GREEN

GREEN
Chapter 43


__ADS_3


Angin sepoi menyapa setiap helaian rambut hitam berkilau yang tergerai indah sepunggung itu. Jendela terbuka, taman bunga sepetak yang sedang berusaha bertahan hidup dari dinginnya cuaca, serta suara ranting pohon yang bertabrakan, membuat sendu dalam dada Green tak kunjung luntur.


Mata bulatnya yang indah itu telah sembab, dan hatinya yang pilu itu tak mau disenangkan. Ia ingin merasakan sakit itu sendirian. Ia ingin meratapi kemalangan yang menimpa dirinya itu sendiri. Tidak bersama orang lain, bahkan Junot sekalipun.


Air mata itu kembali jatuh. Pupil matanya kembali memerah. Green menangis sekali lagi untuk calon anaknya di surga. Perlahan, tangannya meraba perutnya yang rata, kemudian mengusapnya lembut.


“Maaf,” bisiknya parau. Ia menyesal terlambat mengetahui hal yang begitu berharga itu. Hal yang tidak akan pernah ia sia-siakan jika hadir kedunia. “Maafkan ibu tidak bisa menjagamu dengan baik, sayang.” sesalnya, kemudian menunduk menatap pada telapak tangan yang bersarang di atas permukaan perutnya bersama bukit airmata yang jatuh beruntun.


Ia sama sekali tidak tau jika rasa mual yang menderanya beberapa waktu sebelum kejadian nahas itu terjadi, adalah isyarat dari sang buah hati telah ada didalam rahimnya. Ia menyesal, bahkan kini begitu terluka mengingat kembali semua kenyataan pahit yang dialaminya itu. Terlebih untuk calon jabang bayi yang kini sudah tiada lagi didalam dirinya.


Mata Green kembali berpendar. Ingatan kelam ketika Hellen menendang perutnya tanpa ampun kembali menyeruak, telapak tangan Green refleks mengepal kuat sebab hatinya nyeri dan terasa begitu ngilu.


“Ib-lis!!” gumamnya tak ada sedikitpun nada memberi maaf didalamnya. “Semoga kehidupan keduamu nanti, merasakan apa yang aku rasakan sekarang.” sumpahnya untuk Hellen yang sudah berada di nirwana saat ini. Sebenarnya dia tidak berniat mengatakan keburukan seperti itu. Tapi, Ada sedikit rasa tidak rela mengingat bagaimana perlakuan Hellen menyiksa dirinya hingga dipaksa rela kehilangan.


Ya, Hellen tidak selamat hari itu. Bahkan Aruchi tidak peduli ketika Hellen meminta ampun dan pertolongan darinya. Aruchi terlanjur merasa terhianati dan sakit hati melihat Green yang sudah disiksa sedemikian rupa.


Masih di rundung kesedihan yang tak kunjung menemukan ujung, Green juga tak mau melepas tatapan yang sudah ia jatuhkan lagi pada kebun kecil bunga-bunga yang mulai layu karena kedinginan di sana.


Kemudian, seseorang mengusap bahunya lembut sebagai sapaan. Green menoleh dan mendapati Junot berdiri disampingnya, lalu kembali membuang wajah ke arah bentangan luas tanah berumput yang dikelilingi pohon tinggi menjulang serupa hutan.


“Aku juga mempunyai masa lalu yang menyakitkan.” kata Junot pelan seperti berbisik dengan suara parau. “Aku dibuang orang tuaku, dan dibesarkan oleh raja Harlotte di Geogini.” lanjutnya kemudian berjalan mengganti posisi berdiri mendekat pada kusen jendela, tepat di depan Green berada.


“Terkadang, aku rindu pada orang tua ku, tapi aku sama sekali tidak tau wajah dan dimana mereka berdua berada. Lalu berakhir putus asa, hanya berangan tiba-tiba ada yang memelukku dan mengatakan jika mereka adalah ayah dan ibuku, itu sudah membuatku merasa jatuh dan hancur.”


Green masih menatap kosong keluar jendela.


“Kita sama-sama memiliki masa lalu pahit, dan sekarang kita di hadapkan lagi pada kepahitan bersama.” Junot menjeda demi mengambil nafas yang terasa berat dan sesak di dadanya ketika menengok kembali kebelakang melihat masa lalu. Namun ia hanya bisa tersenyum kemudian melanjutkan dengan suara rendah dan lembut untuk Green. “Semuanya begitu berat dan menyakitkan juga untukku. Aku juga merasa begitu kehilangan dia.” lanjut Junot dengan sendu di matanya. “Tapi, mungkin dengan cara ini, kita akan bisa bersatu, Green.”


Green menoleh, ia memperhatikan Junot yang setia berdiri untuk mencoba mengembalikan suasana hatinya yang muram itu dengan sebuah kalimat yang memang sangat menenangkan untuk dirinya yang sedang dirundung pilu.


Bibir pucat Green bergetar. Ia menangis kembali mendengar harapan Junot padanya. Ia bahkan tak segan mengulurkan lengan dan membuka lebar keduanya demi sebuah pelukan. Ia merasa nyaman dan aman ketika berada dalam pelukan hangat Junot.


Dan Junot pun tidak ingin membuang semua kesempatan yang ada. Green adalah pondasi hidupnya saat ini, jadi dia tidak sanggup jika Green tidak lagi mau mengakui atau menjauhinya.

