
SELAMAT MEMBACA
JANGAN LUPA SELALU MEMBERI DUKUNGAN UNTUK GREEN DENGAN CARA LIKE, KOMEN, DAN TAMBAHKAN KEDALAM LIST FAVORIT KALIAN. BERI JUGA VOTE DAN HADIAHNYA JIKA BERKENAN đź¤
TERIMA KASIH
🏰🏰🏰
Aruchi yang telah sampai di Antane cukup terkejut karena disana, tidak terjadi apapun. Para pasukan yang kedatangan Aruchi secara tiba-tiba pun bertanya-tanya bahkan panik, sebab ini bukan waktunya sang raja mengecek lokasi tambang emas disini.
Ia meremat kuat tali kekang kudanya hingga buku jarinya memutih. Rahangnya mengerat hebat ketika kembali teringat akan konspirasi mura-han yang sedang terjadi di kerajaannya.
Aruchi mende-sah putus asa ketika kembali mengingat sang putri yang sudah melarangnya. Dia menyesal mengapa tidak percaya kepada putrinya, karena dia tau, tatapan Green tadi mengandung banyak sekali arti. Terlebih, gadis itu belum mengatakan apapun kepadanya setelah pergi dan kembali dengan keadaan yang terlihat tidak baik-baik saja.
“Cepat kembali ke Amber!” titah Aruchi keras sambil memacu kudanya untuk berlari secepat kilat.
Prajurit tadi, adalah bagian dari konspirasi. Dan Aruchi merasa semakin bodoh karena percaya begitu saja karena selama ini, Antane adalah desa yang dijaga ketat oleh pasukan-pasukan hebat dan tangguh pilihannya karena Antane kaya akan sumber daya alam.
Segerombol pasukan yang pergi bersama Aruchi pun memacu kuda tak kalah cepat untuk mengejar sang raja.
Pikiran buruk menguasai Aruchi sekarang. Di Amber, tidak ada siapapun. Putranya sedang mengunjungi lokasi di kerajaan sekutu, sedangkan Panglima perangnya sedang menjalankan misi di pulau seberang yang memakan waktu cukup lama untuk kembali ke Amber.
Lalu, bagaimana jika terjadi sesuatu kepada Green?
Aruchi menggelengkan kepala, mencoba membuang semua pikiran buruk itu agar dia tetap fokus hingga menginjakkan kaki di Amber.
Dia berharap, tidak terjadi sesuatu yang membahayakan untuk Green.
***
Berita menghilangkannya putri Green itu sudah sampai ditelinga Junot. Tanpa berpikir panjang, dia menyambar rompi perang dan pedangnya, kemudian berlari itu bak kehilangan akal dan menerjang apapun dihadapannya untuk segera melihat situasi di istana utama, tempat dimana Green seharusnya berada.
Prajurit yang membawa kabar berita itu juga memberikan penjelasan jika raja Aruchi pergi ke Antane karena ada sebuah kejadian tak terkendali disana, sedangkan di kamar Green, dua orang penjaga dan dayang yang biasa merawat Green, ditemukan tidak bernyawa. Dan Green, menghilang tanpa jejak.
__ADS_1
“Mereka bergerak lebih cepat.” gumam Junot saat berlari keluar dari area semak belukar yang selama beberapa hari ini menjadi tempatnya tinggal. “Sial!!” umpatnya keras. “Jika sampai terjadi sesuatu kepada Green, atau sampai dia terluka karena mereka, aku akan menghabisi mereka semua tanpa ampun.”
Memang begitulah sifat keras seorang panglima perang, pantang menyerah dan tentu saja tidak ada kata ampun untuk yang bersalah dan membuat ulah.
Junot memaku ditempatnya berdiri ketika melihat keadaan kamar Green. Begitu mengenaskan, membuat Junot mengeratkan rahang dan mengepalkan tangan marah. Ia tidak akan mengampuni siapapun yang terlibat dalam konspirasi tersebut.
“Ratu Hellen menghilang,” kata si prajurit memberitahu, membuat kernyitan di kening Junot timbul.
“Ratu Hellen menghilang?”
“Ya panglima Jun.”
Jadi, sekarang bukan Aruchi yang menjadi target, melainkan Green. Junot membaca hal itu dengan cepat. “Ikut bersamaku. Bawa juga beberapa prajurit untuk membantu kita mencari keberadaan putri Green.”
“Baik, panglima. Tapi, kita harus menunggu raja Aruchi untuk mendapat persetujuannya.”
Junot menggeram kesal. “Aku yang akan bertanggung jawab untuk itu. Sekarang cepat siapkan beberapa prajurit dan perlengkapan untuk kita melakukan pencarian.”
Mungkin akan sulit, karena tidak ada yang tau pergerakan Hellen sebelumnya. Di tambah lagi keadaan kerajaan yang runyam dan kacau karena panik, Junot akan berusaha keras untuk menemukan Green dan membawanya kembali.
