GREEN

GREEN
Chapter 32


__ADS_3



Tidak ada hati, mungkin itu yang pantas dikatakan didepan wajah Hellen dan beberapa orang yang berdiri didepan Green dengan angkuhnya saat ini. Bahkan Hellen dengan sengaja menampar dan memukuli tubuh Green tanpa belas kasihan.


Sedangkan Green, sudah dua hari dia menerima penyiksaan tanpa diberi makan. Keterlaluan, tapi memang itu tujuan mereka, yakni menyingkirkan Green.


“Lihat gadis sombong ini,” cibir Hellen pada Green. Senyuman sarkasnya terbentang di bibirnya yang masih konsisten berwarna merah. “Karena kesombongannya, dia sekarang terbaring mengenaskan seperti itu di lantai kotor, bukan ranjang istana yang nyaman dan empuk.”


Hellen melu-dah dan mendarat tepat di kepala Green. “Kamu ternyata sama sombongnya dengan Aruchi. Aku muak dengan kalian semua. Dan hal itu,” Hellen menjeda, ia menangkup kedua pipi Green dengan satu telapak tangannya. “... menjadi alasan mengapa kalian lebih pantas mati.”


Bukan Hellen yang menjadi pusat perhatian Green saat ini, melainkan sosok laki-laki yang berdiri tidak jauh dari wanita itu. Sosok yang memiliki sedikit kemiripan pada struktur monolid mata seseorang. Sosok yang terlihat begitu tidak asing bagi Green. Sosok yang mirip dengan, Havier.


Senyuman simpul terbit di bibir Green yang robek dengan darah yang sudah mengering. Ia tidak tau bagaimana rasa sakit yang menjalar di tubuhnya, tapi rasa sakit di hatinya, membuatnya mual.


“Kamu, dari Shibu?” tanya Green tiba-tiba, membuat Hellen kehilangan senyum dan menatap sorot mata Green yang sedang memperhatikan seseorang di balik punggungnya. Kemudian, Hellen mengikuti arah pandang yang sedang Green tuju.


Pria itu berjalan mendekat, membiarkan wajahnya tersiram sinar matahari siang yang begitu terang hingga kini Green dapat melihat dengan jelas kemiripan antara pria itu dengan raja kerajaan Shibu, Nagawa Shoji. Detik itu juga, Green meyakini jika kerajaan Shibu memiliki tujuan tertentu ketika hendak menjodohkan dia dengan Havier.


Semua kini seperti tabir yang sudah terbuka jelas didepan mata. Apa ini alasannya mengapa Havier menolak mengundur pernikahan mereka? Apa karena memang tujuan mereka hadir ditengah-tengah Amber adalah untuk menghancurkan kerajaan berjaya seperti Amber ini?


Dugaan semacam itu terus bermunculan di kepala Green yang berimbas pada nama Havier yang sebenarnya tidak tau menahu tentang hal ini. Hiingga pada detik lain, Green menjadi lengah dengan pukulan telak yang kembali di layangkan Hellen pada tubuhnya.


Green tersungkur dengan luka baru di pelipisnya. Darah segar kembali merembes menyentuh kelopak mata dan jatuh menetes mengotori pupil sehingga mengganggu penglihatannya. Kedua tangan Green diikat, membuatnya tidak mampu hanya untuk sekedar menghapus cairan anyir itu ketika membasahi pupil matanya yang sudah terasa berat ingin memejam.


Perut lapar yang sudah hampir dua hari tidak diisi, tubuh yang penuh luka memar dan luka terbuka karena penyiksaan, semua itu Green tahan kuat-kuat, agar jika dia mati dengan keadaan seperti ini, setidaknya dia tidak mati sebagai pecundang.


“Berani sekali kamu berkata begitu? Huh?!” sarkas Hellen sambil menjambak rambut Green ke belakang hingga wajah cantiknya yang kini membuat mata ngilu itu mendongak. “Dasar manusia biadab!”

__ADS_1


Green masih bisa tertawa diatas deritanya sendiri. “Biadab? Bukankah kamu sedang menyebut dirimu sendiri sekarang?” kata Green membuat Hellen kalah telak dan kembali mengeratkan rahang.


Tangannya kembali mengambang diudara. Dia hendak kembali melayangkan pukulan untuk Green, namun Hinawa menahan pergerakan itu.


“Cukup Hellen. Kamu akan membunuhnya jika terus memukul seperti itu.”


“Memang itu tujuanku.” teriak Hellen kesal. Nafasnya sudah memburu tidak karena akibat olokan Green padanya. “Dia lebih pantas ma—”


“Dia nggak boleh mati sebelum kita berhasil membuat Aruchi bertekuk lutut di bawah kaki kita.”


Hellen sadar, dan bangkit berdiri. Sedangkan Green, tersenyum miring di sudut bibir sembari menolehkan wajah kesamping tanpa memutus pandangan dari Hinawa. Green meludah. “Itu hanya mimpi kalian. Aruchi yang akan membantai kalian berdua karena sudah melakukan ini padaku.”


Sekali lagi pukulan mendarat di tubuh Green, namun gadis itu malah tertawa. “Bahkan, panglima Junot dan Havier akan menghukum kalian dengan sesuatu lebih dari yang kalian pikirkan.”


