GREEN

GREEN
Chapter 41


__ADS_3

...GREEN update chapter 41...


...Selamat membaca...


...🏰🏰🏰...



“Kamu akan mati. Atau, membusuk di penjara.”


Terdengar tidak adil untuk hal besar yang sudah dilakukan Hinawa kepada Amber dan Shibu. Hukuman itu terlalu ringan dan terlalu manusiawi untuk kelakuan Hinawa yang lebih jahat dari seekor hewan.


“Atau...” Nagawa sengaja menjeda, “Kamu mau mati hari ini juga?” tanya Nagawa lebih mendominasi, sedangkan Hinawa hanya memperhatikan fitur sang adik yang sedang di kungkung oleh amarah dan emosi yang meledak.


“Aku akan menerima hukuman darimu. Apapun bentuk hukuman itu, aku siap menjalaninya. Termasuk mati.”


“Ya. Kamu pantas dihukum. Entah itu hukuman mati, atau hukuman hidup didera rasa putus asa yang sangat menyiksa bagimu sebagai balasan atas pengkhianatan yang kamu lakukan ini.” jawab Nagawa dengan mantab. Dia sama sekali tidak mau berkompromi. Meskipun selama ini Hinawa sangat berjasa membela tanah kerajaan Shibu, tapi untuk sebuah persekongkolan dan penghianatan, Nagawa tidak akan berfikir dua kali untuk menjatuhkan hukuman berat untuk pelakunya.


“Tapi, tolong. Selamatkan Havier.” pinta Hinawa seraya menunjuk dimana Havier berada.


Nagawa menoleh kearah putranya yang tergeletak tidak berdaya. Maniknya berembun seketika melihat keadaan putranya yang menjadi korban kejahatan dari perbuatan saudaranya sendiri. Havier anak yang baik dan penurut, meskipun terkadang memang membuat Nagawa naik pitam, tapi Havier tidak pernah menolak apapun perintah yang ia jatuhkan padanya.


Di ufuk barat, matahari mulai menemukan tempat peraduan, dan bumi mulai direngkuh gelap. Suara hewan berdenging berubah dengan suara derik yang bersahut-sahutan. Terang telah menjelma menjadi gelap seutuhnya.


“Sampaikan permintaan maaf ku nanti jika dia sudah siuman.” pinta Hinawa tulus. Ia benar-benar menyayangi Havier seperti menyayangi anaknya sendiri. Meskipun Hinawa memutuskan untuk tidak menikah, ia masih memiliki Havier untuk ia rawat dan ia besarkan dengan kasih sayang yang ia punya. Ikatan batinnya begitu kuat dengan Havier, dan Hinawa sangat menyayangi putra semata wayang dari Nagawa itu.


“Katakan padanya, jika aku akan tetap menyayanginya sampai kapanpun. Dan aku akan tetap menjadi pamannya meskipun aku adalah seorang penghianat.”


Nagawa memperhatikan fitur wajah Hinawa secara lekat. Kenangan demi kenangan masa kecil mereka mendadak muncul satu persatu seperti putaran memori yang menjadi dejavu. Mereka dibesarkan bersama oleh orang yang sama pula di kerajaan, namun itu tak urung membuat mereka memiliki sikap dan sifat yang sama pula.

__ADS_1


Selama ini, Hinawa selalu mengalah untuk Nagawa. Dia bahkan rela melepas gelar putra mahkota yang seharusnya disandangkan untuk dirinya, hanya demi Nagawa agar adik tersayangnya itu senang. Lalu dia memilih menjadi panglima perang, dengan tujuan agar dia bisa melindungi Nagawa sampai akhir hayat nafas hidupnya.


“Dan untuk dirimu, adikku. Maafkan kakak mu yang tidak bisa menepati janji untuk selalu menjaga nama baik dan melindungi Shibu. Kakakmu ini orang yang serakah, tamak, dan pecundang.”


Nagawa hanya diam mendengarkan bagaimana Hinawa terus bicara padanya.


“Aku memilih menginginkan Amber dan membuat konspirasi disini, karena aku tidak ingin merebut Shibu darimu.”


Nagawa tercenung akan alasan kakaknya itu melakukan hal buruk yang kini mungkin akan berimbas pada dua kerajaan yang tidak akan pernah bisa bersatu, karena sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh Hinawa.


“Maafkan aku. Kamu bebas memberi hukuman apapun padaku, karena aku memang salah.”


Setelah mengatakan itu, Aruchi datang bergabung bersama mereka berdua dan menatap tajam seolah ingin mencabik dan menghabisi Hinawa dengan pedangnya detik itu juga.


“Raja,” panggil Nagawa memelas karena malu. “Aku mohon, izinkan aku membawanya kembali ke Istana Shibu. Aku sendiri yang akan memberinya hukuman padanya. Aku bersumpah akan bertindak adil untuk Amber.”


