
Maaf updatenya lama 🙏
Mau cerita sedikit.
Sebenarnya ada naskah separuh jalan yang udah Vi's tulis setelah update bab sebelumnya—kira-kira lebih dari 700an kata seingat Vi's. Tapi pas Vi's cek lagi buat revisi dan nambah isi bab, ada beberapa paragraf yang tiba-tiba hilang. Entah karena kepencet nggak sengaja, atau keteledoran yang Vi's sendiri nggak tau sampai ada isi cerita yang ilang. Vi's sudah coba mengingat-ingat isi paragraf yang ilang, tetep aja nggak inget. Alhasil jadi lemes dan nggak semangat nulis.
Pada akhirnya Vi's mutar otak lagi buat cari topik untuk bab ini. jadi,
Yuk, mari lanjut...
🏰🏰🏰
Junot mengusap kening Green yang terasa panas. Ia menatap sendu wanita yang terbaring lemah diatas ranjang tidurnya. Terlihat bak putri tidur dari negeri dongeng yang pernah Junot dengar, tapi dengan berbeda versi. Wajah Green masih lebam dengan beberapa luka basah yang terlihat menyakitkan. Yang lebih parah dan menyakitkan dari itu adalah, ketika Junot mendengar kabar dari tabib jika Green mengalami pendarahan. Dan yang lebih mengejutkan, pendarahan tersebut terjadi lantaran Green keguguran.
Ya, tanpa diketahui siapapun—bahkan Junot— saat itu Green sedang mengandung, dan Junot tau dengan pasti anak siapa yang ada dalam kandungan Green saat itu.
Airmata kembali menggenang di pelupuk matanya yang masih tak mau lelah menatap Green yang masih pulas dalam tidurnya selama beberapa hari pasca peperangan itu terjadi.
Pintu berderit dan Aruchi muncul dari balik bilah kayu itu. Tatapan Junot luruh ke lantai. Ia merasa begitu bersalah karena sudah membuat Green mengandung anaknya sebelum meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan, dan juga tidak bisa menjaga Green yang saat itu sedang mengandung anaknya hingga wanita itu harus mengalami penyiksaan, dan membuat Green harus mengalami keguguran.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Aruchi. Ia terus memupuk kesabaran agar tidak menyakiti Junot yang sudah berani menyentuh anak perempuannya tanpa sepengetahuannya, bahkan mereka berdua melakukan itu semua secara diam-diam dibelakangnya.
“Putri Green masih belum membuka matanya. Tubuhnya juga masih demam, mungkin efek dari keguguran.”
Aruchi menahan nafas ketika Junot mengatakan hal itu. Hati ayah mana yang tidak sakit mendengar putrinya mengalami hal mengerikan seperti itu. Jika waktu itu Green tidak segera mendapat pertolongan, Green bisa saja kehilangan dirinya sendiri karena terlalu banyak darah yang keluar dari tubuhnya.
“Temani dia sampai siuman sebagai bentuk pertanggung jawabanmu pada putriku.” tegas Aruchi dan Junot mengangguk mengerti. “Aku harus pergi melihat situasi di perbatasan dan baru bisa kembali beberapa hari kedepan.”
“Baik, yang mulia.” jawab Junot tegas penuh hormat.
Jika dulu dia sangat membenci raja Aruchi karena dia terkenal dengan kesombongan dan ke aroganannya, sekarang Junot melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Aruchi tidak sepenuhnya seperti yang ia bayangkan dulu.
Aruchi menyayangi Green, Aruchi melindungi warga sipil, dan Aruchi selalu mengutamakan perekonomian untuk seluruh penduduk Amber agar tidak ada dari mereka yang sampai terlunta. Cara yang dilakukan Aruchi memang sedikit berbeda, namun kembali lagi, raja memiliki caranya sendiri-sendiri untuk memakmurkan kerajaan dan penduduknya.
Ketika Aruchi sudah menghilang kembali dari balik pintu yang terkatup, Junot memutar arah pandang memperhatikan Green.
