GREEN

GREEN
Chapter 21


__ADS_3

...Green update. Jangan lupa dukungannya ya teman......


...Thank you...


...Selamat membaca....



“Putri Green, anda dari mana saja?”


Langkah Green terpaku ditempatnya berdiri, Galila—dayangnya—mendapati keberadaannya disini.


“Aku...aku baru saja melihat beberapa tanaman herbal di ladang belakang.”


“Saya mencari anda sejak pagi tadi, tuan putri.”


“Ah maafkan aku membuatmu bingung, Lila. Tapi aku tidak bisa memberitahumu selain memetik beberapa daun herbal dibelakang.”


Galila mengangguk patuh dan mempersilahkan putri Green untuk berjalan lebih dulu.


“Pangeran Havier ingin menemui anda.”


Green tidak tau jika Havier sudah tiba di Amber. Padahal seingatnya, mereka tidak ada janji bertemu dalam waktu dekat.


“Dimana pangeran Havier sekarang?”


“Di aula tamu.”


Tanpa menunggu dan banyak bicara, Green mengambil langkah cepat sedikit berlari untuk menuju tempat yang disebutkan oleh dayangnya. Ia ingin segera bertemu dengan Havier karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan secara rahasia.


Sesampainya di tempat yang disebutkan oleh Galila, Green mengetuk bilah pintu berukir lambang kerajaan Amber itu sebanyak tiga kali. Karena tak kunjung dibuka, Green mendorong pintu tersebut yang ternyata tidak di kunci. Kepala Green melongok kedalam demi mencari keberadaan Havier namun tak ia temukan siapapun didalam sana.


Green mendorong pintu semakin lebar dan masuk kedalam.


“Pangeran.” panggilnya mencoba menemukan dimana Havier berada. Siapa tau memang ada di satu sudut dan Green tidak bisa melihatnya dengan baik.


“Pangeran, anda disini?” panggil Grean lagi, namun tetap tidak ada sahutan. Langkah Green semakin masuk ke dalam untuk terus mencari Havier.


Menyadari tidak ada jawaban dan siapapun didalam sini, Green berniat pergi.


“Kemana ya pangeran Havier? Kata Lila dia di sini?” gumamnya pelan namun menggema di ruangan yang memiliki tinggi dan luas yang berlebihan itu, lantas berputar dan siap meninggalkan tempat. Namun kini seseorang tiba-tiba berada dibalik punggungnya hingga Green menabrak tubuh itu hingga sedikit terpental dan menabrak beberapa atribut terbuat dari emas yang tersemat di pakaian orang tersebut.

__ADS_1


“Pangeran! Mengapa tidak menjawab panggilanku?!” keluh Green kesal karena merasa dipermainkan. Sedangkan Havier terkikik karena raut terkejut Green yang terlihat menggemaskan hingga dia ingin mencubit hidung bangir wanita itu.


“Sengaja.” akunya tanpa merasa bersalah. “Aku memang sengaja menggodamu agar kamu bingung mencari keberadaan ku.”


“Menyebalkan.” cebik Green sudah terlanjur kesal dengan bibir mengerucut seperti bebek. “Mengapa datang tidak memberi kabar?”


“Kalau memberi kabar, buka kejutan namanya.” celetuk Havier yang membuat Green semakin melebarkan bola matanya. Mengapa laki-laki itu terasa menyebalkan sekali hari ini?


“Memangnya kejutan apa?”


Havier memang sering datang ke berbagai tempat tanpa memberitahu terlebih dahulu. Dia juga kerap melakukan sidak di berbagai kawasan Shibu untuk mengetahui semua kegiatan jual beli, atau kegiatan lain yang berhubungan dengan tujuannya memakmurkan masyarakat.


“Aku akan lebih sering datang kesini.”


Green mengerutkan kening. Ia tidak tau tujuan Havier yang tiba-tiba memutuskan itu, tapi dalam sekejap Green kembali ingat dengan keputusan raja Aruchi untuk menunda pernikahan mereka. Karena itukah?


“Memangnya kenapa?”


