
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan GREEN kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
Green pernah tidak mengakui Aruchi sebagai ayahnya karena sikap arogant dan juga serakah pria tua itu. Green juga pernah tidak mengakui Aruchi adalah raja yang bijak, karena dia hanya melihat sisi buruk yang dimiliki pria tua itu. Tapi, mendengar Aruchi hendak di habisi, apalagi oleh wanita yang ia pilih untuk mendampinginya, Green tidak bisa tinggal diam. Bagaimanapun, Aruchi adalah ayahnya. Ada darah pria itu di dalam dirinya.
Dan saat Aruchi kembali dari perjalanan jauh meninjau sebuah pembangunan di perbatasan kawasan Amber, Green segera menemui pria itu dan memberitahukan kebusukan Hellen.
Tetapi, semua yang dikatakan Green mendapat tanggapan yang tidak sesuai harapan, Aruchi justru marah karena Green menuduh Hellen dengan sebuah omong kosong.
“Aku tidak bicara omong kosong, Yang mulia. Nyawa anda sedang terancam. Dan orang yang ingin melakukan kejahatan itu adalah ratu Hellen.”
Sekali lagi, Aruchi menggeleng. Ia tidak percaya pada ucapan Green.
“Green, mengapa kamu terlihat sangat tidak menyukai Hellen? Dia wanita yang baik.”
Green menarik sudut bibir membentuk seringai. Mungkin, Hellen yang dilihat Aruchi, amat sangat berbeda dengan Hellen yang dilihat Green. Wanita itu menjalankan perannya dengan baik. Topeng yang dikenakan betul-betul terpasang sempurna.
“Jika tidak percaya, aku bisa membuktikannya. Pangeran—”
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, muncul sosok yang sedang menjadi topik pembicaraan. Sosok yang betul-betul sangat dibenci oleh Green.
__ADS_1
“Ah, kapan yang mulia datang?” potong Hellen yang tiba-tiba muncul di ruang pertemuan, dimana Green dan Aruchi sedang berada. Berjalan dengan langkah seolah sedang merindukan sang raja. Padahal, dimata Green, tingkah Hellen sungguh memuakkan, membuat perutnya mual dan ingin memuntahkan semua isi lambung didepan muka Hellen.
Aruchi tersenyum hangat kepada Hellen, senyuman hangat yang penuh cinta. Sedangkan Green, menatap jijik ke arah Hellen yang sedang duduk di samping Aruchi dan mencium pipi berkerut pria tua yang tak lain adalah ayahnya.
Pria bodoh. Bagaimana dia bisa jatuh oleh pesona kebohongan yang dibuat wanita ular itu?
Green masih mengamati bagaimana Hellen banyak bicara, menceritakan ini dan itu, menjelaskan berbagai pola pikir dan bla..bla..bla... Ajaibnya, wow, Aruchi percaya begitu saja.
“Wanita licik!” gumam Green yang masih bisa terdengar jelas di telinga Aruchi maupun Hellen. Kedua presensi itu lantas menatap kearah Green. Terutama raja Aruchi yang membinarkan tatapan geram dan pias akan ucapan yang dilontarkan putrinya kepada Hellen.
“Green!” bentak sang ayah. Ia tidak ingin anak yang seharusnya menghormati orang tuanya mengatakan hal seburuk itu. “Jaga ucapanmu!”
Sukses. Green sukses membuat Hellen tertawa bahagia didalam hati, karena kebencian raja Aruchi semakin bertambah.
Green mendorong mundur kursi yang ia duduki, ia berdiri angkuh dengan lengan dilipat didepan dada, menatap Hellen dengan sorot benci yang begitu kuat dan mendominasi. “Maaf ayah. Untuk kali ini, aku tidak akan melakukannya. Wanita ini benar-benar tidak baik, dan aku tidak ingin mendengar apalagi menghormatinya. Dan yang terpenting, dia bukan ibuku.”
