
...Lanjut yuk......
...🏰🏰🏰...
Junot berlari mengejar Hinawa. Isi otaknya campur aduk bahkan membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Jika tidak melarikan diri, kemungkinan kedua lah yang menjadi tujuan Hinawa saat ini. Mencari keberadaan Green.
Junot terus berlari mengikuti langkah Hinawa yang sudah terlihat menjauh darinya. Tidak sedikit rintangan yang membuatnya terkadang harus melepas pandangan dari sosok Hinawa yang seolah mendapat keberuntungan dari Tuhan itu. Laki-laki itu lari tanpa hambatan.
Geram, Junot pun tak mau membuang-buang waktu dan langsung saja melibas habis siapapun yang mencoba menghalanginya. Wajahnya yang datar dan rahangnya yang mengerat, menjadi bukti jika Junot sedang berada dalam fase yang tidak akan mungkin bisa dikendalikan dan dihentikan oleh apapun juga siapapun. Ia tak peduli lagi jika Hinawa adalah bagian dari Shibu. Junot mendapat mandat dari Aruchi untuk mencari dan menyelamatkan Green, Geogini juga sudah memberinya restu. Jadi, jika kerajaan Shibu tidak terima pun, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa karena dua kerajaan besar nan hebat itu kini menjalin ikatan. Geogini dan Amber adalah rival yang tidak akan bisa dikalahkan oleh apapun jika bersatu.
Hingga kini langkah Junot harus terhenti ketika melihat sosok disana. Sosok tak berdaya yang kini berada dalam tawanan seorang wanita dengan sebilah pisau yang mengancam nyawa.
Sial.
Junot menahan semua gerakan hanya agar Hellen tidak menyakiti Green. Ia yakin wanita bernama Hellen itu akan nekat, dan tentu akan melakukan apapun jika sudah terpojok seperti saat ini.
Aruchi yang juga menyadari kehadiran Green di tangan Hellen, memberi instruksi kepada seluruh pasukan Amber dengan teriakannya yang membumbung.
“Hentikan serangan.”
Seketika semua pasukan berhenti dan memaku di tempat, termasuk pasukan dari pihak Hinawa. Namun berbanding terbalik dengan Aruchi, Hinawa justru menginstruksikan prajuritnya untuk menyerang prajurit Amber. Suara gaduh dan jerit kesakitan kembali terdengar, dan Aruchi merasa bimbang. Jika dia diam saja dan tidak memberi instruksi untuk pasukannya agar membalas, semua akan musnah. Dia mengorbankan banyak nyawa dari orang yang tidak bersalah untuk semua ini. Tapi, jika dia memberi instruksi untuk melawan, ia takut Hellen akan mengakhiri hidup Green. Kini, kedigdayaan seorang raja pada dirinya sedang diuji. Ia harus segera membuat keputusan atau semuanya akan hancur bersama harkat dan martabatnya.
Aruchi sedang membagi fokusnya. Sungguh, ia tidak akan pernah rela kehilangan siapapun disini, termasuk putrinya, Green.
Ia menatap ke arah Green, Aruchi mencari jawaban dari sang putri. Dan yang membuat Aruchi tertunduk pilu adalah, Green tersenyum dan mengulurkan tangan, kemudian mengepalkan kuat telapak untuk membuat isyarat jika Aruchi harus merelakan dia demi masa depan Amber.
__ADS_1
Lalu, ditengah semua kecamuk yang menyiksanya, suara Hinawa terdengar berseru senang membayangkan kemenangan ada ditangannya.
“Jadi kamu akan memilih kehilangan putrimu lagi?”
Aruchi hanya diam dengan rahang mengeras dan sorot mata penuh dendam kepada Hinawa karena sudah berani membuat keadaan menjadi sekacau ini.
Junot turut menyeret pandangan ke arah Aruchi yang keberadaannya cukup jauh. Dari tempatnya berdiri, Junot dapat melihat gelagat tidak setuju dari Aruchi. Pria tua itu seperti sedang membaca situasi dan menyusun sebuah rencana di kepalanya. Ya, sebuah rencana, karena Aruchi tidak akan kalah semudah yang Hinawa bayangkan.
Aruchi kembali menoleh dan mengamati sekitar, mencari keberadaan seseorang yang ternyata saat ini sedang dalam bahaya. Seorang prajurit dari kubu Hinawa sedang berlari mendekat dan hendak menyerang Junot. Tentu saja hal itu membuat Aruchi mengepal dan seketika membelalak karena Junot berada dibawah perintahnya.
“Panglima Junot, bergerak!!!” titahnya. Tentu saja itu akan bekerja dengan baik. Jika ia tidak bisa memerintahkan semua prajuritnya, ia bisa menitahkan satu orang untuk tetap melawan. Biarkan saja jika setelah ini dia dianggap egois. Ini demi mengulur waktu untuk otaknya berusaha menyusun strategi.
Dengan gerakan lugas, Junot melayangkan pedangnya kearah si prajurit yang mencoba menyerangnya. Suara geraman penuh amarah, dan tebasan pedang yang begitu kuat, prajurit itu terpelanting dan harus berakhir tewas di tangan Junot.
Melihat itu, Hellen merasa takut. Tubuhnya mendadak bergetar dan dingin. Ia takut jika dirinya akan berakhir seperti itu, lantas dia mengeratkan genggaman pisau di tangannya dan mencengkeram lengan Green sangat keras hingga meringis tanpa suara ketika tanpa di ketahui oleh Hellen, pisau tersebut justru menggores di kulit Green.
