
GREEN UPDATE
SELAMAT MEMBACA
JANGAN LUPA 👍 NYA YA, BIAR AUTHORNYA SEMANGAT NULIS 😊
🏰🏰🏰
Green menghentakkan sepatunya diatas dedaunan kering yang menimbun tanah. Dia tidak terima karena Junot memaksanya pulang ketika dia ingin bermalam disana bersama pria tersebut. Sedangkan Junot, hanya ingin semuanya tetap kondusif. Dirinya yang bisa menjalankan misi dengan aman, dan juga bebas dari rasa khawatir tentang raja Aruchi yang murka karena menangkap basah keduanya berada dalam satu ruangan.
“Aku marah.” ucap Green yang berada didepan Junot dan berjalan penuh emosi. Sedangkan pria itu hanya diam mendengarkan setiap bentuk protes wanita kesayangannya.
“Marah sekali.” tekannya pada setiap kalimat yang ia ucapkan, yang tertuju kepada Junot. Pria bertubuh tinggi itu tertawa dalam hati. Wanita satu ini begitu menggemaskan jika sedang kesal. Mari kita goda sekalian.
“Marah kenapa?” tanya Junot lembut.
Seketika Green menghentikan laju kedua kakinya dan memutar tubuh untuk berhadapan dengan Junot. Pria itu terkejut dan menjengitkan kedua bahu karena Green tiba-tiba menghadap ke arah dirinya.
“Astaga. Kamu mengejutkanku, putri.” desis Junot sembari menghela nafas dan mengusap dadanya.
“Kamu tidak membiarkan aku tidur disana. Aku marah karena itu.”
“Tuan putriku yang cantik,”
Oh astaga. Green Samapi menahan nafasnya ketika Junot menyebut namanya seperti itu.
“Saya hanya tidak ingin membuat keadaan menjadi semakin runyam ditengah situasi yang kacau begini.” tukas Junot mencoba memberi pengertian. “Saya juga tidak ingin anda berada dalam bahaya karena pergi keluar istana malam begini tanpa kawalan siapapun.”
Green masih tidak bisa menerima alasan Junot mengusirnya malam ini. Tujuan utamanya datang ketempat itu adalah ingin bersama pria itu, pria yang berhasil menjeratnya dalam sebuah penjara, yang ia beri nama cinta.
“Lain kali, biar aku jemput anda di istana. Tapi sebelumnya kita harus membuat janji dulu.”
“Tidak perlu.” Rajuk Green masih alot dengan keras kepalanya. “Aku kecewa—”
Kalimat itu terhenti oleh ciuman dalam yang diberikan oleh Junot secara tiba-tiba. Karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, green membalas ciuman tersebut hingga berjalan cukup lama.
Setelah decapan lembut mengudara sebagai tanda berpisahnya bilah bibir mereka, Junot menambahkan kata-kata yang tidak ingin dibantah. “Sudah. Kita bisa bertemu lain waktu dan tidak dalam kondisi tengah malam begini, tuan putriku yang cantik.”
Ditengah gelapnya alam yang dibalut rindangnya pepohonan, wajah Green merona tanpa diketahui oleh sang lawan bicara. Green mengulum bibirnya dengan senyuman kaku, akhirnya ia luluh juga.
“Baiklah. Kali ini aku maafkan.”
__ADS_1
Sungguh, Junot ingin sekali mencubit gemas wanitanya itu. Green benar-benar menggemaskan jika sedang merajuk seperti ini, dan Junot menyukainya.
Mereka kembali melewati jalan setapak yang di hiasi sulur-sulur yang menggantung dari pepohonan tinggi, dan dedaunan yang menutupi akar pohon hingga menyebabkan Green beberapa kali hampir tersungkur jika tidak di tahan oleh lengan kekar Junot.
“Nah, inilah salah satu alasanku melarangmu datang malam-malam begini, tuan putri. Kamu bisa terluka karena Medan jalan yang tidak bagus.”
“Aku—”
“Tolong dengarkan aku dan jangan keras kepala.” sahut Junot sebelum Green berhasil menyelesaikan kalimatnya.
“Baiklah.” jawab Green dengan bahu layu dan bibir maju seperti bibir bebek, membuat Junot menahan tawa di balik punggung sempit berbalut gaun malam itu.
***
Sesampainya di batas aman dan mempercayakan green kepada salah seorang prajurit kepercayaan Junot, pria itu menatap manik indah si wanita penuh kasih, lantas tersenyum ketika ingatan tentang hubungan mereka yang sudah sangat jauh terputar di otaknya.
Lengan kekarnya terulur untuk mengusap puncak kepala Green, dan berhasil membuat dua prajurit di sekeliling mereka melongo meneteskan liur karena tidak percaya, Junot kembali memperingatkan Green agar tidak ceroboh dengan pergi sendirian tanpa di kawal. “Ingat, Jangan pergi ke tempatku sendirian lagi. Kalau kamu ingin kesana, aku yang akan menjemputmu.”
Green mengangguk paham.
“Sekarang, kembalilah ke istana. Cepat tidur.”
Lagi-lagi Green mengangguk patuh.
“Tolong antar putri Green sampai di kamarnya dengan selamat.”
“Kamu, hati-hati.” ucapnya dengan wajah merona yang tidak bisa lagi ia sembunyikan diantara pencahayaan obor yang dibawa dua prajurit kepercayaan Junot.