Havier menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia lantas menunduk sejenak dan berkata, “Aku tidak ingin kehilangan kamu. Permintaan raja Aruchi untuk menunda pernikahan, ada hubungannya dengan konspirasi yang sedang terjadi disini.”


Green diam memperhatikan hingga Havier kembali mengangkat wajahnya untuk menautkan maniknya padanya. “Sekarang aku ingin tau,” katanya. “Apa kamu akan memilih orang lain jika aku tidak bisa mengungkap siapa yang menjadi sekutu ratu Hellen dalam membuat konspirasi?”


Green terperanjat mendengar pertanyaan Havier. Apa yang harus ia katakan? Lalu, orang lain siapa yang Havier maksud? Ucapan Havier terdengar aneh di telinga Green. Lelaki itu seperti sedang ditekan oleh sesuatu yang mengharuskan dia untuk membongkar konspirasi di dalam kerajaan ayahnya.


Sekilas, ada wajah datar yang tersemat pada ekspresi wajah Havier. Tapi sedetik kemudian, senyuman lembut kembali terbit di bibirnya. “Jawab saja. Siapa tau aku beruntung. Kalau jawabannya sesuai harapanku, aku akan lebih giat dan bekerja lebih keras untuk segera mengungkapkan konspirasi dan semua orang yang terlibat didalamnya.”


Green tidak habis pikir, mengapa Havier bersikap begitu padanya. Apa dia benar-benar ditekan? Atau, malah diancam?


“Siapa yang menekan anda untuk melakukan ini?” tanya Green mencoba mencari tau, karena dugaan yang muncul tertuju pada satu orang. Aruchi, ayahnya.


Memangnya siapa lagi yang berani menjadikan dirinya sebagai bahan taruhan selain ayahnya sendiri? Green tau keadaan istana sedang tidak kondusif. Green juga tau, jika ayahnya bisa melakukan apa saja yang menurutnya benar dan bersikap egois agar segera membongkar skandal konspirasi yang sedang terjadi, lantas menjadikannya bahan taruhan pun mungkin bukanlah hal yang salah dimata pria itu untuk mencapai tujuannya.


“Siapa? Siapa...apa maksudmu, putri?” Havier hanya bersikap seolah tidak menau apapun tentang tujuan Green menanyakan hal itu. Kalau bisa, jangan sampai dia membuka mulut dan memberitahu siapa yang membuatnya harus melakukan semua ini.


“Pasti raja Aruchi, bukan?”


Havier menatap lurus. Senyuman diwajahnya perlahan luntur dan berubah menjadi datar.


Mengenal Green, adalah hal yang paling bisa membuatnya penasaran. Selain cantik, Green memiliki aura dan pesona berbeda dari gadis-gadis yang pernah di jodohkan oleh sang ayah padanya. Green gadis yang pemberani, dia berbeda dan Havier ingin memilikinya.


Ah, Havier jadi ingat tentang cerita raja Aruchi tentang kehidupan kelam yang dialami Green saat bayi, mungkin karena Green tidak besar di dalam istana dan dibesarkan oleh orang luar yang tidak kalah oemeneraninya dari hadis tersebut hingga terbentuklah sifat berani itu. Havier sangat menyukai sifat pemberani yang dimiliki Green, yang tidak dimiliki kebanyakan wanita berdarah biru. Green suka tantangan. Gadis itu juga suka dengan hal-hal yang berbahaya.

__ADS_1


Havier berakhir mengedikkan bahu. Ia tidak mau berbohong, juga tidak mau mengatakan jika memang Aruchi lah yang berada dibalik keputusannya ini.


“Sudah aku duga. Lalu, siapa yang raja Aruchi jadikan rival untuk anda, pangeran?”


Havier menghela nafas. Sepertinya akan sulit menyembunyikan rahasia untuk wanita pria dan cerdas seperti Green.


“Panglima Junot. Panglima dari kerajaan Geogini.”


Mendengar jawaban Havier, Green seketika itu membolakan kedua matanya. Jika Havier sering datang, atau bahkan memutuskan untuk tinggal sementara disini, itu artinya keberadaan Junot mungkin akan segera diketahui oleh laki-laki itu. Havier memiliki insting yang kuat untuk mengetahui dan membaca arah, serta menebak keberadaan seseorang. Untuk itulah, raja Aruchi memberi tantangan untuk pangeran dari kerajaan Shibu tersebut


“Kamu pernah mendengar nama itu 'kan?”