***


Hinawa menarik kuat pergelangan tangan Hellen yang menolak meninggalkan Green. Wanita itu seperti kehilangan akal dan membabi buta menyerang Green yang sudah tidak berdaya. Gadis yang ia benci itu tidak menangis, dan itu salah satu yang membuat Hellen sakit hati. Seharusnya Green menangis, seharusnya green merintih kesakitan, dan seharusnya Green memohon ampun dan menyembah kakinya agar di ampuni. Tapi semua itu tidak terjadi, dan malah membuatnya sakit hati.


Hinawa yang sudah kesal, menghempas pergelangan tangan Hellen cukup keras hingga wanita itu terpelanting.


“Kalau kamu terus bersikap seperti itu, aku sendiri yang akan menghabisi mu, Hellen.”


Hellen menajamkan tatapnya pada Hinawa. Batinnya bertanya-tanya mengapa pria itu berubah seperti ini.


“Jadi, kamu mau membunuhku juga?”


“Kalau kamu masih bersikap kekanakan begitu...ya, aku akan menghabisi mu.”


Hellen memburu nafasnya sendiri. Dia terbebat emosi yang membuat dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.

__ADS_1


“Kita masih membutuhkan Green untuk menarik perhatian Aruchi.” tutur Hinawa memberi pengertian. “Jangan gegabah dalam melakukan tindakan. Ingat, kita sudah berkorban banyak untuk melewati semua sampai sejauh ini.”


Hellen paham dengan semua itu. Tapi, melihat Green membuat darahnya mendidih. Entah, melihat Green seperti melihat ratu Aluna, ratu pertama yang sangat di cintai raja Aruchi. Membuat rasa iri dengki dalam hatinya mencuat ke permukaan.


“Kalau sampai kita tidak berhasil, kita sendiri yang akan habis dan menjadi bangkai, Hellen.”


Hellen terdiam seribu bahasa. Dia tidak lagi sanggup menanggapi semua ucapan kebenaran yang dikatakan Hinawa. Jika mereka gagal membuat raja Aruchi tunduk, mereka yang akan binasa.


“Bersabarlah. Jika harus mati, biarkan Green mati dengan caranya sendiri.”


Tidak ada hal lain yang patut di pertimbangkan selain ucapan Hinawa. Semua itu benar dan Hellen harus mengakui dirinya memang salah sudah membuat Green mengalami kondisi mengenaskan seperti saat ini. Jika Aruchi melihatnya, mereka tidak akan pernah selamat.


“Lalu, bagaimana pasukan kita. Apa jumlahnya cukup untuk melawan kemungkinan terburuk?” tanya Hellen mengalihkan topik karena tidak ingin semakin terpojok oleh kesalahannya sendiri.


“Aku membawa seribu orang dari Shibu. Pasti Nagawa sekarang sedang bingung melihat pasukannya berkurang.” jawab Hinawa sambil berjalan kearah balkon dan menatap kegiatan prajurit diluar sana yang sedang sibuk mempersiapkan banyak senjata.


“Ternyata Amber lebih memilih dan berpihak pada Aruchi daripada aku. Hanya tujuh ratus orang yang berhasil aku manipulasi dan bersedia ikut bersamaku.”


Hinawa mende-sah berat. Jika dibandingkan dengan jumlah pasukan yang mungkin akan datang menyerang mereka jika tertangkap, jumlah mereka terlalu sedikit.


“Kalau begitu, kita harus memperketat pengawasan, kemudian mempercepat pengiriman surat kepada Aruchi untuk menukar Green dengan Amber.”


Hellen mengangguk setuju. Hinawa itu cerdik dan penuh perhitungan. Sebab itulah dia jatuh hati dan bersedia mengingkari Aruchi dengan melakukan konspirasi.


Semua ini ide Hinawa, dan Hellen di janjikan akan menjadi ratu utama jika mereka berhasil nanti. Lalu pernikahan Havier, itu juga ide Hinawa dibantu oleh Hellen. Hinawa bertugas meyakinkan Nagawa, sedangkan Hellen, bertugas meyakinkan Aruchi. Mereka berhasil di tahap langkah itu, namun sepertinya semua harus menemui titik buntu ketika Green mengetahui tentang konspirasi tersebut. Mereka harus memutar otak agar rencana mereka tidak berjalan sia-sia. Tapi tetap saja tidak menemukan jalan keluar, dan terjadilah hal ini. Mereka membuat kacau dua kerajaan—terutama Amber—agar usaha mereka berkorban sejauh ini. Mereka bertaruh besar untuk hal yang mungkin akan membuahkan hasil, atau gagal. Dan kemungkinan juga, ini merupakan titik terakhir perjuangan dan hidup mereka.


Hingga Hinawa menyadari sesuatu. Salah satu orang yang ia suruh untuk menjadi mata-mata di jantung hutan, belum muncul untuk memberikan laporan selama sehari semalam.


“Dimana Retio? Kenapa belum melapor?”

__ADS_1


Tapi sepertinya Tuhan sedang tidak berpihak kepada mereka. Karena setelah itu... []


__ADS_2