
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan GREEN kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
Semua terjadi begitu saja. Green memutuskan untuk menyerahkan hal paling berharga miliknya untuk Junot.
Melihat respon Green yang sepertinya terlihat baik, Junot bergerak lebih cepat, dan semakin cepat hingga penyatuan itu memunculkan sebuah rasa baru. Rasa yang selama hidupnya belum pernah Junot dan Green rasakan. Suara des*ahan mereka bersahutan, dengan Junot yang tidak berhenti menyebut nama Green.
Pada akhirnya, mereka berdua mereguk kenikmatan secara bersama. Melepas bukti percintaan mereka didalam rahim Green. Nafas keduanya memburu, keringat yang membasahi tubuh, aroma khas sisa percintaan, juga tubuh lelah yang terkulai. Junot memeluk Green dibalik punggungnya, menciumi setiap inci permukaan kulit wanita yang ia klaim sebagai miliknya mulai saat ini.
“Aku mencintaimu, Green.”
Waaah... Betapa bahagianya hati Green karena perasaannya terbalas. Ia tertawa dengan wajah merona yang ia sembunyikan. Lalu dia mengusap lengan kekar Junot sembari berkata. “Aku juga mencintaimu, terima kasih sudah membalas perasaanku.”
...***...
Green dan Junot bersiap kembali ke Amber. Setelah berpamitan pada Ivory, Green bergegas menuju tempat Junot menunggunya, yakni gerbang luar istana.
Manik keduanya bertemu, dan ada sedikit rasa canggung setelah kegiatan semalam.
“Biar aku bantu naik.”
Green mengangguk. Ia tidak akan menolak sebab bagian paha dalamnya masih terasa perih dan nyeri. Salahkan Junot yang memiliki ukuran phallus di atas rata-rata.
Sepanjang perjalanan, Green sesekali merintih sakit saat kuda perkasa Junot lari terlalu kencang dan membuat bagian intim Green membentur saddle. Ia bahkan meminta beristirahat setiap merasa sudah tidak bisa menahan sakit di sekujur tubuhnya.
“Harusnya kita lakukan di Amber saja.”
Green memicing, ia tidak suka dengan pendapat Junot. “Ini salahmu, mengapa melakukan itu di Geogini. Jika aku tau rasanya sesakit ini, aku akan menolak mentah-mentah kegiatan ranjang yang kamu tawarkan.”
Junot mengedip beberapa kali, ia bahkan terkejut dengan tuduhan Green yang sengaja memancing dirinya. “Baiklah, lain kali akan aku lakukan di Amber saja.”
__ADS_1
Jadi, dia akan melakukannya lagi?
“Ja-jangan. Nanti raja Aru tau dan memancung kepalamu.”
Junot tersenyum. Ia hanya bercanda. “Jadi kamu menolaknya ya?”
“Tidak. Bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai.” sahut Green bingung, mendadak kikuk dan salah tingkah.
Junot melebarkan senyumannya menjadi sebuah tawa. Lantas ia menarik tubuh Green dan membawanya kepangkuan. “Apa kamu tau, arti nama Honey jika didalam bahasa Englagd?”
“Englagd? Dimana itu?”
“Ada. Jauh sekali, dan aku pernah datang kesana sekali untuk ikut pelatihan perang.”
“Memangnya apa?”
“Honey, itu artinya sayang.”
“Sayang? Seperti kata, kasih sayang?”
“Tidak, mereka menggunakan kata sayang untuk memanggil orang yang mereka cintai.” terang Junot, kemudian mengecup bahu Green.
Junot terbahak ditempat. Mengapa Green sangat menggemaskan? Padahal, diawal mereka bertemu, gadis ini begitu kaku dan dingin. “Baiklah, sayang.”
Green menoleh, kemudian mempertemukan bibirnya dengan bibir milik Junot. Mereka begitu bahagia dengan perasaan mereka yang saling terungkap dan juga berbalas, tanpa tau sesuatu hal besar sedang menanti mereka. Lebih tepatnya sedang menunggu Green. Sebuah kebahagiaan yang tentunya tidak akan digapainya dengan mudah, karena Hellen sudah mempersiapkan sesuatu yang akan membuat Green tidak akan merasakan kebahagiaan dengan mudah. Wanita itu tidak akan membiarkan semuanya menghalangi ambisi untuk menguasai dan menggenggam Amber di tangannya.
