GREEN

GREEN
Chapter 23


__ADS_3

...Green update,...


...Selamat membaca...


...Jangan lupa terus beri dukungan kalian untuk Green ya teman-teman, karena dukungan kalian, adalah semangat untuk ku...


...Terima kasih....


...🏰🏰🏰...



Dalam kasus konspirasi seperti ini, biasanya Junot akan sangat detail dan teliti dalam mencari barang bukti. Dia tidak ingin terlewat, atau kecolongan apapun tentang informasi yang mungkin akan bisa membantunya membongkar kecurangan yang melibatkan pihak dalam.


Tadi, sebelum kembali ke rumah rahasia yang di tempatinya saat ini, Junot mendengar dari Havier jika penyusup yang menjadi sekutu ratu Hellen datang pada malam hari. Ya memang tidak bisa dipungkiri, jika malam hari adalah waktu yang tepat untuk masuk ke suatu wilayah yang dijaga ketat. Selain suasana yang mulai sepi, gerakan pun akan mudah tersamar karena situasi yang gelap gulita.


Hampir sepertiga malam Junot habiskan waktunya untuk memantau tempat itu dari jauh, tetap tidak ada kegiatan apapun disana. Mungkin memang sedang tidak ada janji bertemu untuk malam ini.


Menerawang menatap langit-langit kamar yang remang, Junot mulai memikirkan strategi untuk mencari tau siapa sosok dibalik jubah hitam yang dikatakan oleh pangeran Havier tadi.


Jika dia memilih menangkap basah pertemuan diam-diam mereka, bisa jadi konspirasi itu akan berhenti saat itu juga. Tapi tidak menutup kemungkinan, jika sekutu sudah menyiapkan rencana cadangan untuk menghancurkan ember, diantaranya, perang.


Tapi, ada banyak kemungkinan lain juga yang terbesit didalam otak Junot ketika hendak memilih jalan tersebut. Yakni, menjadikan Green sebagai sasaran untuk dijadikan tawanan yang kemungkinan besar akan dituruti oleh raja Aruchi untuk menebus putri kesayangannya itu.


Junot menghela nafas kasar. Ternyata pekerjaan ini tidak semudah yang ia bayangkan karena melibatkan orang yang ia cintai. Oh, tunggu!


“Aku? Mencintai Green?”


Kalau bukan, apa lagi memangnya?


Junot menganggukkan kepala. Ia mengakui perasaannya untuk wanita itu. Kalau sampai raja Aruchi tau apa yang sudah dia lakukan kepada Green, nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya.


Kali ini Junot menggeleng. Dia sudah terlalu jauh bersama Green, jadi dia tidak akan mundur sedikitpun.


Tiba-tiba pintu diketuk seseorang. Junot mengernyitkan dahi tak mengerti. Siapa yang malam-malam begini datang bertamu? Namun Junot tetap berdiri, dia ingin tau siapa yang tanpa perasaan sudah berani mengetuk pintunya selarut ini.

__ADS_1


Penahan kayu kokoh itu ia arahkan ke atas, daun pintu ia ayun terbuka, dan sosok Green muncul disana.


“Kenapa kesini malam-malam begini. Bahaya.” kata Junot dengan nada penuh kekhawatiran.


“Aku ingin memberitahumu satu hal,” sahut Green cepat sambil mendorong tubuh Junot agar masuk kedalam rumah, kemudian kepala Green melongok keluar untuk memastikan jika tidak ada yang mengikutinya, lalu dengan cepat menutup pintu dan kembali memasang penahan kayu agar aman.


“Satu hal? Hal apa?” tanya Junot menatap Green lurus-lurus dengan ekspresi wajah datar.


Green duduk di atas matras tanpa meminta persetujuan sang empu, kemudian menghela nafas dan menyorot Junot dengan tatapan tidak bersahabat.


“Kamu bertemu pangeran Havier?”


Bohong pun tidak berguna. “Ya.”


Green bangkit berdiri hingga tubuhnya tepat berada didepan Junot yang masih belum putus melihat ke arahnya. “Tanpa memberitahuku?”


“Untuk apa memangnya? Kami bertemu secara tidak sengaja.” jawab Junot apa adanya.


“Ini ada hubungannya dengan hal yang ingin aku beritahukan kepada kamu, panglima Junot.” sentak Green pada akhirnya karena kesal bukan main atas sikap santai Junot menanggapi ucapan darinya.


“Ya.” aku Green tanpa banyak membual. Dia memang tidak pernah membuang-buang tenaga hanya untuk sekedar berbohong. Karena dulu, Skiva tidak pernah mengajarkan padanya cara berbohong.


“Baiklah, cepat beritahu aku. Setelah itu, aku akan mengantar kamu kembali ke kamarmu, putri Honey Green.”


Green kembali memutar tubuh dan duduk diatas matras tidur Junot. “Ayah meminta pangeran Havier untuk mengungkap konspirasi ini,”


“Ya, aku tau. Pangeran Havier juga memberitahuku, tadi saat bertemu.” sahut Junot menyela Green yang belum merampungkan kalimatnya. “Hal lain apa yang ingin kamu sampaikan?”


Green mulai memasang ekspresi datar dan juga tegas. “Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Hellen dan pria tua kepercayaannya itu.”


