
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, dan jangan lupa untuk menambahkan GREEN kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
Untuk hari ini hingga satu Minggu kedepan, Junot tidak memiliki tugas yang cukup memberatkan dirinya. Grey juga memberi kebebasan bersyarat, hingga dia bisa meninggalkan istana Geogini tanpa harus terus terikat tanggung jawab. Dia bisa menyerahkan beberapa tugasnya untuk mengecek lokasi perbatasan kepada Orlando. Dan hari ini, dia memutuskan datang ke Amber untuk menengok—apa yang sedang di lakukan—Green.
Seorang penjaga yang menghalau kedatangan Junot didepan pintu istana sudah berhasil diatasi oleh ucapan tegas yang di titahkan oleh sang tuan putri kerajaan, Green. Junot merasa berharga sebab gadis itu selalu menjadi tamengnya ketika berada di Amber.
Seolah belum jera dengan insiden pengusiran yang ia terima setelah membawa Green pergi dari istana, Junot malah datang kembali dengan alasan ingin menengok keadaan Green yang jelas-jelas terlihat sehat dan baik-baik saja.
“Jadi, kamu merindukan ku, panglima?” goda Green, berjalan bersisihan dengan Junot melewati jalan setapak di area taman depan istana seperti saat ini, terasa begitu menyenangkan. Perasaannya begitu indah tak terkira dan meletup bak bunga mawar yang sedang bermekaran.
“Tidak. Aku hanya bosan di Geogini dan ingin mencari teman selain Orlando, Ivory, dan Grey.”
Green tertawa pelan. Mungkin itu alasan yang masuk akal menurut Junot, tapi tidak menurut dirinya. “Ah, kita anggap alasan itu yang paling tepat untuk menutupi rona merah di wajahmu, panglima Junot yang keras kepala dan suka...berbohong.”
Junot mungkin akan marah dan melempar orang tersebut kedalam kolam ikan ganas sejenis hiu laut, jika saja bukan Green.
“Itu bukan alasan. Itu kebenaran, Green.”
Tawa lebar kembali menghiasi wajah ayu Honey Green yang mungkin beberapa hari ini selalu dalam keadaan tegang. Ia bahkan lupa cara tersenyum ketika tidak ada sosok yang membuatnya nyaman ketika berada seorang diri di istana seluas Amber.
“Baiklah tuan panglima. Aku akan menyetujui ide briliant itu.”
Mereka sampai disebuah gazebo bercat abu-abu dan terdapat dua tempat duduk dan satu meja bundar didalamnya. Green duduk, disusul Junot yang juga kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh dari Geogini ke Amber selama satu setengah hari. Harusnya perjalanan itu berlangsung selama dua hari, tapi untuk bertemu Green, dia akan mempersingkat dan memacu kaki kudanya tanpa berhenti selain memberinya rumput dan minuman sebagai sumber energi.
__ADS_1
“Pangeran dari Shibu yang kau tinggal pergi saat itu,” Junot menjeda kalimatnya, menatap Green yang juga kini menautkan tatapan ketika kalimat itu melecut dari bibir Junot. “—apa dia membatalkan perjodohan kalian?”
Satu dengusan nafas kelewat besar keluar dari bibir dan hidung Green. Sebenarnya, dia tidak mau ambil pusing untuk hal itu. Tapi, karena Junot yang bertanya, dia akan membahasnya agar tidak terjadi kesalah pahaman.
“Tidak. Ayah bilang pangeran Havier akan datang lain waktu untuk kembali bertemu denganku. Dan juga, apa kamu tau kalimat konyol apa yang dikatakan pangeran itu?”
Sontak kepala Junot menggeleng. Dari mana ia tau jika Green tidak memberitahunya. Bagi Junot, Green itu selalu aneh.
“Dia tidak akan menyerah meskipun aku menolak dan menghindarinya. Dia akan datang di hari lainnya, dan hari lainnya lagi jika masih tidak bisa bertemu denganku.”
Junot tersenyum melihat ekspresi menggemaskan yang timbul di wajah Green. Selama ini, gadis itu hanya menunjukkan wajah dingin dan ketusnya, tapi tidak sore ini. Green terlihat lebih ekspresif, dan tentu saja...sangat cantik.
“Apa kita melarikan diri lagi, lalu menikah agar ayah dan laki-laki itu menyerah?”
