GREEN

GREEN
Chapter 26


__ADS_3

GREEN UPDATE


JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR, DAN HADIAHNYA JIKA BERKENAN YA...


TERIMA KASIH 😊


SELAMAT MEMBACA


🏰🏰🏰



Pagi hari ini, Green bergegas menemui Havier sebelum pria itu kembali ke Shibu. Dia ingin memberitahu kepada pria itu jika dia—Havier—harus memberitahu dulu jika hendak datang ke Amber.


“Jauh. Tidak mungkin saya mengirim utusan dan menunggu dua hari untuk berangkat kesini.” jawab Havier sambil merapatkan tali sepatu boots hitam yang hendak menemaninya melakukan perjalanan jauh.


Green mengerucutkan bibirnya tajam sebagai bentuk protes tidak terima. Havier yang melihat pemandangan itu, justru tersenyum jumawa.


“Begini saja,” katanya mengambil jalan tengah. “—saya akan datang di hari paling akhir dalam satu Minggu. Atau kalau saya sedang senggang, hari rabu.”


Green sebenarnya tidak setuju, karena kunjungan itu terlalu sering. Dia khawatir jika nanti Havier akan kelelahan dan tumbang ditengah jalan. “Jangan terlalu sering datang. Kamu pasti akan kelelahan pangeran.”


Mendengar penuturan Green, Havier lagi-lagi mengulas senyuman hangat yang belum pernah ia berikan kepada orang lain. “Jadi, anda mengkhawatirkan kesehatan saya, putri?”


Green mengangguk jujur, karena ia rasa berbohong tidak akan ada manfaatnya. “Ya. Dan saya takut disalahkan jika pangeran jatuh sakit.”


Havier berjalan menuju meja jati yang letaknya ada disebelah ranjang tidur, kemudian mengangkat sesuatu dalam bungkusan kain khusus untuk bepergian. “Saya akan merasa lebih sakit kalau tidak bertemu dengan anda, putri.”


Green melongo mendengar jawaban dari pangeran Havier. Wajahnya mulai memanas dan dia pun tersipu malu ketika Havier mengusap puncak kepalanya sebanyak dua kali. “Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya, tuan putri.” kata Havier yang disanggupi Green dengan sebuah anggukan. “Jaga dirimu baik-baik ya. Jangan sampai ratu Hellen atau siapapun melukai dirimu.”


Green mengangguk sekali lagi. Dia yakin akan aman karena ia masih berada diruang lingkup pengawasan kerajaan. Hellen pasti tidak akan berani menyentuhnya, ia pastikan itu. Tapi, dia masih tidak bisa ia pungkiri jika Hellen akan nekat melakukan sesuatu padanya jika sudah terjepit.


“Anda juga berhati-hati dalam perjalanan.”

__ADS_1


***


Setelah mengantarkan kepergian pangeran Havier sampai di pintu perbatasan istana, Green menyelinap pergi keluar istana. Ia nekat karena jiwa bebas nya merindukan semua gerakan tanpa di batas-batasi oleh aturan.


Setelah berhasil mengelabui semua orang yang masih sibuk melepas kepergian sang pangeran, green sudah berhasil melangkah jauh dari area istana.


Sadar akan sesuatu, Green mengerutkan dahinya mencoba mengingat-ingat.


“Ah, sebenarnya kemana ratu Hellen jari ini? Mengapa tidak ikut mengantar kepergian pangeran Havier?”


Padahal, biasanya ratu Hellen adalah orang yang paling antusias untuk urusan-urusan seperti ini.


Mengedikkan bahunya mencoba tidak peduli, Green kembali melangkah. Tujuannya hari ini adalah ingin ke pasar. Dia sudah mempersiapkan sesuatu yang bisa menyamarkan keberadaannya disekitar kerumunan orang banyak yang mungkin akan dengan mudah mengenalinya.


Green berhenti sejenak untuk mengenakan cadar dan mengurai rambutnya yang sebelumnya di ikat dan disanggul rapi, menjadi bebas tergerai sepanjang pinggang. Kemudian ia lanjut berjalan santai menikmati pemandangan tanpa mau berfikir bagaimana keadaan istana yang sedang mencarinya.


Sesampainya di pasar terbesar yang tidak jauh dari istana Amber, Green mulai bergabung bersama kerumunan orang yang sedang bertransaksi barter. Ia cukup senang karena ayahnya bisa membuat rakyatnya semakmur ini.


