
Ladies and Gentleman,
The weekend. 😜
SELAMAT MEMBACA
JANGAN LUPA 👍 DAN KOMEN NYA UNTUK GREEN YA
TERIMA KASIH.
🏰🏰🏰
Green masuk melewati jendela kamarnya yang tidak terlalu tinggi itu dengan cara memanjat mengendap-endap, menoleh ke kanan dan kiri untuk mengawasi situasi. Dia berharap tidak ada prajurit yang patroli dan meneriakinya maling, lalu ia harus di seret dengan cara memalukan ke hadapan ayahnya seperti pecundang.
Kemudian, selain tentang prajurit yang berjaga atau patroli, Green juga berharap ramuan yang ia berikan untuk Galila, masih berkerja dengan baik pada gadis malang itu, dan harapan lainnya yakni gadis itu belum bangun dari tidurnya. Beruntung dulu, Green suka sekali dengan pelajaran tentang obat-obatan, jadi dia tidak kesulitan hanya untuk membuat Galila tertidur tanpa harus dicurigai.
Setelah berhasil melewati kusen jendela dan menarik gaunnya masuk ke kamar, Green memerintahkan dua prajurit yang mengantarnya itu segera meninggalkannya. Green yang sudah berhasil masuk ke kamar, bergegas membaringkan diri diatas ranjang, kemudian menutupi tubuh dengan selimut untuk berpura-pura tidur. Meskipun, ya, sejujurnya dia memang mengantuk sejak tadi, tetapi dia tahan demi bertemu dengan pujaan hatinya, panglima Junot.
Akan tetapi, mengingat Junot yang mengusirnya tanpa perasaan tadi, lagi-lagi Green mengerucutkan bibir dan menatap sebal pada bayangan imajinasi Junot yang muncul begitu saja dalam pupil matanya yang mencoba terkatup.
Namun nahas, belum tertidur sepenuhnya, Green mendengar pintu kamar diketuk dan Galila bangkit dari ranjangnya. Satu helaan nafas lega berembus dari mulut dan hidung Green karena dia datang tepat waktu.
Samar-samar dia mendengar percakapan Galila dengan orang-orang dibalik pintu itu, sampai pada akhirnya Green merasakan bahu kirinya di tepuk lembut oleh dayangnya.
“Tuan putri.” panggil Galila sabar. “Putri Green,” panggilnya lagi, berusaha membuat Green yang sedang berpura-pura tertidur itu, bangun. “Pu—”
Green menggeliat, memerankan perannya dengan apik. Ia bahkan mengedipkan mata pelan sama persis seperti orang yang baru saja kembali dari alam mimpi. “Ada apa?” tanyanya dengan suara serak yang tentu saja dibuat-buat dengan keadaan sadar.
“Maaf mengganggu anda. Tapi pangeran Havier memaksa bertemu. Katanya anda sudah membuat janji dengan pangeran Havier malam ini.” terang Galila memberi penjelasan tujuan Havier datang ingin bertemu.
Green langsung saja membuka kedua netranya. Dia menengok keluar, dimana Havier saat ini sedang tersenyum dibalik punggung seorang prajurit berwajah gahar dan bertubuh tambun dengan ekspresi memohon agar dia tidak disebut pembohong dan tidak akan lagi dipercaya prajurit ini jika suatu saat dia membutuhkan bantuan lagi.
“Baiklah. Suruh saja dia masuk. Tapi tolong bilang padanya, aku hanya akan bicara cepat dengannya. Aku sudah mengantuk.”
“Baik tuan putri.”
Pangeran Havier masuk kedalam kamar. Pintu sudah terkatup, dan dayang Lila sudah diminta oleh Green untuk meninggalkan mereka berdua sebentar. Havier kemudian menarik kursi meja rias untuk ia tempati duduk. Pintu kamar sudah ditutup sesuai keinginan Green, dan kini Havier menatap serius padanya.
“Ada apa? Ada hal mendesak apa sampai anda memaksa bertemu malam-malam begini, pangeran?”
