
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan GREEN kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
Havier datang kembali ke Amber setelah satu Minggu lalu kedatangannya bersama sang ayah. Kali ini dia sendirian, menunggu Green menyapanya di balkon ruang tunggu yang ada dilantai dua colloseum istana Amber.
Ia menatap lamat pada bangunan yang terlihat menyerupai gudang di bagian paling jauh dari istana Amber. Ia pernah hampir mengetahui fungsi tempat itu, jika saja seseorang tidak menghentikannya. Oslo, orang yang Havier ketahui selalu mendampingi Hellen adalah orang yang berhasil menggagalkan usahanya mencari titik terang sebuah kejanggalan sikap Hellen. Ya, Havier mengetahui itu dari raut wajah Hellen yang selalu saja terlihat ramah, namun memiliki tujuan licik dibalik topeng yang dikenakannya.
Pernikahan akan digelar tiga Minggu lagi, tapi dia sendiri maupun Green belum membicarakan apapun untuk mempersiapkan diri.
“Maaf membuat anda menungggu, pangeran Havier.” ucap Green menarik atensi Havier yang masih menyorot bangunan disudut istana.
Havier tersenyum, lantas membalik posisinya berdiri untuk menyambut Green dengan sebuah uluran tangan. “Tidak. Aku akan siap menunggu anda selama apapun, putri Green.”
Akan tetapi Green memilih abai dan berjalan melewati Havier begitu saja, lantas berhenti pada pembatas besi dan mengedarkan pandangan ke arah bebas. “Apa ada hal penting yang hendak dibicarakan? Mengapa tiba-tiba Anda datang ke istana tanpa memberi kabar terlebih dahulu?”
Dari sekian banyak orang yang tinggal di istana Amber, hanya Havier yang bisa menebak maksud Hellen menjodohkan dirinya dengan Green. Sebagai pengalihan. Sure, itu adalah alasan dasar yang ditangkap Havier dari pernikahan yang hendak digelar itu.
“Ya. Ada. Tentang ratu Hellen.”
Green seketika menoleh, ia menatap intens kepada sosok Havier yang kali ini juga sedang menatap dirinya. “Ada apa dengan ratu Hellen?”
Havier menghela nafas dalam, menoleh ke seluruh penjuru untuk memastikan tidak ada siapapun selain mereka berdua. “Apa anda tidak merasa aneh dengan pernikahan mendadak ini, putri?”
Tentu saja. Green bahkan menolaknya mentah-mentah, namun terpaksa tidak berkutik lantaran ayahnya tetap memaksa. Green bahkan menyusun rencana melarikan diri tepat dihari pernikahannya nanti, jika saja kalimat selanjutnya yang melecut dari bibir Havier begitu mengejutkan baginya. “Dia terlihat seperti sedang menyusun sebuah konspirasi.”
“Konspirasi?”
“Ya. Konspirasi. Ada satu rahasia pahit yang belum aku katakan kepadamu.”
Menarik. Green semakin memperdalam tatapannya pada pupil mata Havier guna mencari sebuah kebohongan. Namun nihil, mata itu menunjukkan binar kejujuran.
“Apa?”
__ADS_1
Havier tersenyum sembari menatap lantai tempatnya berpijak. Ia mungkin akan salah bicara jika Green murka mendengar apa yang akan ia katakan. Tapi, Havier tidak ingin menyembunyikan hal sepenting ini dari Green.
“Ratu Hellen, memiliki hubungan gelap dibelakang raja Aruchi.”
Green menautkan kedua alisnya. Bertanya-tanya tentang informasi mengerikan yang disampaikan oleh Havier kepadanya.
“Dan orang itu adalah ayahku. Raja Nagawa.”
Apa? Kegilaan macam apa yang sedang dilakukan wanita itu?
Jantung Green seolah merosot jatuh ke dasar lambung. Ia ingin sekali menyangkal tentang informasi yang disampaikan Havier, namun dia memilih diam dan menunggu laki-laki itu melanjutkan kalimatnya.
“Aku mengetahui itu beberapa bulan lalu, sebelum kita di paksa bertemu dalam sebuah perjodohan.”
Langit tiba-tiba berubah kelabu, dan titik-titik air jatuh menyapa bumi Amber yang masih basah.
“Untuk itulah, aku datang kesini dan ingin memberitahu tentang kenyataan pahit ini, yang mungkin akan berdampak buruk jika tidak segera diberitahukan pada pihak Amber.”
