
...Sebelum mulai baca, luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan GREEN kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
“Ayahmu mengulangi perjodohan itu lagi padamu?”
Pertanyaan ratu Sonya itu merujuk pada pernyataan Havier yang menceritakan perihal pertemuannya dengan putri kerajaan Amber. Meskipun tidak bereaksi se-marah perjodohan sebelumnya, Sonya selalu saja dan tetap tidak suka jika Havier harus kembali menjadi alat untuk memenuhi ambisi Nagawa.
“Tapi, gadis itu unik, Bu. Dia bahkan lari dari kerajaan saat aku datang kesana. Dia menolak ayahnya.” jawab Havier sembari terkekeh agak terhibur mengingat tingkah Green, meraih telapak lembut sang ibu, mengecup, lalu menggenggamnya lembut.
“Itu artinya harga dirimu dipermalukan disana.” sahut Sonya serius. Dia sama sekali tidak ingin Havier dipermalukan. Apalagi oleh seorang wanita yang baru dikenal, dari etnis berbeda pula.
“Tidak, bu. Justru Vier semakin penasaran dengan sosok Green. Selama perjalanan kisah kasih Vier, baru sekarang Vier mendapatkan gadis seperti ini. Gadis yang berani menentang sebuah perjodohan, dan kabur dari istana sebagai bentuk protes. Perilakunya perlu diberi penghargaan terbaik sepanjang masa.”
Sonya tertawa, lantas mengusap lengan sang putra yang berbalut pakaian tidur. Dia tau dengan pasti bagaimana sosok Havier. Putranya itu tidak mudah tertarik dengan sesuatu, kecuali objek tersebut memiliki daya pikat tersendiri bagi Havier. Dan kali ini adalah Green.
“Itu artinya, dia bukan hanya menolak ayahnya, nak. Dia juga menolakmu.”
Sebuah gelengan menjadi jawaban untuk suara pendapat dari sang ibu. Tentu Havier tidak akan tinggal diam.
“Aku akan berusaha mendekatinya terlebih dahulu.”
...***...
Havier menatap tubuh seorang wanita yang ia sewa malam ini. Mendengar sebuah kenyataan pahit beberapa bulan silam, membuat dirinya ingin sekali membalas tak kalah memalukan dengan apa yang dilakukan oleh sang ayah.
__ADS_1
Nagawa Shoji, raja kerajaan Shibu yang terkenal berwibawa, menyayangi keluarga, ternyata dibalik semua pandangan kagum rakyatnya itu, sang ayah suka menggoda dan meniduri dayang cantik, membuat Havier sedikit banyak tertekan. Nama Shoji yang tersemat di belakang namanya itu ingin sekali ia hapus agar tidak membuat malu dirinya nanti jika suatu hari sudah berkeluarga.
Ibunya—Sonya Learn—di diagnosa menderita kelumpuhan dan tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan biologis Nagawa. Havier hanya ingin ayahnya itu tidak mengkhianati sang ibu, tapi semua tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Nagawa memilih untuk mencari kesenangan dan melupakan sosok Sonya yang sudah menemaninya hampir 35 tahun.
“Benar seseorang belum pernah menyentuhmu?”
“I-iya, pangeran.” gadis cantik bertubuh ramping itu menjawab terbata-bata karena takut. Sebelum memasuki ruangan khusus ini, ia sempat mengucapkan sumpah untuk tidak mengatakan apa yang terjadi malam ini bersama sang pangeran, kepada siapapun. Pertemuan ini sangat rahasia.
“Kemarilah!” titahnya sembari menepuk paha sekalnya sebanyak dua kali agar gadis belia nan cantik rupawan itu mendekat.
Havier mengecup punggung sempit sang gadis lantas merangkul pinggang ramping yang tidak dibalut sehelai benangpun. “Bersumpahlah, untuk tidak mengatakan apa yang kita lakukan malam ini kepada siapapun.” pintanya, seraya menyarangkan satu kecupan di bahu si gadis. “Siapa namamu?”
“Hyuri takasu.”
“Hyuri, apa kamu bersedia menyerahkan diri kepadaku, malam ini?”
Gadis Hyuri itu mengangguk, terlihat ragu dan juga tatapan takut.
