
...O...M...G......
...Ngebul guys,...
...Jangan lupa dukung cerita ini ya agar aku tambah semangat nulisnya, meskipun kepala udah berasap kayak cerobong asap pabrik gula 😉...
...*Canda. Aku senang dan nikmati banget kok alur cerita ini meskipun terkadang memang membuat otak harus jungkir balik karena konfliknya yang menurutku cukup berat dan dark. Hehehe......
...And Then,...
...Selamat membaca...
...🏰🏰🏰...
“Mau lari?” tanya Junot memprovokasi. Dia yang mahir menebak gelagat musuh, mendeskripsikan jika Hinawa akan meninggalkan medan perang dan mungkin akan menyembunyikan diri. Atau, kemungkinan kedua, Hinawa akan berlari ketempat Green dan mengambil wanita yang ia sayangi itu sebagai tawanan untuk melemahkan serangan pasukan Amber.
“Lari? Kamu pikir aku seorang pecundang?” jawabnya lantas mengayunkan pedangnya kearah Junot, yang berhasil diterima oleh tameng baja yang ada dalam genggaman Junot.
Pedang mereka beradu, sampai akhirnya Junot menyerang Hinawa dengan sebuah tendangan kuat dan pria itu jatuh dari kudanya. Tak mau berhenti sampai disitu, Junot ikut turun dan membiarkan kuda gagahnya pergi meninggalkannya di jarak tertentu. Kuda itu sudah terlatih, dan dia akan kembali pada tuannya jika Junot memanggil dan membutuhkannya.
“Jadi, Shibu memiliki seorang pengkhianat?” kata Junot yang mematik keinginan Hinawa untuk kembali melakukan penyerangan. Pedang dan samurai mereka kembali beradu, Junot dan Hinawa sama-sama kuat karena mereka memiliki skill sebagai panglima andalan dari kerajaan mereka masing-masing.
“Tutup mulutmu dan simpan ucapanmu itu untuk kamu ucapkan di nirwana nanti.”
Hinawa menyerang Junot tanpa ampun. Meskipun usianya hampir lewat setengah abad, Hinawa memiliki stamina yang masih begitu mumpuni di medan perang seperti ini.
Hingga satu goresan samurai Hinawa mengenai lengan tanpa pelindung pada diri Junot. Darah segar mengalir dan merembes mengenai pakaiannya.
Seolah mati rasa, Junot tak mengaduh apalagi mengerang kesakitan. Rasa bencinya terhadap Hinawa semakin berkobar dan memuncak membakar kewarasan, ayunan pedangnya semakin beruntun menyerang Hinawa.
“Sial!!” umpat Hinawa ketika tiba-tiba kakinya menginjak seonggok tubuh tak bernyawa yang tergeletak di belakangnya hingga membuatnya terjatuh. Junot sudah siap mengayunkan pedangnya untuk melibas habis nyawa Hinawa, tapi semua tertahan karena seorang prajurit dari kubu Hinawa menyerang dari sisi kanannya dengan cukup keras hingga Junot pun turut tersungkur ditanah. Ia terpaksa harus melepas Hinawa dan melawan prajurit yang saat ini sedang berhadapan dengannya. Matanya terus menyorot tak tenang kearah Hinawa berlari. Kemudian...
Crat!!
Tubuh si prajurit itu jatuh ke tanah bersimbah darah. Kemudian, dengan langkah mantap, Junot berlari mengejar. Ia tidak akan pernah melepas bayangan Hinawa sedikitpun.
***
Semoga ini berhasil.
Kata-kata itu Havier bisikkan dalam hati ketika menyadari samurainya tidak ada dalam genggaman. Ia hanya memiliki sebuah belati berukuran tidak cukup besar untuk melawan pedang pria yang tidak ia ketahui namanya itu. Ia hanya berharap keberuntungan berpihak padanya agar Green terbebas dari bahaya yang sedang mengancam nyawanya.
__ADS_1
“Lepaskan putri Green, maka kalian akan mendapatkan ampunan dari raja Aruchi.”
Hellen masih memacu langkahnya kedepan, tidak sedikitpun berniat menoleh lagi kearah Havier. Waktunya tidak lama, semua sudah berada dalam fase genting dan dia harus segera membawa Green keluar seperti rencana semula.
“Ratu, anda pergilah dahulu kepada tuan Hinawa. Saya akan menghadapi pangeran bodoh ini, setelah itu saya akan menyusul anda.”
Sial. Havier merasa kalah satu langkah karena hanya sendirian dan tanpa senjata apapun. Dia yakin Hellen akan berhasil membawa Green keluar dan melumpuhkan pergerakan pasukan Amber. Tidak ada waktu lagi, dia harus segera menyelesaikan tugasnya disini. Green membutuhkan bantuan nya untuk lepas dari semua yang mengancam hidupnya dari Hellen.
