GREEN

GREEN
Chapter 10


__ADS_3

...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan GREEN kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



Green berjalan tergesa-gesa. ia berlari tanpa berpikir dua kali ketika seorang dayang membaritahukan jika seseorang bernama Junot sedang menunggunya di depan pintu gerbang istana. Katanya, pria itu membawa pesan dari Ivory, temannya.


Disamping Green ingin mengetahui kabar tentang Ivory, ada satu hal penting lainnya yang sangat ia tunggu dan ingin ia ketahui dari Junot. Yakni, jawaban untuk pernyataan cintanya tempo hari. Meskipun tidak berharap banyak Junot akan mengingat dan memberikan jawaban atas itu, setidaknya Green bisa melihat laki-laki yang entah selalu ia rindukan belakangan.


Manik matanya mulai menangkap siluet pemilik wajah tegas kesukaannya dari kejauhan. Green menarik sudut bibir membentuk senyuman. Benar, ia tidak bisa membendung senyuman yang terbit pada birainya ketika melihat sosok Junot. Laki-laki itu selalu mempesona dan memiliki ruang tersendiri dalam hati Green.


“Maaf membuatmu menunggu.” ucapnya disela sengal nafas karena berlari. “Cepat buka pintu gerbangnya!” titah Green kepada salah satu prajurit yang menjaga pintu, dan langsung di laksanakan.


Junot tersenyum, lantas menarik tali kekang kudanya dan mengikuti langkah Green untuk memasuki area istana. “Memangnya tamu penting siapa, sampai melarang siapapun masuk?”


“Jadi, mereka sudah lama menahanmu disini?” pekik Green terkejut karena ucapan Junot.


Pria itu mengangguk. “Ya. Setengah hari aku duduk disana.” jawab Junot lugu sambil menunjuk dimana tempatnya menunggu hampir seharian sampai mengering bak ikan teri yang biasa ia lihat di pesisir pantai Geogini.


“Lalu, ada apa tiba-tiba datang kesini?”


Apa Junot perlu membatalkan niatnya untuk membalas pernyataan Green tempo hari? Sepertinya gadis itu sedang dilanda amnesia.


“O-oh, itu. Aku hanya ingin—”


“Memastikan aku hidup dengan baik di Amber?” sahut Green sinis. Harapannya mendapat pernyataan cinta dari sosok Junot sirna sudah. Junot tidak mungkin memilihnya, dan ia kecewa. “Jangan khawatir. Aku hidup dengan sangat ba....ik disini!” cibir Green mendramatisir, kesal sekali dengan jawaban klise yang terlalu sering ia dengar dari mulut Junot. Atau bahkan, setiap Junot datang, dia selalu menggunakan alasan yang sama, dan itu membuat Green bosan.


Diam-diam, Junot tersenyum dengan reaksi yang diberikan Green. “Tidak. Aku hanya ingin memberitahu, jika Ivory sedang mengandung penerus Geogini.”


Malu. Satu kata yang saat ini sedang memenuhi benak Green hingga wajah dan telinga gadis itu merona merah. Jadi Junot tidak ingin mengatakan itu?


“A~h, jadi itu. Lalu, dia pasti sangat bahagia sekarang.”


“Tidak.”


Jawaban Junot tentu saja membuat Green terkesiap. Dia seketika membalik badan, dan menatap bingung penuh tanya pada presensi Junot. “Maksudnya?”


Junot menghela nafas dalam. Ia tidak ingin mengatakan alasan mengapa Ivory tidak bahagia, tapi Green berhak tau. “Ada masalah dengan kandungan Ivory. Tabib menyarankan kepada Ivory untuk meluruhkan janin itu. Tapi Green menolak, dan keputusan itu menyakiti harga diri Grey.”


“Lalu?”


“Grey tidak lagi peduli pada Ivory karena Ivory tidak mau menuruti dirinya. Grey tinggal di tempat terpisah dengan Ivory.”


“SIALAN.” gumam Green. Mengumpat untuk sikap pengecut Grey yang pasti sangat menyakiti hati Ivory. “Bagaimana bisa dia menjadi pecundang seperti itu?”


Junot mengangguk. Tapi Grey tetap memiliki alasan dibalik semua itu. “Dia hanya ingin Ivory baik-baik saja.”

__ADS_1


“Ya. Tapi cara Grey memperlakukan Ivory salah!”


Tidak ada yang salah dengan kalimat yang melecut tajam dari bibir Green. Gadis itu selalu berkata jujur apa adanya, terlebih akan sesuatu yang menurutnya tidak benar.


“Bawa aku bertemu Ivory ke Geogini.”


...***...


Hellen rupanya sudah menerka jika Green berlari tergesa seperti itu hendak menemui panglima dari kerajaan Geogini. Dan kali ini, dia bisa melihat dari jendela kamarnya, gadis itu sedang berjalan masuk ke dalam istana Amber.


Otaknya terbakar. Hellen merasa tak dihargai akan ucapan Green yang ia dengar beberapa saat lalu.


Lalu, jika aku pergi dari sini. Apa beban itu akan sirna?


Oh, ayolah ratu Hellen. Mengapa anda sangat membenciku? Apa karena aku mengetahui satu rahasia anda?


Telapak tangan Hellen mengepal erat. Ia mengingat kejadian beberapa hari lalu, ketika Green tiba-tiba ada dibalik punggungnya tanpa dia ketahui, dan mungkar n gadis itu mendengar sesuatu yang sedang ia bicarakan dengan seorang prajurit kerajaan yang memiliki kedudukan sedikit penting di kerajaan.


“Aku tidak bisa tenang jika gadis itu masih berada di istana.” gumamnya, menyorot keberadaan Green yang sedang tersenyum riang didepan panglima perang Geogini yang tidak ia ketahui namanya. “Aku harus mencari cara agar Green melupakan pembicaraanku dengan Oslo.”