***
Disana, ada beberapa orang yang sedang melakukan transaksi jual beli. Junot menghampiri dan turun dari kuda nya. Ia bertanya kepada mereka, apa kah ada orang yang mencurigakan lewat disini? Jika iya, Junot ingin tau mereka menuju ke arah mana.
“Tidak ada. Kami tidak melihat apapun.”
Nafas Junot tertahan. Ia dalam masalah sekarang. Bagaimana caranya mencari Green jika dia saja tidak tau siapa yang membawa Green pergi.
Memang ini ada hubungannya dengan ratu Hellen, tapi mereka semua tidak tau orang yang membawa Green. Ciri-ciri orang itu, dan apa yang dipakai orang itu untuk membawa Green pergi, semua itu seolah menemui jalan buntu.
Junot meremas surainya. Kemudian naik kembali ke punggung kuda dan berterima kasih. Ia kembali memacu kuda dan melakukan penelusuran di tempat lain. Hingga kini dia sampai di sebuah perbatasan selatan antara kerajaan Amber dan kerajaan Torte. Kerajaan yang memang bersekutu, namun sering memiliki beda pendapat.
Perbatasan itu terdapat sebuah hutan mahoni, dan juga perkebunan jati milik amber. Akan tetapi, Junot ragu untuk kesana. Pasalnya, disana seperti tidak ada kehidupan yang bisa ia mintai keterangan.
Tapi, apa salahnya mencoba. Siapa tau nanti dia malah menemukan sebuah petunjuk disana.
__ADS_1
“Kita istirahat sebentar, setelah itu kita lanjutkan pencarian.” titah Junot. Ia juga harus memikirkan orang-orang yang ikut bersamanya. Mereka tidak boleh sampai kehabisan tenaga sebelum berhasil menemukan Green. Untuk itu, dia meminta prajurit itu untuk beristirahat dan makan bekal yang sudah mereka persiapkan tadi. Sedangkan Junot, dia memilih berjalan menyusuri jalan setapak itu hingga dia melihat seseorang sedang mencari kayu bakar.
Junot berlari mendekat, dan sempat membuat Kakek renta itu sedikit ketakutan.
“Saya bukan orang jahat, kek. Saya juga dari Amber.” bohong Junot agar pria tua itu tidak lagi ketakutan. Terbukti, kakek tua yang sempat menghindarinya itu kini berhenti dan menatap ke arah Junot.
“Kamu, panglima perang Amber?”
Junot menatap lembut pada pria tua yang garis matanya sudah berkerut itu. “Bukan, saya dari Geogini. Tapi saya mendapat tugas dari raja Aruchi di Amber.”
“Lalu, apa yang ingin kamu tau dari kakek tua seperti ku ini?”
Junot menghela nafas berat. Mungkin dia masih harus melakukan pencarian lebih jauh setelah ini. “Apa kakek melihat sesuatu yang mencurigakan lewat sini?”
Kakek itu mengerutkan wajah, menoleh ke kanan dan kiri, kemudian kembali melihat Junot. Suara bergetar khas renta kakek itu begitu di nanti oleh Junot untuk memberi informasi. Namun kakek itu tetap terdiam beberapa saat hingga membuat Junot putus asa. Tidak ada apa-apa disini, persis seperti dugaannya.
“Tiga orang berkuda melewati jalan ini menuju hutan.”
Apa?
Junot menajamkan pendengaran. Ia takut salah dengar karena suara bergetar si kakek yang terdengar kurang jelas. “Maksud kakek?”
“Tadi siang, ada tiga orang berkuda lewat di jalan sana.”
Junot kembali mengajukan pertanyaan lebih spesifik untuk mendapatkan detail, meskipun bukan ciri-ciri wajah yang ia pertanyakan. “Apa mereka membawa sesuatu, kek? Kereta misalnya? Atau sesuatu yang lain?”
Kakek itu terlihat berfikir, kemudian dia mengangguk sedikit ragu.
“Aku tidak yakin, tapi aku melihat salah satu dari mereka membawa seseorang yang sepertinya tidak sadarkan diri di punggung kuda.”
Junot meremas jemarinya geram. Ia bisa menebak siapa itu. “Jadi mereka pergi ke arah hutan?” kakek itu mengangguk yakin kali ini. Ia melihat dengan jelas jika tiga orang berkuda itu memilih jalur hutan dan menghilang disana.
“Terima kasih, kek. Silahkan melanjutkan pekerjaan kakek. Maaf mengganggu.”
Sang kakek pergi setelah mengangguk sebagai jawaban atas permintamaafan dari Junot.
__ADS_1
Dan sekarang Junot yakin kemana akan memacu kemana arah kaki kudanya berlari. []