GREEN

GREEN
Chapter 36


__ADS_3

...Yuk, lanjut...😁...



Berhasil menaiki punggung kudanya yang gagah, Aruchi kembali menyorot Hinawa dengan tatapan dendam penuh angkara murka. Ia tidak sabar untuk membalas semua rasa sakit yang diterima Green, termasuk kepada Hellen yang sudah berani menghianati dirinya dan Amber.


“Akan aku turuti permintaanmu, tapi biarkan orang ku mengobati putri Green yang sudah kalian siksa tanpa ada rasa kemanusiaan itu.” tekan Aruchi kepada Hinawa yang masih setia dengan keangkuhannya.


Aruchi pun tidak ingin menambah kerumitan dengan membawa kabur Green. Dia akan bermain sportif. Menawarkan sebuah kesepakatan, dan menyerang jika perundingan itu gagal.


“Baiklah. Silahkan lakukan itu. Tapi tetap dalam pengawasanku.”


Aruchi mengiyakan. Lalu seorang tabib yang berpengalaman dalam hal pengobatan, dan tiga prajurit yang salah satunya memakai cadar berlari mengikuti dua prajurit Hinawa yang membawa Green kembali ke tempatnya semula.


Setelah prajurit nya menghilang dari pandangan, Aruchi kembali membuka suara. “Mungkin aku akan memaafkan perlakuan mu, jika kamu tidak membuat putriku terluka seperti itu.”


Hinawa terkikik geli dan melempar tatapan tajam ke arah Aruchi. “Dan kamu pikir, aku akan melepas begitu saja karena takut akan ancamanmu itu?” kata Hinawa, “Serahkan Amber padaku, dan aku akan mengembalikan Green padamu.”


Aruchi tertawa merendahkan. Enak saja dia meminta kerajaan seperti meminta rempah-rempah saja. Menggelikan.


“Kamu menginginkan Amber?” tanya Aruchi dengan senyuman disudut bibir, dan tanpa ragu Hinawa mengangguk.


“Ya. Aku dan Hellen menginginkan Amber.” jawabnya tegas. “Amber pasti lebih berjaya dibawa kuasa ku.”


Lagi-lagi, Aruchi tertawa. “Kalau kamu menginginkan sebuah kerajaan, perjuangan dengan pengorbanan. Jangan membuat konspirasi murahan seperti ini.” jawab Aruchi sesuai realita yang menjadi pengalaman hidupnya. Menginginkan sebuah kerajaan, harus penuh peluh, dan perjuangan. Serta nyawa menjadi taruhannya.


“Jadi, kamu mau aku memperjuangkan Amber dengan pertumpahan darah?”


Strike. Kail mulai disambar, dan umpan mulai di makan buruan. Hinawa terbawa pembicaraan yang dibawa Aruchi, pria itu sedang dibakar emosi. Ini keuntungan untuk Aruchi karena perhatian bisa teralihkan dan Green bisa dibawa pergi.


“Tentu saja. Aku seorang raja, dan aku tidak mau memberikan kerajaan ku begitu saja tanpa ada perlawanan.”


Hinawa tertawa karena kini, ia tau Aruchi melakukan itu hanya untuk memancingnya. Sudah tidak asing lagi bagi Hinawa jika hal ini dilakukan oleh seorang raja.


“Kamu memang bodoh aruchi.” katanya mengejek. Aruchi yang mendengarnya tersulut, begitu juga Junot yang kini menatap tajam ke arah pria bermata sipit itu tanpa ampun. Lagi-lagi Junot memantapkan diri untuk segera mengirim pria itu ke nirwana. Kesabarannya sudah habis terkuras.


“Kamu pikir aku tidak tau strategi ini?”

__ADS_1


Aruchi jelas memicingkan kening. Ia tidak menduga jika cara ini berhasil terbaca oleh lawannya. Pria didepannya ini begitu banyak kejutan. “Kau hanya memancingku bukan?”


