GREEN

GREEN
Chapter 34


__ADS_3

GREEN UPDATE


PUNCAK KONFLIK CERITA AKAN TERJADI, AKANKAH PUTRI GREEN BISA DITEMUKAN?


IKUTI TERUS KELANJUTAN CERITA GREEN DAN JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA BESTIE...


SELAMAT MEMBACA




🏰🏰🏰



Mata Hinawa menyorot Retio penuh telisik. Tidak ada yang berbeda dengan laki-laki didepannya itu. Lalu kemana perginya dia selama semalam? Hinawa perlu tau.


“Kemana kamu semalaman ini? Kenapa tidak memberikan laporan?” tanya Hinawa menelisik. Pertanyaan biasa saja, tapi dia harap laki-laki itu terjebak jika sedang menyembunyikan sesuatu.


“Saya berada disana, tuan Hinawa.”


“Lalu kenapa tidak kembali untuk melapor?”


Retio mengangkat wajahnya, menatap manik Hinawa dengan sorot berani. “Saya melihat sesuatu ketika sore hari,” katanya menjeda, terus melihat ke arah Hinawa untuk memberi pria itu sebuah pernyataan pasti yang harus dipercaya. “Dan saya mengejarnya hingga jauh meninggalkan teritori yang biasa saya lewati.”


Hinawa juga tak lelah menatap dan menelisik setiap ucapan dan sorot mata Retio. Dia tidak menemukan apapun, Retio masih sama seperti biasa ketika dia melapor. Tegas dan datar tanpa ekspresi.


“Tapi, ketika saya hendak kembali, saya tersesat dan tidak bisa melihat Medan hutan karena hari sudah gelap. Jadi terpaksa saya berdiam diri disana dan menunggu matahari terbit agar bisa melihat jalan untuk kembali ke sini.”


“Jadi kamu melihat apa yang bergerak itu?”


Retio mengangguk. “Seekor kambing hutan berwarna hitam.”

__ADS_1


Hinawa nyaris meledakkan tawa. Tapi ada sesuatu yang mengganjal ketika Retio mengatakan itu. Seperti bukan gaya bicara Retio.


“Kenapa tidak kamu panah saja?”


Retio sadar ini adalah pertanyaan jebakan lainnya yang ditujukan untuk mencari kebenaran tentang dirinya, lalu dia menarik nafas dalam secara diam-diam. “Seharusnya saya melakukan itu, tapi saya takut itu adalah seseorang yang memata-matai kita. Saya tidak ingin membunuh seorang mata-mata yang bisa kita mintai informasi penting untuk keperluan kita.”


Hinawa mengangguk setuju. Dia bahkan memerintahkan agar Retio pergi beristirahat sebelum kembali menjalankan tugasnya nanti, tanpa rasa cerita sekalipun. Manipulasi itu berhasil, dan Retio tinggal menunggu hasil.


***


Keesokan paginya, Junot dan rombongan dari Amber telah sampai di jantung hutan untuk berkumpul dan menyusun strategi untuk penyergapan. Jika jalan perundingan, dan penyerahan diri bisa dilakukan, maka tidak perlu ada peperangan. Tapi sebaliknya, jika semua itu sulit dipenuhi, maka tidak ada jalan lain selain melakukan penyerangan dan pertumpahan darah.


Junot adalah panglima handal kebanggaan Geogini. Siapapun tau, jika strategi yang di buat pria itu selalu berhasil, tidak pernah gagal. Namun sekarang, semua sistem kerja otaknya sedang ditawan oleh perasaan takut dan khawatir. Konsentrasinya terpecah, dan keinginannya untuk segera menemukan Green, terasa seperti sebuah obsesi.


Suara derik serangga hutan masih terdengar nyaring membumbung dilangit yang tidak sepenuhnya cerah. Udara masih sedikit menggigit kulit, dingin sekali. Tapi semua itu tidak menyurutkan semangat mereka semua untuk segera menuju tempat dimana Retio sudah mengikat Morse yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.


“Sama seperti strategi senyap yang biasanya saya pergunakan. Kali ini saya ingin strategi itu digunakan.” pinta Junot kepada Aruchi agar memberinya izin. Strategi ini memang selalu berhasil keran musuh tidak pernah menduga dan menyangka jika mereka akan tiba-tiba diserang.


Mengingat Junot adalah panglima yang selalu kembali membawa kemenangan, Aruchi nampaknya tidak lagi meragukan apa yang sedang ada didalam otak Junot. Laki-laki itu bisa diandalkan.


Semua berseru, “YA. KAMI BERSEDIA!”


Aruchi mengarahkan lengannya yang mengepal didepan dada. Ia begitu tersiksa beberapa hari ini karena Green adalah putri yang baru saja berhasil ia genggam kembali setelah hilang, dan sekarang dia harus kehilangan Green lagi untuk yang kedua kalinya. Aruchi memejam erat hingga airmata nya jatuh.


Seketika, suasana menjadi sunyi, sendu dan para prajurit menundukkan kepalanya. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat raja mereka menangis, melihat seorang raja yang berada dis sisi lemah sebagai seorang ayah.


“Kita, Kita berjuang bersama.” kata Aruchi terbata. Ia mengeratkan genggamannya pada tali kekang kudanya, kemudian berkata. “Aku mohon, bantulah raja tua ini untuk menemukan kembali putri nya.”


