk erat saudara kembar Stefan dan Stevie dengan penuh kerinduan. Perasaan bersalah, atas apa yang dia lakukan pada Stela, tidak mengurungkan niatnya untuk berbaikan dengan ke-tiga pria tampan yang memiliki kembar identik.


Kemiripan ketiga insan yang benar-benar sulit dibedakan, karena memiliki postur tubuh yang sama, rambut coklat, dan kedua alis tebal hampir menyatu.


Bergegas Steiner membawa mereka menuju apartemennya yang berada di Berlin, tanpa mau berbasa-basi dengan Adrian dan Calita yang masih tampak canggung.


Stela yang telah lama tidak menginjakkan kaki di negeri panser tersebut, merasakan kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, karena disela-sela pekerjaannya yang semakin mengancam, mampu membawanya kembali berkumpul dengan keluarga tercinta.


"Kak, Kak Stevie mana?"


Stela menikmati perjalanan menuju Berlin, melewati ruas jalan tol yang sangat indah.


"Sepertinya dia akan kembali nanti malam. Kalian lama kan disini? Kebetulan aku ada pertandingan lusa. Aku harap kalian melihat penampilanku di area balap."


Steiner tertawa, seraya mempromosikan dirinya sendiri, agar semua tahu siapa seorang Steiner.


Adrian mengusap lembut punggung Stela yang duduk persis disampingnya, membuat gadis Padang itu mendelik, agar pria berdarah Batak blesteran tersebut, melepas tangannya dari tubuh gadis itu.


Pria tampan dan mapan itu hanya tersenyum tipis, melirik kearah William selaku anak tirinya, mengalihkan pandangannya, "Hmm, aku sepertinya masuk dalam permainan sendiri. Bagaimana bisa aku tidak kembali pulang? Apa tanggapan Lauren jika aku berada di Berlin, namun tidak menyambanginya."


William membuka suara, menoleh kearah Adrian, "Pi, Papi pulang kerumah? Atau nginap di Berlin?"

__ADS_1


Sontak pertanyaan yang keluar dari bibir William, membuat mata mereka saling menatap, penuh selidik.


Stefan yang berada di sebelah Steiner, membalikkan tubuhnya, "Eeeeh, anak hantu... kamu tuh sebenarnya anak keturunan Cina atau Batak siih?"


Pertanyaan Stefan membuat Adrian semakin ternganga, dengan suara lirih dia menjawab, "William ini putra Fredy Einstein, suami pertama dari Lauren Bennett. Saya suami kedua Lauren, jadi Will adalah anak tiri saya!"


Jawaban yang keluar dari bibir Adrian membuat Steiner melakukan pengereman mendadak, hingga membuat mereka saling bertubrukan didalam mobil yang tidak begitu besar itu.


"Kakak....!" Stela berteriak keras, karena hampir saja kepalanya bersentuhan dengan dasboard depan, karena tidak menggunakan safety belt seperti biasanya.


Calita yang duduk di bagian belakang, hampir terjungkal kedepan. Bagaimana tidak, kecepatan diatas rata-rata membuat mereka terkejut saat Steiner melakukan pengereman, nyaris membuat mereka semua yang berada didalam mobil, terluka.


"Kamu gila, Stein!" Stefan tersulut emosi, karena mendengar kepala Calita terjedot dikaca belakang.


Steiner tertawa, "Hmm, aku ingin menurunkan pria tua bangka yang tidak tahu diri ini dari mobilku! Berani sekali dia menghancurkan kehidupan adikku! Turun kau....!"


Steiner melepaskan safety beltnya dengan sangat cepat membuka pintu mobil bergegas menuju pintu kanan tempat Adrian Martadinata duduk.


Suara lantang Steiner membuat Stefan segera mengambil tindakan cepat.


Bergegas dia menutup pintu mobil dimana Adrian duduk, berbisik ketelinga Steiner agar tidak melakukan hal bodoh, "Tahan emosimu! Kita dijalan tol, jangan membuat kita dikejar atau ditandai oleh pihak berwajib negara ini!"


Steiner mendengus kesal, wajah tampannya memerah, sementara Stela tampak ketakutan saat melihat wajah Steiner tidak mampu bersahabat dengan keadaan saat ini.


Steiner kembali memasuki stir kemudi, menatap tajam kearah Adrian, "Ingat Tuan, kau akan berurusan dengan ku...!!!"


