GREEN

GREEN
Chapter 14


__ADS_3

...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan GREEN kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



Green terus meronta, ia berusaha melepaskan diri dari cekalan telapak tangan yang membekap mulut dan menghalangi jalan nafasnya hingga membuat Green merasa seolah sedang berusaha di musnahkan.


Ia memukul berkali-kali telapak tangan yang masih membekap mulut dan menyeretnya kebelakang tanpa memberi jeda.


Sial, apa dia tertangkap?


Tapi pada kesempatan berikutnya, bekapan itu terlepas, dan Green memukul lengan orang dibalik punggungnya itu.


“Kenapa membekapku seperti itu? Sejak kapan kamu berada disini, pangeran?”


Ya. Orang itu adalah pangeran Havier yang tentu saja juga penasaran dengan bangunan gudang ini. Akan tetapi, Havier meletakkan jari telunjuknya didepan bibir, memberi isyarat agar Green diam.


“Ada orang. Jangan bersuara.” bisiknya, menarik Green semakin dekat dengan tubuh bagian depannya.


Akhirnya, mereka memilih bersembunyi dibalik tumpukan kayu agak tinggi yang tidak jauh dari batu besar yang menutupi tembok pembatas kerajaan. Dibawah rintik hujan yang mulai membasahi tubuh, Snow dan Havier masih bertahan disana. Melihat bagaimana seorang laki-laki berpawakan tinggi besar mendorong batu, kemudian mengembalikan pada tempat semula, berjalan mengendap-endap memasuki gudang dari pintu tersembunyi. Tak lama kemudian, Oslo dan Hellen datang dan masuk kedalam gudang yang ternyata tidak hanya digunakan sebagai tempat menyimpan barang tidak terpakai saja. Melainkan, sebagai tempat bertemu orang-orang yang disinyalir ingin menggulingkan tahta raja Aru, dan menghancurkan Amber.


Karena sebuah gerakan kecil, Green menarik perhatian Oslo. Laki-laki tua itu sudah hampir masuk, namun memutar langkah karena mendengar suara benda jatuh dari tumpukan kayu yang berada tidak jauh dari lubang dan batu besar di tembok pembatas.


Oslo mendekat, lalu menilik pada tumpukan yang ternyata tidak ada siapapun. Maniknya memutari seluruh penjuru tempat itu, namun tidak ada sesuatu yang mencurigakan, atau kehadiran seseorang disana. Untuk itu, dia memutuskan kembali bergabung bersama Hellen dan laki-laki yang menjadi sekutu Hellen untuk menciptakan konspirasi di Amber.


Havier bernafas lega ketika melihat Oslo kembali menapakkan kaki di area gudang. Kini tatapannya berubah nyalang kearah Green. “Maaf, tiba-tiba kakiku kram.” ucap Green memberi penjelasan agar Havier tidak menuduhnya sembarangan.


“Hampir saja nyawa kita melayang. Kamu tau, resiko menjadi mata-mata seperti ini mempertaruhkan nyawa.”

__ADS_1


“Iya, maaf. Aku tidak sengaja.”. Havier bangkit. Ia mengambil langkah mengendap dan kembali mendekat ke gudang.


Kali ini, bangunan itu diterangi sebilah cahaya redup yang berasal dari sebuah lilin, Havier bisa memastikan itu. Suara gemerisik rintik hujan masih mendominasi, dua anak manusia itu masih berjuang untuk mencari kebenaran akan terkaan yang membesit didalam kepala mereka.


Satu persatu mendapat jawaban. Tentang siapa yang berada disana, tentang siapa presensi yang mereka berdua lihat tanpa mengetahui wajah, tentang mereka yang merencanakan sesuatu, dan tentang mereka yang melakukan hal yang seharusnya tidak harus mereka lakukan.


Havier menarik mundur tubuh Green. Dia tidak mau jika mata Green terkontaminasi oleh pemandangan adegan erot*is yang mungkin masih belum boleh disaksikan oleh calon mempelainya itu.


“Kenapa?” tanya Green ketika Havier tiba-tiba saja menariknya hingga nyaris terjatuh kebelakang.


“Ada sesuatu yang tidak harus kamu saksikan.”


Green mengernyit. Ia tau maksud Havier. Dan kedua pipinya seketika memerah.


Memang tujuan Havier tidak ada yang salah, tapi Green seperti sudah menghianati laki-laki yang sama sekali tidak ia harapkan itu. Havier tidak tau, dan tidak boleh tau jika dia pernah melakukannya bersama Junot.


“A-aku sudah dewasa. Jangan khawatir tentang i—”


Sesampainya di pelataran belakang istana, Havier membantu Green mengibas gaunnya yang sudah basah, lantas mengusap rambut gadis itu penuh perhatian. “Maaf membuatmu jadi pergi ke tempat itu. Lain kali, jangan pergi kesana tanpa aku.”


Mendapat perlakuan seperti itu dari Havier, Green terpaku, ia menatap lekat pada sosok Havier yang sekarang sibuk mengibaskan pakaian dan sepatunya.


Mengapa harus Havier? Bukan Junot?


Green membayangkan jika orang yang berdiri didepannya saat ini adalah Junot. Laki-laki yang selalu ia rindukan, dan sudah membuatnya menjadi wanita yang sempurna.


Keheningan yang terjadi beberapa saat itu kembali terpecah oleh suara Havier. “Kamu dengar apa yang mereka katakan, bukan?”


Jujur, Green tidak mendengar apapun. Ia sama sekali tidak mendengar suara percakapan mereka selain suara rintik hujan yang membumbung ketika jatuh menyapa atap.


Green menggeleng. Ia tidak mau berbohong. Sedangkan Havier, terkejut karena hanya dia sendiri yang mendengarnya. “Tapi, apa kamu akan percaya dengan informasi yang akan aku katakan?”


Sejenak, Green terhenyak. Dia sudah membuktikan ucapan pertama yang di katakan Havier, tentang gudang itu. Dan terbukti benar. Jadi dia akan percaya.

__ADS_1


Green mengangguk.


Havier menundukkan kepala. Ia memilah kalimat yang tepat untuk menyampaikan informasi yang ia dengar tadi. Lantas ia kembali menatap Green. Tatapan tanpa ekspresi, dan hanya terlihat sebuah tatapan sendu.


“Mereka merencanakan sebuah pembunuhan.”


“Pembunuhan?”


Havier mengangguk meng-iyakan. Lantas ia melanjutkan kalimatnya. “Mereka berencana akan menghabisi raja, setelah pernikahan kita digelar.”[]


^^^to be continued.^^^


...🍃🍃🍃...


Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:


—WHITE (Fiksi romansa Modern)


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatiannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


See You.

__ADS_1


__ADS_2