“Maaf, sudah membuatmu jadi seperti ini.”
Junot takut jika Green akan mengalami tekanan batin jika sampai mendengar berita tentang keguguran yang dialaminya. Junot juga belum menemukan kalimat yang tepat untuk memberitahu Green jika memang hal itu diperlukan kedepannya.
Hingga beberapa saat kemudian tanpa ia duga, telapak tangan yang ia genggam itu bergerak, namun kedua matanya masih terpejam.
Junot mengecup dengan manik berair yang tidak sanggup ia bendung dan tumpah menjadi sebuah tangis. Kemudian ia bangkit dan berlari menuju pintu hendak mencari tabib istana yang mengobati Green. Tapi, ia melihat seorang dayang lalu mendekatinya.
“Tolong panggilkan tabib istana. Katakan jika putri Green sempat menggerakkan tangannya.”
__ADS_1
Dayang itu mengangguk patuh kemudian berlari cepat mencari tabib istana seperti titah Junot.
Dan tak butuh waktu lama, tabib itu telah tiba di kamar Green. Dia segera memeriksa keadaan vi-tal pada tubuh Green, dan meracik ramuan untuk diminumkan agar kondisi Green segera membaik. Junot berperan besar membantu sang tabib untuk merawat demi kesembuhan wanita yang ia sayangi itu.
Beberapa menit setelah pengobatan dilakukan, Green membuka mata. Orang pertama yang ditangkap oleh Indra penglihatannya adalah Junot. Tangannya yang masih bergetar itu terulur untuk menyentuh surai Junot yang sedang menyandarkan kepalanya di tepian tempat tidurnya.
Green tersenyum menyadari keberadaan Junot menemaninya ketika dia dalam keadaan seperti ini. Green bangga mencintai pria itu, karena selama dirinya berjuang Junot selalu ada untuknya.
Sekujur tubuh Green terasa ngilu dan nyeri, terutama pada bagian perut yang setau Green paling sering mendapat tendangan dari Hellen ketika menjadi sandera.
“Jun,” panggil Green serak. Suaranya bahkan belum pulih kembali pasca kejadian yang menimpanya beberapa hari yang lalu.
Mendengar namanya dipanggil dan usapan di kepalanya, Junot terbangun. Ia terkejut dan langsung meraih telapak tangan Green untuk ia genggam ketika maniknya menangkap sosok Green yang sudah tersadar dari tidur panjangnya selama beberapa hari.
“Astaga. Kapan kamu bangun? Aku akan memanggil tabib untuk memeriksamu.”
Junot yang panik sekaligus khawatir sudah hampir berdiri dari tempatnya duduk. Akan tetapi Green menahan dengan sebuah genggaman erat di pergelangan tangannya.
“Nanti saja. Aku baik-baik saja. Duduklah kembali, aku ingin bicara banyak denganmu.” ucapnya lembut kemudian tersenyum.
Junot pun menuruti keinginan Green dan duduk kembali di kursi kayu yang ada disisi tempat tidur Green. Ia tidak ingin melepaskan tautan maniknya pada manik indah Green yang juga sedang menyorot wajahnya.
“Kamu ... baik-baik saja, 'kan?” tanya Green memastikan jika lelaki pujaan hatinya itu baik-baik saja dan tidak terluka oleh sabetan pedang ketika pedang.
Junot mengangguk. “Ya. Aku baik-baik saja. Hanya beberapa luka kecil yang beberapa hari lagi akan sembuh.” kata Junot meyakinkan agar Green tidak lagi mengkhawatirkan keadaannya. Kata tabib istana, green tidak boleh tertekan dan tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi beban terlebih dahulu. Jika hal itu terjadi, Green pasti akan mengalami stress berat setelah kehilangan sesuatu dari dirinya. “Maaf, aku terlambat—”
Pertanyaan tersebut membuat Junot merangkum jawaban dengan waktu sedikit lama. “Pangeran Havier, tidak baik-baik saja.”
