GREEN

GREEN
Epilog


__ADS_3

...Epilog meluncur...


...Selamat membaca...


...🏰🏰🏰...


...[•]...


Semua persiapan sudah dilakukan sejak sebulan sebelum hari ini tiba. Beberapa tamu penting dari kerajaan sekutu, dan semua penduduk Amber di persilahkan untuk menyaksikan perhelatan besar yang di adakan kerajaan hari ini, yakni pernikahan putri Green dan panglima Junot.


Bukan hanya kerajaan sekutu dan penduduk Amber yang datang, Grey turut menjadi undangan di acara tersebut sebagai tamu penting. Grey menjadi pihak keluarga pendamping untuk Junot.


Begitu juga dengan Havier. Dia datang bersama raja Nagawa sebagai tamu penting disana.


Prosesi dan adat pernikahan di Amber, berbeda dengan Geogini. Jika di Geogini sang raja yang menikahkan kedua pihak yang menjadi calon pengantin, di Amber seseorang lah yang menjadi pihak yang menikahkan. Seorang tetua yang dipercaya akan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi kedua pengantin tersebut. Kemudian disusul pemberian restu yang dilakukan oleh sang raja, dan pesta di selenggarakan setelahnya.


Junot dan Green telah resmi terikat janji sehidup semati oleh tetua. Dan sekarang, mereka mengikuti prosesi pemberian restu oleh raja Aruchi.


Gaun berwarna hijau pastel yang membalut tubuh indah Green, serta pakaian gagah yang membalut tubuh kekar Junot menjadi pusat perhatian para tamu. Pasangan ini terlihat begitu serasi.


Aula utama yang disulap menjadi tempat mengikat janji pernikahan itu begitu hening setelah mendapatkan instruksi dari panglima perang Amber. Dan sesaat kemudian terdengar suara pedang yang di tarik dari selosong hingga menimbulkan desing cukup nyaring, kemudian para prajurit itu mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Hal itu merupakan prosesi yang harus di lakukan ketika sang raja menuruni singgasana, dan berjalan mendekat kearah dua mempelai yang sudah menunggu restu darinya.


Ketika sang raja sampai di anakan tangga paling bawah, Junot membawa dirinya berlutut dengan satu kaki menumpu lengan, dan satu kaki menekuk diatas karpet, beserta kepala menunduk tanda hormat. Sedangkan Green, tetap berdiri namun kepalanya tertunduk. Sejenak pupilnya menatap kagum pada wajah sang ayah yang sudah berkerut namun tak pernah lelah memimpin seluruh penjuru Amber.


Aruchi mengulurkan lengan menyentuh puncak kepala Junot untuk mengucapkan dan menerima sumpah.


“Aku, raja dari kerajaan Amber, Aruchi White, memberi restu kepadamu, Junot Anderson Giora untuk menjadi pendamping putri dari kerajaan Amber, Honey Green. Berjanjilah untuk tetap setia, menyayangi dan membahagiakan nya dalam situasi apapun.”


Junot sudah berdebar. Ini adalah pengalaman pertama dan akan menjadi yang terakhir untuknya. Mencintai dan memiliki Green, adalah keinginannya sejak lama.


Junot menggerakkan badannya lebih rendah, kemudian berkata. “Saya Junot Anderson Giora, berjanji untuk selalu menghormati, setia, menyayangi, dan akan membahagiakan putri Honey Green selama hidup yang saya miliki.”


“Restu ku, untuk kalian berdua.”


Semua bertepuk tangan setelah raja Aruchi menurunkan tangannya dari puncak kepala Junot. Lantas menantunya itu kini berdiri, menatap lugas dengan sorot tajam khas seorang pemberani pada si raja tua bernama Aruchi itu.

__ADS_1


“Berbahagialah kalian berdua.” katanya dengan sematan senyum hingga lingkaran matanya berkerut. “Jaga putriku baik-baik dan jangan pernah membuatnya kecewa atau menangis.”


Junot mengangguk yakin untuk beberapa hal yang dikatakan Aruchi. Pasalnya, dia memang tidak ingin membuat Green menangis ataupun kecewa karena sudah menjatuhkan pilihan padanya.


“Baik, yang mulia.”


“Sekarang, sapa semua tamu dan juga para penduduk Amber yang sudah menunggu kalian.”


Green dan Junot mengangguk. Pesta akan segera berlangsung, dan semua yang hadir disini bebas menikmati hidangan yang sudah di sediakan oleh istana.


Di tengah pesta yang sedang berlangsung, Junot menghampiri Green. Ia meraih pinggang wanita itu dan memeluknya posesif.


