
...Selamat membaca......
...Semoga suka dengan part ini ☺️...
...🏰🏰🏰...
Tidak ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan berada di samping Junot. Laki-laki itu menepati janjinya. Ia datang kepada Green setelah tugas yang diberikan Grey padanya telah berakhir tanpa hambatan dan kesalahan apapun.
Kondisi Green juga sudah membaik. Luka dan lebam biru di beberapa titik tubuhnya sudah memudar. Wajah cantiknya kembali bersinar, dan kini dia sudah siap melakukan perjalanan ke Geogini bersama Junot untuk berkunjung ke tempat persemayaman terakhir Ivory.
Selama perjalanan, Junot juga tidak pernah lengah untuk mengecek dan memastikan keadaan Green dengan jeli. Ia tidak ingin wanita itu merasa sakit, kelelahan, atau hal lainnya yang tidak ia inginkan terjadi.
“Mau istirahat sebentar?” tawar Junot, menarik tali kekang kudanya agar laju kaki hewan berkaki empat dengan kekuatan larinya yang super kencang itu, berkurang.
“Tidak. Aku baik-baik saja. Kita harus segera sampai Geogini sebelum malam datang lagi, Jun.”
Junot tersenyum dan mengecup bahu Green. “Baiklah, tuan putri yang cantik.”
Junot kembali memacu kudanya. Si hitam perkasa itu memang bisa diandalkan dalam hal apapun. Termasuk membawa dirinya dan juga Green secara bersamaan diatas punggungnya menuju Geogini.
Dan setelah menempuh perjalanan selama dua hari satu malam, Green dan Junot akhirnya sampai di tempat tujuan mereka, Geogini. Mereka bertemu Grey sejenak, lantas meminta izin untuk melihat putri kecil bernama Reddyara yang baru saja dilahirkan sahabatnya, Ivory.
Air matanya menggenang ketika melihat gadis kecil cantik berbalut kain hangat itu sedang terlelap. Green kembali teringat akan bayi yang sempat menempati rahimnya, sempat menjadi bagian dirinya meskipun tidak sempat ia ketahui saat itu.
Tangan Green terulur untuk menyentuh pipi merah Red, kemudian mengusapnya lembut. Wajah Red mengingatkannya pada Ivory. Ya, Red adalah definisi Ivory kecil.
“Hai, putri kecil Geogini.” sapanya, tersenyum berderai air mata ketika bayi mungil sedikit gembil itu menggeliat dengan suara khas bayinya ketika merengek. Hati kecil Green begitu nyeri tatkala mengingat kenangan bersama Ivory. “Kamu cantik, seperti ibumu.”
Grey dan Junot hanya bisa menunduk menyaksikan bagaimana Green berkata sendu kepada bayi yang sudah terlelap lagi itu. Bahkan Green berada di ruangan khusus yang dibuat Grey untuk bayinya ini selama lebih dari setengah hari. Ia melihat bagaimana para dayang merawat dan memberi minuman kepada Putri Grey dengan telaten dan penuh kasih sayang. Dalam hati Green hanya berdo'a agar bayi kecil nan cantik itu di kelilingi oleh orang-orang yang baik dan mencintainya, sama seperti ibunya dulu.
Setelah puas disana, Junot mengantar Green menuju tempat dimana Ivory di makamkan. Langkahnya begitu berat ketika gerbang tinggi itu sudah terlihat. Tempatnya tidak terlalu jauh dari istana Geogini. Letaknya berada di dekat perbatasan hutan yang rindang. Green juga dapat melihat bagaimana tanah itu masih diselimuti bunga yang harum diatas tanah yang masih basah.
Junot dan Green berhenti di pusara berukir nama ivory dengan huruf yang begitu cantik. Aroma harum bunga yang menyebar diatasnya begitu mengingatkan Green pada temannya yang dulu ia kenal tanpa sengaja di hutan.
Kaki Green luruh di sisi tanah yang sama-sama lembab, kemudian mengusap lembut di atas bunga yang tersebar dan semerbak harum di atasnya.
__ADS_1
“Raja selalu datang kesini dan menabur bunga. Raja sangat mencintai istrinya, Ivory.”
Manik mata Green kembali berembun. Telapak tangannya ia ulurkan menyentuh batu nisan yang terpatri di bagian atas pusara.
“Hai, Vo. Aku datang.” katanya sendu. Green tidak tau lagi bagaimana cara menghapus rasa sesal dihatinya untuk Ivory. “Maaf aku datang terlambat untuk mengetahui keadaanmu karena sesuatu terjadi di Amber.”
Green menghembuskan nafas besar dan kini memeluk tumpukan bunga yang tersebar di atas pusara itu layaknya memeluk seorang teman.
“Aku harap, kamu bahagia di nirwana.”
Sedangkan Junot yang melihat bagaimana Green saat ini, menahan mati-matian agar air matanya tidak luruh. Bagaimanapun juga, Ivory pernah ada di hidupnya. Ia pernah mengenal wanita baik itu meskipun singkat.