Bola mata Junot melebar sempurna. Lantas, ia mendorong kening Green dengan jari telunjuknya sebagai bentuk kekesalan akan pendapat awur-awuran yang dikatakan Green secara spontanitas. “Dan kau akan melihat mayatku bergelantungan diatas panggung gantung, seperti seorang penghianat atau dicap sebagai penculik putri kerajaan Amber.”
Ah, benar. Green setuju dengan itu. Lalu, bagaimana caranya?
Waah, berbicara dengan sosok Green yang ekpresif ternyata lebih menguras emosi dan isi perut, dari pada menahan lapar ketika memimpin peperangan.
“Green.”
“Ya?”
“Ada satu jalan keluar selain menerima perjodohan itu lalu menikah.”
“Apa?”
Manik mereka bertemu, dan keduanya tidak mau memutus pandang meskipun gelap mulai menyembunyikan warna indah pupil mata indah keduanya.
Perlahan, wajah Junot mendekat pada wajah Green hingga mereka dapat merasakan nafas satu sama lain. Junot memperhatikan bibir peach dan manik milik Green secara bergantian. Kemudian mendaratkan satu kecupan dibibir itu hingga sang empu merona sempurna akan sensasi yang timbul.
__ADS_1
Ini adalah ciuman pertama bagi Green, dan ia merasa sangat bersyukur karena ia dapatkan dari orang yang berhasil membuatnya jatuh hati. Ya, Green tidak mau berbohong dan mengatakan tidak menyukai sosok Junot. Dia bahkan berharap laki-laki itu menjadi orang pertama yang menyentuhnya kelak.
Green melepaskan nafasnya yang tertahan ketika Junot sudah membawa fitur wajahnya menjauh. Pria itu sungguh tidak bisa ditebak dengan mudah. Seperti buah simala kama, Green merasa bimbang dan tidak bisa menetapkan perasaannya yang terus saja membuatnya bingung.
Sunyi, hanya ada deru nafas mereka berdua yang saling bersahutan diantara derik hewan malam yang mulai terdengar membumbung di udara.
“Katakan dengan jujur jika kamu memang tidak menginginkan perjodohan ini.”
Satu pukulan keras mendarat di bahu lebar Junot. laki-laki itu terjingkat karena serangan mendadak yang dilakukan Green. “Apa kamu tidak ingat? Aku sudah menentang semua jenis perjodohan yang dilakukan ayah sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini.”
Siapa yang tidak tau? Junot hanya ingin mencari alasan untuk mengalihkan debar jantungnya yang tidak karuan setelah dengan beraninya mengecup bibir Green. Jika Aruchi melihat yang baru saja terjadi, Junot yakin setelah ini dia akan kehilangan nyawanya ditangan raja Aruchi sebab sudah berani menyentuh sang putri tersayang.
“Berarti kamu harus melakukannya lagi. Meyakinkan raja Aruchi untuk membatalkan perjodohan itu.”
Bicara dengan Junot seperti mengelilingi lapangan berkuda yang berefek sangat melelahkan hingga nafas terasa sesak akibat paru-paru yang mengerut. Green tidak paham mengapa dia bisa menyukai Junot dengan sikapnya yang terlalu kaku dan dingin itu.
“Ya. Aku akan memohon padanya. Sebagai gantinya, datang dan temui aku lagi.”
Junot menjauhkan tubuhnya, bersandar pada punggung kursi dan melipat kedua lengannya di depan dada. Jantungnya masih ingin melompat dari tempat ketika mengingat keberaniannya mencium seorang wanita untuk pertama kali. Tapi, ciuman itu sangat berkesan hingga ia tidak bisa menolak permintaan wanita yang sudah membuatnya semakin penasaran dan dipenuhi rasa candu.
“Ya. Aku akan menemuimu lagi, setelah tugasku di Geogini selesai. Aku tidak bisa menentukan waktunya. Jadi, jangan menungguku. Aku—”
“Aku mencintaimu.” sahut Green. Memotong perkataan Junot dengan sengaja untuk menarik perhatian pria kaku itu.
Tubuh Junot membeku. Ia kehabisan kata-kata dan tidak lagi bisa melanjutkan kalimatnya yang masih menggantung karena ungkapan Green yang baru saja ia dengar. Suasana berubah sunyi sekali lagi, hingga suara Green memecah keheningan yang terjadi diantara mereka. “Datang kemari dengan sebuah jawaban yang bisa meyakinkan aku untuk menolak permintaan ayah.”
Junot masih memaku ditempat. Bibir dan lidahnya kelu.
“Bari aku jawaban yang aku harapkan. Bukan sebuah penolakan.”[]
^^^to be continued.^^^
__ADS_1