Oslo adalah orang kepercayaan Hellen yang ia ajak tinggal di istana sejak ia dipinang dan menikah dengan raja Aruchi tujuh belas tahun lalu. Laki-laki paruh baya itu begitu penurut, sebab Hellen adalah sosok malaikat penolong baginya. Wanita bernama Hellen Retoulitt itu menolongnya dari dera hutang yang melilit setelah kepergian istrinya. Oslo sendiri dulunya adalah seorang petani sukses, namun bangkrut lantaran istrinya sakit. Kemudian terlilit hutang untuk membayar biaya pengobatan sang istri setiap dua hari sekali kepada tabib. Dan Hellen hadir, sebagai penolong, mengentas dirinya dari hutang dan mengajaknya hidup diistana.


“Nyonya. Putri Green hendak pergi ke Geogini.” terang Oslo memberitahu tentang permintaan Green kepada sang raja Aruchi yang ia dengar beberapa saat lalu.


“Apa raja menyanggupi?”


“Ya. Raja tidak bisa menolak karena laki-laki yang berada di sisi putri Green berhasil meyakinkan raja Aruchi.”


“Setau saya, tidak ada yang mulia.”


Hellen mengangguk paham. “Baiklah. Lanjutkan pekerjaanmu.”


Pria itu membungkuk lima belas derajat dan meninggalkan Hellen yang kini mengubah pesat ekspresi wajahnya. Wajah yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng kelembutan. Wajah yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun, dan wajah yang begitu penuh kelicikan.


“Kamu sudah berani mengusik ku. Jangan harap kamu akan tenang dan bisa bergerak semau mu disini, Green.”


...***...


Green menaiki kuda dengan bantuan Junot. Pakaian berkuda lengkap dan aman membalut tubuh rampingnya. Green juga membawa beberapa anak panah dan juga busur sebagai alat perlindungan diri jika saja terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.


Kemudian, disusul Junot yang naik ke punggung kuda yang sama, mereka siap menuju Geogini.


Melewati bentangan hutan, anakan sungai, bukit, dan hutan lagi. Siang, malam, mereka berdua bahkan tidak kenal lelah. Terutama Green yang ingin segera melihat keadaan Ivory. Hanya beberapa kali istirahat, dan memakan waktu kurang dari dua hari dua malam


Hingga kini, dia kembali menginjakkan kakinya disini. Di tempat dimana dia pertama kali melihat betapa mengerikannya sebuah peperangan, dan tempat ia menjadikan Ivory sebagai teman dekat yang tidak akan pernah ia lupakan jasanya. Ivory terlalu baik, hingga dia tidak bisa melepas teman seperti dia begitu saja. Green menyayangi Ivory seperti menyayangi seorang saudara perempuan yang lahir dari rahim yang sama.


Tapi pemandangan yang tidak ia harapkan dan begitu menyakitkan untuknya, begitu pilu dan menyayat hati, kini tertangkap pupil indahnya. Menyalurkan rasa perih hingga kabut menyelimuti setiap sudut mata Green.


Ivory yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang dengan tubuh kurus. Wanita yang ceria itu terlihat layu, dan senyuman bak mentari itu berubah seperti kelam malam.


Green mendekat, memangkas jarak dan berniat menerima pelukan yang ditawarkan Ivory kepadanya dengan kedua lengan kurus yang mengapung diudara.

__ADS_1


Sesak memenuhi ruang hati Green kala dirinya berhasil meraih pelukan Ivory. Menangis tanpa suara, dan mengeratkan pelukan seakan tidak ingin melepas barang sedetik. Melihat pemandangan itu, Junot akhirnya undur diri. Memberi ruang dan waktu untuk dua presensi yang sedang melepas rindu.


“A-aw...” canda Ivory ketika Green masih belum mau melepaskan pelukan mereka.


“Bodoh.”


Ivory menepuk punggung Green karena kesal dirinya disebut bodoh. “Apa maksudmu? Bukankah seharusnya kamu mengatakan jika merindukanku? Bukannya malah mengolok ku seperti itu, putri Green.”


Green menarik diri, menatap lekat fitur wajah Ivory yang tirus, lalu mengusapnya lembut. “Mengapa kamu lakukan ini?”


Ivory tersenyum, tau betul tujuan ucapan Green padanya. “Memangnya kenapa? Aku akan baik-baik saja, jangan khawatir.”


Ivory kembali menarik Green kedalam pelukannya. Mengusap punggung gadis itu penuh arti. “Bagaimana keadaanmu, teman?”


“Baik.”


“Aku dengar kamu sedang berusaha menghindari perjodohan yang dilakukan ayahmu, ya?”


Green mengangguk.


“Kamu memilih partner yang benar. Junot bisa membawamu pergi jauh dan melindungimu.”


Green melepas pelukan Ivory, lantas mengulum senyum tipis pada birainya. “Ya. Aku bahkan berharap panglima Junot membawaku lari dari istana sekalian. Disana terlalu mengerikan.”


“Mengerikan?”


“Ya. Ratu baru Amber sangat mengerikan.”[]


^^^to be continued.^^^


...🌼🌼🌼...


...Vi's Ucapkan Selamat hari raya idul Fitri bagi pembaca setia GREEN yang merayakan. Minal Aidin wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Maaf jika Vi's selama berada disini ada salah-salah kata yang disengaja maupun tidak disengaja.🙏🙏🙏...


...Dan juga, disini Vi's mau promosi novel karangan Vi's, yang siapa tau readers berkenan mampir dan baca-baca sebagai peneman libur lebaran kali ini....


Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


...Atas perhatiannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih....

__ADS_1


...See You....


__ADS_2