
GREEN UPDATE
SILAHKAN LUANGKAN WAKTU UNTUK MEMBERI DUKUNGAN DENGAN CARA LIKE DAN KOMENTAR
SELAMAT MEMBACA
🏰🏰🏰
Hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan untuk Havier. Dia sudah menempuh perjalanan dua kali lipat karena harus kembali ke Amber untuk mencari tau kebenaran tentang Green.
Waktu yang biasanya memakan dua hari perjalanan, kali ini hanya ditempuh dengan waktu sehari semalam saja. Havier benar-benar murka karena tau siapa pelaku yang sebenarnya, namun ia tidak mau begitu saja percaya dengan asumsinya sendiri sebelum bertanya atau melihat langsung apa memang benar Hinawa yang melakukan semua itu.
Setelah mendapat beberapa informasi dari Amber, Havier bergegas memacu kaki kudanya untuk mencari keberadaan Green. Ia tidak peduli tubuhnya lelah, yang terpenting, Green selamat.
Kini, Havier menghentikan langkah kudanya karena dihadapkan pada sebuah persimpangan yang bisa saja membuat dirinya tersesat. Akan tetapi, matanya yang jeli itu menangkap bekas tapak kuda yang hampir tertutupi lagi oleh dedaunan kering yang tersapu angin.
Ia pun memberi perintah untuk pengawal bersenjatanya itu mengikuti dirinya. Dia memilih mengikuti sisa tapak kuda tersebut, hingga dia sampai di jantung hutan yang rumit.
Matanya kembali menelisik, barangkali ada sesuatu selain tapak kuda sebagai petunjuk. Dan dia mendapatkannya, sebuah tanda penunjuk yang diikat di ranting pohon, membawa Havier kembali menarik tali kekang kudanya.
Mungkin dia terlihat tidak tau malu karena mengikuti jejak orang lain yang mungkin juga sedang melakukan perjalanan untuk mencari putri Green. Tapi dia mau mengesampingkan itu dan membiarkan dirinya malu, karena sejujurnya dia juga memiliki niat baik yakni mencari putri Green yang memang memikat hatinya. Selain itu, dia juga membawa pasukan yang bisa membantu pertahanan jika saja orang yang menculik Green itu, sudah mempersiapkan semuanya, termasuk memperhitungkan serangan yang akan mereka terima.
Havier terus mengamati sekitar dan mengikuti arah dimana tanda itu terikat tanpa sepengetahuan prajurit pengawalnya, hingga hari sudah gelap dan tentu saja mereka butuh istirahat karena jarak pandang didalam hutan yang sulit ditembus ketika gelap.
Dan disanalah dia menemukan sekelompok orang yang juga sedang mencari Green. Havier menginterupsi agar pasukannya tetap waspada dan mereka akan bergabung sebagai satu kesatuan.
Yang membuat Havier semakin tidak percaya dengan semua kejadian ini, adalah terlibatnya Junot dalam pencarian.
Tidak menutup kemungkinan Aruchi yang meminta. Tapi Havier menangkap maksud lain dari pergerakan Junot setelah mendengar penuturan raja Aruchi tadi pagi sebelum raja tua itu bergerak ke arah berlawanan dengannya, juga untuk mencari Green.
Aku belum bertemu dengan panglima Junot.
__ADS_1
Hal itu sedikit mengganggu pikiran dan ketenangan hati Havier.
“Pangeran Havier?” panggil Junot tak percaya dengan kehadiran Havier secepat ini, padahal sehari yang lalu dia kembali ke kerajaan Shibu.
“Aku mendapat kabar jika putri Green menghilang karena diculik.” terangnya memberi penjelasan agar tatapan aneh Junot padanya menghilang. “Lalu aku mencarinya sebagai calon suaminya.”
Mendengar Havier mengatakan itu, Junot mengubah wajahnya yang tadi ramah, kini menjadi datar dan dingin. Ucapan Havier itu seolah memberinya penekanan agar sadar diri dan posisi.
“Apa kamu juga mencari putri Green?”
Junot tidak bisa berbohong. Dia mengangguk. Dia sadar mungkin akan sedikit rancu, tapi mau bagaimanapun, Green adalah bagian dari hidupnya. Wanita itu sudah menguasai seluruh hatinya untuk tidak mungkin lagi berpaling kepada wanita lain.
“Kita bisa mencarinya bersama.” seru Junot agar tidak ada kecanggungan yang akan terjadi jika topik pembicaraan mereka terputus. “Bagaimana anda bisa sampai disini, pangeran?”
Havier tertawa getir di sudut bibir. Rasa tidak tau dirinya akan terbongkar saat ini.