Pria bernama Junot itu mengulas senyum, kemudian meraih puncak kepala Green untuk ia tepuk dua kali. Ia lantas mendekatkan wajahnya di telinga Green yang membuat wanita itu menegang, kemudian berbisik. “Iya, sayang. Jangan buat dua prajurit ini bingung dengan sikap kita.”
Kedua prajurit yang melihat interaksi mereka semakin bingung, namun tidak berani melakukan apapun kecuali diam.
Setelah menjauhkan diri, Junot melambaikan tangan agar Green cepat pergi sebelum seseorang melihatnya, terutama Hellen.
Tanpa mereka sadari, seseorang sedang memperhatikan mereka dikejauhan. Havier, yang malam ini sedang berusaha mencari informasi tentang Hellen dan sekutunya, tanpa sengaja melihat Junot dan Green bertemu diam-diam.
“Mengapa mereka bertemu malam-malam begini?” tanya Havier bermonolog. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat jika sekarang Green sudah beranjak meninggalkan Junot bersama dua orang prajurit.
“Apa mereka menyembunyikan sesuatu dariku?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus bermunculan dalam benak Havier. Dia menduga jika Junot dan Green memang sedang menyembunyikan sesuatu dari semua orang, termasuk raja Aruchi. Tidak ingin hanya bertanya-tanya dan menerka, Havier mengambil langkah. Dia berjalan menyusuri koridor yang sepi dan hanya dijaga oleh para prajurit yang bertugas malam.
Langkahnya terus terayun menuju kamar Green yang tepatnya berada di istana utama. Mungkin disana dia akan sedikit kesulitan mendapat akses masuk. Tapi dia sudah memikirkan cara bagaimana dia bisa menerobos penjagaan itu.
__ADS_1
Dan benar saja, sesampainya di depan pintu istana utama, Havier dihadang oleh empat prajurit beratribut lengkap yang sedang mengemban tugas melindungi anggota kerajaan yang sedang beristirahat didalam sana. Tapi, satu pertanyaan lain muncul di kepala Havier,
Jika tempat ini dijaga seketat ini, lalu darimana putri Green bisa keluar?
Dan pertanyaan itu menjadi hal lain yang harus ia ketahui.
“Ada perlu apa anda datang ke istana utama tengah malam seperti ini, pangeran?”
“Aku ingin bertemu putri Green.” jawab Havier penuh percaya diri, tidak menunjukkan kegugupan sama sekali.
“Anda tidak bisa masuk, semua penghuni istana sedang beristirahat. Termasuk putri Honey.”
Sudah ia duga akan seperti ini. Tapi Havier sudah memiliki rencana sejak awal untuk menembus pertahanan para penjaga malam ini.
“Aku memiliki janji penting dengan putri. Dan dia memintaku datang tengah malam.” ucap Havier lancar tanpa kendala. “Kalau kalian tidak percaya, silahkan masuk dan tanyakan pada putri Green. Aku akan menunggu dengan sabar disini.”
Para prajurit itu saling melihat. Ada gerakan bimbang pada gestur tubuh keempat orang tersebut. Lalu, salah satu prajurit yang mungkin adalah ketua jaga malam ini, menatap ke arah Havier dengan manik mata tajam. “Saya akan mengantar anda sampai urusan anda selesai.”
“Aku—”
“Jika anda menolak, silahkan kembali ke tempat istirahat Anda, dan temui putri Green besok pagi.” katanya tegas tidak ingin dibantah. Karena keselamatan anggota kerajaan sekarang sedang diembannya, menjadi tanggung jawabnya.
Havier menghela nafas. Ia sebenarnya tidak ingin jika pembicaraannya nanti harus terdengar orang lain, tapi mau bagaimana lagi?
“Baiklah.”
Prajurit yang berbicara dengan Havier itu memberi isyarat kepada dua orang yang sedang menghalangi jalan masuk dengan kedua tongkat, untuk membuka dan memberi akses bagi Havier dan si ketua masuk ke dalam istana utama.
“Terima kasih. ” ucap Havier ketika berjalan dibelakang pria bertubuh sedikit tambun dan berwajah gahar itu agar suasana tidak terlalu mencekam.
Hingga pada akhirnya, mereka hampir sampai di tempat Green. Havier juga perlu memastikan jika green sudah benar-benar kembali ke kamarnya, atau semuanya akan kacau.
Prajurit itu kembali menitahkan prajurit yang kini sedang berjaga didepan pintu kamar Green untuk mengetuk pintu berukir lambang kerajaan Amber itu.
Tak butuh waktu lama, pintu terbuka dan dayang yang biasanya bersama Green, muncul dari balik pintu dengan wajah sedikit sembab, khas orang bangun tidur.
“Maaf mengganggu waktu istirahat Anda dayang Lila. Tapi, pangeran Havier bilang jika dia memiliki janji dengan putri Green.”
Sayang bernama Lila itu menoleh kebelakang. “Benarkah? Tapi tuan putri tidak bicara apapun kepada saya. Termasuk janji bersama pangeran Havier.”
“Aku memang ada janji.” sahut Havier cepat.
“Benarkah? Apa tuan putri Green lupa?” gumam Lila sambil kembali berbalik melihat kedalam kamar. “apa tidak sebaiknya besok pagi saja? Tuan putri sepertinya kelelahan. Dia tidur pulas.”
__ADS_1
Tidur pulas? Apa dayang Lila diberi ramuan agar tertidur nyenyak dan tidak tau apa yang dilakukan Green?
“Ya. Katakan, aku datang untuk menepati janjiku.” []