“Putrimu sangat cantik. Mirip sekali denganmu.” katanya semakin parau dalam sedu sedan. “Aku yakin dia juga akan tumbuh menjadi wanita yang hebat dan kuat seperti dirimu.”
Green lagi-lagi mengusap kelopak bunga warna-warni itu seperti mengusap seseorang.
“Aku, ingin menceritakan sesuatu padamu, Vo.”
Atensi Junot terpusat pada wajah cantik Green, kemudian ikut mengambil posisi menekuk kaki disamping wanita kesayangannya itu.
Junot membuang muka ketika ingatan itu kembali dibuka oleh Green. Ia turut merasakan sakitnya kehilangan.
“Dia adalah anakku dan Junot.”
Hati Junot serasa diremas. Ia tidak lagi bisa menahan bulir air mata yang sedari tadi memenuhi di kelopak mata.
“Tapi, semua sudah terjadi. Mau tidak mau aku harus merelakan kepergiannya. Begitupun dirimu.”
Green mendongak ketika merasakan bahunya di usap lembut oleh Junot. Ia lantas bangkit dan meraih tubuh tegap itu kedalam pelukan singkat, lalu kembali menatap pusara Ivory, melanjutkan kalimat demi kalimat untuk ia sampai agar beban dihatinya berkurang lagi.
“Aku akan datang lagi kesini untuk mengunjungi mu, ratu dan juga sahabat baikku.”
Junot tersenyum melihat bagaimana Green menyebut Ivory seolah wanita itu masih bersamanya, masih menghirup udara yang sama dengannya.
“Berbahagialah disana. Dan aku akan terus berjuang di sini.”
***
__ADS_1
Waktu berlalu begitu saja. Semua berjalan kondusif dan mulai membaik pasca konspirasi itu terbongkar. Aruchi juga tidak lagi membenci Junot seperti dulu, seperti pertama kali mengetahui jika pria itu memiliki hubungan dengan putrinya. Bahkan sekarang, Aruchi sudah menganggap Junot seperti bagian dari Amber. Ia tidak akan melupakan jasa panglima Geogini itu ketika membantunya membuka persekongkolan dan juga penghianatan di Amber.
“Bisakah kamu menjaga Green selamanya untukku?”
Junot menganga dan terpaku dalam satu waktu saat mendengar kalimat itu terlontar dari bibir Aruchi. Apa maksud dari ucapan Aruchi adalah menjadikan Green pasangan hidupnya? Pikir Junot.
“S-saya tidak mengerti maksud anda yang mulia.” katanya sedikit gugup sembari membungkukkan badan penuh hormat didepan raja Aruchi.
“Aku akan meminta raja Geogini untuk memberimu izin hidup di Amber bersama putriku.”
“Tolong, beritahu maksud anda dengan jelas, yang mulia raja.”
Aruchi berdiri dari singgasananya, berjalan menuruni beberapa anak tangga dan berhenti tepat didepan Junot.
“Aku tidak ingin putriku hamil di luar nikah untuk yang kedua kalinya.”
Junot tau itu hanya sebuah kalimat teguran, tapi entah mengapa membuat wajah Junot memerah dan sedikit gelagapan.
“Jika kamu mencintai Honey Green, menikahlah dengannya. Cintai dia, dan lindungi dia. Karena aku tidak bisa menjaganya lebih lama lagi karena dimakan usia.”
“Tapi yang mulia—”
“Grey tidak akan menolak permintaanku demi dirimu. Aku yakin itu. Dia pasti akan melepaskan dirimu untuk hidup bersama orang yang kamu cintai.”
Bukan hanya wajah, kini hati Junot turut menghangat karena ucapan Aruchi yang sudah lama ia tunggu. Benar, ia hanya ingin hidup bersama orang yang ia cintai, yakni putri dari kerajaan Amber, Honey Green.
“Hiduplah berbahagia dengan putriku. Dia juga sangat mencintaimu. Dan,” Aruchi menjeda. Ia berjalan ke sisi kanan Junot dan menepuk pundak laki-laki itu pelan. “Maaf karena aku pernah meragukan dirimu yang memang mencintai Green dengan tulus.”
Junot menahan nafas, mengarahkan lengannya didepan dada, kemudian membungkuk lima belas derajat penuh hormat kepada Aruchi.
“Terima kasih sudah percaya kepada saya, yang mulai. Jika memang itu keinginan anda, saya tidak akan mempertimbangkan apapun lagi.”
“Bagus.” seru Aruchi bangga. “Sekarang, temui Green dan ajak dia membicarakan hal itu.”
Junot mengangguk paham. “Saya akan membicarakan hal paling membahagiakan ini dengan putri anda. Dengan wanita yang benar-benar saya cintai.”
Aruchi tersenyum hangat mendengarnya. Lantas ia kembali berkata dengan senyuman yang tidak bisa Junot tebak. “Tentu. Dan jangan lupa untuk memberiku cucu yang tampan dan cantik.”[]
__ADS_1