GREEN

GREEN
Chapter 09


__ADS_3

...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan GREEN kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



“Dia menyatakan perasaannya, itu berarti dia memang menyukaimu, Jun.”


“Aku tau.”


“Kalau begitu, tunggu apa lagi?” sambung Orlando. “Temui dia dan katakan juga perasaanmu.”


Setidaknya, itu kalimat yang ia dengar dari Orlando. Junot memang tidak pandai dalam hal wanita, tapi dia manusia normal, masih menyukai lawan jenis, dan Green adalah gadis yang akhir-akhir ini memenuhi isi otaknya.


Sudah hampir tiga perempat Junot menempuh perjalanan. Ia meminta izin kepada Grey untuk berkunjung ke Amber dan menemui Green hari ini. Izin itu ia dapat dengan mudah karena sosok Green adalah karena bagi Grey, Green termasuk orang yang berjasa bagi Geogini. Junot terus memacu laju kudanya, dan kini ia bisa bernafas lega. Pintu perbatasan Amber telah terlihat, dia semakin tidak sabar untuk melihat dan membagikan jawaban atas pernyataan Green beberapa waktu lalu padanya.


Dalam hati, ia terus menghafal beberapa kalimat yang sudah ia susun demi memberikan jawaban atas ungkapan perasaan Green. Akhir-akhir ini, Junot juga tidak bisa bekerja dengan tenang karena memikirkan Green tanpa henti. Gadis itu selalu berhasil merenggut konsentrasinya.


Senyuman mengembang begitu saja saat membayangkan wajah gembira Green ketika mendengar jawaban yang akan ia katakan hari ini. Namun ia harus kembali menelan sebuah kekecewaan karena dua penjaga perbatasan di pintu gerbang istana itu menghentikannya.


“Sebutkan nama anda!” pinta salah satu penjaga yang berpawakan tinggi tegap.


“Junot Anderson Giora.”


“Asal!”


“Geogini.”


Sesuai titah rajanya, mereka harus menahan masuk seseorang yang bernama Junot dan berasal dari Geogini agar tidak masuk kedalam Amber lalu mengacaukan pertemuan penting yang sedang terjadi antara Amber dan Shibu.


Junot mengernyitkan dahi. Karena beberapa penjaga perbatasan itu semakin semakin ramai dan merapatkan barisan. Lalu, seseorang berdiri dibarisan paling depan. Abbey, sang panglima perang kerajaan Amber mengambil alih. Dia menatap tajam pada sosok Junot yang masih duduk diatas punggung kudanya.


“Kembalilah ke Geogini. Istana sedang ada tamu penting yang tidak bisa di ganggu. Apalagi orang luar seperti dirimu, panglima Jun.”

__ADS_1


“Aku ada urusan tidak kalah penting dengan putri Green.”


“Maaf, tapi silahkan datang lain waktu. Raja menitahkan kepada kami untuk menolak siapapun yang ingin masuk ke istana Amber, karena sedang ada pertemuan penting disana.”


Junot meremat tali kekang kuda yang ia genggam. Ia sebal sekali karena sudah jauh-jauh datang, dan sekarang kehadirannya ditolak mentah-mentah oleh prajurit perbatasan Amber.


“Tidak. Aku akan menunggu sampai pertemuan itu berakhir.”


Jawaban itu menjadi keputusan final dari seorang Junot. Ia melompat turun dari punggung kuda, mencari batang pohon untuk mengikat kudanya, lalu duduk diam disana sampai melihat rombongan tamu yang 'katanya' penting itu, meninggalkan Geogini.


Sementara itu, Green yang sudah gelisah mendengar keputusan yang dijatuhkan ayahnya, harus kembali membuat kesepakatan dengan sang ayah.


Katakan saja dia egois, sampai-sampai Hellen harus melebarkan kedua mata dan menatap tajam ke arah Green. Sedangkan gadis itu, tersenyum puas karena berhasil membuat sang ibu tiri geram.


Sepulangnya rombongan dari Shibu, Green memilih berdiam diri di kamarnya, menikmati udara sore dari jendela kamar yang langsung menghadap hutan dan juga taman bunga lavender yang sedang bermekaran. Tiba-tiba saja ketenangannya terusik. Hellen masuk ke kamarnya tanpa Green duga.


“Mengapa tidak ikut mengantar raja dan pangeran Shibu?”


Green tak menggubris, dia memilih menyesap ramuan teh hijau yang beberapa menit lalu ia minta. Ia memang tidak berniat mengantar kepergian rombongan Shibu, tapi mengapa hal itu menjadi masalah untuk Hellen?


“Aku lelah.”


Demi apapun, Green ingin sekali memaki wanita dibalik punggungnya itu. Wanita itu terlalu berambisi dan banyak bicara.


Green tersenyum sarkas. “Lalu, siapa yang ingin menjadi tuan putri, yang mulia ratu? Aku tidak pernah ingin berada ditempat ini. Bagiku, rumahku tetaplah tempat dimana aku tumbuh besar dulu.”