Junot yang melihat lelehan pekat berwarna merah itu mengalir dari balik kulit Green, kembali di Gelung oleh emosi. Tiba-tiba terbesit satu ide dalam kepala Junot, dan mungkin ini adalah harapan terakhirnya untuk dipertaruhkan.
Hellen yang sadar akan kelakuannya yang secara tidak sengaja mengundang amarah itu harus terlempar oleh Hinawa yang mengambil alih tubuh Green dalam rengkuhannya dan menjadikan tawanan.
Junot semakin geram. Suasana semakin mencekam karena dibalik punggung Aruchi, suara jerit kesakitan tanpa bisa memberikan balasan atau perlawanan, masih terdengar jelas. Hati Aruchi seperti di porak-poranda melihat pemandangan mengerikan ini. Otaknya seperti buntu tak mau memberinya akal untuk mengambil solusi.
Tawa menggema terdengar ketika Hinawa dengan bangganya melihat satu persatu pasukan Aruchi tumbang tanpa perlawanan. Sedangkan Hellen berusaha bangkit dan berdiri disamping Hinawa dengan wajah tak kalah pongah.
“Lihat raja Aruchi yang terhormat. Sebentar lagi kau akan hancur jika tidak segera mengambil keputusan.” teriaknya lantang. Ia benar-benar percaya diri dan yakin akan bisa memiliki Amber.
Retio yang sekarang berada di pihak Amber terlihat sedikit cemas. Bukan tentang dirinya, tapi tentang keluarga kecilnya yang mungkin akan menjadi sasaran kemarahan Hinawa karena dia sudah berkhianat.
“Jadi, kau akan menjadi raja egois dengan mempertaruhkan banyak nyawa demi sebuah tahta?” lagi-lagi teriakan Hinawa seolah memprovokasi agar prajurit Amber sadar jika raja mereka tidak sebaik yang mereka pikir.
__ADS_1
Aruchi diam tidak menanggapi. Ditatapnya Green dengan mata sayu penuh penyesalan. Sedangkan Green, kembali menyematkan sebuah senyuman sebagai isyarat agar ayahnya itu segera memutuskan, segera memberi perintah pada semua pasukannya untuk membumi hanguskan pasukan dan juga komplotan pengkhianat ini.
Bagaimanapun juga, dia seorang ayah dan tidak akan pernah bisa melepas anaknya begitu saja untuk di sakiti didepan matanya. Tapi, dia benar-benar tidak tau lagi apa yang harus ia pilih sekarang.
Disisi lain, Junot bergerak melawan setiap prajurit yang datang menyerangnya. Keadaan benar-benar kacau balau.
Lalu dengan kemantapan hati, Aruchi mengambil sebuah keputusan berat. Ia memejam putus asa, lantas mengangkat pedangnya tinggi. Dan hal itu sukses membuat Hinawa melebarkan mata. Torsonya yang semula tegap karena percaya diri dan penuh keangkuhan, kini terlihat menegang. Ia tidak menduga jika Aruchi akan mengambil keputusan seberani itu. Ia tidak percaya jika Aruchi akan memilih mengorbankan putrinya sendiri.
“Demi sang pencipta alam semesta, aku bersumpah akan membawa kalian semua para pengkhianatan kembali ke nirwana.” ucap Aruchi mantap. Lalu ia menurunkan pedangnya menunjuk ke arah Hinawa berada dengan sorot tajam dan membunuh yang tak ter-ampunkan. “Kita lahir untuk sebuah kemenangan. Kita lahir untuk menegakkan kebenaran. Hancurkan para pengkhianat itu dengan pedang kalian.”
Hinawa menarik dan membawa sedikit mundur tubuh Green ketika Aruchi kembali menggemakan sebuah perintah kepada prajuritnya. “Musnahkan mereka.”
Dan semuanya kembali bergerak mengayunkan pedang. Junot tidak lagi bergerak sendiri, Retio bergabung dengannya sembari menagih janji Junot.
“Panglima Junot, penuhi janjimu padaku.”
Junot yang sibuk melakukan perlawanan menyempatkan diri untuk berteriak. “Tentu. Aku akan melakukannya.”
Sedangkan Hinawa yang terlihat panik semakin menarik mundur Green lalu kembali menarik perhatian Aruchi dengan melempar Green hingga terpelanting dan jatuh tersungkur di lantai. Ia bahkan tidak lagi harus berfikir untuk mempertahankan kehidupan Green, karena setelah ini dia juga pasti akan kehilangan semuanya. Termasuk nyawanya sendiri.
Hinawa mengayunkan pedangnya bersiap mengarahkannya kepada Green. Namun gerakannya kembali terhenti ketika mendengar teriakan Hellen.
“Arrrggghh...”
Hellen jatuh tersungkur dilantai bersimbah darah. Wanita itu mengulurkan tangan memohon pertolongan, namun Hinawa justru terpaku pada sosok yang ada dibalik tubuh Hellen. Bibirnya terkatup rapat melihat pribadi tersebut. Hinawa menurunkan pedang dan menatap nyalang kepada sosok itu.
“Siapa yang melakukan itu padamu, pangeran?” []
###
__ADS_1
Terima kasih sudah mendukung cerita Green. Jangan lupa untuk mampir ke cerita terbaru Othor ya. Judulnya ME GUSTAS TU, silahkan cek profil untuk cerita lebih lengkap.
Terima kasih.