“Dia pantas menjadi salah satu orang yang mati diatas tanah ini bersama orang lain yang menjadi penganutnya!” kata Aruchi tegas tanpa ingin memberi pengampunan.


Ingatan tentang perang bersama Geogini kembali terputar dikepalai Aruchi. Ia kembali mengingat bagaimana raja Harlotte bersikap bijaksana kepada Amber. Selain itu, Grey juga konsisten dengan peraturan disana, Grey saat itu meminta dengan sangat untuk menghukum orang yang bermasalah di kerajaannya sendiri jika memang terbukti salah.


Aruchi mengangguk setuju. Disini sudah ada Nagawa, sang raja pemilik Shibu yang memiliki hak penuh atas rakyatnya. Lantas kemungkinan akan jadi lebih baik ia lepaskan Hinawa untuk di hukum di tanah kelahirannya saja. “Ya, kamu benar. Bawa dia kembali ke Shibu bersamamu, hukum dia dengan hukum kerajaan Shibu.”


“Terima kasih sudah percaya kepada saya, raja Aruchi. Saya tidak akan pernah lupa dengan kebaikan anda.”


Aruchi hanya tidak ingin memperparah suasana dan juga keadaan yang sedang kacau balau ini. Dia melepas Hinawa pergi, namun dia akan tetap memantau dari jauh bagaimana Hal nawa akan menerima ganjaran atas perbuatannya.


***


Pertempuran sengit itu berakhir dengan dibawanya Hinawa dalam kerangkeng dan Havier yang dibawa ke Shibu untuk mendapatkan pengobatan akibat luka serius yang diterimanya. Nagawa juga akan menghakimi lagi Hinawa, meskipun mereka bersaudara. Perbuatan Hinawa sudah merugikan banyak pihak, terutama Amber.

__ADS_1


Sedangkan Green, dibawa kembali ke Amber. Juga untuk mendapatkan pengobatan serius atas beberapa luka lebam dan juga luka-luka lainnya yang cukup membuat ngilu. Diantaranya, tulang leher dan tulang punggung yang bermasalah, serta bagian perut yang mengalami tendangan dan berakibat cukup fatal, yakni pendarahan.


Ya, tanpa ada yang tau, Green saat itu sedang mengandung. Dan karena kekerasan yang dilakukan Hellen, Green harus kehilangan janin yang baru berusia beberapa minggu yang menghuni rahimnya.


Green bahkan belum sadarkan diri setelah dua hari kejadian mengerikan itu berlalu. Junot dengan setia menunggu Green, merawatnya dengan baik, karena ia juga menyesal tidak bisa melindungi Green dan calon anaknya yang kini sudah meninggalkan mereka. Junot sangat menyesali hal itu hingga dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, dan tidak sanggup menatap wajah Green yang pucat.


Sedangkan raja Aruchi, memberikan izin sepenuhnya kepada Junot untuk merawat putri semata wayangnya. Ia tidak berniat marah atau menghukum Junot karena perbuatan mereka dibelakangnya. Aruchi bahkan turut menyesal karena tidak bisa melindungi calon cucunya yang akan menjadi penerus kerajaan Amber.


Aruchi berdiri dari tempat duduknya yang tidak jauh dari ranjang tempat Green terbaring. Ia memberi isyarat kepada Junot jika dirinya akan pergi dan Junot mengangguk sebagai jawaban.


“Tolong beritahu aku jika Green sadar.”


“Baik, yang mulia.” kata Junot tanpa berani menatap mata Aruchi. Dia masih merasa bersalah dan malu karena tanpa ia duga, hal yang ia lakukan bersama green secara diam-diam itu, harus terungkap dengan cara yang tidak pernah ia duga.


Suara langkah terdengar semakin menjauh, dan siluet Aruchi menghilang di balik pintu kokoh berukir lambang kerajaan Amber itu. Perhatian Junot kembali tertuju pada Green, wanita yang sempat mengandung buah cinta mereka berdua. Junot menatap lekat penuh kasih sayang kepada Green, kemudian mengusap punggung tangan yang hangat wanita ini.


“Saat kamu sadar nanti, aku harap kamu bisa menerima kenyataan pahit yang sudah terjadi padamu, Green. Tentang anak kita.” katanya, lalu mengangkat lengan Green dan mengecupnya singkat sebelum ia kembali mengusap punggung tangan tersebut.


Sesaat kemudian, jari telunjuk Green terasa seperti bergerak yang berhasil membuat Junot tersentak kaget.


“Green—” []


###


Silahkan tinggalkan like dan komentarnya agar author semangat nulisnya


Btw, beberapa part lagi Green akan tamat. Jadi, tetap ikuti Green sampai akhir ya tsay...


Jangan lupa juga untuk mampir ke cerita baru Othor ya, judulnya ME GUSTAS TU. Ceritanya nggak kalah seru lho..Cus baca...

__ADS_1


Thank you.


__ADS_2