Bergegas dia menginjak pedal gas, melaju kencang menuju kediamannya di kota Berlin Jerman.


Stela tampak semakin bingung, satu sisi Will adalah mantan suaminya, satu sisi pula Adrian kekasih gelapnya. Namun karena kecerobohan malam itu, ketiga saudara kembarnya dapat menilai, bahwa Stela memiliki hubungan terlarang dengan sang komandan Adrian.

__ADS_1


"Kamu tahu bro... apa kita pernah merusak kebahagiaan rumah tangga orang lain? Papa selalu mengajarkan kita agar tidak pernah bermain api. Saat ini adik kita sendiri merusak kebahagiaan Aunty Lauren Bennett, dan mempertaruhkan karirnya hanya untuk cinta terlarang! Damn it....! Sangat memalukan bagi keluarga Leonal Alkhairi Baros! Are you understand, Stela....!"


Steiner kembali menggertak adik kecilnya, agar selalu mengingat pesan kedua orang tuanya, dimanapun mereka berada.


"You boleh jadi setan diluar sana! Tapi you tidak boleh merusak kebahagiaan rumah tangga orang, apalagi you mengenal siapa Aunty Lauren! Come on, Stel... are you stupid girl haaah?"


Steiner menggelengkan kepalanya, tanpa ada perasaan sungkan berkata seperti itu dihadapan William ataupun Calita. Dia merupakan pria yang memiliki komitmen kuat, bahkan dia salah satu putra Leonal yang berhasil memberikan kebanggaan pada keluarga mereka, dibandingkan kedua saudaranya yang hanya memiliki bisnis haram, dan sangat mengancam keselamatan mereka dimasa depan.


Stefan menepuk pundak Steiner agar tenang, dan mengehentikan semua celotehannya yang berdampak pada kondisi emosional mereka saat ini.


Calita susah payah menelan salivanya, bahkan sangat ketakutan mendengar ucapan Steiner yang berapi-api, "Buset dah... ini tamparan keras buat Bang Adrian. Aku aja baru tahu, bahwa William seorang anak pengusaha ternama. Kenapa dia mengubah identitas dirinya menjadi William Danu Barata? Kenapa tidak menggunakan nama William Einstein? Ini akan menjadi tantangan terbesar mereka."


Mereka terdiam, semua masuk kepikiran masing-masing. Begitu juga William yang duduk disamping Stela, tanpa mau menyentuh mantan istrinya, karena perasaan bersalah.


"Apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuaku? Telah mengecewakan wanita sebaik Stela. Aku yang bersalah. Aku yang telah melukai perasaannya, bahkan tega menghancurkan semua harapan yang pernah ada. Apa yang harus aku katakan pada Daddy? Bagaimana jika Pedro mengetahui tentang semua kisah ku? Pasti dia juga akan memusuhi ku, bahkan menelanjangi ku!"


William memijat pelan pelipisnya, tanpa mau menoleh kearah Adrian ataupun Stela.


Stela terdiam, mendengar bentakan Steiner yang semakin membuat dia bingung. Begitu besar perasaan bersalah pada diri sendiri, hingga membuat dia hampir meninggalkan perhatian saudara kembarnya.


"Apa aku salah? Tapi aku sangat senang berada dalam pelukanmu, Bang? Bagaimana, jika Aunty benar-benar mengetahui cinta terlarang kita? Bagaimana jika dia tahu bahwa akulah penyebab hancurnya rumah tangga kalian? Pasti dia akan semakin memusuhi keluarga Baros, terutama Papa dan Mama."


Stela menutup mata, enggan berkomentar banyak tentang semua yang terjadi, "Ingin rasanya berpisah, tapi hatiku mengatakan tak mampu! Aaaagh... shiiit...!!!"


_______


Salam hangat Author....


Terimakasih banyak, atas kunjungan dan dukungannya. Mohon memberikan komentar sepatah kata dua patah kata, agar othor lebih semangat lagi untuk update setiap hari demi membahagiakan para reader yang baik hati dan sangat berkenan untuk membaca kisah Anak kembar empat Leonal dan Parassani Chaniago.

__ADS_1


Like, favorit dan jangan lupa vote... berikan bingkisan kecil untuk karya balas dendam ini..


Terimakasih banyak, happy reading.


__ADS_2