Green tidak gentar sedikitpun. Ia pernah menghadapi berbagai jenis hewan buas di hutan. Anggap saja Hellen salah satu dari hewan buas itu. Melibas dan memusnahkan yang berbahaya, tidak ada salahnya bukan?
“Kenapa kalau aku tau?” tantang Green. Ia hanya tidak tau jika Hellen lebih mengerikan dari hewan-hewan buas yang pernah ia takhlukkan. “Apa kamu akan memusnahkan aku juga?”
Jarak mereka tidak lagi terpisah arah. Hellen semakin dekat dan berniat menepuk lengan Green agar gadis itu sadar dan berhenti mengganggu rencananya. Tapi respon Green berbeda dengan yang ia harapkan. Green menepis kasar telapak tangan Hellen, membuat wanita itu geram setengah mati, dan tiba-tiba menyahut wajah Green, mencengkeram kuat rahang putri tirinya itu dengan penuh gelegak emosi dan kabut angkara pada kedua sorot mata nya. Tersenyum pongah, bahkan membuka kedua matanya lebar-lebar untuk menitahkan bahwa Green harus tunduk kepadanya. “Ya. Bahkan akan lebih menyakitkan dari yang kamu kira.” jawab Hellen penuh penekanan. Ia tidak sedang bermain petak umpet dengan teman bermain masa kecil, Hellen sedang menginginkan sebuah kekuasaan.
“Ch!! Anda pikir saya takut? Ratu Hellen yang terhormat, jika anda ingin bermain-main dengan hidup seseorang, anda juga harus waspada kepada diri anda sendiri. Nyawa anda akan menjadi taruhannya.” ucap Green mencoba mensugesti otak Hellen agar lebih waspada kepadanya.
Wajah Green menoleh kasar sebab Hellen membuangnya bak sebuah benda yang tidak lagi berguna dimatanya. Lantas, sebuah cekikan kuat dileher, membuat nafas Green tercekat, hingga nyaris limbung diambang kesadaran.
“Ingat baik-baik yang aku katakan. Diam dan jangan mencampuri urusanku. Kamu akan tetap hidup dan—”
__ADS_1
Green meronta karena ia benar-benar akan mati jika diam saja. Ia mendorong kuat lengan dan tubuh Hellen hingga wanita itu jatuh ke terjerembab belakang, menabrak sebuah meja dan menimbulkan kegaduhan karena beberapa benda yang terbuat dari metal berisi bunga dan hiasan ruangan turut terjatuh ke atas lantai.
“Sial!” umpat Green sambil mengusap lehernya yang sakit, dia sampai terbatuk hebat hingga wajahnya memerah karena kehilangan banyak oksigen di paru-paru. “Kenapa ayah menikahi iblis sepertimu, wanita jahat!” Sarkasnya. Green memiliki kuasa yang sama besarnya dengan Hellen. “Aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku sendiri jika sampai kamu menyakiti ayahku! Aku bersumpah atas nama ibuku! Ingat itu!” lanjutnya sambil menunjuk wajah pongah Hellen yang masih bisa tersenyum meskipun Green mengancamnya demikian.
Hellen bangkit, menepuk pakaiannya yang tidak kotor, lalu kembali mendekat pada sosok Green. “Lakukan, jika kamu bisa, gadis angkuh. Dan kamu akan menangis di bawah kakiku karena tidak bisa mewujudkan sumpahnya itu.” tantang Hellen tak gentar, ia tidak mau berubah lemah hanya karena ancaman gadis cilik yang masih berlindung dibawah ketika sang ayah. Lantas Hellen melanjutkan. “Karena aku adalah wanita yang bisa membuat dia jatuh dalam jerat pesona ku. Ingat itu! Aku adalah wanita yang bisa mengendalikan ayahmu yang bodoh itu, dan kamu tidak akan pernah berhasil menghentikan aku, putri Green.” []
^^^to be continued.^^^
...____________...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—WHITE (Fiksi Modern//darkromance/angst/)
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
__ADS_1
See You.