“Apa dia sudah kembali?” tanya Hellen pada Oslo.
“Iya, ratu. Putri Green sedang memasuki area istana.”
Hellen tersenyum penuh arti. Permainan akan segera dimulai.
—
“Aku akan menemui ayah terlebih dahulu.”
Junot mengekor dibelakang Green. Dia tidak mau lepas tanggung jawab begitu saja. Dia harus benar-benar memastikan Green baik-baik saja, baru setelah itu, dia bisa meninggalkan Amber dengan tenang.
__ADS_1
Namun langkah Green dan juga Junot harus terhenti lantaran Hellen berdiri diujung koridor istana. Wanita itu memasang wajah pongah, tentu saja ditujukan untuk Green.
Alih-alih takut, Green mengambil langkah cepat karena ingin segera menemui ayahnya dan mengatakan jika ia sudah kembali dengan selamat.
“Auh, seperti itukah tingkah laku seorang putri kerajaan Amber?” pancing Hellen, ia bahkan sudah merencanakan penyambutan kedatangan Green. “Apa kamu lupa jika aku adalah ratu disini, dan juga berperan sebagai ibumu, putri Green?”
Menyebalkan sekali. Bagaimana bisa ayahnya menikahi wanita seperti itu. Green saja bisa melihat gelagat tidak baik wanita bernama Hellen itu ketika pertama kali melihat fitur wajahnya. “Lalu kenapa? Apa ada masalah? Aku hanya ingin menemui ayah dan memberitahu jika aku sudah kembali dengan selamat ke Amber, seperti yang beliau harapkan.”
“Tapi raja sedang tidak ditempatnya. Dia sedang pergi ke suatu tempat.”
Green memicing menatap wajah Hellen yang terlihat sedang mencoba mematik perkara agar dia murka. Lantas wanita itu akan mengadu domba dirinya dengan raja Aruchi, seperti beberapa waktu lalu.
“Ah, baiklah. Terima kasih untuk informasinya.” tukas Green lantas membalik badan dan bersiap pergi meninggalkan Hellen dan orang yang berada disisi wanita itu.
“Tunggu. Apa laki-laki ini yang bernama Junot?”
Green yang semula sudah tenang karena Hellen terlihat mengabaikan kepergiannya, harus menghentikan langkah lantaran nama Junot turut disebut. Sedangkan si pemilik nama, hanya menatap datar karena tau tentang perang dingin antara Green dan ibu tirinya itu.
“Berhenti!! Jangan pernah melibatkan dia dalam situasi apapun!”
Green mengatakan kalimat itu penuh penekanan karena ia tau memiliki hak yang sama dengan Hellen didalam istana. Sedangkan Junot, mencoba menerka apa yang ad dibalik wajah tak tau malu Hellen yang mencoba menendang putri kerajaan dari tempatnya.
“Ya. Aku panglima dari kerajaan Geogini. Aku Junot.” katanya, tak mengindahkan Green yang sudah susah payah menghentikan pergerakan Hellen agar mencari tau tentang siapa dirinya. “Kenapa? Apa ada sesuatu yang membuat anda merasa tidak nyaman? Atau terancam mungkin?” lanjut Junot, memancing jawaban apa yang akan dilontarkan Hellen.
Wanita itu tersenyum lembut namun terlihat dibuat-buat. “Hei, apa maksudmu berkata demikian, panglima tampan?”
Mendengar Hellen menyebut Junot demikian, Green mengepal kuat hingga buku jarinya memutih sempurna. Ia tidak suka wanita itu memandang Junot dengan tatapan menggoda seperti yang sedang dilakukannya saat ini.
“Ayo. Aku antar kamu pergi dari sini.” ucap Green geram. Ia menarik paksa Junot untuk meninggalkan Hellen yang masih setia menatap kepergian mereka berdua hingga menghilang di perpotongan koridor yang akan menghubungkan mereka menuju lantai bawah.
Hellen lagi-lagi menarik sudut bibirnya saat mengatahui satu hal yang akan ia jadikan untuk melemahkan Green.
“Oslo.” panggil Hellen kepada pendamping setianya.
“Ya, ratu.”
“Kirim pesan untuknya. Aku ingin bertemu dan membicarakan sesuatu dengannya.” []
__ADS_1
^^^to be continued.^^^