“Bagaimana bisa aku mempercayai ucapanmu ini, pangeran Havier?”
Havier menarik lengan Green untuk masuk kedalam bangunan karena rintik gerimis sudah berubah menjadi hujan disertai angin yang cukup kencang.
Green menarik telapak tangannya yang masih berada dalam genggaman Havier. “Kita ikuti permainan mereka. Kita bongkar perlahan-lahan keburukan ratu Hellen didepan raja Aruchi.”
Setuju. Wanita itu memang pantas mendapatkan balasan setimpal atas perbuatannya. Jadi, apa dia harus menikah dengan Havier?
“Lalu, kita harus menikah?” tanya Green ingin memastikan sekali lagi, bahwa jawaban yang akan ia terima bukanlah pernikahan yang disodorkan oleh mereka.
Havier mengangguk.
“Pangeran, apa ini bukan sebuah kebohongan yang sedang kamu buat untuk mengelabui ku agar aku mau menikah denganmu?”
“Jika kamu tidak percaya, coba cari tau tentang gudang yang ada di ujung sana. Gudang itu menyimpan banyak sekali rahasia ratu Hellen.”
...***...
Karena ucapan Havier, Green penasaran dan akhirnya mendatangi gudang yang ada diujung dan sudut istana meskipun hujan masih turun sejak tadi sore.
Bangunan yang terbuat dari kayu jati itu sekilas tidak terlihat mencurigakan. Hanya bangunan yang memang difungsikan untuk menaruh beberapa benda yang tidak lagi terpakai diistana.
__ADS_1
Kaki Green menapak diatas lantai kayu yang lembab. Sesekali ia mengibaskan gaunnya yang sedikit basah terkena hujan. Kemudian berjalan mendekat ke arah pintu yang sialnya di gembok rapat dan Green tidak menemukan alat yang bisa digunakan untuk menghancurkan gembok besar berkarat itu.
Tidak terdengar suara apapun selain gemerisik air langit yang turun dan jatuh diatas hamparan padang rumput luas yang biasa dijadikan pengembala sapi istana merawat sapi-sapi.
Green mendekatkan wajah, menempelkan salah satu sisi agar telinganya bisa mendengar sesuatu dari dalam sana. Green juga sesekali mengintip dari celah kayu, berharap ada sorot cahaya yang menguatkan dugaan Havier jika bagunan ini sangat mencurigakan. Tetapi nihil, didalam sana gelap tanpa pencahayaan sedikitpun.
Namun sesuatu menarik perhatian Green. Jejak basah sepasang sepatu berukuran besar ada di lantai samping bangunan, lalu menghilang di tanah. Satu terkaan mulai merangsek kedalam otak Green, tempat ini memang digunakan dan di kamuflase dengan sangat baik agar orang lain tidak menyadari jika tempat itu sedang digunakan.
“Apa pangeran Havier benar, jika tempat ini memang digunakan ratu Hellen untuk melakukan dan menyusun rencana konspirasi?”
Terkaan itu semakin kuat saat Snow berjalan kesisi belakang gudang. Ia menemukan sebuah pintu samar yang tidak memiliki gembok seperti pada bagian depan. Mungkin ini sebuah pintu rahasia atau sejenisnya, yang di pergunakan untuk keluar masuk agar tidak tersorot dari arah istana. Dan juga, mengapa ada sebuah lubang berukuran cukup besar pada tembok pembatas istana, tepat disisi pintu rahasia itu. Lubang yang sepertinya sengaja dibuat untuk seseorang bisa keluar masuk dengan leluasa dan luput dari pengawasan, lantas diberi penutup berupa bongkahan batu sebesar lobang tersebut.
“Apa-apaan ini? Mengapa ayah tidak melihat dan mengetahui ini?” gumam Green teredam bunyi hujan. Namun tak menghentikan langkah Green yang berusaha mendorong batu besar tersebut, namun sia-sia karena tenaganya yang minim. Kemudian Green memutuskan berhenti dan memilih pintu rahasia itu untuk ia telisik lebih jauh.
Nahas, langkah kaki Green harus terhenti ketika tubuhnya tiba-tiba ditarik seseorang, mulutnya dibekap kuat, gerakannya terkunci, dan ia tidak bisa bergerak sedikitpun ketika ditarik paksa kebelakang.
Green mendongak dan ia terkejut akan presensi yang sedang menahannya. []
^^^to be continued.^^^
...____________...
Hayo tebak siapa?💃💃
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatiannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
__ADS_1
See You.