Tidak dapat dipungkiri, perekonomian Amber memang cukup baik di bawah pimpinan Aruchi. Rakyatnya juga terlibat hat makmur dan sejahtera.


Salah satu penjual kain berhasil menarik perhatian Green. Dia berbelok dan masuk ke dalam toko tersebut.


Toko kain yang didominasi oleh sutra dan katun, salah satu kain kesukaan Green yang sering ia minta kepada dayangnya ketika ia di buatkan gaun. Dan sekarang, Green bisa melihat sendiri bagaimana indahnya pilihan berbagai corak itu tergantung di dinding toko.


Green tertarik pada satu kain brukat yang juga termasuk dalam kategori sutra. Ia menyentuhnya, kemudian seseorang datang mendekat dan bertanya, “Ada yang bisa saya bantu, nona?”


Green sedikit terperanjat, namun ia buru-buru menetralkan diri dan mengatur suara untuk bicara dengan si pemilik toko.


“Ini, berapa satu meternya nyonya?” tanya Green karena dia tertarik ingin membeli.


“Oh, ini seribu core per meter.” (*core adalah mata uang yang digunakan di kawasan Amber dan kerajaan sekutunya.


Baiklah, Green tidak bisa menahan keinginannya untuk tidak segera memilikinya.

__ADS_1


“Aku ingin yang ini, lima meter.” Green berencana akan meminta Galila membuatkannya gaun indah dari kain berwarna ivory itu. Ia ingat betul, jika teman sekaligus sahabatnya dari Geogini juga menyukai warna ini.


Tanpa banyak bicara, penjual kain itu dengan cepat melayani Green yang ingin membeli sutra brukat mahal tersebut, menggerai lalu mengukur sepanjang yang Green ingin beli.


Setelah membayar dan menerima kain tersebut, Green berencana membeli sepatu yang akan ia berikan kepada Galila. Namun, pandangannya kini menangkap sosok wanita yang familier berjalan bersama seorang laki-laki.


“Bukannya itu ratu Hellen?” gumam Green sambil berjalan cepat mencoba menyusul.


Hingga langkahnya sampai di bagian belakang pasar yang disana ada sebuah pertigaan yang menuju satu desa. Green masih membuntuti mereka yang berjalan cepat, dengan cara mengendap-endap agar tidak tertangkap.


Sampai mereka berhenti disebuah rumah yang ada di barisan paling ujung desa dan menghilang disana, Green masih dibuat penasaran. Apa benar dugaannya jika itu adalah ratu Hellen? Tapi, siapa laki-laki yang bersamanya?


Bersama rasa penasaran yang membuncah itu, Green memacu langkah dan berhenti dirumah yang sama dengan ratu Hellen berasal sekarang. Ia naik perlahan menaiki anak tangga, kemudian mendekat ke arah pintu. Menempelkan daun telinganya ke bilah pintu, dan saat itu dia mendengarkan beberapa potong percakapan.


“Kita harus mempercepat rencana menghabisi raja Aruchi sebelum semuanya terlambat, Hellen. Aruchi sepertinya sudah mengendus dan curiga kepada kita.”


“Aku setuju. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Cari cara agar aku bisa meyakinkan raja keras kepala itu percaya padaku untuk segera menikahkan Green dengan Havier. Lalu aku bisa leluasa menguasai dan mengendalikan raja tua itu.”


Dibalik pintu, Green mengepalkan tangannya mendengar Hellen menghina ayahnya.


“Hinawa, cepat pikirkan caranya.”


Green menegang hingga tanpa sadar menyentuh salah satu guci berisi tanaman hias yang ada di pinggir pintu, lalu guci itu terjatuh dan pecah.


Karena panik dan merasa terancam, Green pun berlari cepat meninggalkan rumah tersebut.


Akan tetapi, tanpa sepengetahuan Green, Hellen dan Hinawa sudah berada di luar dan memperhatikannya berlari. Sadar akan kecerobohannya, Hellen dan Hinawa pun saling tatap dan menyunggingkan senyuman licik.


“Itu Green.” kata Hellen memberitahu.


“Ya. Aku dapat melihatnya dengan jelas.”


Hellen kembali mengarahkan pandangannya kepada gadis yang kini sedang berlari dan menghilang di pertigaan jalan itu.

__ADS_1


“Dari pada memaksa Aruchi mempercepat pernikahan, lebih baik kita habisi saja putrinya yang membahayakan itu.” []


__ADS_2