Havier menelisik isi kamar Green sebelum kembali menautkan manik matanya pada sosok Green yang terlihat lelah. “Ada pertanyaan yang ingin saya tanyakan malam ini juga kepada anda, tuan putri. Dan tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur.”
__ADS_1
Green tidak mengerti, jadi dia memilih menyanggupi permintaan Havier. “Katakan.”
Havier menghembuskan nafas sedikit berat. Sebenarnya ia ragu untuk bertanya, tapi sisi dirinya yang lain sedang ingin tau. “Ada hubungan apa anda dengan panglima perang Geogini itu?”
Sontak Green terbelalak. Mendadak sekali pertanyaan itu disodorkan. Ia bahkan tidak kepikiran untuk jawaban yang akan ia katakan pada Havier yang melihatnya sarat ingin tau.
“Kami tidak ada hubungan apapun.”
Suasana menjadi hening kembali karena dari kedua manusia itu, tidak ada yang ingin membuka mulut lebih cepat. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Anda sedang berbohong, bukan?”
Pertanyaan Havier membuat Green menahan nafas. Dari mana dia tau jika Junot ada hubungan spesial dengannya. “Tidak.”
“Lalu, untuk apa anda bertemu dengan panglima Junot disana, malam-malam begini?”
Jantung Green seperti dipaksa berhenti.
Jika Green ditempatkan pada posisi Havier, mungkin dia juga akan bertanya demikian demi keterbukaan, mengingat mereka di jodohkan, dan hendak dinikahkan.
“Saya melihat anda bertemu dengan Panglima Junot di perbatasan semak belukar di sisi belakang Amber.” terang Havier yang sekarang membuat Green benar-benar di dera rasa takut. “Itu, anda bukan?”
Green menelan ludah susah payah. “Pangeran melihatku? Pasti salah lihat.” kilahnya dengan nada sedikit terkejut masih tidak mau mengaku. Bukan karena tanpa alasan, Green hanya tidak ingin Havier tau yang sebenarnya, lalu memberitahukan itu kepada Aruchi.
“Tidak. Saya yakin tidak salah lihat. Mata saya masih sehat.” tukas Havier alot. Dia masih gigih dengan pendapatnya. “Jujur saja tuan putri, saya tidak akan mengatakan hal itu pada siapapun.”
“A-aku,”
“Anda beruntung karena saya yang melihatnya, bukan orang lain.”
Green menggigit bibir dalamnya karena tidak tau harus berkata jujur atau harus berkilah lebih jauh dan Havier akan mencari tau lebih jauh.
“Saya, hanya ingin membicarakan sesuatu dengan panglima Junot.”
Ah, dia mengambil keputusan untuk tetap menutupi hubungan mereka, tapi jujur dengan tujuannya bertemu dengan pria itu. Havier diam mendengarkan dengan tatapan nyaris putus asa. Bagaimana tidak? Dia sudah terlanjur menaruh hati kepada Green, tapi ia melihat Green bersama orang lain yang mempunyai pengalaman hidup lebih menantang di dunia kejam peperangan yang tentu saja bisa melindungi gadis itu dengan segenap hidupnya.
“Ada sedikit informasi yang harus saya bagi dengan dia.”
“Hanya dengan dia?” tembak Havier cepat dengan sarat penasaran. “Tidak dengan saya? Putri, saya ini calon suami anda. Apa tidak sebaiknya anda membongkar semua ini bersama saya saja?”
Green bungkam beberapa detik mendengar jawaban Havier. Dia jadi merasa bersalah karena pernyataan tersebut, yang nyatanya semua itu benar adanya. Yang akan menjadi suaminya kelak adalah Havier, tapi bagaimana dengan hubungannya bersama Junot?
“Baiklah. Aku akan mengatakannya kepadamu juga.” kata Green memutuskan untuk bersikap adil pada dua pria yang berasal dari latar belakang berbeda ini. “Aku, tidak sengaja mendengar ratu Hellen bicara dengan pria tua itu.”
