
Senja di kota kecil Nurnberg Jerman, Stela berlari kencang menuju parkiran, mencari keberadaan mobil rekannya telah menunggu diseberang sana. Mobil sport hitam doff, telah menantinya dengan kode dua kali dim lampu besar menyala dari arah kanan Stela.
Calita, salah satu team badan narkotika internasional, bersedia membantu Stela untuk memasuki rumah sakit di Munich tanpa pemeriksaan. Dia anggota Adrian, yang merupakan anak tiri Kennedy, memilih melarikan diri dari pengawasan sang Daddy untuk sama-sama memperjuangkan cinta gila mereka.
Stefan masih sibuk mencari keberadaan adik perempuannya, melihat kepergian Stela bersama Calita saat kaca mobil mereka terbuka lebar. Matanya menatap nanar dua gadis muda itu yang tidak menyadari saat berselisih dengannya.
"Ooogh shiiit.... Stela dan Calita? Bukankah mereka bermusuhan? Damn it.... ternyata Calita juga mengkhianati aku...!!!" teriaknya meremas kuat stir kemudi, memutar arah untuk mengikuti dua wanita tersebut.
Berkali-kali Stefan merutuki kebodohan adik kembarnya, berkali-kali juga dia mengumpat Calita sebagai dalang dari semua ini.
Sementara Stela masih sibuk dengan semua alat canggih yang dia miliki untuk melacak Adrian Martadinata sang komandan sekaligus pujaan hatinya.
Stela melirik kearah Calita, memberanikan diri untuk bertanya, "Apakah Uncle tidak tahu pelarian mu?"
Calita menggeleng, dia hanya ingin kembali ke pelukan Stefan, setelah membantu kedua insan ini melarikan diri meninggalkan Deutschland segera.
Tanpa pikir panjang, mereka terus fokus pada tujuan awal, untuk segera meninggalkan pekerjaan mereka sebagai mata-mata internasional yang sangat membahayakan keselamatan terutama Stela dan Calita.
"Kita tidak akan pernah dilepas begitu saja, karena ini akan mengancam kita semua sampai kapanpun!" ucap Calita.
Stela membenarkan, baginya saat ini dia hanya ingin memperjuangkan Adrian Martadinata, dan hidup bahagia bersama pria yang masih berstatus suami dari Lauren Bennett.
Calita melanjutkan obrolannya saat keluar dari tol menuju Munich, setelah jauh perjalanan mereka, "Apa kamu akan ke Italia? Atau ke Spanyol, Stel?"
Stela menjawab ringan tanpa beban, "Mungkin aku akan menetap di Jepang! Karena tidak seorangpun yang tahu apartemen ku disana kecuali Koko Will! Dia yang mengetahui aku memiliki aset disana."
Calita mengangguk setuju, "Lebih baik kamu menghilang, sampai semua benar-benar membaik sebelum kita berperang melawan keluarga sendiri, untuk memperjuangkan hak kita sebagai anak yang tidak tahu apa-apa dengan semua dendam masa lalu keluarga."
"Ya, aku sungguh-sungguh tidak tahu siapa Will, dan siapa Adrian! Tapi aku merasa nyaman bersama komandan bodoh itu. Aku sangat mencintainya setelah aku menyadari bahwa hidupku tak berarti tanpa dia!" jujur Stela pada Calita.
__ADS_1
Calita tersenyum tipis, "Perjuangkan apa yang pantas, tapi jangan sampai kamu terluka dan terabaikan oleh permainan Adrian."
Stela terdiam sejenak, mencerna setiap ucapan Calita, "Apa maksud kamu? Apakah Adrian Martadinata seorang penjahat yang berkedok organisasi?" tanyanya semakin penasaran.
Calita tersenyum, enggan menjawab pertanyaan Stela. Dia tidak ingin menceritakan siapa sebenarnya Adrian, karena percuma jika memberitahu pada orang yang sedang jatuh cinta dan dimabuk asmara.
Stela tak mampu untuk melanjutkan pembahasan siapa Adrian sesungguhnya. Dia akan percaya setelah menjalani dan menghadapi kenyataan setelah hidup bersama, pikirnya.
Mereka tiba di gedung rumah sakit, yang dijaga ketat oleh beberapa bodyguard suruhan Lauren Bennett, agar mengawasi wanita yang bernama Stela menginjak wilayah tersebut.
Stela berlari kencang, menaiki tangga darurat, atas petunjuk salah satu rekan mereka yang sudah menunggu gadis berdarah Padang itu di lantai paling atas.