__ADS_1


Jarak ia pangkas, lengannya menyambut tubuh Green dan membawanya kedalam pelukan. Angin dingin kembali berhembus menerpa dan menjadi saksi untuk keduanya yang kini saling memeluk. Green maupun Junot menangis dalam pelukan yang sedang berlangsung penuh kasih sayang dan juga cinta itu.


“Maafkan aku.” bisik Green tepat di sisi telinga Junot. Ia menangis dan semakin mengeratkan pelukan pada punggung tegap Junot.


“Tidak. Jangan pernah katakan itu lagi. Aku ingin kamu tidak lagi menoleh kebelakang untuk mengingat semua kepahitan yang sudah kita alami.”


Pelukan Green semakin kuat. Suara sedu tangisnya semakin terdengar jelas.


“Ayo kita melihat kedepan, dan mendoakan dia agar berada di tempat paling indah di nirwana.”


Kalimat Junot sukses membuat Green mengangguk dan sedikit mengendurkan pelukannya.


“Aku mencintaimu, Jun.”


Sekarang giliran Junot yang merengkuh posesif tubuh ringkih Green. Ia memeluk tanpa berniat menyakiti wanita kesayangannya itu. “Aku juga mencintaimu, putri Honey Green.”


***


Satu suapan, dua suapan sudah berhasil masuk ke dalam mulut Green yang beberapa hari ini terus menolak apapun makanan yang dihidangkan dihadapannya.


Kali ini, Junot kembali berperan menjaga dan merawat Green. Dia menyuapi wanita itu dengan telaten dan penuh kasih sayang. Sesekali dia mengusap pipi lebam Green yang masih meninggalkan bekas ruam kebiruan.


Green tidak menjawab, hanya menatap wadah makan yang ada dalam genggaman Junot.


Menyadari bahwa Junot akan meninggalkannya lagi, Green mendadak lesu. Ia tidak ingin ditinggal seorang diri lagi. Ia ingin Junot selalu ada untuknya. Kapanpun, dimanapun.


“Tidak lama. Hanya menjalankan perintah raja untuk meninjau lokasi tambang di ujung Geogini. Setelah itu aku akan datang lagi ke Amber untuk melihat keadaanmu.”


Dengan berat hati, Green mengangguk. Ia masih belum mau mengangkat wajahnya untuk memperhatikan Junot. Namun sesaat setelah Junot mengatakan itu, pria itu menarik naik dagu Green untuk mempertemukan manik mata mereka. Pupil brown dan ocean blue itu bertemu pandang, kemudian Junot menyematkan senyuman di bibirnya.


“Jangan sedih. Ada raja Aruchi yang akan menemanimu ketika aku—”


“Tetap saja, raja Aruchi bukan kamu, Jun.” Rajuk Green membuat Junot terperangah, kemudian terkekeh saat menyadari bibir Green sudah cemberut.


“Aku tau. Tapi aku juga memiliki kewajiban di Geogini, honey.” katanya merayu. “Aku berjanji padamu, aku akan segera dan bergegas kembali kesini setelah tugas yang diembankan raja padaku telah rampung.”

__ADS_1


Green membuka mulutnya, menerima siapa ketiga dari Junot.


“Baiklah. Tapi setelah itu, aku akan meminta raja Aruchi untuk menjadikanmu menantunya agar aku tidak lagi harus berjauhan denganmu.”


Ya Tuhan. Junot sampai tidak lagi bisa berkata-kata. Ia dalam dilema sekarang. Bagaimana kalau hal itu menjadi kenyataan? Bagaimana dengan Geogini dan balas budi nya kepada raja Harlotte jika Green meminta hal seperti itu?


“Green, sepertinya itu akan menjadi pilihan berat dan sulit untuk—”


“Jangan bicara apapun. Tepati saja janjimu!”


Junot terpaku sejenak, kemudian mengangguk.


“Tentu. Aku akan menepati janjiku, dan akan kembali kesini demi wanita cantik yang tidak pernah berhasil aku hapus dari ingatanku ini.” serunya berapi-api yang dibumbui dengan sedikit rayuan, kemudian berhasil menarik birai Green untuk membentuk sebuah tawa.


“Aduh.” keluh Green menahan bibirnya yang terluka itu untuk tidak tertawa terlalu lebar, atau luka itu akan kembali terbuka dan berdarah.


“Sudah aku bilang, jaga dirimu baik-baik. Tapi sekarang sudah kamu langgar.”


Green memukul dada Junot dan merajuk. “Tidak sengaja. Itu refleks aku lakukan.”


Junot tertawa mendengar kalimat kesal Green, lantas meletakkan sendok di tepian mangkuk bubur. Lantas mengusap puncak kepala Green penuh kasih sayang.


“Aku tau. Aku cuma bercanda.” jelasnya terus terang. Lalu, ditengah suasana yang sudah kembali sedikit menghangat, Junot berkata. “Apa kamu ingin datang ke Geogini untuk menengok tempat Ivory di kebumikan?”


Green kembali sendu, ekspresi wajahnya kembali datar. Dia bahkan hampir lupa jika Ivory mungkin menunggu kedatangannya untuk yang terakhir kalinya.


“Tentu. Ajak aku kesana setelah semua tugasmu selesai.”


Junot mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir Green.


“Ya. Aku akan menjemputmu, dan kita kesana bersama.” []


###


Ingin tau siapa Ivory? Silahkan mampir ke cerita Othor yang berjudul IVORY. Basic ceritanya juga tentang romansa kerajaan, yang tentu saja alur ceritanya nggak kalah seru.

__ADS_1


Silahkan mampir jika berkenan 😊


See you...


__ADS_2