Hinawa menoleh ke arah salah satu prajuritnya, memberinya isyarat mata agar menyusul ke dalam, ketempat dimana Green berada. Junot mengepalkan tangannya. Ia sudah tidak sabar untuk mengangkat pedang sebagai instruksi untuk menyerang. Tapi ia tidak mau gegabah. Green yang jadi taruhannya.


Sedangkan Aruchi, semakin mengeratkan rahang hingga giginya bergemelutuk menyadari jika dirinya gagal. Green mungkin akan terlambat mendapatkan pertolongan jika sampai tiga orang yang diutus hinawa itu menghentikan tiga orang yang ia suruh untuk menyelamatkan Green.


“Kau memerintahkan orangmu untuk menghalangi orangku yang hendak memberi pertolongan untuk Green?”


Hinawa tertawa puas. “Ya. Orang suruhanmu itu mencurigakan.” kata Hinawa dengan nada tak main-main. Ia seorang panglima, saudara, dan orang kepercayaan raja di Shibu, jadi dia selalu awas pada setiap pergerakan dan hal-hal yang terlalu janggal.


Dari empat orang, mengapa hanya satu yang bercadar? Dan tatapan penuh intimidasi dari pria bercadar itu mengingatkan tatapan seseorang padanya. Bayangan Havier yang muncul pertama kali dalam pikiran Hinawa.


“Jangan keterlaluan. Atau aku akan benar-benar menghabisi mu jika sampai terjadi sesuatu pada putriku.”


***


Di lorong yang cukup pengab dan gelap, tiga orang itu mengikuti langkah dua prajurit dan seorang wanita dalam bopongannya. “Biarkan mereka membawa putri Green sampai ditempat mereka dulu.” kata Pria bercadar itu berbisik pada tiga rekannya, memberi instruksi agar mereka berempat mengikuti saja dan tau terlebih dahulu dimana sebenarnya mereka menyekap Green.


Hingga mereka sampai disebuah ruangan kosong yang tak kalah dengan, enam orang itu sampai di tempat. Dia prajurit itu meletakkan Green yang sudah tidak berdaya diatas lantai, lantas melihat kehadiran empat pria asing yang mencurigakan itu, mereka menarik pedang dari selosong yang menggantung di pinggangnya.


“Kami mendapat izin dari tuan Hinawa untuk mengobati luka putri Green.” kata si pria bercadar. Lantas membuat dua orang prajurit itu kembali memasukkan pedang dan mempersilahkan salah seorang yang membawa keranjang ramuan yang berisi dedaunan herbal serta alat tumbuk, untuk mendekat kepada Green dan melakukan pengobatan.


“Apa putri Green tidak diberi makanan?” tanyanya pada dua prajurit yang bertugas menjaga itu. Mereka menatap satu sama lain, kemudian menggeleng.


“Tidak.”


Havier mencengkeram ujung pakaiannya sendiri demi menyembunyikan kemarahan yang sudah membumbung hingga ke ubun-ubun. Lantas dia berkata, “Kalian pikir dia hewan? Mengapa dia tidak kalian perlakuan seperti manusia?”


Salah satu prajurit mulai angkat bicara. “Ratu Hellen melarang siapapun memberikan makanan kepada putri Green.”


Sial. Wanita memang jelmaan ib-lis.


“Bagaimana ini pangeran?” kata si tabib, yang tentu saja mengejutkan untuk dua prajurit itu.


“Pangeran?” tanya salah satu prajurit Hinawa, ia bingung.


Havier membuka cadarnya, yang mana membuat dua prajurit itu sontak mengeluarkan kembali pedangnya dan mulai menyerang.

__ADS_1


Dengan gerakan kilat, Havier menampik pedang keduanya hingga terjatuh dilantai dan tidak bisa berbuat lainnya selain pasrah jika ditebas oleh samurai milik si pengeran yang hendak menjadi suami tuan putrinya.


“Cepat tunjukkan padaku, dimana kalian menyimpan makanan, Huh?!” tanya Havier menekan dengan suara dingin dan datar. “Cepat, atau nyawa kalian yang akan menjadi makanan untuk samurai ku.” kata Havier tegas sembari mengarahkan ujung mata pedang samurainya didepan wajah dua prajurit itu secara bergantian.