Hyuri turun dari pangkuan Havier, lantas menuju ranjang dan duduk disana, menunggu seperti yang Havier titahkan. Namun, belum genap langkah Havier meninggalkan si gadis, pintu ruangan terbuka paksa. Sosok Nagawa muncul disana, memperhatikan putranya dan sosok gadis yang kini menutupi tubuhnya dengan selimut, secara bergantian. Rahangnya mengerat, dan tatapannya penuh sarat emosi.
“Apa yang kamu lakukan disini?”
Havier yang sudah menarik tali kimono nya, terpaksa kembali membuat simpul. Lantas ia berjalan memangkas jarak dengan sang ayah.
“Apalagi? Anda pasti tau tujuanku datang kesini, yang mulia.” jawab Havier seperti tanpa dosa. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, dia sedang merealisasikan perumpamaan itu kepada sang ayah.
“Apa kamu tidak memikirkan dampak dari perbuatanmu ini?”
Havier mengedikkan bahu, menarik sudut bibir kebawah membentuk sebuah lengkungan, dan menautkan kedua alis. Dia tidak peduli.
“Anda juga melakukan hal sama seperti saya. Apa anda juga memikirkan dampaknya?”
__ADS_1
Selama ini, Havier diam dan menuruti semua perintah ayahnya. Ia menghormati semua keputusan dannperintah yang dijatuhkan untuknya, kemudian melakukannya dengan tulus tanpa pamrih. Tapi, itu dulu, sebelum Havier tau peringai sang ayah dibelakang mereka. Dibelakang dia dan ibunya.
Sekarang, semua seolah menjadi bom waktu. Apalagi setelah ia mengunjungi sang ibu, dan melihat airmata ibunya kembali jatuh. Havier seolah menjadi anak yang tidak berguna. Maka dari itu, ia memutuskan untuk menyeka air mata sang ibu dengan sebuah pembalasan setimpal. Pembalasan yang harus ia lakukan dengan cara yang mungkin tidak akan pernah ayahnya terima.
Membuatnya senang, lalu menjatuhkannya bak sebuah benda yang tidak lagi berharga.
Mungkin itu yang terbesit untuk saat ini. Havier ingin ayahnya itu tau jika ibunya lebih berharga dari apapun. Ia menerima perjodohan, dengan syarat,
“Jika anda ingin saya berhenti melakukan semua ini, anda juga harus melakukan hal yang sama. Berhenti bermain-main dengan perasaan ibu, jangan lagi menyakiti hati ibu, dan jauhi wanita itu. Setelah itu, aku akan kembali menjadi Havier yang anda kenal.”
...***...
Setelah berdebat dengan ayahnya di tempat bordil beberapa saat lalu, Havier sudah kehilangan gairah yang sempat membuat dirinya ingin menyentuh gadis bernama Hyuri Takasu itu. Havier memilih pergi dari tempat itu dan kembali ke istana setelah berjanji akan kembali mencari Hyuri ketika dia datang ke tempat tersebut.
Jantungnya berdegup kacau ketika mengingat ucapan sang ayah. Kepalanya seperti dipukul oleh benda keras hingga kesadaran melayang.
Aku melakukan itu, karena ibumu sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan biologis ayah. Ayah laki-laki normal dan biologis ayah masih menginginkan hubungan lawan jenis yang tidak bisa lagi ibumu lakukan.
Havier mengusap kasar wajah tampannya, menatap cermin dengan binar nanar, dan manik itu berubah berkabut.
Sepenting itukah sebuah kepuasan biologis, sampai-sampai ayahnya tidak lagi mengenal daratan?
Rahang tegas itu tiba-tiba mengeras. Kedua lengan terkepal sempurna, dan satu tetes airmata jatuh dari sudut mata Havier yang sedari tadi ia coba tahan mati-matian. Hatinya berdenyut nyeri, dan otaknya kacau. Ia berada dalam titik kesabaran yang nyaris nol. Kehidupannya yang bahagia dulu telah menghilang sejak ia mengetahui peringai ayahnya yang berubah total setelah melihat ibunya tak lagi mampu melangkah.
Ya. Havier bersumpah akan membuat ibunya tidak lagi menitihkan airmata.
Ia memilih menerima perjodohan dengan Green untuk membalas pada wanita yang sudah merebut semua kebahagiaan keluarganya.
Hellen.
Wanita itu harus membayar mahal untuk setiap air mata sang ibu. []
__ADS_1
^^^to be continued.^^^