GREEN

GREEN
Chapter 35


__ADS_3

GREEN UPDATE


JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR, FAVORIT, SERTA BERIKAN VOTE DAN HADIAH SEBAGAI APRESIASI KEPADA PENULIS JIKA BERKENAN


TERIMA KASIH


SELAMAT MEMBACA...


🏰🏰🏰



Pasukan yang tidak siap hari itu, harus lari terbirit-birit membentuk barisan pertahanan ketika melihat ribuan pasukan atas komando Junot tiba di lokasi mereka.


Hinawa yang mendengar kabar dari salah satu prajuritnya itu mengumpat keras. Ia tau ada sesuatu yang tidak beres dengan informasi yang dikatakan Retio. Hinawa bersumpah akan menghabisi laki-laki itu sekarang juga, namun ia urungkan karena ada hal pelik lain yang harus ia tangani.


Hellen yang juga panik, berlari tunggang langgang mencari perlindungan dan membiarkan Green yang sedang berjuang melawan maut itu sendirian didalam ruangan pengab dan kotor itu.


Sedangkan diluar, kondisi sudah kacau balau mengingat persiapan yang dilakukan Hinawa dan prajurit bentukannya itu belum sepenuhnya sempurna. Dia meraih samurai miliknya dan berjalan menuju Medan dimana Aruchi dan para pasukannya berada sekarang.


Tempat ini sudah di kepung, tidak akan ada yang bisa lolos selain mereka menyerahkan diri mereka secara suka rela dan mendapatkan pengampunan meskipun harus menjalani hukuman juga.


Melihat sang paman berdiri di depan barisan para pemberontak, Havier membulatkan kedua matanya tidak percaya. Bagaimana bisa pamannya melakukan hal seperti ini? Padahal selama ini pamannya itu selalu mengajarkan kebaikan dan rasa setia serta empati terhadap negara mereka lahir kepadanya. Mengajarkannya menjadi pemimpin berjiwa besar dan tangguh. Tapi, melihat Hinawa berdiri disana, semuanya menguar diudara begitu saja. Semua yang diajarkan Hinawa selama ini padanya, hanya omong kosong belaka.


Hinawa pias ketika melihat Retio ada dibarisan pasukan Aruchi. Entah sejak kapan pria itu berdiri disana. Sekarang, Ia merasa dikhianati, ia merasa dibodohi dengan cara yang sungguh tidak pernah ia duga dan tentu tidak adil. Seharusnya dari awal dia tidak percaya dengan ucapan Retio dan melakukan penyisiran.

__ADS_1


Suasana berubah hening ketika dua kubu saling berhadapan, saling menyorot dan bersiap melesatkan anak panah yang mengancam nyawa. Kemudian dengan berani dan lantang, Aruchi berjalan diatas kudanya untuk berdiri di bagian paling depan.


“Dimana kalian menyembunyikan putri Green?” teriak Aruchi membumbung menembus suara gemuruh angin diantara rerimbunan pohon yang tinggi seperti hampir menyentuh angkasa.


Hinawa tidak lagi bisa menutupi dengan sebuah kebohongan karena ada seorang dari kubunya yang berkhianat.


“Ada satu syarat yang harus kau penuhi jika ingin putrimu kembali, raja Aruchi yang paling mulia.” cebik Hinawa dengan sebuah tawa di wajahnya. Ia yakin Aruchi akan menuruti karena ini menyangkut putri kesayangannya, Green.


Aruchi tau semuanya tidak akan gratis. Tapi semua ini begitu sulit, apalagi dia belum melihat keberadaan Green.


“Baiklah. Aku akan memenuhi syarat mu itu.” kata Aruchi mantap, tidak ingin memperparah keadaan dengan sebuah tolakan. “Tapi bairkan aku melihat dulu keadaan putri ku. Setelah itu, aku akan menuruti semua permintaanmu.”


Hinawa bingung harus bagaimana. Green sudah tidak baik-baik saja karena perlakuan Hellen yang terus menyiksa gadis itu. Dan mungkin sekarang gadis itu sedang—


“Kenapa? Keberatan? Apa yang sudah kalian lakukan terhadap putriku?” tanya Aruchi menuntut. Telapak tangannya sudah mengepal kuat diantara tali kekang kuda. Dia bukan raja bodoh, dia tau arti diamnya si pembelot. Telah terjadi sesuatu kepada putrinya sekarang, jadi Aruchi benar-benar akan menghabisi mereka jika memang semuanya terjadi. “Dimana putriku?! Tunjukkan padaku bagaimana keadaannya sekarang.”


Junot melirik ke arah Retio meminta penjelasan. Namun pria itu bahkan tidak tau keberadaan dan keadaan Green. Yang terakhir Junot dengar dari pria itu adalah, Green di sekap diruang bawah tanah yang gelap dan pengab. Retio tidak memiliki akses untuk masuk kedalam ruangan tersebut selain Hellen, Hinawa, dan satu lagi pria paruh baya yang tidak ia ketahui namanya, yang menjadi kaki tangan Hellen. Retio juga memberitahunya, jika ruangan itu hanya tersentuh sinar matahari melalui satu genteng kaca yang berada disalah satu sisi ruangan hingga tempat tersebut terasa mengerikan. Tidak ada ventilasi memadai, hanya ruangan hampa dan kosong yang menakutkan.


