
GREEN UPDATE LAGI NIH,
JANGAN LUPA BERI 👍KALIAN YA...
SELAMAT MEMBACA
🏰🏰🏰
Sesampainya di Shibu, Havier disuguhkan oleh berita yang kurang enak. Paman yang selama ini ia hormati, tiba-tiba menghilang. Havier sempat menduga jika hal itu dilakukan oleh kerajaan musuh yang tidak menyukai Hinawa, dan itu sangat mengganggu dan membuat Havier dilanda kecemasan.
Ia pun segera menemui Ayahnya di istana utama. Dan sesampainya disana, ia mendapat berita yang semakin membuatnya tercenung. Pamannya itu sudah menghilang dua hari yang lalu. Tanpa sebab yang bisa di pastikan sebagai alasannya tiba-tiba menghilang. Itu artinya, pamannya itu pergi meninggalkan istana ketika dia perjalanan kembali dari Amber.
“Apa anda sudah mencoba mencarinya, yang mulia?” tanya Havier pada sang ayah, ingin memastikan jika pamannya sudah mendapatkan usaha pertolongan jika kemungkinan terburuk adalah pamannya sedang menjadi sandra musuh.
“Aku mengirim beberapa pasukan dan menyuruh mereka berpencar. Pasti Hinawa sedang menyembunyikan sesuatu dariku.” seloroh Nagawa terus terang, tak ingin menutupi kecurigaannya kepada saudaranya sendiri.
“Apa maksud anda, yang mulia? Bagaimana anda bisa berfikiran begitu kepada paman Hinawa?”
Nagawa menatap alam terbuka yang tersuguh didepan matanya. Saat ini, mereka berada di balkon kamar Nagawa yang memang menghadap langsung pada perkebunan teh yang sangat luas. Selain itu, ada juga perkebunan sayur dan buah di sisi lainnya.
“Kamu yang lebih tau peringai pamanmu itu. Lalu kenapa, kamu tidak percaya kepada ayahmu sendiri?” tanya Nagawa kecewa karena memang selama ini Havier lebih dekat dan lebih mau mendengarkan apa yang dikatakan Hinawa dari pada ia yang notabenenya adalah ayah kandungnya.
***
Havier kembali dengan perasaan kalut karena ucapan ayahnya. Sesuatu yang disembunyikan, seperti apa? Apa sebuah rahasia tentang keuangan, atau yang lain? Atau...sebuah penghianatan?
__ADS_1
Mengingat itu, langkah kaki Havier yang semula ingin menuju kamarnya, kini berhenti . Lantas ia memutar ke arah berlawanan untuk menuju kamar Hinawa.
Ia tiba-tiba teringat perihal jubah yang dijadikan tudung oleh sekutu Hellen untuk menghancurkan Amber dan menyingkirkan Aruchi. Jubah hitam polos dengan gambar naga meliuk berwarna emas. Havier harap dugaannya itu salah, ia hanya berasumsi dan semoga asumsinya itu tidak benar.
Didepan pintu kamar Hinawa, Havier menghentikan langkahnya. Ia mengulurkan lengannya ragu untuk mendorong daun pintu tersebut agar terbuka. Akan tetapi, ia harus membuktikan asumsinya agar tidak menjadi salah faham nantinya.
Ketika pintu itu terbuka, Havier disambut oleh isi ruangan yang tidak jauh berbeda dari kamarnya. Sebuah ranjang besi mewah berukuran sangat lebar, sebuah meja luas untuk bekerja, sebuah meja kecil disisi ranjang, dan sebuah lemari. Benda itulah yang menjadi tujuannya saat ini. Lemari tempat Hinawa meletakkan pakaian, dan mungkin juga yang lainnya seperti seragam kerajaan, dan juga...jubah itu. Jubah familiar yang menjadi praduga dalam benak Havier.
Ia bergegas mengambil langkah mendekati lemari berpintu tiga yang tinggi dan lebarnya cukup besar. Ia membuka pintu pertama. Disana Havier menemukan tumpukan pakaian-pakaian yang biasa dikenakan oleh Hinawa. Semua pakaian itu begitu familiar di matanya karena Hinawa selalu mengenakan pakaian itu secara berkala di istana.
Tak ada yang mencurigakan, Havier membuka pintu lemari kedua, disana dia mendapati beberapa sepatu dan topi baret kerajaan. Havier menelisik disela-sela yang ada diantara sekian banyak pasang sepatu. Nihil.
Pintu ketiga ia tarik perlahan. Kayunya sedikit berderit ketika terbuka, kemudian pemandangan sedikit mengejutkan menarik perhatian Havier. Ada peti yang terbuat dari besi tersimpan didalam dengan keadaan di kunci dengan gembok. Havier membungkuk mencari kunci di loker lain yang juga ada didalam sini, tetapi dia tidak menemukan apapun.
