
GREEN UPDATE
SELAMAT MEMBACA...
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS CERITA INI DENGAN CARA LIKE, KOMENTAR, SERTA TAMBAHKAN PADA LIST FAVORIT KALIAN JIKA SUKA. BERI JUGA VOTE DAN HADIAHNYA JIKA BERKENAN
TERIMA KASIH
🏰🏰🏰
Setelah berlari cukup jauh untuk menghindarkan diri agar tidak tertangkap, Green pada akhirnya sampai di pintu gerbang masuk istana.
Disana, dia sempat dihadang karena para petugas yang saat itu tidak mengenalinya karena dia mengenakan cadar. Ditambah lagi suasana runyam karena ulahnya yang menghilang tanpa izin, membuat Aruchi panik dan memerintahkan beberapa prajurit untuk mencari keberadaannya.
“Astaga tuan putri. Mengapa anda pergi tanpa izin begitu?” cerocos Galila sambil meneliti keadaan Green yang memang baik-baik saja. Hanya saja, nafas tuan putrinya itu tersengal-sengal dan terlihat ketakutan. “Raja menyuruh beberapa kelompok prajurit mencari anda.”
“Sekarang, dimana raja?”
“Ada di istana utama.”
Tanpa banyak bicara, Green berlari ketempat sang ayah berada. Dia tidak mau lagi tinggal diam. Dia akan membuka kebusukan ratu Hellen sebelum semuanya hancur.
Sesampainya disana, Green terkejut karena Hellen sudah berada disana, duduk di samping ayahnya sambil bertingkah manja yang terlihat memuakkan. Membuat perut Green mual, ingin muntah.
Melihat Green sudah berada dan kembali ke istana, Aruchi merasa lega sekaligus marah. Ia berdiri kasar dan berjalan mendekat ke arah putrinya itu. Lantas ia menatap tajam pada sosok Green yang sama sekali tidak melihat kearahnya, melainkan menatap marah pada sosok Hellen yang berada di belakang punggung ayahnya itu.
“Dari mana kamu, putri?” tanya Aruchi tegas mengintimidasi.
“Ayah, ada yang harus aku bicarakan dengan ayah sekarang.”
Hellen bergegas berdiri dan menarik mundur Aruchi.
“Apa kamu tidak bisa beradab sopan kepada raja? Dia ayahmu, tapi dia seorang raja, jadi kamu harus memperlakukan dia seperti seorang raja.”
__ADS_1
Green membuang muka sembari berdecih. Wanita dihadapannya ini benar-benar tidak tau malu. Munafik.
“Baiklah. Lepaskan ayahku. Aku ingin bicara dengannya.” ketus Green tanpa mendengarkan apa yang baru saja dikatakan Hellen padanya. Dia sudah tidak mau lagi menutup-nutupi ketidaksukaannya kepada wanita itu dengan cara menaruh hormat. Dia bukan ibunya, dan dia juga wanita jahat. Untuk apa lagi sikap hormat itu? Tidak perlu.
“Tolong tinggalkan kami berdua.” titah Green, namun raja Aruchi tetap saja diam tanpa pembelaan kepada ratunya. Dia bisa menebak kepanikan di wajah sang putri.
“Jaga mulut—”
“Tolong tinggalkan kami berdua.” titah Raja Aruchi dengan suara rendah kepada Hellen, yang membuat wanita itu merajuk dan meninggalkan mereka berdua begitu saja.
Setelah Hellen meninggalkan kamar pribadi Aruchi, Green menatap sayu dan seperti ingin menangis didepan sang ayah. Laki-laki itu sudah tua dan tidak sepatutnya mendapatkan penghianatan sekejam ini. Ratu Hellen benar-benar keterlaluan sudah membuat ayahnya terlihat bodoh karena berhasil dikelabui. Meskipun tanpa Green tau, laki-laki ini juga tangguh karena sudah menyusun sebuah rencana yang melibatkan banyak sekali sekutu.
“Ada apa, putri?”
“Ayah—”
“Sebaiknya panggil aku sebagaimana mestinya.”
Green memejamkan kedua matanya sambil menggigit bibirnya tak percaya. Suasana sedang genting, tapi ayahnya ini masih saja memikirkan itu.
Pintu kamar dibuka tiba-tiba secara kasar hingga berdebum cukup keras. Seorang prajurit dengan nafas terengah berdiri diambang bilah pintu yang terbuka sempurna itu.
“Yang mulia. Antane diserang oleh segerombolan pasukan tidak dikenal. Banyak prajurit yang gugur disana.”
Green terbelalak. Apa ini satu bagian dari rencana jahat Hellen karena sudah terpergok oleh dirinya?
Lengan Green menahan Aruchi yang sudah hendak mengambil sikap dengan berlari meninggalkannya. Namun kembali terhenti dan manik mereka bertemu.
“Aku mohon jangan kesana tanpa panglima perang kita, ayah. Tolong dengarkan aku sekali ini saja.”
Aruchi tidak memperdulikan ucapan Green dan menarik kasar tangannya hingga gadis itu terpelanting hampir tersungkur. Namun ia tak gentar, Green bangkit dan mengejar sang ayah hendak menghentikan Aruchi. Namun lagi-lagi gagal, dan dia hanya bisa berteriak diantara langkah ayahnya yang tergopoh. “Ayah. Ini hanya jebakan. Aku mohon dengarkan aku.”