“Putri. Percayakan kepada kami. Semua akan baik-baik saja.” teriak Havier yang tentu saja tidak mendapat sahutan dari Green. Gadis itu terlalu lemah hanya untuk sekedar bersuara.
“Oh, manis sekali.” balas Hellen kemudian berlalu dengan langkah cepat meninggalkan Havier dan Oslo di lorong gelap minim cahaya karena sebentar lagi matahari akan kembali bersembunyi dalam gelapnya malam.
“Jadi, pangeran. Apa mau mu sekarang? Aku sarankan, diam saja dan menyerah. Kamu tidak memiliki senjata.” kata Oslo mantab dengan sebuah seringai tajam disudut bibir.
“Jadi, siapa namamu, paman? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya ketika datang ke Amber.” tanya Havier mencoba akrab. Ah, tidak, mencoba ingin tau nama pria itu agar dia mudah memanjatkan do'a kepada sang Kuasa untuk segera membawanya kembali ke nirwana.
“Tidak penting. Kamu tidak akan pernah tau karena kita tidak akan pernah bertemu lagi setelah ini.”
“Oh ya?” Havier berjalan santai mendekat ke arah Oslo. Sedangkan laki-laki itu, mengayunkan kaki melangkah mundur dengan jumlah sama dengan langkah Havier mendekat.
“Sayang sekali, padahal aku hanya ingin berdo'a agar kamu mendapatkan ampunan di alam baka.”
Mendengar itu, urat di wajah dan leher Oslo menyembul keluar. Berani-beraninya anak muda seperti Havier mendo'akannya seperti itu. Yang ada, dia yang akan membuat Havier pergi kesana terlebih dahulu. Tidak ada sesuatu yang digunakan si pangeran untuk menyelamatkan diri, begitu pikir Oslo.
“Kamu seharusnya berdo'a untuk dirimu sendiri, karena aku—” Oslo bergerak maju mengacungkan pedangnya ke arah presensi Havier berada. “—akan mengirimmu kesana lebih cepat dari yang kamu pikirkan.”
Dengan gesit Havier menghindar. Tak lupa dia juga sudah menarik pisau kecil dari balik punggungnya. Dan hal itu membuat Oslo tertawa kencang menertawakan senjata yang tidak akan mungkin berguna itu.
“Pisau? Mau bertukar senjata?” ejeknya dengan tawa lebar di bibirnya. Sedangkan Havier hanya mengulas senyuman ringan yang mungkin akan berguna menyemangatinya yang hampir putus asa.
“Jadi, paman mau bertukar senjata? Oh ayolah paman, kamu akan mati dengan mudah di tanganku jika menukar senjata berharga mu dengan pisau ku ini.” kelakar Havier disela ketegangan yang terjadi. Hal ini tidak harus menjadikan mentalnya jatuh. Hidup dan mati adalah milik Yang Kuasa, tapi apa salahnya dengan kata usaha?
Oslo berjalan menyamping, mencari posisi yang pas untuk menyerang rusuk Havier yang tidak terlindungi apapun. Dia yakin, sekali pedangnya melesat kesana, pemuda itu akan tumbang dan tak bisa melakukan apa-apa lagi, termasuk mengganggu semua kepentingan mereka untuk mendapatkan Amber.
Membaca pergerakan Oslo, Havier kembali bisa menghindari serangan Oslo yang hampir saja mengenai satu sisi kiri tubuhnya. Jantung Havier terpacu cepat. Ini adalah pertama kalinya dia tidak menggunakan senjata apapun ketika melakukan perlawanan kepada musuh.
Havier memutuskan membuat gestur tubuhnya berubah santai. Dia menghela nafas, memutar bola mata, kemudian memainkan ujung mata pisaunya dengan bibir melengkung yang dibuat-buat. Lalu, dengan sedikit nada merayu dan lembut, Havier berkata, “Paman. Tidakkah paman berfikir jika damai itu menyenangkan?”
Oslo menatap heran. Apa sebenarnya tujuan Havier berkata begitu? Membuatnya berubah pikiran dan berpindah menjadi berada di pihaknya?
“Omong kosong.” sahut Oslo tanpa mau berfikir panjang.
“Coba pikir. Jika pamanku dan ratu kerajaan Amber tidak melakukan pengkhianatan seperti ini, semua akan baik-baik saja. Hidup kita akan tenang, tenteram, dan damai. Tidak ada wanita yang akan menjadi janda diluar sana karena kehilangan suami mereka. Tidak akan ada anak menjadi yatim piatu karena kehilangan ayah atau orang tua mereka, dan tidak akan ada seorang keponakan yang merasa dikhianati pamannya sendiri seperti sekarang yang terjadi kepadaku.”
Oslo terlihat berfikir. Yang dikatakan Havier memang ada benarnya. Dia adalah seorang anak yang tidak memiliki orang tua. Ia tau betul bagaimana rasanya hidup terlunta dan di kucilkan oleh orang lain.
