GREEN

GREEN
Chapter 16


__ADS_3

...Hai Reader baik hati sekalian, Long time no see. Maaf baru bisa update Green hari ini. Aku harap kabar readers semua baik-baik ya......


...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan GREEN kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



Dalam sejarah hidup yang ia jalani selama 21 tahun lamanya, Green tidak pernah mengalami kejadian seperti yang sedang ia alami didalam istana seperti ini. Green hanya pernah membenci satu orang, yakni dirinya sendiri yang belum sempat memberikan kebahagiaan kepada Skiva, ibu yang telah membesarkannya, sampai ajal mendahului dan mengambil Skiva darinya. Green sempat terpuruk dan sedih berkepanjangan karena kepergian Skiva yang membuatnya begitu terpukul hingga membenci dirinya sendiri yang tidak berguna. Kejadian itu yang membuat Green tidak lagi ingin mengulangi kesalahan yang sama. Untuk itu, dia tidak akan tinggal diam ketika tau raja Aruchi terancam bahaya.


Menurut informasi yang ia dapatkan, pangeran Havier akan kembali ke kerajaannya hari ini. Berita ini cukup membuat Green merasa awas karena dirinya akan sendirian di istana.


Green menyusuri koridor istana, berharap Havier belum pergi, jadi dia bisa mengucapkan terima kasih dan mengucapkan salam perpisahan. Tapi semuanya terlambat. Havier sudah pergi sejak matahari belum terbit.


“Kecewa karena dia sudah pergi?”


Suara yang sangat Green kenali itu begitu mengejutkan. Green terlonjak diatas kedua kakinya. Ia lantas memutar tubuh menoleh kebelakang. “Junot?!” sentak Green yang tidak menduga jika sang pujaan hati datang hari ini. Green segera berlari dan berlabuh dalam dekapan Junot yang menyambutnya.


“Ada apa? Apa kamu sedang mengkhawatirkan pangeran itu?”


Green menggeleng mantap. Dia tidak melakukan hal itu, dia hanya tidak ingin jika setelah Havier meninggalkan istana, semua menjadi berantakan. Hellen tau jika dia mengetahui rencana jahatnya, tapi tidak dengan Havier yang mungkin belum menarik perhatian wanita itu untuk menyelidiki.


“Aku dengan pangeran Havier sedang menyusun rencana untuk membongkar sebuah konspirasi yang sedang dilakukan ratu Hellen dinkerajaan.”

__ADS_1


Junot memperhatikan lekat, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap leher Green yang terlihat memerah. “Kenapa?” tanyanya bersamaan kedua alih bertaut seolah menaruh curiga.


Sedangkan White, dia mengusap lehernya dan menjauhkan diri beberapa sentimeter dari jangkauan Junot. “Ini, aku tidak sengaja mendapatkannya dari ratu Hellen.”


“Apa? Wanita itu—”


“Tidak apa-apa. Semua ini tidak berarti apapun sampai kejahatan wanita itu terbongkar.”


Junot memicing. “Seperti apa kejahatan yang hendak dilakukan ratu kerajaan Amber?”


Green melihat pupil mata Junot yang menatapnya intens, lalu mengusap satu sisi wajah Junot yang menjadi kesukaan Green sejak beberapa bulan lalu. “Dia ingin membunuh ayah. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”


***


Hellen duduk disebuah ruangan kosong yang menjadi tempat barunya dengan seorang laki-laki misterius yang menjadi partner dalam menyusun rencana untuk menjatuhkan raja Aruchi. Dia menyesap minuman berwarna ungu pekat dari dalam gelas titanium putih berukir sulur-sulur yang meliuk melingkari setiap permukaan gelas. Jari dengan kuku panjangnya menari dengan gerakan jatuh satu-persatu, lalu tersenyum ketika menatap wajah si pria.


“Kamu akan kesulitan jika hanya terus memberikan ancaman. Kamu harus segera membuat pilihan. Melenyapkan, atau keinginanmu tidak akan pernah terwujud.”


“Ya. Aku tau. Tapi Green tidak sebodoh yang kamu pikir. Darah Aruchi mengalir deras pada diri gadis itu. Green lebih cerdas dalam mengambil kesimpulan yang bisa menyudutkan lawannya.”


“Untuk itu, segera lenyapkan raja Aruchi. Dengan begitu, kamu akan memiliki kekuasaan penuh dan bisa melempar gadis tidak tau diri itu keluar dari istana.”


Hellen mengangguk membenarkan. Hellen tidak menduga jika semua rencana yang sudah ia susun akan mengalami kendala sesulit ini sejak kehadiran Green di istana.


“Atau mungkin, raja Aruchi sudah mulai curiga padamu? Untuk itu dia memaksa membawa Green pulang ke istana.”


Hellen menoleh kasar. Dia sama sekali tidak memikirkan hal ini.

__ADS_1


“Aruchi tau jika Green gadis yang cerdas, untuk itu dia membawanya pulang untuk ia jadikan sebagai tameng karena merasa terancam.”


Tapi, tidak mungkin. Jika Aruchi mengetahui rencana Hellen, pasti kedua kakinya itu sudah tidak lagi menapak di poros bumi.


“Tidak.” jawab Hellen percaya diri. “Aku mengenal raja Aruchi.” lanjutnya, lantas ia berdiri dan bergerak untuk duduk diatas pangkuan laki-laki itu. “Pria tua itu peka terhadap situasi, jadi tidak mungkin dia membiarkan aku begitu saja saat tau aku melakukan sesuatu.” suara Hellen mulai berubah penuh intimidasi. “Jadi, apa harus aku melenyapkan Green terlebih dahulu?” []


^^^to be continued.^^^


...____________...


Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:


—WHITE (Fiksi Modern//darkromance/angst/)


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.

__ADS_1


...See You....


__ADS_2