__ADS_1
Havier menatap lurus. Informasi ini terlihat begitu penting.
“Ratu Hellen menyebut nama seseorang yang aku tidak tau karena cara penyebutannya terlalu sulit untuk kuingat.”
“Apa maksud anda, tuan putri?” tanya Havier penasaran.
“Ratu Hellen menyebut nama pria yang menjadi sekutunya itu, dengan aksen yang berbeda dengan aksen kami disini.”
Havier mengerutkan kening. Lalu, aksen seperti apa yang dimaksud wanita didepannya ini?
“Dia menyebut nama itu dengan aksen seperti...ketika pangeran sedang berbicara.”
Apa itu artinya sekutu ratu Hellen berasal dari kawasan Shibu? Tapi itu tidak mungkin?
Havier semakin mengerutkan kening hingga alisnya hampir menyatu. Informasi ini akan menjadi dasar dimana dia akan mencari tau informasi lainnya. Setelah mendengar informasi tersebut, Shibu akan menjadi tujuannya menggali informasi.
Havier menghela nafas kasar. Dia berdiri dari tempat duduknya setelah tau alasan Green bertemu dengan Junot tengah malam begini. Setidaknya, hatinya tidak patah saat ini. Masih ada kesempatan untuknya mendapatkan Green, pikirnya.
“Ya sudah kalau begitu. Lain kali jangan ceroboh begitu. Ada mata yang mengintai gerak-gerik mu didalam istana, ingat hal itu.”
Green mengerjap lambat, kemudian mengangguk.
“Tidurlah. Aku akan kembali ke kamarku. Besok aku harus kembali ke Shibu karena ada urusan.”
“Kembali ke Shibu?”
“Eumm. Tidurlah. Sudah malam, putri.”
Green tidak menanggapi, namun menatap Havier dengan pandangan lurus yang Dimata Havier, terlihat masih menyembunyikan sesuatu yang begitu besar.
“Selamat malam.” pamitnya sambil membungkuk lima belas derajat ke arah Green.
“Tunggu!”
Havier yang sudah hendak berjalan, harus berhenti kembali karena Green menahannya.
“Ada apalagi, tuan putri. Pintu kamarmu sebentar lagi pasti akan di ketuk paksa oleh prajurit dari luar sana.” kata Havier mengacu pada kenyataan. Karena setelah itu, pintu benar-benar diketuk dan kepala prajurit yang tadi mengantar Havier untuk sampai disini, muncul dari balik pintu, kemudian berkata, “Pangeran, saya antar keluar anda kembali ke tempat anda. Putri Green harus beristirahat.”
Havier menoleh sejenak kearah prajurit tersebut dan mengangguk, kemudian kembali menatap Green. Satu ide jail muncul di kepalanya. “Tolong beritahu aku trik agar tidak ada yang tau kamu pergi dari tempatmu dengan aman. Agar prajurit itu tidak mengganggu waktu kita saat bicara.”
Green tertunduk malu, wajahnya sudah hampir memerah karena hal itu.
“Ah, dan satu hal lagi yang menjadi pertanyaan yang menjadi tujuanku sejak awal datang kesini.” pukas Havier melanjutkan, menarik atensi Green untuk kembali mengarahkan pandangan matanya pada sosok bertubuh tinggi didepannya saat ini. “Resep apa yang kamu berikan kepada dayang mu? Kenapa dia bisa tidur pulas begitu?”
__ADS_1
Green terbelalak, maniknya membola sempurna dan bibirnya ia lipat kedalam.
“Aku butuh resep itu. Mungkin akan berguna suatu saat nanti.” lanjut Havier kemudian memacu langkah pergi dengan kerlingan mata nakal sebagai salam perpisahan. Kemudian, sesampainya diambang pintu, dia membungkuk empat puluh lima derajat dan tersenyum. “Selamat malam tuan putri. Terima kasih dan maaf sudah mengganggu istirahat anda. Tidur yang nyenyak setelah ini, dan semoga mimpi indah.” []