GREEN

GREEN
Chapter 17


__ADS_3

...Happy Reading all......


...Masih adakah yang menunggu Green?...


...Jangan lupa tinggalkan jejak dukungannya ya teman-teman,...


...Thank you....



Suara nafas yang saling bersahutan, berhembus menyapa wajah satu sama lain. Bibir yang beradu tanpa berhenti meraup rasa manis yang candu, membuat dua insan manusia itu tidak ingin berakhir begitu saja. Junot yang sudah hampir satu minggu tidak datang untuk melihat wajah ayu Green, sangat merindukan wanitanya itu. Entah mengapa, sejak Green menyerahkan hal paling berharga milik wanita itu, Junot tidak bisa berhenti memikirkannya.


Junot melepas ciumannya, mengusap bibir Green dengan ibu jari, lantas bertanya dengan suara yang masih parau, di depan wajah wanitanya. “Apa perlu aku tinggal di sini untuk membantumu memecahkan kasus konspirasi buatan ratu Hellen?”


Green menggeleng. Ia hanya ingin memberitahu satu hal kepada Junot. Yakni, “Aku dan pangeran Havier akan dinikahkan bulan depan, akan tetapi, ayah tiba-tiba saja memutuskan untuk menunda nya.”


Sontak, Junot menarik diri. Dia menjauh dari tubuh Green yang sebelumnya berada dalam kungkungan tubuh kekarnya. “Apa itu bagian dari rencana?”


Mengapa Junot bisa menebak begitu?


Green menatap lekat manik Junot, lantas dia mengangguk. “Ya, bisa jadi pangeran Havier yang memintanya. Mungkin itu bagian dari rencana dari pangeran Havier untuk menguak kasus ini didepan raja Aruchi. Tapi, mengapa kamu bisa menebak itu?”


“Terlalu mudah dibaca, Green. Wanita itu tidak memiliki Skill yang mumpuni untuk membuat konspirasi. Kamu pernah mendengar tentang ayah dan ibu Grey?” tanya Junot yang hanya mendapat ekspresi datar dari Green. “Mereka juga korban konspirasi, dan saudaranya sendiri yang membuat konspirasi itu. Tanpa bisa di baca oleh satu orang pun.”


“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”


Junot kembali mendekat, mengecup singkat bibir Green lantas berbisik. “Aku akan menunjukkannya padamu.”


***


Biasanya, Hellen akan menghabiskan waktu untuk mandi air hangat dengan aroma therapy setiap pagi. Namun mendengar raja Aruchi menunda tanggal pernikahan Green, wanita itu urung merendam dirinya di bak berisi air hangat penuh, dan memilih bertemu raja Aruchi untuk membicarakan hal tersebut.


Wajah Hellen sudah bersungut-sungut karena tidak setuju dengan keputusan sang raja yang menunda pernikahan Green. Itu semua berarti, dirinya harus bertahan lebih lama untuk melihat Green tetap berada diistana, dan apa yang di inginkannya tidak akan terwujud dalam waktu dekat.

__ADS_1


“Yang mulia raja, mengapa anda menunda pernikahan putri Honey. Bukankah Anda sudah tidak sabar untuk melihatnya bersanding dengan pangeran Havier?” cerca Hellen tak terima setelah pintu ruangan terbuka dengan dentuman cukup keras saat pintu itu menabrak dinding.


Aruchi diam, menatap lurus pada sosok Hellen. “Kenapa kamu terlihat marah seperti itu, ratu ku?” tanya Aruchi yang tentu saja terkejut melihat kedatangan Hellen secara tiba-tiba dan tanpa diminta bersuara lantang menentang pernikahan Green yang di undur.


“Saya tidak mau menanggung malu jika sampai pernikahan itu mengalami kegagalan, yang mulia.”


“Tidak. Kita tidak perlu merasa malu, pernikahan ini hanya diundur, bukan di batalkan.”


Benar. Hellen merasa kecolongan satu hal. Seharusnya dia tidak boleh se-gegabah ini, seharusnya dia berpura-pura tidak mengetahui apapun ketika Green sedang mencari tau tentang rencananya membuat konspirasi demi menguasai kerajaan. Ya, seharusnya begitu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, sudah terlanjur. Yang ada sekarang hanya harus memutar otak untuk mencari cara lain agar Green cepat menikah dengan pangeran Havier.


Hellen tersenyum dalam hati ketika ide-ide lain muncul berdesakan didalam otaknya. Dia tertawa puas di dalam hati, dan menunjukkannya dengan sebuah helaan nafas yang cukup besar di depan Aruchi.


“Baiklah kalau itu keputusan anda, yang mulia. Saya tidak bisa berbuat apapun.” tuturnya lembut sembari membungkuk lima belas derajat. “Kalau begitu, saya undur diri.”