__ADS_1
Havier yang merasa berhasil mempengaruhi Oslo kembali bergerak. Tidak ada ampun bagi pengkhianat. Dia masih memegang teguh kalimat itu. Tentu saja Oslo benar, semua yang dia katakannya itu hanya sebuah omong kosong belaka yang seharusnya tidak perlu didengar. Havier memang merasa kecewa karena dikhianati oleh pamannya sendiri, tapi itu sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur. Dan Havier tidak akan berubah pikiran dengan mau memaafkan dan melepas pamannya itu begitu saja karena sudah mempermalukan nama Shibu.
“Jadi, paman tidak merasa kasihan kepada mereka yang akan kehilangan anggota keluarga mereka karena peperangan ini?” lanjut Havier masih berusaha mengalihkan perhatian Oslo.
Tapi semuanya tidak sejalan dengan apa yang Havier harapkan. Oslo tiba-tiba membuat serangan yang mengakibatkan dirinya tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh. Namun Havier bersyukur karena masih bisa berdiri dengan cepat sebelum pedang pria itu menebas lehernya. Ia melakukan perlawanan terhadap serangan bertubi yang diberikan Oslo, hingga dia berhasil membuat sayatan pada lengan Oslo hingga laki-laki itu berteriak kesakitan.
Tak hanya sampai disana, Oslo kembali melakukan penyerangan dengan titik yang masih sama, yakni rusuk Havier. Ia menyerang secara brutal dan berkali-kali hingga Havier terpojok di salah satu dinding lorong yang sudah mulai gelap sepenuhnya dan hanya diterangi oleh obor api yang menyala redup.
Havier yang masih berusaha menyelamatkan diri, menahan pedang Oslo dengan pelindung baja yang ada di lengannya, kemudian menendang Oslo hingga pria itu jatuh telentang dan dengan segera Havier menyerangnya lagi.
Namun nahas, senjata Oslo memang lebih unggul dari miliknya.
Keduanya terdiam merasakan luka yang mereka terima pada tubuh masing-masing.
Oslo, menahan sakit di dadanya yang menancap pisau milik Havier disana. Matanya mulai redup dan berkaca-kaca. Entah karena sebuah penyesalan, atau hanya karena menahan rasa sakit yang timbul.
Namun apa yang didengar Havier berikutnya begitu membuat hati Havier tersayat pedih.
“Pangeran. Aku hidup terlunta selama bertahun-tahun. Tidak ada yang peduli pada hidupku selain menjadikanku bahan olokan.”
Havier yang juga sedang menahan nyeri di rusuk kirinya, dia berusaha menahan ringisan dan mendengar cerita singkat yang sedang dikatakan Oslo dengan suara pria itu yang mulai bergetar dan semakin melemah.
“Aku bisa hidup seperti ini karena pertolongan Ratu Hellen.”
Havier memejamkan matanya yang terasa sedikit berkunang.
“Maafkan aku yang sudah melakukan semua ini. Itu semua aku lakukan karena aku hanya ingin membalas budi baik ratu Hellen padaku selama ini.”
Havier tetap memejam, tapi dia tetap mendengarkan.
“Jika boleh memohon, aku mohon selamatkan putri Green. Dia tidak salah apapun. Dia pantas hidup bahagia.”
Oslo terbatuk dan menyemburkan cairan merah pekat dari mulutnya ke wajah Havier. Ia sadar, jika Oslo begitu kesakitan sekarang.
“Tolong, selamatkan tuan putri kami.”
Setelah mendengar itu, Havier mendengar suara pedang jatuh ke lantai dan Oslo sudah tidak lagi bergerak. Mata dan bibirnya terbuka, namun Havier sekuat tenaga mengangkat lengannya untuk menutup mata dan bibir Oslo. Ia tau sekarang, jika Oslo adalah orang baik yang hanya menjadi boneka untuk dimanfaatkan dalam melancarkan konspirasi mereka.
Dan lagi-lagi, Havier membenci pamannya yang menjadi dalang dari semua ini ketika bayangan Hinawa muncul dalam pejaman matanya yang kesekian kali. Dia bersumpah pria itu tidak akan pernah mendapatkan apa yang seharusnya bukan miliknya.
“Tentu.” Kata Havier mencoba bangkit dengan menahan laju darah yang terus merembes dari balik pakaiannya. Matanya mulai lelah, tapi ia akan berusaha berdiri dan mencari Green. “Green harus tetap hidup.” lanjutnya dengan nafas yang mulai terasa sulit untuk ia hirup. “Green akan tetap hidup, seperti yang kamu harapkan, paman.” kata Havier sembari menatap Oslo dan bangkit berdiri. Namun karena matanya yang semakin gelap, Havier harus berusaha untuk tetap sadar dan berjalan keluar dari sini.
“Dia akan hidup lama dan memiliki anak bersama orang yang ia cintai.”[]
###
__ADS_1
Havier 😭
Mau dong ya komen, agar othornya seneng...🥺