GREEN

GREEN
Chapter 05


__ADS_3

...Sebelum mulai baca, luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan GREEN kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



“Jika anda tidak ingin kehilangan harga diri dan juga putri kesayangan anda, nikahkan Green dengan Havier.”


Hellen baru saja kembali dari perjalanan jauh meninjau pembangunan panti jompo yang ia dirikan sebagai ajang melambungkan nama baiknya di Amber. Memang, sejak menikah dengan Aruchi, rakyat memandang dirinya sebelah mata, menempatkan dia sebagai wanita yang tidak pantas berdiri di samping Aruchi menggantikan Ratu Alunna karena statusnya yang berasal dari keluarga dengan strata bawah.


Kini, dia ingin membuktikan jika dia tidak seperti yang digambarkan rakyat jelata itu, dan membuat nama baiknya tercatat dalam sejarah kerajaan Amber.


“Tentu. Aku akan tetap menikahkan Green dengan pangeran Havier.”


Hellen tersenyum disudut bibir. Salah satu keinginan terbesarnya adalah menjadi orang yang begitu dibutuhkan oleh Aruchi. Semua yang ia ucapkan adalah hak patent yang harus dilakukan oleh sang raja, karena dia adalah ratu.


“Yang mulia,” ucapnya mendayu sembari mendudukkan diri diatas pangkuan Aruchi, mengusap garis rahang sang suami dengan lembut dan mencoba membangun tatapan sayang di kedua matanya, meskipun sejujurnya dalam hati, ia muak melakukan itu. “—Green akan menjadi bahagia jika dia menikah dengan Havier. Dan aku ingin putri kita bahagia.”



Aku mencintainya, sangat mencintainya. Dan aku ingin menjadi wanita satu-satunya dalam hidup raja Aruchi.


Kuusap wajahnya penuh kasih, lalu ku kecup keningnya. Aku mengatakan sebuah keinginan. “Tolong bangun sebuah panti jompo di kawasan Dumber, aku ingin rakyat yang sudah renta mendapat kesejahteraan.”


Rakyat disana sebagian besar di dominasi oleh orang-orang tua yang bercocok tanam dan hidup miskin karena kawasan tersebut sangat lembab dan hasil penen mereka sering gagal. Aku ingin mensejahterakan mereka hingga nafas terakhir mereka berhembus.

__ADS_1


Raja mengiyakan, akan tetapi dia meminta waktu hingga aku melahirkan, dan calon anak kami tumbuh besar nanti.


Setidaknya, begitulah isi surat yang ditulis oleh Alunna kepada raja Aruchi, ketika ia masih hidup. Hellen harus bisa seperti itu. Dia harus bisa menaklukkan hati raja Aruchi seperti yang dilakukan Alunna. Ya. Dia harus bisa menjadi wanita satu-satunya di hati Aruchi dan mewujudkan keinginan menjadi sosok yang dipandang oleh orang lain. Sosok yang dieluh-eluhkan namanya disetiap penjuru Amber, dan sosok yang berkuasa di dalam istana milik suaminya. Jangan sebut namanya Hellen Jeudas, jika tidak bisa mewujudkan semua itu.


...***...


Hellen menyusuri koridor istana, berencana menuju suatu tempat yang selalu ia pergunakan untuk menemui seseorang. Namun urung ia lakukan lantaran melihat Green sedang berdiri didekat sebuah jendela sembari menatap lurus ke arah tanah lapang yang ditumbuhi berbagai jenis bunga.


Langkahnya tergerak untuk mendekat begitu saja. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bicara berdua bersama Green. Menurut Hellen, momen seperti ini sangat langkah, mengingat Green yang memang tidak mau dekat dengannya, dan raja Aruchi yang seolah tidak memberi kesempatan untuk ia menegur sapa sosok Green yang sudah hampir dua bulan berada di istana.


“Hai, sedang melakukan apa?”


Green menoleh, tapi tidak mempunyai maksud membuka mulutnya sedikitpun demi menjawab sapaan Hellen yang terdengar basa-basi dan di buat-buat.


Akan tetapi, Green pernah mendapat teguran dari Aruchi ketika tidak menjawab sapaan Hellen. Wanita ini picik dan suka mencari muka. Dia juga terlihat pandai mengadu domba dengan ucapan-ucapan manis yang keluar dari mulut beracunnya. Ah, mungkin itu hanya prasangka Green. Jadi, Green memutuskan untuk menjawab dari pada menjadi sasaran kemarahan Aruchi karena wanita ini meng-adu kan dirinya.