Aruchi tidak peduli, sehingga Green menyerah dan berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai dan perasaan kacau balau. Ingin sekali dia mendatangi Junot dan mengatakan hal ini, namun terlihat percuma karena jarak yang cukup jauh dan pasti Aruchi sudah sampai disana ketika dia sampai di kediaman tersembunyi Junot.
Ketika sampai didepan pintu kamar, Green merasa ada yang aneh disana. Biasanya, didepan pintu akan dijaga oleh dua orang prajurit demi keamanannya. Tapi hari ini, kemana perginya si prajurit? Apa mereka juga ikut bersama raja Aruchi untuk melihat situasi di Antane?
Green mendorong pintunya, namun pemandangan begitu mengejutkan tertangkap penglihatannya. Dua prajurit tergolek di lantai bersimbah darah. Sedangkan Galila—dayangnya, dia diikat dan mulutnya di bekap kain dengan wajah lebam berdarah hingga tak bisa bersuara sama sekali.
__ADS_1
“Lila?!” pekik Green hendak berlari. Dia sempat menangkap dayangnya itu menggeleng kearahnya. Itu adalah isyarat yang diabaikan Green karena dorongan kuatnya untuk menyelamatkan sang dayang, yang berakibat cukup fatal.
Namun nahas, ketika belum mencapai Galila, Green merasakan sebuah pukulan keras tepat di tengkuk lehernya hingga pening akibat rasa sakit yang teramat sangat hingga membuat pandangan matanya berubah gelap.
Semuanya terjadi begitu cepat, dan Green jatuh tersungkur dilantai tak sadarkan diri. Pria paruh baya yang membawa balik kayu itu tertawa bangga karena dirinya berhasil melakukannya tanpa kesalahan, sesuai instruksi.
“Gadis sombong.” gumamnya ketika melihat Green pingsan tidak berdaya, sambil menginjak punggung gadis itu. Galila yang melihatnya berdiri dan menerjang pria kepercayaan Hellen itu dengan dorongan cukup kuat hingga membuat laki-laki itu geram dan mengayunkan pedangnya tepat di dada Galila. Gadis itu juga tersungkur, namun nyawanya tidak tertolong. “Kamu yang sudah melihat semua ini, pantas mati.” katanya lalu memerintahkan dua orang yang sedari tadi berdiri dibelakangnya, untuk membawa Green pergi dari istana ke tempat yang sudah Hellen perintahkan.
***
Green membuka kelopak matanya secara perlahan. Lehernya terasa begitu sakit, pusing dan juga ngilu.
Ia meringis menahan sakit, namun Green terus memaksa dirinya untuk mendongak mengangkat kepala. Menelisik tempat yang sedang ia duduki saat ini.
Ruangan sangat pengab seperti tidak ada fentilasi udara, beraroma apak, dan juga gelap. Hanya diterangi oleh pantulan sinar matahari dari genteng kaca yang sudah pecah.
“Dimana ini?” ucap Green lirih dengan suara parau. Sesaat kemudian ia sadar jika kaki dan tangannya diikat. Ia tersungkur di lantai kotor penuh debu. Ia berusaha bangkit, sekuat tenaga yang tersisa, kemudian duduk menelisik setiap sudut ruangan yang menakutkan itu.
Tidak ada orang, atau... belum ada orang disini. Green tak membuang waktu, dia bergerak maju dan mencari benda apa saja yang bisa memutus tali yang terlilit di pergelangan tangannya. Ia tau, jika dia menjadi tawanan sekarang, dan Green juga yakin, jika mereka akan meminta tebusan berupa kerajaan Amber kepada Aruchi.
“Tidak. Mereka tidak boleh mendapatkan mimpinya.” gumam Green sambil terus bergerak mencari sesuatu.
Namun semuanya terhenti dan nahas bagi Green karena seseorang tiba-tiba muncul dari kegelapan dan menendang diantara bahu dan dada hingga gadis itu kembali jatuh diatas lantai. Green menggeliat kesakitan, namun setelah itu ia berusaha menahan rasa sakit itu dan menatap tajam pada sosok asing yang kini berdiri tak jauh darinya.
“Hai gadis kecil? Kenapa? Sakit?”
Green mempertajam pandangan, dan mengeraskan rahang penuh benci. Setelah itu, Hellen muncul dibalik punggung laki-laki itu. “Oh hai, anak tiri? Bagaimana kabarmu?”
Green tidak lagi sudi berbicara kepada Hellen. Dia hanya bisa merapal do'a agar ayahnya selamat dari orang-orang seperti mereka.
“Lihat, disaat situasi seperti ini, dia masih saja seperti itu. Dia memang keturunan Aruchi, sama-sama sombong dan tidak tau diuntung.”
Green semakin mempertajam sorot matanya, lantas menarik senyuman diujung bibir. “Kalau ayahku sombong dan tidak tau di untung, lalu kalian apa? Bajingan? Pecundang? Penipu? Atau, penghianat?”
Rupanya, kalimat Green membuat emosi Hellen terpatik. Wanita itu menggeram sembari berjalan cepat mendekat kearah Green, kemudian melayangkan satu tamparan keras di pipi mulus anak gadis Aruchi itu.
Ini tidak seberapa, Green pernah merasakan hal yang lebih menyakitkan dari pada sebuah tamparan. Gadis itu tersenyum miring. “Aruchi akan segera menemukan dan membunuh kalian.” []
__ADS_1