Kalimat itu sukses membuat Junot tersentuh dan larut dalam perasaannya sendiri. Semua kenangan bersama Green terputar acak di dalam kepalanya. Terutama, bagaimana pertemuan pertama mereka, dan usahanya menggagalkan perjodohan karena permintaan gadis tersebut. Junot tertunduk dalam kesedihan, namun bibirnya ia tolak bergetar dan memilih sebuah senyuman untuk terbit. Senyuman yang begitu pilu. Lalu tangan Junot mengepal, dan mengikuti apa yang dilakukan Aruchi, yakni meletakkan kepalan tangan itu didepan dada. Dalam hati Junot bersumpah, akan menghabisi siapapun yang terlibat dalam hal ini. Siapapun, tak peduli jika itu adalah ratu dari Amber sekalipun.


“KAMI AKAN MENEMUKAN PUTRI KERAJAAN AMBER YANG KAMI CINTAI.” kata para ribuan pasukan itu kembali menggema, yang seketika membakar semangat sekaligus membuat bulu kudu Junot merinding.


Sedangkan Havier, semakin merasa bersalah karena tidak bisa menjadi manusia dan pangeran yang benar-benar berguna, seperti panglima Junot yang rela melakukan apapun untuk Gree. Dari sini dia paham, betapa kuat ikatan mereka berdua, dan Havier berjanji untuk membantu perjuangan Junot untuk menemukan dan menyelamatkan Green. Meskipun harus kehilangan paman nya sendiri pada akhirnya nanti.

__ADS_1


Aruchi membungkuk hormat untuk pertama kalinya didepan para pasukannya. Ia benar-benar berharap atau akan hancur jika kehilangan Green. “Terima kasih untuk pengorbanan kalian.” kata Aruchi kemudian berbalik memunggungi dan menghadap ke depan, siap membelah hutan bersama Junot, Havier, dan ribuan pasukan di balik punggungnya.


Kemudian, Aruchi menoleh ke arah Junot, memintanya untuk mengambil alih semua instruksi sebagai seorang panglima perang yang akan memimpin misi mereka kali ini. Junot mengangguk, dan menarik pedangnya dari selosong, lalu mengangkatnya tinggi untuk menginstruksi.


“KALIAN SIAP?” seru Junot membara.


“SIAP...”


“AKU YAKIN KITA AKAN PULANG MEMBAWA KEMENANGAN JIKA MEREKA MENOLAK JALAN DAMAI!”


“KAMI SIAP.”


Seruan itu menjadi bukti jika bukan hanya Aruchi, Junot ataupun Havier yang ingin Green kembali, melainkan mereka semua yang hidup di tanah Amber. Lantas dengan tekat dan keteguhan hati, mereka memacu kuda menuju tempat dimana Green di sembunyikan.


Junot memimpin didepan. Tidak ada suara apapun selain suara deru kaki kuda yang menghentak bumi, semangat membara, dan keinginan serta tekat mereka bersama untuk berjuang. Pagi ini akan menjadi saksi bagaimana perjuangan mereka menginginkan putri mereka kembali.


Junot membaca setiap situasi dan juga jejak yang ditinggalkan Retio di beberapa titik yang akan mengantar mereka tiba disana. Hingga tak jauh dari penglihatannya yang sudah hampir setengah hari memperhatikan setiap sisi hutan, Junot bisa melihat disana. Sebuah bangunan tua yang tidak terlalu tinggi karena hanya terlihat ujungnya saja. Mereka akan sampai.


***


Green membuka matanya yang sempat terkatup karena lelah, sakit, dan lapar yang mendera tubuhnya. satu sisi wajahnya yang membengkak dan biru bercampur lelehan darah yang mengering itu jatuh tak berdaya diatas lantai kotor yang menjadi saksi kekejaman Hellen dan Hinawa padanya.


Green tersenyum ketika menyadari sesuatu. Telinganya menangkap sebuah deru yang begitu jelas, yang pastinya akan terjadi sesuatu disini.


Dia menatap Hellen dan Hinawa dalam diam, kemudian berbisik parau tanpa bisa didengar oleh kedua orang itu.


“Mereka datang,” katanya, kemudian menggeliat mencoba bangkit, namun tenaganya sudah tidak bersisa. Green tidak tau, dirinya akan mampu bertahan sampai mereka bisa menemukannya, atau tidak. Yang jelas, dia berterima kasih kepada siapapun yang datang untuknya. Ia juga berharap Junot ada bersama mereka dan membawanya pergi dari sini.


Satu tetes air matanya jatuh dengan bibir pucat yang bergetar. Nafasnya tersengal, dan sekujur tubuhnya menggigil. “Kalian, akan menyesal sudah mengkhianati Amber, karena Aruchi adalah orang yang kuat.” katanya, masih dengan suara parau nyaris hanya berupa bisikan yang tidak dapat didengar oleh siapapun.


Green memejamkan matanya yang terasa sangat berat. Lalu ia berkata, “Terima kasih, untuk siapapun yang sudah berjuang untukku.”


Green membuka mata, namun semua pandangan berubah kabur dan berkunang. Nafasnya semakin pendek, dan begitu sulit. Ia tersenyum, meraih udara dan ia genggam, membayangkan itu adalah genggaman tangan seseorang yang sangat ia harapkan kehadirannya saat ini.

__ADS_1


“Junot...” []


__ADS_2