“Seperti yang anda lihat. Apa aku terlihat sedang membaca buku?”


Wanita bergincu merah merona itu tertawa lebar mendengar kelakar Green. Dia meraih lengan Green untuk ia usap lembut. “Jangan sungkan untuk meminta bantuan ibu, jika kamu membutuhkannya?”


Bolehkah Green terpingkal sampai perutnya keram didepan wanita ini? Lucu sekali bukan? Ibu, padahal dia tidak pernah melakukan sebuah perjuangan untuk menghadirkan Green kedunia.


“Nyonya, sepertinya anda tidak akan pernah mendengar saya memohon kepada anda.”


Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sama seperti ayahnya yang sombong dan keras kepala. Ingatlah, suatu saat kamu akan memohon kepadaku.


“Tidak apa-apa jika sekarang kamu memang tidak membutuhkan bantuan ibu. Tapi, suatu saat nanti, datang dan mintalah bantuan jika kamu ingin.” jawab Hellen, menyematkan sebuah senyuman hangat diwajahnya yang terlihat tenang.


Namun Green memilih membuang wajah, sambil berniat pergi ia berkata. “Tidak. Saya tidak membutuhkan bantuan anda, yang mulia ratu.”

__ADS_1


Hellen tercekat. Ia menatap kepergian Green dengan rahang mengeras dan telapak tangan mengepal hingga memutih. Ia emang tidak berencana membuat Green tertarik atau mendekatkan diri kepadanya, namun Green adalah jalan satu-satunya yang ia harap bisa mempermudah dirinya untuk mendapatkan nama baik.


“Dasar gadis sombong. Kita lihat dan buktikan, siapa yang nanti akan membutuhkan pertolongan.”


...***...


Green tersenyum puas melihat wajah pias sang ibu tiri akan penolakan serta ucapan pedasnya yang begitu menampar keras sisi kemanusiaan sok manis yang dibuat Hellen. Bahkan Green seolah bernafas lega akan sikap sombongnya, sebab wanita itu mungkin sedang mengamuk atau melakukan hal-hal diluar dugaan akibat mendengar perkataannya yang terlalu gamblang.


Apa salahnya membangun sebuah benteng untuk pertahanan diri sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi? Green melakukan hal itu hanya untuk melindungi diri dimasa depan, jika saja nanti benar 'hal' itu terjadi. Ya, itu sebuah bentuk pertahanan diri yang dibuat Green agar Hellen tidak bisa menyentuhnya.


Sebuah langkah menarik atensi Green. Sang kakak terliha berjalan di kejauhan.


Memang, selama tinggal disini, Green selalu berusaha membuat hubungan persaudaraan mereka terbangun. Namun Browddy tetap terasa asing Dimata Green. Brow memang bukan tipikal orang yang suka bercengkrama atau berbaik hati. Tapi perlahan-lahan Green merasakan bagaimana laki-laki itu menjaganya sebagai seorang kakak.


“Hellen berjalan dari arah sini. Apa kamu bertemu dengannya?”


Green mengedikkan bahu dengan bibir melengkung. Ia juga bisa membaca ada raut tidak suka di wajah saudara laki-lakinya itu ketika menyebut nama Hellen.


“Yeah, dia sangat menyebalkan. Aku tidak suka dengannya.” kata Green jujur didepan sang kakak, sebab ia tidak mau menjadi sosok yang munafik dan menyembunyikan rasa tidak sukanya kepada Hellen. “Meskipun aku tidak pernah melihat ibu, tapi setidaknya ibu terlihat jauh lebih baik dari wanita itu.”


Brow mengangguk membenarkan terkaan Green.


“Kamu benar. Berhati-hatilah jika berada didekat Hellen. Wanita itu punya banyak trik untuk mengelabui matamu dengan sikap manisnya. Dan jaga dirimu baik-bai, jangan sampai terjebak didalam permainan yang wanita itu buat. Karena, dia sangat licik.” []


^^^to be continued.^^^


...🌼🌼🌼...


...Semoga Update bisa lancar, dan terima kasih untuk yang sudah memberikan dukungannya....

__ADS_1


...See You next chapter....


__ADS_2