
...Kita adu kekuatan dulu yuk 🤼🏇...
...Jangan lupa dukung GREEN agar aku lebih semangat nulisnya,...
...Thanks....
...🏰🏰🏰...
“Putri Green sekarat karena kekejamanmu. Jadi, kamu tidak pantas mendapatkan pengampunan.”
Junot merasa terpanggil, dia mengangkat pedangnya ke udara sebagai aba-aba untuk memulai semuanya. Memulai pertumpahan darah yang seharusnya bisa dihindari jika tidak ada keserakahan yang di pertahankan oleh Hinawa.
Hingga tanpa diduga, pasukan dari Amber bergerak mulai melakukan penyerangan. Mereka menyerang pasukan bentukan Hinawa dengan strategi yang sudah di buat oleh Junot dan juga Aruchi. Perpaduan dua orang yang mempunyai prinsip sama dalam berperang, Kemenangan adalah milik kita. Dan tidak ada ampun bagi seorang pembelot.
Semua berubah menjadi kacau. Hutan yang biasanya tenang tanpa suara jeritan apapun selain derik serangga yang bising, hari ini berubah menjadi lautan manusia yang saling mengayunkan dan melesatkan anak panah. Saling serang hingga terluka dan kehilangan nyawa. Tanah yang lembab, semakin basah oleh cairan merah pekat anyir yang mengalir dari nadi. Suara erangan kesakitan, suara derap langkah berlarian, suara lesatan anak panah, juga suara pedang beradu kini bersinergi membuat suasana hutan semakin mencekam ketika matahari mulai bergerak ke peraduan barat.
Hinawa yang tidak fokus karena memikirkan bagaimana kalau Green sudah kembali ke tangan Amber, semakin tidak terkendali. Kehilangan Green sama dengan kehilangan aset berharga dan juga semua usahanya akan sia-sia. Dia hanya berharap Hellen melakukan tugasnya dan tidak terlambat membawa Green padanya sebagai tawanan, agar Aruchi dan pasukannya yang dipimpin Junot itu menyerah.
Hinawa beringas. Dia memutar arah dan menebas apapun yang ada di hadapannya untuk berlari mencari Green yang mungkin kini berada di tangan Havier—keponakannya—jika Hellen hanya ketakutan dan bersembunyi.
“SIAL!!” umpatnya keras saat tak ada yang mudah melewati barisan pasukan Amber yang terus menghadang, bahkan menyerangnya.
Hingga tiba-tiba seseorang berada disampingnya dan mencoba menyerang dengan pedang, Hinawa kembali di tarik dalam kesadaran akan keadaan yang tidak memungkinkan lagi untuknya mencari keberadaan Green saat ini. Junot sedang mencoba menghabisinya.
Bukan ingin menjadi seorang pecundang, tapi Hinawa hanya ingin pertumpahan darah ini tidak terjadi berlarut yang akan menghabiskan pasukannya. Ia ingin Hellen segera hadir dan membawa Green ke hadapannya, saat ini juga.
***
Hellen mengintip dari balik cela kecil tembok yang sengaja diberi lubang sekecil mungkin agar tidak membuat curiga. Tembok tersebut berada satu ruangan dengan tempat dimana Green disekap. Dari sini dia bisa melihat bagaimana Havier dan rekannya mengancam dan memaksa dua prajurit yang sedang berada di ruangan tersebut, kemudian mereka menjadi tawanan yang bersedia memberi dan melakukan kemauan Havier.
Lalu, Hellen juga melihat salah satu prajurit itu membawa makanan dan minuman untuk Green, dan dengan telaten Havier memberikannya kepada Green.
“Kita harus menyusun sebuah rencana.”
“Ya. Karena serangan Aruchi tidak tau kapan akan datang.
__ADS_1
Ia ingat percakapannya dengan Hinawa semalam.
“Rencana yang bagaimana?”