Kini, giliran wanita berambut ikal itu yang tertawa masam. “Jadi, kamu masih ingin hidup terlunta di hutan? Mengapa tidak pergi saja sekalian dari pada tetap tinggal disini dan menjadi beban?”


Beban? Sejak kapan dirinya dianggap beban di Amber? Atau, hanya wanita itu saja yang mencari-cari alasan agar Green benar-benar pergi dari istana.


“Jadi, menurut yang mulia ratu, aku ini beban?”


“Ya. Sejak kamu datang dan menginjakkan kaki di Amber, yang mulia raja selalu mengeluh tentang dirimu.”


Green meremat cangkir marmer berwarna putih karena geram. Jadi, ayahnya sendiri pun, menganggapnya sebagai beban?


“Hahaha...” Green tertawa tanpa sebab. Ah, lebih tepatnya ia menertawakan Hellen dan perilakunya yang ingin mendepak Green secara terang-terangan. “Lalu, jika aku pergi dari istana, apa semua beban itu akan sirna?”

__ADS_1


Hellen menghilangkan senyuman dibirainya, menatap Green lurus-lurus beserta emosi yang sepertinya hendak meledak.


“Menurutku, aku bukan beban disini. Jika aku beban, mengapa ayah memintaku kembali ke istana meskipun aku mengajukan syarat aneh untuknya? Coba, beritahu aku. Apa yang anda lakukan dibelakang ayahku, huh?!”


Seketika itu juga, Hellen terbelalak. Apa Green tau apa rencana dan juga sesuatu yang ia lakukan di belakang raja Aruchi. Suara Green kembali menarik kesadaran Hellen dari lamunan.


“Ratu Hellen. Apa kamu terusik dengan kehadiranku disini?” tanya Green penuh penekanan. “Apa anda takut semua rencana anda berantakan karena kehadiranku?”


Hellen mengepalkan kedua telapak tangannya disisi tubuh. Ia geram mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut Green, dan ingin sekali membuat gadis itu terdiam untuk selamanya.


“Jika anda menganggap aku musuh, anda salah besar, karena aku bukanlah musuh yang seimbang. Tapi, aku tidak akan tinggal diam jika anda mencoba menghancurkan raja Aruchi. Ya, aku tidak akan membiarkan Anda merenggut kebahagiaan dan juga kejayaan raja Aruchi, ayahku.”


...***...


Satu bulan merupakan waktu yang terlalu singkat untuk membalaskan semuanya. Menyusun rencana matang tidak bisa ia buat dengan waktu terbatas seperti itu. Sebenarnya bisa saja, akan tetapi, kemungkinan besar gagal lebih besar dari pada berhasil.


Pintu gerbang bagian depan dibuka. Para rombongan mulai memacu kuda perlahan, dan Havier mengikuti langkah panglima Hoshi yang memimpin di bagian depan.


Kala maniknya menoleh pada salah satu sisi luar istana, Havier mendapati seseorang berwajah familiar, tapi entah dia pernah melihatnya dimana. Pandangannya terus tertuju disana, dimana laki-laki itu kini berdiri, membalas tatapannya tak kalah menelisik.


Apa dia yang dimaksud raja Aruchi? Laki-laki yang membawa Green pergi? Tapi mengapa raja tidak menghukumnya?


Pertanyaan itu mendominasi otak kanan Havier. Havier belum rela melepas tatapannya pada sosok itu sampai laju kuda semakin cepat dan menjauh dari istana Amber.


Sementara Junot, menghela nafas lega saat rombongan itu telah meninggalkan istana Amber. Itu artinya, dia bisa masuk dan menemui Green setelah ini.


Junot menepuk celananya beberapa kali untuk menghilangkan daun kering yang menempel. Kemudian membuka ikatan kudanya dan berjalan mendekat kearah penjaga yang masih siaga di sana.


“Panglima. Sekarang aku ingin bertemu Putri Green. Rombongan itu sudah pergi bukan?”


Abbey yang mendengar permintaan Junot seketika itu juga mengeraskan rahang. Mata elangnya menatap sembari mematik rasa kesal. “Aku sudah mengatakannya padamu, bukan? Kembalilah ke Geogini, karena raja memberi perintah kepada kami untuk melarang siapapun masuk, termasuk diri mu.”


Junot menebak, ada sesuatu yang sedang disembunyikan.


“Baiklah. Aku akan pergi setelah menyampaikan pesan yang aku bawa. Tolong panggilkan putri Green untuk menemui ku sebentar. Ada sesuatu yang hendak aku sampaikan,”


Junot berfikir sejenak, mencari alasan agar keinginannya bertemu Green terpenuhi tanpa bersitegang dengan panglima Abbey.

__ADS_1


“Sampaikan kepada putri Green, bahwa aku membawa pesan dari ratu Ivory, temannya. Aku menunggunya disini.” []


^^^to be continued.^^^


__ADS_2