Salah satu prajurit yang sudah kepalang bergetar itu memutar langkah dan berjalan menuju ke suatu tempat bersama satu prajurit yang bersama Havier.


“Denyut jantungnya lemah.” kata si tabib mengejutkan Havier. Ia pun memutar langkah dan membiarkan satu prajurit yang tadi ia tawan melarikan diri keluar. Havier lebih mengkhawatirkan keadaan Green sekarang.


Segera, Havier duduk bersimpuh di sisi Green, meraih green dan memapahnya. Ia menepuk lembut pipi Green untuk menjaga gadis itu tetap sadar, kemudian menepuknya lagi, dan lagi dan ternyata itu bekerja. Green kembali membuka mata, dan tabib mulai membuat ramuan untuk mengobati Green. Sedangkan teman Javier tadi sudah kembali membawa beberapa makanan dan minuman ditangannya.


“Letakkan di sisiku.” perintah Havier tak ingin dibantah. Lalu dia menyambar sebuah tabung kayu berisi air dan memberikannya kepada Green yang gemetaran. Gadis itu perlahan-lahan menenggaknya serakah, dan meloloskan semua isi tabung tersebut kedalam perutnya.


“Terima kasih, pangeran.” bisik Green tanpa suara yang mendapat anggukan dari Havier.


“Kamu akan selamat. Kamu akan baik-baik saja.” katanya memberitahu. “Diluar, ada pasukan Amber bersama raja Aruchi dan panglima Junot yang akan membawamu pergi dari tempat terkutuk ini.”


Green tersenyum, membuat sebuah perasaan rasa lega perlahan merambat naik kedalam hati Havier. Dan sekarang, Green bisa melihat dengan jelas dan menerima sebuah roti yang disodorkan oleh Havier lalu melahapnya serakah karena kelaparan.


Havier berdiri dan menghadap didepan wajah prajurit bentukan pamannya itu. “Kau lihat. Gadis itu adalah gadis kuat yang seharusnya kalian hormati dan hargai. Tapi kenapa—”


Kalimat Havier terhenti ketika ia melihat tiga prajurit lari kearahnya dan teman-temannya. Mereka menyerang begitu saja hingga pertikaian pun tak dapat dihindari.


Havier mahir menggunakan samurai kesayangannya, dia juga seorang pangeran hebat yang tentu saja tidak pernah lengah. Ia berhasil melukai dua orang, namun tidak bisa mencegah ketika salah satu dari mereka itu melarikan diri dengan luka sabetan samurai Havier. Akan tetapi, Havier tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja. Havier mengejar dengan langkah besar. Sengaja hanya berjalan agar pria itu sampai didepan sana dan membuat Hinawa kelabakan dengan kehadirannya. Lalu, mereka yang diluar sana akan dengan sangat leluasa merobohkan pertahanan Hinawa yang lengah.


Laki-laki itu terseok dan berlari sebisa mungkin untuk memberitahu Hinawa diluar. Langkahnya semakin cepat setelah mendapati cahaya yang masih terlihat menyorot.


Laki-laki itu berteriak keras dan menggema memanggil nama Hinawa, hingga laki-laki yang sedang duduk diatas punggung kuda itu menoleh dan menyaksikan sendiri bagaimana Havier menghabisi satu prajuritnya tanpa ampun tanpa mengetahui apa yang hendak disampaikan prajuritnya itu selain menyaksikan kehadiran keponakan yang ia sayangi berada disana, di kubu yang berlawanan dengannya.


Sorot mata Havier tidak lepas dari Hinawa yang juga sedang menatap lurus kearahnya.


“Vier...”Havier bisa menangkap gerak bibir Hinawa yang menyebut namanya. Namun Havier tak mau lagi berpura-pura menerima Hinawa dengan sebuah maaf. Havier kecewa, dan berkata dengan lantang.


“Putri Green sekarat karena kekejamanmu. Jadi, kamu tidak pantas mendapatkan pengampunan.” []


###


Mampir ke lapak baru Othor ya akak. Judulnya Me Gustas Tu. Mohon dukungannya...☺️

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2