“Jika pasukan Aruchi datang, bersembunyilah terlebih dahulu ke ruang bawah tanah tepat disamping ruangan Green berada.”
Hellen menatap bingung, mengapa dia harus bersembunyi?
“Kenapa?”
“Karena akan ada tugas untukmu.”
Hellen memutar tubuh dan menatap lurus ke arah Hinawa yang sekarang sedang memasang wajah serius.
“Apa itu?”
“Mereka pasti akan mencari dirimu dan juga Green. Untuk itu sembunyikan dulu dirimu.”
Hellen tau maksud Hinawa sekarang. Dia harus bertindak setelah ini, hanya perlu menunggu waktu sampai Havier pergi meninggalkan Green dan dia akan menggunakan kesempatan itu untuk mengambil alih dengan menjadikan Green sebagai tawanan lagi.
“Saat suasana sudah semakin tidak terkendali, bawa Green ketengah-tengah medan perang sebagai tawanan.
“Bagaimana jika hal itu tidak berhasil?”
“Bunuh Green saat itu juga. Maka kita semua tidak akan merasa menang, dan usaha kita tidak akan sia-sia. Semua terbalas meskipun kita kehilangan nyawa. Aruchi akan merasa kehilangan dan dia akan putus asa kehilangan putrinya.”
Tempat itu sekarang tanpa Havier. Si pangeran sedang mengejar salah satu prajurit yang lari keluar seperti hendak memberi tau Hinawa akan suasana genting didalam. Hellen bergerak senyap bersama pria yang sejak dulu mengabdikan diri padanya, Oslo. Pria yang sangat berguna karena menjadi tameng penyelamat ketika Hellen terancam.
Ia mengambil langkah perlahan dan pria yang membawa pedang disampingnya itu bersiap dengan posisi melindungi. Hellen berdiri di sisi prajurit Amber yang sedang menjaga Green yang masih duduk lemah memakan roti. Tapi nahas, Green terlambat menyadari kehadiran Hellen hingga wanita itu berhasil menanggalkan nyawa prajurit yang menjaganya.
Hellen tertawa puas melihat wajah pias Green karena kemunculannya yang tiba-tiba.
“Kenapa? Takut?” katanya, berjalan mendekat lalu mensejajarkan diri didepan Green, menarik surai Green hingga wajahnya mendongak demi melihat Hellen.
“Takut?” Green tersenyum, kemudian meludah ke wajah Hellen.
“Sialan!” Umpat Hellen seraya melayangkan satu tamparan keras di wajah Green hingga jatuh tersungkur ke lantai. Amarah yang tak surut oleh sebuah tamparan, Hellen kembali mendatangi Green dan menendang perutnya hingga Green merintih menahan sakit hingga tubuhnya melengkung dengan kedua lengan yang memegang perutnya. “Berani sekali kamu melakukan itu padaku?”
Ketika hendak kembali mengayunkan kaki ke tubuh Green, Oslo menahan Hellen dengan menangkap tubuh wanita itu dan menariknya menjauh. Bisa menjadi masalah besar jika sampai Green juga kehilangan nafas detik ini.
__ADS_1
“Ratu, tolong kendalikan emosi anda. Ada hal lain yang lebih penting yang harus anda lakukan sekarang.” kata Oslo yang masih berusaha menenangkan Hellen yang mencoba melepaskan cekalan laki-laki itu.
Emosi Hellen yang sudah berada di ubun-ubun itu masih tak mau mengindahkan apa yang dikatakan Orang kepercayaannya itu. Dia masih ingin menyerang Green dengan pukulan-pukulan menyakitkan yang menurutnya akan membuat gadis itu jera dengan kesombongannya.
“Ratu, tolong sadar. Kita perlu menghentikan pertempuran di depan sana. Panglima Hinawa membutuhkan bantuan anda untuk menghentikan Aruchi.”