Green menjadi tidak fokus, matanya bergerak acak menatap beberapa sudut ruangan untuk pengalihan dari tatapan dalam Havier yang kini membuatnya semakin tidak nyaman.


“Ya. Aku bahkan mengenalnya.” jujur Green tanpa mau menutupi lama-lama tentang siapa dan apa hubungannya dengan Junot. Green hanya tidak ingin membuat Havier semakin ingin tau tentang Junot. “Temanku, adalah ratu dari kerajaan Geogini. Kami dekat, dan dari sanalah aku mengenal panglima perang kerajaan Geogini. Panglima Junot Anderson Giora.”


***


Hari pertama berada di kerajaan Amber, Junot memutuskan untuk mendalami tata letak kerajaan ini. Mulai dari beberapa bangunan inti, anak bangunan kecil lain yang tersebar di beberapa sudut, dan juga ingin mengenal beberapa prajurit Amber yang mungkin bisa ia ajak bekerja sama untuk menggali informasi penting yang ia butuhkan.


Langit sudah hampir gelap. Tadi pagi, saat dia bangun dari tidurnya, Green sudah tidak ada disampingnya. Wanita itu meninggalkan dia tanpa pamit. Mengingat kejadian semalam dimana keduanya memadu kasih, Junot jadi tersenyum sendiri.


Kini langkahnya terhenti pada satu tempat kosong yang letaknya sedikit terpencil dari bangunan-bangunan lain. Kata salah seorang prajurit yang ia tanyai tadi, bangunan itu adalah gudang penyimpanan yang terbengkalai dan sudah lama tidak difungsikan oleh pihak kerajaan. Satu pertanyaan muncul dalam otak Junot, apa raja Aruchi tidak pernah memeriksa bagian-bagian istananya sendiri?


Tapi, tidak begitu kenyataannya dimata Junot. Tempat itu seperti masih difungsikan. Bagian luarnya memang terlihat berantakan dan seperti terbengkalai tanpa perawatan.


Junot melangkah kesana, menilik pintu depan yang digembok, dan gemboknya sudah usang dimakan karat. Telapak tangan besar Junot meraih gembok tersebut dan memperhatikan lekat-lekat. Tidak ada yang salah, memang sudah usang dan berkarat dengan wajar.


Melewati bagian depan, Junot berjalan kearah samping. Disana, ada sebuah jendela yang tertutup rapat, tapi terlihat seperti sering dibuka karena engselnya terlihat baik meskipun sedikit berkarat di beberapa bagian. Ada satu bagian kecil dari bekas lilin yang terpakai, dan dibuang dengan tanpa sengaja disana. Junot memungut dan menyimpannya. Dari sinilah Junot mulai curiga. Tempat ini masih berfungsi, tidak seperti informasi yang ia dapat dari prajurit tadi.


Junot semakin antusias untuk menelisik tempat ini. Tempat yang begitu misterius dan mungkin disinilah semua direncanakan.


Kali ini, langkah Junot terarah ke bagian belakang bangunan. Disana, ada sebuah pintu kayu yang di tahan oleh sebuah kayu besar. Kayu jati yang disandarkan pada badan pintu itu terlihat memang disengaja agar terlihat seperti bangunan yang benar-benar tidak digunakan. Lantainya juga tidak sekotor bagian depan. Ada beberapa jejak sepatu yang tertinggal. Diantaranya ada jejak sepatu seperti milik wanita, yang ia tebak milik ratu Hellen.


Semakin penasaran, Junot bangkit berdiri dan berusaha menanggalkan kayu jati itu dari tempatnya. Tapi, belum sepenuhnya terlaksana, sebuah suara dari arah belakang punggungnya, berhasil mengejutkan Junot.


“Siapa kamu. Apa yang kamu lakukan disini?” []


...🏰...


Hayo siapa?

__ADS_1


Jangan lupa mampir di cerita Vi's yang lain ya Readers baik hati sekalian...


See you.


__ADS_2