“Malam ini, kamu milikku.” bisik Junot yang sudah menempatkan bibirnya di dekat daun telinga Green. Sedangkan Green, membalas lingkaran posesif lengan kekar Junot di pinggang nya dengan sebuah rangkulan di leher pria itu.


“Tentu saja. Kita akan menghabiskan malam berdua, malam ini.”


***


Kini sepasang pengantin baru itu sudah ada disebuah istana khusus yang diperuntukkan mempelai pria dan wanita melakukan prosesi malam pengantin.


Ia bergerak gelisah diatas tempat tidur yang dipenuhi taburan kelopak bunga berbeda warna, dan sesekali menatap pintu kayu yang masih bertahan mengatup rapat.


“Kenapa dia lama sekali?” gumamnya tidak sabar jika harus menunggu lebih lama dari ini.


Tapi tak lama kemudian, pintu itu mengayun terbuka dan Green muncul dalam balutan gaun tidur yang memiliki bahan lebih tipis dari baju tidur yang dikenakan oleh Junot.


Tidak langsung menuju ranjang, Green memilih duduk didepan meja rias dan menyisir surainya yang masih agak basah. Sedangkan Junot, berjalan mendekat dan menangkup bahu Green lalu mengecupnya.


“Kenapa lama sekali?” tanya Junot, seduktif.


“Tidak. Aku menghabiskan waktu seperti biasa aku mandi. Itu tidak terlalu lama bagiku, Jun.” protes Green tak terima. Sedangkan Junot sudah membungkuk dan memeluk pinggang Green posesif, mencium harum yang menguar dari tubuh wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya itu.


“Malam ini, ya?”


Green tau apa maksud Junot. Ia lantas membalik badan dan wajah mereka kini berhadapan.

__ADS_1


“Apa tidak bisa besok saja? Aku—”


Belum selesai bicara, bibir Green sudah diraup Junot dengan sensasi yang cukup menantang hingga Green tidak memiliki alasan untuk tak membalasnya.


Selanjutnya, tanpa melepas tautan bibir mereka, Junot menyelipkan satu tangannya dibawah lutut Green kemudian membopong tubuh wanita itu menuju ranjang.


“Besok? Itu terlalu lama untukku, tuan putri yang cantik.”


Dengan gerakan menyentak, kain yang membalut tubuh Green sudah teronggok diatas lantai, disusul kain lainnya milik Junot.


Keduanya berbagi peluh, saling merasai kulit satu sama lain, hingga penyatuan itu terjadi. Manik keduanya saling bersitatap ketika Junot mulai menahkodai permainan mereka.


Peluh, rin-tih, de-sah, dan juga derit ranjang bersinergi memenuhi rungu. Hingga keduanya mencapai titik tujuan mengarungi indahnya surga dunia.


Green mencengkeram kuat lengan Junot yang ada di sisi kanan dan kiri tubuhnya yang mulai bergetar. Tak jauh berbeda dengan Green, Junot semakin gencar mengikuti gelombang ombak yang menerjang dirinya. Mereka terus mencari titik dimana mereka harus berlabuh, dan pada akhirnya ...


Nafas keduanya memburu, tersengal disela tubuh yang mulai luruh. Junot mengecup kening dan bibir Green bergantian sebagai perpisahan setelah berhasil mengarungi samudera luas penuh kenik-matan. Lantas Junot memposisikan dirinya menyamping dan memeluk tubuh Green yang sudah terkulai lemah.


“Aku mencintaimu.” kata Junot berbisik dengan suara parau. Ia juga merasakan Green menggeliat kecil, kemudian merengkuh lengannya dan memberi jawaban tak kalah menyenangkan untuk Junot.


“Aku juga mencintaimu.” []


...—FIN—...


...###...


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA GREEN. TIDAK ADA YANG SEMOURNA DI DUNIA INI, UNTUK ITU AMBIL POSITIF, BUANG NEGATIF DARI CERITA INI.


MAAF JIKA SELAMA MENULIS DISINI, OTHOR ADA SALAH KATA DAN UCAPAN SAAT MEMBALAS KOMENTAR.


SEKALI LAGI TERIMA KASIH SUDAH MENGIKUTI CERITA INI HINGGA AKHIR. CERITA INI BUKAN APA-APA TANPA DUKUNGAN DARI PARA READER SEKALIAN.


SILAHKAN MAMPIR JUGA DI CERITA-CERITA LAIN YANG ADA DI LAPAK OTHOR INI YANG PASTI NGGAK KALAH SERU ☺️


SAMPAI JUMPA DI KARYA OTHOR YANG LAINNYA.

__ADS_1


SEE YOU🥰🥰


__ADS_2