
...Green update nih,...
...Jangan lupa beri dukungan dan masukan kalian ya, karena itu yang membuat Vi's semangat nulis disini....
...Terima kasih....
...Selamat membaca...
...🏰🏰🏰...
“Siapa kamu. Apa yang kamu lakukan disini?”
Junot menoleh dan mendapati seorang laki-laki berdiri dibalik tubuhnya. Jantungnya mendadak memompa lebih cepat dari sebelumnya, namun sedikit kembali beritme tenang ketika mengetahui yang berdiri dibelakang punggungnya adalah laki-laki beratribut bangsawan yang pernah ia lihat. Dia adalah pangeran Havier.
Pertanyaan spontan terbesit dalam pikiran Junot, darimana pangeran Havier tau tempat ini?
Junot segera memutar tubuh dan berdiri tegap didepan Havier yang tinggi menjulang seperti dirinya. Tinggi mereka tidak ada bedanya. Lantas, tubuhnya refleks membungkuk lima belas derajat guna memberi hormat, kemudian kembali tegap sambil menatap manik coklat dengan kelopak monolid milik si pangeran.
“Saya, panglima Junot dari kerajaan Geogini,”
Havier cukup terkejut dengan nama yang baru saja didengarnya. Havier mengerutkan kening saat terkaan dalam hatinya mulai merambah naik menuju kepala. Aruchi sedang mempermainkan dirinya? Mengapa tidak memberitahu jika panglima dari Geogini ini ada disini?
“Apa yang kamu lakukan disini?”
Junot memilih diam sejenak untuk memilah jawaban yang tepat dan sopan. Sebab ia bisa saja salah bicara dan berakibat fatal jika pangeran didepannya ini tidak tau apapun tentang konspirasi yang terjadi di dalam istana Amber. Lalu, misi yang sedang diembannya, bisa gagal dan dirinya bisa dijadikan alasan untuk konspirasi lain yang ditujukan untuk Amber.
“Saya hanya berkeliling untuk memastikan keamanan disini.”
Ada senyum remeh yang di buat Havier untuk menanggapi jawaban Junot. “Aku tau. Tapi bukan itu tujuan pertanyaan yang aku katakan.” tembak Havier tepat ketika manik mereka kembali bertemu. “Kamu sedang ditugaskan seseorang? Atau, kamu menyelinap diam-diam kesini?”
Junot cukup terkejut dengan pernyataan yang didengarnya dari Havier. Ia menggeleng tanpa mau mengurangi rasa hormat dengan menajamkan mata. Lantas ia menunduk dengan telapak tangan yang ia tempelkan didepan dada. “Saya tidak menyelinap diam-diam kesini. Saya diundang oleh raja Aruchi secara resmi karena saya sedang dibutuhkan disini.”
__ADS_1
“Diundang?”
“Ya.” jawab Junot singkat. “Lalu, apa yang sedang pangeran lakukan disini?”
Havier menghirup udara cukup keras hingga Junot bisa mendengar bagaimana udara itu masuk melalui hidung si pangeran. “Aku yakin, kamu tau jawabannya.” seru Havier tanpa memutus tatapan matanya dari Junot. “Kita memiliki tujuan yang sama disini. Bukan begitu, panglima Junot?”
Jadi intinya, pangeran Havier juga tau sesuatu sedang terjadi di kerajaan ini—pikir Junot.
Kepala Junot mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya dia kembali mengatakan sesuatu. “Mungkin. Atau, bisa jadi tujuan kita berbeda.”
Dalam kasus seperti ini, biasanya Junot akan bertanya mengapa mereka harus memiliki tujuan yang sama, padahal sebenarnya mereka dipertemukan bukan untuk menjadi teman, melainkan lawan. Tapi, disini pangeran Havier juga dilibatkan. Mereka mungkin akan mencari tau dengan cara yang berbeda. Sedikit berbahaya, dan tentu saja mempertaruhkan nyawa.
“Tidak mau bekerja sama?” tanya Havier berhasil menarik penuh perhatian Junot yang berusaha untuk menghindar. Ya, sejujurnya dia sama sekali tidak tertarik dengan hal itu. Tanpa bekerja sama dengan Havier pun, dia bisa membuka semua konspirasi di Amber. “Apa kamu juga menerima tawaran raja Aruchi untuk mendapatkan Green?”
Junot terpaku di tempat. Jantungnya mendadak berdegup cepat dari sebelumnya setelah mendapat pertanyaan itu dari mulut pangeran Havier. “Daripada tawaran itu, aku lebih tertarik melindungi Green dari orang-orang yang mencoba mencelakainya.” lanjut Havier sembari melipat tangannya di depan dada. “Aku ingin melindungi putri Green dari mereka yang tamak akan kuasa.”
Alasan tersebut lebih bisa diterima oleh Junot. Melindungi Green dari orang-orang yang ingin menguasai dan melengserkan raja Aruchi, adalah satu hal yang juga ingin dia lakukan.