Junot kembali memandang kedepan. Dia dan yang lainnya—terutama Aruchi—masih menunggu kedatangan dua prajurit yang diperintahkan Hinawa untuk menjemput Green dari tempatnya disembunyikan.


Hingga dua prajurit itu kembali menyembulkan kepala mereka dengan seseorang diantara apitan lengan mereka.


Junot menahan nafasnya ketika melihat pemandangan yang begitu mengerikan didepannya. Kedua tangannya mengepal kuat, rahangnya mengerat, nafasnya memburu dan jantungnya berpacu cepat membuat darahnya yang mengalir itu terasa panas, mendidih.


Bagaimana tidak. Sosok yang ia harapkan baik-baik saja dan akan menyambut kedatangannya dengan senyuman itu, kini tergeletak seperti benda tak bernyawa diatas tanah lembab yang sama-sama menjadi pijakan mereka. Itu adalah Green, gadis yang selalu membuatnya kesal dan senang dalam waktu bersamaan. Tapi, mengapa mereka tega menyakiti gadis sebaik Green? Airmata Junot leleh saat itu juga. Dia tidak lagi bersumpah, dia akan membuat janjinya menjadi sebuah kenyataan. Dia akan mengakhiri hidup mereka semua. Menghabisi semuanya karena sudah berani membuat Green mengalami penderitaan seperti itu.

__ADS_1


Tidak jauh berbeda dengan Junot, Havier yang melihat pemandangan mengerikan itu turut mengeratkan rahang. Rasa hormatnya kepada sang paman benar-benar telah sirna. Laki-laki itu bukanlah seorang manusia karena sudah berani menyakiti seorang wanita. Dia tidak akan memaafkan Hinawa. Kalaupun hari ini dia diharapkan pada dua pilihan yang sulit antara menyelamatkan atau menghancurkan, Hinawa pantas mendapatkan opsi kedua.


Aruchi turun dari kudanya. Ia mendadak lemah melihat keadaan putrinya yang menyedihkan. Sambil berjalan, dia mengusap lelehan airmata yang jatuh di pipinya.


“Siapa yang melakukan itu pada putriku?” tanya Aruchi dengan suara lemah dan bergetar.


Hinawa memerintahkan semua prajuritnya untuk siaga dengan sebuah isyarat tangan saat Aruchi semakin dekat dengan mereka. Tapi Aruchi tidak bermaksud menyerang, ralat, belum bermaksud menyerang, karena setelah ini siapapun yang sudah menyakiti Green sampai seperti ini, akan mendapat imblannya.


Aruchi bersimpuh di tanah, ia meraih tubuh Green dan memapahnya. Tidak diam sampai disitu saja, Aruchi juga menepuk pelan pipi memar bercampur darah milik Green, lantas menyebut nama putrinya itu berkali-kali.


“Bangun nak, ini ayah.” katanya sambil menepuk pipi Green sekali lagi, kemudian membawa gadis lemah tidak berdaya itu dalam dekapannya. Aruchi menangis keras melihat bagaimana nasib putrinya yang begitu malang. Tidak puaskah takdir mempermainkan gadis sebaik Green?


“Tolong bangun.” pinta Aruchi tulus. Bukan sebagai seorang raja, melainkan sebagai seorang ayah.


Dengan gerakan begitu pelan, Green mulai membuka mata. Senyuman terbentang di bibirnya yang juga terluka dan penuh dengan bekas darah yang mengering. Ya Tuhan, Aruchi tidak sanggup melihatnya. Ia membawa Green kedalam pelukan yang lebih erat. Disinilah Aruchi bisa merasakan bagaimana menjadi seorang ayah yang sesungguhnya. Ia takut sekali jika Green tidak lagi membuka mata dan memanggil namanya. Atau bahkan memanggilnya...


“Ayah,”


Ya. Panggilan itulah yang sangat ia harapkan. Ia ingin sekali dipanggil dengan sebutan itu.


Namun, ditengah melepas kerinduan dan kekhawatirannya, Hinawa memutus kerinduan tersebut dengan mengambil alih Green yang sudah tidak berdaya itu dari tangan Aruchi. Sontak, wajah Aruchi mengeras dan juga merah akan amarah.


Ia tau, ia harus sportif jika tidak ingin Green lebih menderita dari pada itu. Untuk itu dia mengambil langkah mundur setelah menatap penuh sayang pada manik kuyu Green. Dia memberi isyarat jika dia akan mengambil dan menyelamatkan dia dari tangan orang tidak berperasaan itu.


Green kembali di jaga oleh beberapa prajurit di sisi lain. Sedangka Aruchi, menatap Junot berapi-api ketika memunggungi Hinawa dan pasukannya.

__ADS_1


Perang, mungkin itu adalah pilihan jawabnya. Green harus menerima keadilan. Ia tidak pantas diperlakukan seperti itu oleh orang-orang yang gila akan kekuasaan seperti mereka.


Perang, akan segera dimulai. []


__ADS_2