Green mengalihkan pandangan ke arah langit-langit kamar. Ia merasa bersalah akan hal itu, akan tetapi ia simpan rapat dalam benaknya. Karena dirinya lah pangeran Havier terlibat dengan konspirasi yang terjadi disini. “Lalu, apa dia di obati oleh tabib istana Amber?”
“Tidak, raja Nagawa membawanya kembali ke Shibu untuk di obati disana.”
“Raja Nagawa?”
Junot mengangguk. “Ya, dia datang disaat yang tepat.”
“Maksudmu?” Green tidak mengerti maksud yang baru saja dijabarkan oleh Junot.
“Hinawa hampir menghabisi pangeran Havier jika raja Nagawa tidak datang saat itu.”
Sampai sejauh itu Hinawa mempermainkan hidup. Dia bahkan rela menyakiti keponakannya sendiri demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Tak dapat dipungkiri, harta dan tahta memang bisa membutakan segalanya.
“Green,” panggil Junot menginterupsi dan mencoba mengubah topik pembicaraan.
“Emm?”
“Aku mau membicarakan sesuatu denganmu.”
__ADS_1
“Katakan saja.”
“Berjanjilah terlebih dahulu padaku.”
Green tersenyum, meraih wajah Junot untuk ia belai lembut penuh kasih sayang.
“Katakan, aku harus berjanji apa padamu, hmm?”
Junot menarik nafas diam-diam. Dadanya bergemuruh, jantungnya berdebar cepat, dan tangannya berubah dingin. Ia akan menyampaikan sebuah hal besar yang harus diketahui Green setelah apa yang dilalui.
Mungkin hal ini akan menjadi sebuah berita menyedihkan dan membuat Green patah hati.
Junot tertunduk. Berita ini ia dengar tepat setelah peperangan berakhir.
“Geogini sedang berduka.”
Green memicing, menahan nyeri ketika memaksa tubuhnya bangkit.
“Apa maksudmu?”
Junot menggenggam telapak tangan Green dengan wajah sendu.
“Ivory, meninggalkan kita. Dia kembali ke pangkuan sang pencipta.”
Green menggeleng tidak percaya, tapi mau bagaimana lagi, terakhir dia berkunjung dan melihat ivory, kesehatan sahabat baiknya itu memang sedang buruk.
“Dan, satu kabar buruk lainnya, berhubungan dengan kita berdua.”
Green kembali mencoba mengfokuskan pandangan matanya yang berkabut itu ke arah Junot.
“Apa maksudmu Jun? Aku semakin tidak mengerti.”
Junot mencoba mengumpulkan ketegaran hatinya. Namun semua luruh bersama air matanya yang ikut jatuh.
“Kita—” suara Junot tercekat oleh salivanya yang tiba-tiba meluncur melewati tenggorokannya. Ia tidak sanggup jika harus melihat Green yang semakin hancur. Tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan semua itu terlalu lama. “Kita kehilangan calon anak kita.”
Green mematung ditempatnya, mencoba mencerna kalimat yang baru saja ia dengar dari Junot.
Tanpa banyak bicara dan membuang waktu, Junot meraih tubuh Green kedalam pelukannya. “Maaf, aku tidak bisa menjaga kalian berdua dengan baik.”
Saat Junot selesai bicaralah bahu Green mulai bergetar. Suara isak tangis terdengar pilu. Ia begitu terpukul, namun takdir sudah tertulis.
Green membalas pelukan Junot dan menumpahkan semua tangisnya. Kemudian ia bergerak untuk mengusap perutnya yang kini telah kosong setelah dihuni oleh makhluk kecil yang tidak ia sadari kehadirannya.
Gugu tangis Green terdengar semakin kencang, dan pelukan Junot semakin erat melilit di tubuh Green yang tidak bisa ia rasakan lagi rasa sakitnya sebuah penyesalan.
Dengan suara parau Junot kembali berkata, “Maaf.”[]
__ADS_1