“Lalu, apa yang harus aku pertaruhkan untuk itu?” tanya Junot sedikit menyelidik. Dalam pikirannya, tentu saja Havier menawarkan itu tidak secara cuma-cuma. Dia seorang pangeran, dan dia jelas punya trik dan intrik cerdas untuk mengelabui siapapun yang ia anggap berbahaya untuknya.
Tidak ada alasan lagi untuk menolak, bagi Junot. Tapi dia juga harus memasang sikap waspada, kalau nanti Havier sampai berbuat curang padanya. Atau paling buruknya dia berkhianat pada ucapannya sendiri.
“Baiklah.”
Havier tersenyum jumawa. Tawaran itu memang benar-benar datang dari hatinya. Dari pada semakin memperkeruh suasana dengan berkompetisi menarik perhatian Green, lebih baik dia fokus terlebih dahulu untuk mengungkap kasus konspirasi dan siapa saja dalang yang ada dibalik semua itu. Kemudian, jika semuanya sudah berhasil, itu urusan Green. Gadis itu yang akan menentukan pilihannya. Havier tidak akan memaksa apapun yang akan menjadi keputusan putri kerajaan Amber tersebut.
“Sepakat.” ucapnya, menyodorkan tangan didepan Junot, yang disambut langsung oleh laki-laki berkulit sawo matang itu. Jabatan tangan mereka begitu erat, seperti tekat mereka yang kuat.
“Kamu, tinggal di sini? Didalam istana?” tanya Havier mulai membuka topik. Rasa penasaran itu muncul sebagai hal wajar, mengingat Junot juga di berikan misi yang sama dengannya.
Junot mengangguk. “Aku tinggal di salah satu sudut istana yang sangat terpencil hingga tidak ada orang yang tau dan sadar akan keberadaan ku disini.”
Pantas saja. “Tapi, dimana tepatnya?”
__ADS_1
Junot sedikit ragu ketika menunjuk salah satu bagian istana yang ditumbuhi semak seperti hutan belantara. Disana, ada sebuah bangunan yang tidak terlihat yang masih cukup terawat. “Disana. Kalau kamu penasaran, kamu bisa ikut bersamaku. Dengan satu syarat,”
Havier mengerutkan kening. “Jangan katakan kepada siapapun tentang tempat itu, dan juga keberadaan ku disana.”
“Tentu.”
Mereka sepakat akan berkunjung kesana lain waktu. Untuk sekarang, mereka berdua ingin tau lebih banyak tentang tempat ini. Keduanya bekerja sama memindah letak barang setelah mencoba menghafal letak sebelumnya agar tidak dicurigai oleh konspirator, lalu mereka mengubah strategi dan tempat menyusun rencana karena tepat ini telah diketahui oleh orang lain.
Setelah beberapa barang berhasil di pindahkan, Junot dan Havier saling tatap sejenak ketika melihat pintu itu terpasang gembok. Gembok yang warnanya tidak berubah karat. Gembok yang kualitasnya masih sangat bagus.
“Aku bersama putri Green pernah melihat mereka berkumpul disini.” Junot melirik Havier. “Ada tida orang. Ratu Hellen, orang kepercayaannya, dan satu lagi seorang laki-laki yang saat itu memakai jubah dan penutup kepala.”
“Orang luar?”
Havier mengedikkan bahu. “Dia masuk dari sana.” lanjut Havier sembari menunjuk sebuah batu besar yang menempel pada dinding pembatas.
“Penyelinap. Dia pasti orang luar.”
“Kita sepemikiran.”
Karena penasaran, Junot melompat turun dari lantai teras belakang bangunan yang lumayan tinggi itu setelah mengikuti bekas jejak sebelumnya yang tercetak di lantai kotor berdebu, kemudian berlari menuju batu yang sebelumnya di tunjuk Havier.
“Apa anda melihat detail jubah yang dikenakan laki-laki itu?”
Havier menggeleng ragu. Ia baru sadar sekarang ketika seorang panglima perang luar biasa ini mengatakan hal yang begitu penting. Havier memutar kembali isi kepalanya ke situasi malam itu.
Jubah yang terlihat familier. Dia pernah melihatnya tapi entah dimana. Seperti sebuah Dejavu.
“Aku akan menyelidikinya.”
“Tunggu,” pekik Havier tertahan. Ia mengingat sesuatu tapi sulit di jabarkan lebih detail karena hari itu sudah gelap dan juga hujan. “Aku seperti pernah melihatnya. Tapi hari itu cukup gelap untuk mengetahui detail dari jubah itu. Dan juga, gestur dari laki-laki berjubah itu seperti tidak asing dimataku.”
Junot menarik nafas cukup besar, lalu berkata. “Baiklah. Aku akan simpan informasi ini. Aku akan menelisik lebih jauh lagi karena ini memang ditugaskan kepadaku.”
__ADS_1
Havier mencebik tak terima. “Jangan lupa, aku juga punya andil dalam tugas itu.”
Junot malah tertawa. “Sepertinya, anda tidak rela jika putri Green jatuh ke tangan saya ya, pangeran?” []