***


Junot bersiap untuk meninggalkan Amber. Dia menuju tempat raja Aruchi berada untuk berpamitan. Seburuk apapun hubungan mereka dulu, Junot tidak ingin bersikap buruk dengan acuh dan bersikap tidak sopan kepada raja Amber. Dia harus menghormati setiap ketentuan yang berlaku di kerajaan Amber.


“Selamat pagi, yang mulia.” sapa Junot dengan membungkuk lima belas derajat serta telapak tangan yang ia letakkan didepan dada sebagai bentuk hormat.


“Iya, yang mulia. Kemarin sore saya sampai. Dan hari ini saya mau berpamitan.”


Aruchi mengangguk paham. Jika boleh berkata jujur, Aruchi sama sekali tidak suka dengan keberadaan Junot di kerajaan Amber. Apalagi, laki-laki itu dekat dengan putri kesayangannya. Namun Aruchi tidak bisa berbuat banyak karena Green melarangnya untuk menyakiti Junot, jika dia tidak ingin Green menghilang dari Amber.


“Panglima Jun,” panggil Aruchi membuat Junot mengangkat wajah dan menaruh seluruh atensi pada sang raja. “... bisa kita bicara sebentar?”


Junot mengerutkan kening. Ia menerka beberapa hal tentang apa yang akan dibicarakan raja Aruchi dengannya. Dua diantaranya adalah, tentang hubungannya dengan Green. Atau, malah ingin membicarakan tentang konspirasi yang ia ketahui diam-diam. Dua kemungkinan besar itu mematik rasa ingin tau Junot untuk menjawab, “Tentu, yang mulia. Dengan senang hati.”


Aruchi memberi isyarat kepada beberapa penjaga dan tentu saja panglima yang selalu menemaninya kemana dan dimanapun ia berada.


Setelah pintu ruangan itu ditutup dan dijaga ketat diluar sana, Aruchi mempersilahkan Junot untuk duduk berseberangan dengannya. Tatapan mereka beradu, dan raja Aruchi memecah keheningan. “Aku ingin mengatakan beberapa hal yang harus kamu jaga kerahasiaannya.”


Junot mengangguk.

__ADS_1


“Aku membicarakan ini denganmu, karena setauku, kamu adalah panglima yang cerdas, tangguh, dan memiliki banyak trik untuk mengungkapkan kasus terselubung.”


Benar dugaannya. Raja akan berbicara tentang hal kedua yang ada didalam otaknya, yakni tentang konspirasi.


“Terima kasih atas pujian anda, yang mulia.” jawab Junot merasa tersanjung atas pujian yang diberikan Aruchi untuknya. “Jadi, apa yang ingin yang mulia bicarakan dengan saya.”


Aruchi menegakkan punggung. Ia meletakkan kedua lengannya bertumpu diatas lutut, menatap lekat ke arah Junot. “Ada konspirasi di dalam istana,”


Ya, Junot tau itu dari Green.


“Bantu aku memecahkan siapa dalang di balik konspirasi ini,” pinta Aruchi tanpa basa-basi menutupi keinginannya kepada Junot.“Tentu saja selain ratu Hellen.”


Junot menurunkan pandangan ke arah sepatu boots yang membalut kedua kakinya. Junot tidak bisa memutuskan sepihak, mengingat dirinya bukan berasal dari Amber. Ada tanggung jawab besar yang ia emban di Geogini yang tidak bisa ia lepaskan begitu saja.


“Aku akan mengirim surat kepada raja Grey agar mengutusmu melalui surat resmi.”


Junot tau jika Aruchi pandai dan detail dalam hal seperti ini.


“Saya tidak yakin pangeran Grey akan mengizinkan saya pergi terlalu lama dari Geogini. Geogini butuh saya, dan sebaliknya, saya juga butuh Geogini untuk tempat saya bernaung.”


Aruchi tersenyum masam. “Jadi, kamu ingin menolak permintaanku ini?”


Junot hanya diam terpaku memperhatikan fitur wajah Aruchi yang terlihat berkerut. “Kamu pasti tau, selain aku, nyawa Green juga sedang terancam.”


Mendengar nama Green disebut, Junot mengepalkan tangannya diam-diam. Siapa yang ingin wanita yang tersayang nya dan disakiti?


“Ya, saya tau. Tapi saya tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Atau saya akan dianggap penghianat di Geogini.”


Aruchi paham betul kekhawatiran dalam benak Junot. Tapi Aruchi benar-benar membutuhkan orang seperti Junot. Laki-laki yang penuh intrik.


“Aku akan datang langsung ke Geogini, aku akan bicara dengan raja Grey. Aku pastikan dia akan memberikan izin padamu.”


Tidak ada satu patah katapun terucap dari bibir Junot. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan setelah ini. Mendengar raja Aruchi membutuhkan pertolongannya Ngan, juga nyawa Green yang katanya ikut terancam, membuat Junot ingin segera kembali ke Geogini dan membawa izin resmi dari Geogini.

__ADS_1


“Sebagai hadiahnya, aku akan memberikan restu untuk hubungan kalian berdua.” []


^^^to be continued.^^^


__ADS_2