Mendengar itu, Hellen berhenti. Ia memikirkan ucapan Oslo dan menyorot lurus pada sosok Green yang masih belum melepas pelukannya pada diri sendiri karena kesakitan. Baiklah, dia akan mengalah sekarang. Tapi Hellen berjanji pada dirinya sendiri tidak akan melepas Green begitu saja karena sudah berani menjatuhkan harga dirinya dengan meludahi wajah cantiknya itu.
“Baiklah, lepaskan aku. Aku tau, aku tidak akan menyakiti Green lagi. Aku akan melakukannya sekarang.”
Oslo melepas tubuh Hellen dan membiarkan wanita itu kembali berjalan mendekat kearah Green yang mengerang kesakitan.
Hellen mengubah posisi Green menjadi telentang dengan mendorongkan satu kakinya pada sisi tubuh Green. “Kali ini kamu aku biarkan lolos. Aku masih membutuhkanmu.” katanya sembari menyeringai tajam pada Green. “Tapi, setelah Amber menjadi milikku nanti, jangan harap kamu bisa bernafas lega dan makan serta tidur enak. Karena aku akan membuat hidupmu bagai di neraka.”
Hellen meraih tubuh ringkih Green dan memaksanya berdiri diatas kedua kaki yang sudah tak memiliki daya hanya untuk sekedar menyanggah bobot tubuhnya sendiri. Green terseok, bahkan hampir jatuh tersungkur ketika Hellen mulai menariknya berjalan keluar dari ruangan pengab itu dengan sebuah belati yang berada didepan lehernya.
Sedangkan Oslo, dia berjalan dibelakang Hellen sebagai tameng. Dia memiliki tanggung jawab berat untuk menjaga Hellen tetap selamat sampai rencana mereka berhasil sepenuhnya.
Pintu terbuka dan sosok Havier berdiri di depan sana. Hellen sempat terkejut dengan mata membola karena kehadiran Havier. Mungkin, jika dia terus menuntaskan emosinya pada Green dan tidak mendengarkan Oslo tadi, mereka yang akan habis di tangan Havier sekarang.
Tak kalah terkejut dengan Hellen, Havier membuka matanya lebar-lebar karena ia sedikit lengah. Ia melupakan sosok Hellen dan juga pengikut setianya ini yang sempat menghilang dari pandangan. Tak ingin hanya diam menyaksikan Green tersiksa di dekapan Hellen, Havier membuka suara.
“Apa yang kamu lakukan sekarang, ratu Hellen?”
Hellen bergeming, dia terus memacu langkah melewati Havier yang tidak bisa berbuat apapun karena berpotensi membuat nyawa Green terancam. Akan tetapi, Havier masih belum mau menyerah. “Kamu tidak akan selamat jika membawa putri Green seperti itu keluar. Raja Aruchi akan menghabisimu.”
Oslo terus mengacungkan ujung pedangnya ke arah Havier yang berusaha mendekat. “Kalian yang akan musnah ditangan kami.” kata Hellen penuh keyakinan dan percaya diri.
“Prajurit kalian sudah berkurang banyak—”
“Itulah alasanku muncul sekarang, pangeran bodoh!” teriak Hellen kesal karena Havier terus berusaha mengulur waktunya. Ia tau itu, Havier hanya berusaha mengalihkan tujuannya, lalu membuatnya lengah dan mengambil keuntungan. “Aku akan membuat pasukan Amber berhenti atas perintah raja mereka, lalu menyerah pada kami dan memberikan Amber kepada kami.”
Havier mengarahkan tangannya di balik punggung. Disana, dia menyimpan sebuah pisau yang ukurannya tidak terlalu besar. Dia akan berupaya menyelamatkan Green, namun dia tidak mau mengambil sebuah langkah dengan gegabah.
“Ratu. Kamu akan mati di tanganku.” []
###
Akan kah Havier berhasil?
__ADS_1
Boleh komennya tsay...?