Lantas ia kembali ku pintu lemari kedua, mencari disana namun tidak bisa ia temukan kunci tersebut, lalu Havier bergerak kembali ke pintu pertama. Tidak mau melewatkan setiap helai pakaian Hinawa yang mungkin saja kunci itu sengaja diselipkan di antara tumpukan baju. Masih tidak bisa ditemukan, tidak ada apapun disana.
Havier yang sudah hampir putus asa, kini berkacak pinggang dengan wajah pias. Ia berfikir keras kemana lagi harus mencari kunci itu, hingga manik matanya tertuju pada meja kerja Hinawa. Ia berlari kesana, membuka laci secara bergantian, serta mengoyak isi laci tersebut yang ternyata masih saja tidak menunjukkan keberadaan kunci. Kemudian beralih ke sebuah tabung kecil tempat meletakkan alat tulis, Havier membalik tabung tersebut hingga semua isinya turut berceceran diatas meja. Sebuah benda berkilat putih membuat hati Havier lega. Kunci itu berada disana rupanya.
“Pangeran, ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh pembawa pesan dari Amber.”
Havier menoleh dan mengerutkan kening. Ia baru saja sampai, lalu hal genting apa yang dialami Amber sampai menyuruh utusan pentingnya datang kesini?
“Katakan ada apa.”
Prajurit pembawa pesan itu sedikit masuk melewati ambang pintu, kemudian membungkuk singkat untuk memberi hormat kepada Havier. “Pangeran, putri Green diculik.”
Seketika itu juga, jantung Havier seolah berhenti berfungsi untuk beberapa saat. Nafasnya berubah memburu, dan kedua tangannya terkepal erat. “Diculik?”
__ADS_1
“Ya. Setelah pangeran kembali dari Amber, keadaan di istana berubah kacau. Seseorang datang dengan pakaian prajurit yang sama dengan pakaian kami, kemudian menyampaikan berita jika ada penyerangan di salah satu pusat perekonomian terbesar Amber, Antane. Raja Aruchi datang kesana untuk meninjau namun ternyata semua itu hanya jebakan, hanya tipuan. Dua penjaga didepan kamar putri Green di bunuh, dan dayang yang biasanya bersama putri Green juga dibunuh setelah disiksa.”
“Biadab!”
Dengan rahang mengerat kuat, Havier berbalik menatap peti itu dan membukanya.
Ada. Jubah hitam itu ada disana. Dan hal itu menjadi bukti nyata jika Hinawa, adalah orang yang menjadi sekutu Hellen selama ini untuk menghancurkan Amber. Terlebih, menyakiti Green.
Havier membalik tubuh dan berjalan cepat untuk keluar dari tempat yang menurutnya terkutuk itu.
“Aku akan mencari putri Green.” katanya pada pembawa pesan dari Amber. “Siapkan prajurit terbaik untuk mencari putri Green.” titahnya pada dua prajurit Shibu yang sedang berada disana.
Sore itu, Havier beserta rombongan akan turut andil dalam mencari sosok Green yang menghilang karena di culik, oleh pamannya—imbuh Havier dalam hati.
“Apa perlengkapan sudah siap?” tanya Havier pada salah satu prajurit terbaik yang posisinya berada dibawah panglima perang.
“Sudah pangeran.”
Havier yang berada diatas punggung kuda gagah berwarna hitam pekat itu membalik posisi kudanya menghadap puluhan prajurit terbaik yang akan mengantarnya mencari sosok Green. Kemudian dia bertitah,
“Jangan pernah melihat siapa orang tersebut. Kalian kenal atau tidak. Saudara kalian atau tidak. Orang kepercayaan kalian atau tidak. Bahkan jika orang tersebut adalah salah satu dari bagian kerajaan kita pun, kalau memang dia bersalah dan membuat kerajaan harus menanggung sebuah aib—” Havier menarik nafas dalam. Ia memikirkan kembali bagaimana sang paman selama ini merawat dan membesarkannya. Tapi, sebuah penghianatan, adalah sebuah kesalahan yang tidak ter-ampunkan.
Havier memejam sejenak, kemudian kembali menarik oksigen agar keteguhan hatinya semakin tangguh, lantas dia membuka mata dan melanjutkan kalimatnya yang terpotong. “—habisi mereka. Tidak ada ampun bagi mereka yang sudah berkhianat dan merugikan orang lain.” []
🏵️🏵️🏵️
Untuk pembaca setia Green, setelah cerita ini tamat nanti, silahkan mampir ke karya baru yang akan Vi's rilis ya teman-teman. Mohon dukungannya agar aku lebih semangat nulis dan berkarya di sini.
__ADS_1
Jika kalian belum baca cerita-cerita Vi's yang lain, silahkan mampir dan baca-baca sambil nunggu update. Mana tau suka ya kan?☺️
Terima kasih.