Calita menyesiasati situasi, dan mengamankan kondisi, bergumam dalam hati atas kebodohan yang dilakukan gadis cantik tersebut, "Kenapa cinta itu bisa membuat orang menjadi gila? Apa yang dia harapkan dari seorang Adrian Martadinata? Dia hanya seorang komandan yang berlindung pada ketiak Lauren Bennett. Kekuasaan yang dia miliki merupakan hadiah dari wanita itu. Aaaagh.... sudahlah! Yang pasti aku sudah membantunya agar bertemu dengan Stef!"
Pikiran itu yang telah terbaca oleh Stefan, saat Calita tengah berdiri di pintu koridor.
Krek.... kreek.... kreek....!!
"Apa yang kau lakukan pada adikku, perempuan jahanam?"
Terdengar suara Stefan yang sangat menakutkan bagi gadis yang telah menidurinya beberapa waktu lalu.
Calita menelan saliva, detak jantungnya terasa berhenti, untuk bernafas saja sangat sulit baginya, "Stef.....!!" ucap gadis itu tanpa berani menoleh.
Calita yang sangat mengetahui siapa sebenarnya Stefan, hanya mencoba menenangkan pria yang dia anggap kekasih tersebut dengan nada bergetar.
"Jawab aku....! Apa yang kau lakukan pada Stela!?" teriak Stefan.
Calita semakin tampak ketakutan, tubuh langsing itu bergetar hebat, mengatur nafasnya yang terasa semakin berat, "Boleh aku menatap kearah mu? Kita akan membicarakan semua ini! Jangan lukai aku, Stef! Aku menolongnya karena permintaan dia sebagai wanita yang ingin memperjuangkan cintanya!"
__ADS_1
Stefan menggeram, wajah tampannya tampak memerah, dia tidak ingin Stela terluka, apapun akan dia lakukan karena mengetahui siapa Lauren Bennett, wanita dewasa yang sangat sadis bahkan tega menyakiti anak kandungnya sendiri seperti William.
"Apa kau tidak mengetahui siapa Lauren? Dia wanita gila yang tidak memiliki perasaan! Bagaimana mungkin aku akan membiarkan adikku merebut suaminya!" kesal Stefan menggeram kearah telinga Calita.
Calita dengan sigap membalikkan tubuhnya, merampas sempi yang ada di tangan pria itu dengan gerakan cepat, memelintir tangan Stefan kearah belakang agar tidak melawan, dan menyandarkan tubuhnya ke dinding.
"Apapun yang dilakukan Stela, biarkan dia mengetahui siapa Adrian Martadinata! Tidak perlu kita yang bicara! Karena bagaimanapun kau menghalangi adikmu, dia akan semakin penasaran bahkan rela membunuh kalian semua! Biarkan dia, laki-laki bodoh!" tegas Calita membalas Stefan.
"Brengsek kalian! Berarti ini rencana kalian semua, untuk membuat kami kehilangan keluarga? Haaaah......! Aku peringatkan padamu Nona, jangan sampai kalian melukai Stela, karena aku akan membunuh kalian dengan tanganku!" jawab Stefan dengan penuh dendam.
Namun, saat mereka berdua saling berdebat, mata mereka dikejutkan dengan tubuh Stela yang tengah berada di tengah gedung, untuk melakukan sesuatu. Menggunakan seling, dia akan membawa kekasih hati kembali dalam pelukannya.
"Stela....!" geram Stefan.
"Stela....!!"
Mereka bergegas menyusul Stela yang akan memecahkan kaca rumah sakit, setelah mengetahui keberadaan Adrian dan memastikan keberadaan pria bermarga tersebut dengan sangat baik.
Benar saja, Stela mendapat alat pemecah kaca gedung yang tidak akan mengeluarkan suara, dari salah satu rekan mereka yang bersedia membantu dan menunggu Stela masuk kedalam kamar dimana mereka menemukan keberadaan Adrian Martadinata.
Traaak...!
Kaca gedung khususnya kamar Lauren Bennett yang memiliki ketebalan luar biasa, hancur berkeping-keping, meloloskan tubuh Stela yang masih bertahan di kawat seling untuk menerobos masuk kedalam kamar rumah sakit yang sepi senyap.
Stela melepaskan lilitan seling yang membawa tubuhnya, melepaskan dengan memberi kode tiga hentakan agar ditarik keatas.
"Stela....!?"
Adrian terlonjak seketika melihat gadis muda yang menjadi selingkuhan saat ini berada di hadapannya.
__ADS_1
"What are you doing here....!?"