“Aku melihat jejak kaki kuda yang mengarah ke jantung hutan. Kemudian aku melihat Morse di ranting pohon, aku mengikuti itu dan bertemu kalian disini.” jujurnya tidak ingin membuat suasana menjadi runyam. Sedangkan Junot hanya mengangguk rela jika Havier mengikutinya. Apa salahnya? Toh tujuan mereka sama, dan mereka bisa bersatu dan bekerja sama untuk kembali menemukan Green.
“Itu...siapa?” tanya Havier sambil memicing menajamkan pandangan pada sosok yang diikat di salah satu pohon.
Havier berjalan mendekat ke arah pria muda itu, kemudian disusul Junot.
“Aku menangkapnya dan memaksanya untuk menunjukkan jalan ke tempat Hellen dan sekutunya berada sekarang.”
Hari Havier mendadak pedih mengingat pamannya juga terlibat. Junot pasti akan menghabisi pamannya jika sampai dugaan laki-laki ini benar adanya.
“Memangnya, kamu yakin dia sekutu Hellen? Atau orang yang hanya sengaja—”
“Tidak. Aku yakin dia bagian dari mereka.” kata Junot yakin sekali tanpa memutus tatapan tajamnya pada sosok pria yang kini juga sedang menatapnya. “Aku, akan mencari identitasnya, lalu menghancurkan keluarganya jika dia masih bungkam, besok pagi.” ancam Junot membuat pria itu mendelik lebar dan membuat Junot tertawa puas. “Aku bisa melakukan itu dengan mudah, tuan pendiam.”
***
Keesokan harinya, dua kelompok itu kembali bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Junot bahkan Havier semalaman berganti berjaga untuk meminimalisir kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
__ADS_1
Pria yang menjadi tawanan mereka kemungkinan besar juga berada dalam bahaya saat ini. Bisa saja dia akan dibunuh diam-diam untuk menghilangkan jejak.
“Sekarang, apa yang akan kamu lakukan, panglima Jun?”
Junot memperbaiki posisi sepatu boots nya, kemudian berdiri tegak sambil memasukkan pedang pada selosong. “Ayo kita cari tau dulu dimana tempat Hellen berada, pada pria itu.”
Semalam, Havier tergoda untuk melakukan sesuatu kepada laki-laki itu. Ia ingin melepas ikatan di tubuh pria tersebut agar lari dan menghilang, agar Junot tidak bisa menemukan pamannya yang penghianat itu. Tapi ketika sebesit ingatan wajah Green berkelebat, Havier mengurungkan niatnya dan mulai meneguhkan hati pada prinsipnya sendiri. Tidak ada ampun untuk orang yang sudah berkhianat.
Junot mendekati pria yang masih nyaman duduk terikat di pohon itu, lantas menepuk pipinya beberapa kali agar terbangun.
Setelah berhasil membuat pria itu membuka mata, Junot menyuguhinya dengan tatapan tajam dan senyuman kejam.
“Baiklah. Kamu masih memiliki kesempatan untuk melindungi keluargamu dengan memberiku tau dimana mereka menyekap putri Green.”
Pria itu masih diam.
Junot tidak mau memaksanya dengan kekerasan. Dia hanya perlu menyerang mental orang semacam ini agar tunduk dan takhluk padanya.
“Ah, baiklah. Kalau kamu bersikeras tetap diam.” Junot berdiri. Dia mbuang muka dan memutar lidahnya didalam mulut. “Aku pastikan, semua keluargamu akan menanggung akibat dari perbuatan—”
“Aku akan mengantar kalian kesana.” katanya, pada akhirnya. “Tapi tolong selamatkan keluargaku,”
Junot mengernyitkan alis. “Kamu diancam?”
“Sama persis seperti ancamanmu.” sahutnya cepat dengan tatapan sendu. “Jika aku berani membocorkan informasi atau memberitahu lokasi mereka berada, keluargaku menjadi taruhannya.”
Junot mengerti sekarang mengapa pria ini diam saja ketika dia bertanya tentang lokasi Hellen menyembunyikan Green berada.
Junot kembali berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh si tawanan, lalu mengusap bahunya. “Akubpastikan mereka yang akan binasah sebelum menyentuh keluargamu. Pegang kata-kataku.”
Pria itu bisa menghirup udara lega. Setidaknya, dia tidak akan melihat keluarganya disakiti karena keputusannya menjadi pembelot.
“Terima kasih atas kebaikanmu, panglima. Aku akan memegang ucapanmu. Tolong selamatkan keluargaku.”
__ADS_1
“Ya. Aku akan menepati ucapanku.” []