Tentu saja ucapan Green mampu membuat Junot terpatik rasa penasaran yang amat kuat. Jika yang didengar Green adalah sebuah informasi penting tentang sekutu ratu Hellen, Junot akan dengan mudah melacak siapa orang tersebut. “Katakan.”


“Aku...mendengar dia menyebut nama seseorang, tapi nama itu tidak jelas di telingaku.” kata Green mencoba mengungkapkan apa yang tadi sore dia dengar dari percakapan Hellen di kamar pribadinya ketika tanpa sengaja Green melewati kamar tersebut untuk mendatangi ayahnya. “Namanya sangat sulit di lafalkan, dan ada kemiripan dengan nama-nama dari golongan pangeran Havier.”


Junot mengerutkan kening. Sebenarnya apa yang didengar Green? Wanita ini malah membuatnya bingung karena informasi yang disampaikannya tidak utuh.

__ADS_1


“Kamu pasti tau maksudku.” tanya Green yang mendapat gelengan mantap dari Junot.


“Aku sama sekali tidak mengerti.” cerocosnya terus terang meskipun hal tersebut membuat bibir Green maju lima senti seperti bibir bebek.


“Kamu tau kan? Pengungkapan nama Havier, memiliki aksen tertentu yang sulit diucapkan oleh orang dari rumpun kita,” kali ini Green melihat Junot mengangguk setuju. “Seperti itulah Hellen menyebut nama seseorang yang aku duga sekutunya.” lanjut Green penuh penekanan.


Berita ini cukup mencengangkan, terlebih Green mengatakan jika Hellen menyebut nama sekutunya dengan aksen yang hampir sama dengan Havier. Satu terkaan muncul dalam benak Junot. Apa orang tersebut ada hubungannya dengan Shibu?


Tidak menutup kemungkinan, tapi juga tidak bisa disimpulkan begitu saja. Harus ada bukti yang konkrit agar tuduhan itu memiliki dasar yang kuat.


“Aku akan mencari tau itu.” kata Junot setelah kembali teringat ucapan Havier tentang jubah yang familier dimata pria itu, dan menggabungkannya dengan informasi yang baru saja diberikan Green kepadanya. “Dan aku janji, tidak akan lama lagi aku akan menemukan orang itu.”


Green tersenyum lembut kearah Junot, lalu menepuk sisi matras tidur yang kosong disisinya. “Duduklah. Apa kamu tidak lelah berdiri seperti itu?”


Junot mengambil langkah dan segera menyanggupi kemauan Green dengan duduk di sampingnya. “Sebenarnya, bukan hanya itu alasanku datang kesini.” lanjut Green memposisikan kepalanya bersandar di pundak Junot.


“Memangnya apa lagi, tuan putri? Saran ku, jangan terlalu sering datang kesini karena akan mengundang kecurigaan dari berbagai pihak. Termasuk Hellen yang memang sedang memantau gerak-gerikmu di istana.”


Green sadar itu hal yang memang harus dipikirkan kembali. Benar kata Junot, kedatangannya yang terlalu sering bisa membuat rasa curiga muncul dalam lingkungan istana. Dan hal itu akan membuat Hellen mencari tau alasan Green sering menghilang dari istana, lantas berimbas buruk pada keberadaan Junot dan misi yang sedang diemban pria itu.


“Baiklah. Aku tidak akan datang sesering ini lagi.” kata Green sembari mendongak demi menemukan fitur tegas wajah Junot yang sangat ia sukai. “Tapi berjanjilah padaku, untuk tidak merindukan aku.” kelakar Green yang mendapat usapan lembut di puncak kepalanya.


“Coba beri aku alasan, mengapa aku harus rindu padamu.”


Mendengar itu, Green mulai tersulut emosi. Laki-laki dingin seperti Junot ini, memang seharusnya tidak diajak bercanda. Dia tipikal manusia kaku dan sulit berkompromi untuk menebar humor.


“Sekarang, beri aku alasan mengapa aku harus menjawab itu!” ketus Green menjauhkan kepalanya dari bahu Junot dengan perasaan sebal bukan main. Sedangkan Junot, laki-laki itu malah tersenyum jumawa sambil mengusap pipi Green perlahan hingga menyentuh daun telinga gadis itu.


“Aku bertanya padamu, kenapa kamu kembali bertanya sebagai jawaban?” tukas Junot tak mau kalah. Soal berdebat, jangan anggap remeh pria satu ini. Dia masih memiliki stok jawaban yang bejibun di dalam otaknya.


“Menyebalkan.” rajuknya sambil mencoba berdiri, meskipun sia-sia karena dia kembali terhuyung dan jatuh di pangkuan Junot saat pria itu menarik dan menyentak tangannya cukup kuat.


“Kamu marah, tuan putri?” goda Junot lalu mengecup singkat bibir manis Green yang sekarang masuk kedalam daftar benda-benda yang ia sukai.


“Aku ingin kembali ke kamarku. Kamu menyebalkan.” rengeknya seperti anak kecil yang ingin di manja yang malah membuat Junot tertawa semakin lebar hingga bersuara cukup keras.

__ADS_1


Sedetik kemudian, dia kembali mengecup bibir Green lalu berkata, “Ayo. Aku antar.” []


__ADS_2