GREEN

GREEN
Chapter 20


__ADS_3

...Maaf updatenya lama. Kalau kalian masih baca cerita ini, tolong beri dukungan ya agar aku lebih semangat update cerita Green. ☺️...


...Terima kasih....


...Happy Reading......



Kedatangan Havier tentu saja mendapat sambutan yang begitu hangat, mengingat Havier adalah calon raja, dan juga calon menantu bagi kerajaan Amber.


Aruchi mempersilahkan Havier yang hari ini meminta bertemu dan berbicara empat mata. Bukan tidak tau, Aruchi menebak jika Havier akan membicarakan tentang penundaan pernikahan dirinya dengan Green. Dan benar saja, Havier memang datang untuk itu, ia ingin bernegosiasi tentang keputusan sepihak rencana penundaan pernikahan yang di jatuhkan oleh raja Aruchi.


“Jadi, kamu keberatan?”


Kalau saja tidak mendengar nasehat pamannya, Havier pasti lupa jika Aruchi adalah raja yang terkenal licik. Bisa jadi apa yang dikatakan pamannya benar adanya.


“Tentu saja. Coba beritahu saya alasan anda menunda pernikahan kami. Jika alasan itu relevan, saya akan memikirkan kembali keputusan saya ini.” pinta Havier dengan nada rendah yang terdengar sangat sopan.


“Aku punya alasan kuat melakukan ini.”


“Disini, bukan hanya pihak anda yang terlibat, raja Aruchi. Nama baik kerajaan Shibu juga menjadi taruhannya.”


Aruchi mengangguk setuju. Namun dalam benaknya dia bertanya-tanya, apa tidak masalah menceritakan alasan itu kepada Havier?


“Kamu ingin membuat kesepakatan?”

__ADS_1


Havier mengusap dagunya perlahan. Kesepakatan? Sepertinya tidak buruk. Lagi pula, dia juga ingin membantu Green mengungkap konspirasi, tanpa Havier ketahui sebenarnya, Aruchi sudah mengetahui hal itu.


“Anda tidak keberatan?”


“Kenapa tidak? Aku sudah tua, tidak bisa membaca pikiran pria muda seperti dirimu tanpa kamu mau mengatakannya.”


Havier merasa sedikit bersalah sekarang. Ia terkesan sedang mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Lantas, apa dia harus menerima tawaran itu sebagai jaminan?


“Kesepakatan seperti apa yang anda maksud, yang mulia?”


Aruchi tersenyum jumawa. Ia menatap lekat pada manik Havier yang juga sedang fokus pada dirinya. “Green, akan selamat bersamamu. Atau aku akan menyerahkan putri kesayanganku kepada orang lain, jika kamu tidak berhasil menemukan orang yang sedang membantu ratu Hellen membuat konspirasi di istana saat ini.”


Havier begitu terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Rupa-rupanya dia sudah salah menduga jika raja Aruchi tidak merasakan kejanggalan di dalam istananya. Terutama sikap ratu Hellen yang memang terlihat kentara menginginkan pernikahannya segera dilaksanakan.


“Jadi anda sudah tau tentang konspirasi itu?”


Havier hanya mampu diam tanpa bisa membalas ucapan raja Aruchi. Dia membenarkan ucapan pamannya jika Aruchi memang raja yang patut di takuti karena kejeliannya. Meskipun dirinya sudah semakin terkikis usia, nyatanya Aruchi masih mampu membaca gerak-gerik berbeda yang terjadi didalam kerajaannya.


“Siapa orang lain yang anda maksud itu, yang mulia?”


Aruchi berdiri sembari menarik nafas cukup dalam. “Panglima Junot Anderson. Panglima hebat dari kerajaan Geogini.”


***


Havier berniat menemui Green karena sejak ia datang dan menginjakkan kaki di tanah Amber, dia belum sekalipun melihat siluet gadis itu dimatanya. Green tak terlihat dimanapun, untuk itu dia berniat datang ke kamar gadis itu dan akan bicara banyak mengenai salah satu rencana yang sudah ia rangkum ketika berada di Shibu.

__ADS_1


Sesampainya didepan kamar Green, tanpa ragu Havier hendak mengetuk pintu berornamen bunga rambat yang didominasi oleh mawar itu. Namun gerakan Havier terhenti lantaran seorang dayang yang biasa menemani Green tiba-tiba muncul dibalik punggungnya.


“Putri Green sedang tidak dikamar, pangeran.”


Havier membalikkan badan demi mendapati presensi seorang wanita seusia Green yang mengenakan pakaian khusus dayang berwarna hitam berbaur warna emas.


“Lalu, dimana dia?” tanya Havier jelas ingin tau. Dia ingin berbicara banyak dan sangat penting untuk rencana mereka kedepannya.


“Saya juga kurang tau. Tuan putri sudah tidak ada dikamar saat saya mengantar sarapannya tadi.”


Havier mengernyitkan dahi hingga alis tebalnya hampir menyatu. Mata sipit itu memicing menelisik mencari jawaban.


Ini sudah hampir sore, jika sejak pagi Green tidak ada di kamarnya, lalu dimana dia saat ini?


“Saya harap pangeran bersedia kembali ke kamar dahulu, biar saya cari putri Green terlebih dahulu.”


Havier setuju dengan usulan itu. Ia pun bergegas kembali menuju kamar khusus tamu yang sudah disiapkan sembari menunggu kabar dari dayang setelah Green sudah ketemu nanti.


Sementara itu, Green terbangun dari tidurnya. Terlalu nyaman tidur dalam pelukan Junot hingga dia lupa waktu. Dia bahkan tidak mengingat jika hari ini Havier datang ke Amber.


Green membuka selimut perlahan dan meninggalkan Junot yang masih terlelap dalam mimpi meskipun tanpa sehelai benang, kemudian mengenakan gaun dan keluar dari kediaman sementara yang sedang ditempati Junot.


Green berlari diam-diam memasuki bagian belakang kerajaan. Ia mengendap-endap agar tidak ada yang melihatnya mendatangi tempat yang dirahasiakan itu.


Akan tetapi, baru saja langkahnya menyentuh lantai marmer kerajaan yang akan membawanya ke gudang belakang, sebuah suara mengejutkannya. Tubuhnya menegang dan dingin. Suara ini begitu ia kenali.

__ADS_1


“Putri Green, anda dari mana saja?”[]


__ADS_2