GREEN

GREEN
Chapter 18


__ADS_3


Jauh sebelum mengenal dunia kerajaan, Junot pernah hidup sebatang kara dan melawan kerasnya dunia yang menginjak tubuh ringkihnya. Tidak tau siapa dan dimana kedua orang tuanya berada, Junot hidup terlunta tak tau arah.


Junot berjuang untuk bertahan hidup, menggunakan insting pertahanan diri, dia mampu mengimbangi kerasnya dunia yang tanpa ampun memberinya pelajaran. Ia dibesarkan oleh kawanan perampok yang tidak segan menggunakan kekerasan jika sedang menjarah rumah korban. Saat itu Junot berusia sepuluh tahun, dan diberi tugas untuk mengelabui target yang akan menjadi korban.


Mungkin, malam itu dirinya kurang beruntung hingga pasukan kerajaan Geogini yang saat itu bertugas keliling kawasan, menangkapnya yang terlepas dan terpisah dari rombongan perampok yang lari tunggang langgang karena tertangkap basah menjarah salah satu rumah warga di kawasan Geogini. Junot diseret paksa sambil sesekali menerima pukulan karena melawan dan berusaha lari.


Ya, dia menerima itu karena ia tau dirinya memang pantas diperlakukan seperti itu. Ia bahkan rela dihukum pancung jika memang usahanya melarikan diri, terus gagal.


Ketika sampai didepan raja Harlotte, Junot dilempar begitu saja seperti tidak lagi memiliki harga diri. Namun apa yang ia terima dari raja Harlotte, begitu membuatnya tersentuh. Raja Harlotte memaafkan kesalahannya dan membiarkan dia hidup di istana, membantu para peternak sapi memerah susu.


Waktu terus berlalu, dan ia akhirnya bisa berteman dengan Grey, dan juga putri Dayana.


Saat usianya sudah sampai pada angka dua puluh, Harlotte meminta Junot belajar teknik-teknik dasar berperang. Ia juga diminta belajar memanah, memakai pedang, berkuda, dan pada akhirnya dia mahir dalam segala hal. Termasuk berhasil membongkar beberapa kasus kejahatan yang terselubung di pasar gelap oleh beberapa oknum kerajaan sendiri. Dan sejak itulah, dia diangkat menjadi panglima perang yang sampai detik ini di akui oleh beberapa kerajaan sekutu dan tentu saja Geogini.

__ADS_1


“Jadi, Grey memberi izin untukmu tinggal di Amber?” tanya Green antusias setelah mendengar Junot memberitahu jika akan tinggal beberapa waktu di Amber.


“Eum, ayahmu yang meminta izin pada Raja Grey.”


“Aku harus berterima kasih padanya.”


“Tidak perlu. Ayahmu sudah melakukannya.” ketus Junot dengan wajah dingin sambil melepas baju dingin yang membalut tubuhnya. Suhu sudah mulai turun, dan musim dingin akan datang. “Kembalilah ke kamarmu,”


“Sssst! Jangan banyak protes. Aku masih ingin melihatmu. Kamu keberatan?”


“Iya. Iya. Kamu kenapa kasar begitu, sih. Padahal aku cuma ingin memperlihatkan betapa bahagianya diriku karena ada kamu disini.”


Junot tersenyum sembari berdecak. Kepalanya menggeleng tidak percaya dengan perilaku Green yang seperti ini. Terlalu membuatnya terkejut, karena Green yang selama ini ia tau, selalu bersikap sok datar, acuh, dan dingin. “Sudah malam. Cepat kembali ke—”


“Jadi, ayah sudah tau tentang konspirasi itu?”

__ADS_1


Junot yang sempat mengusir Green, kini terpaksa ikut mengulik jawaban untuk pertanyaan Green. “Ya. Ayahmu orang yang peka. Tidak mungkin dia tidak tau tentang hal sepenting ini.” jawab Junot yang kini mengambil kain bungkus berisi beberapa pakaian. Selama membantu sang raja, keberadaan Junot dirahasiakan. Dia bertugas menjadi mata-mata untuk konspirasi yang hendak ia pecahkan. Junot berjanji pada dirinya sendiri untuk memecahkan kasus itu secepat mungkin, ia tidak mau jika sampai terlambat dan harus melihat nyawa Green terancam.


“Kamu benar. Aku juga sempat berfikir jika ayah tau akan hal ini. Tapi sikap ayah membuatku ragu untuk buka suara. Ayah pandai menyembunyikan sikap dan perilakunya. Beda dengan aku.”


“Ya. Kamu ceroboh, dan itu berhasil membuat nyawamu sendiri ada dalam bahaya.” sahut Junot cepat sambil meraih puncak kepala Green dan mengusuk kecil surai hitam mengkilat wanitanya itu.


“Eum, kamu benar.” ucap Green membenarkan. Ia tidak memungkiri jika dia ada dalam bahaya karena ratu Hellen sudah mengatakan ancaman itu terang-terangan. “Tapi setidaknya, sekarang aku bisa sedikit merasa aman karena kamu ada disini.”


Junot menangkup satu sisi wajah Green dengan telapak tangannya, mengembangkan senyuman lebar, merasa senang karena dibutuhkan. “Aku akan berusaha melindungi mu sebisaku. Aku akan membongkar konspirasi ini secepat aku bisa agar tidak ada satu orangpun menjadi korban keserakahan manusia-manusia tamak itu.”


Green mengangguk, maniknya berbinar penuh harapan besar akan ucapan Junot, lalu dia mengusap punggung tangan laki-laki itu penuh kasih. “Jaga dirimu juga. Aku tidak ingin melihatmu terluka seperti hari itu.”


Tentu saja Green tidak bisa melupakan hari itu. Hari dimana peperangan besar terjadi dan membuat banyak nyawa melayang. Green tidak ingin melihat Junot terluka, apalagi sampai nyawa laki-laki itu menjadi tawanannya. “Ya.” satu jawaban pasti, diikuti kecupan singkat mendarat di bibir Green yang sudah menjadi hal paling disukainya. “Kita akan selamat, dan menggiring mereka ke neraka.” []


^^^to be continued.^^^

__ADS_1


__ADS_2