GREEN

GREEN
Chapter 40


__ADS_3

...Selamat membaca...


...🏰🏰🏰...




“Siapa yang melakukan itu padamu, pangeran?”


Havier berjalan terhuyung mendekat ke arah sang paman. Darah bahkan masih mengucur dari balik baju istananya. Wajahnya sudah pucat dan kakinya menyeret dilantai.


“Untuk apa paman bertanya tentang hal itu?” tanyanya dengan suara rendah dan nyaris seperti bisikan.


“Tolong obati lukamu itu, pangeran.”


“Kenapa paman melakukan ini?” Havier kembali bertanya tak mengindahkan suara Hinawa yang terdengar khawatir.


Hinawa diam. Dia kini melirik Hellen yang masih berusaha bergerak meminta pertolongan padanya. Wanita itu menangis dan merintih kesakitan.


“Paman sudah membuat nama kerajaan Shibu—uhuk.” Havier terbatuk dan menyemburkan darah, lalu jatuh tersungkur diatas lantai bangunan kosong yang akan menjadi saksi bisu kejadian mengerikan ini. Kemudian dia berusaha bangkit meskipun hal tersebut sangat sulit lantaran terlalu banyak darah yang keluar dari tubuhnya. Ia duduk dan menghadap ke arah sang Paman. “Paman sudah membuat nama kerajaan Shibu menjadi buruk.”


Hinawa masih menatap sang keponakan yang kini terlihat menyedihkan. “Apa paman sadar dengan apa yang sudah paman lakukan?”


Tidak ada jawaban. Suara keduanya teredam oleh suara mengerikan di medan perang yang semakin memanas. Kubu Aruchi dan Hinawa sama-sama kehilangan banyak prajurit mereka. Terlebih amber. Tidak adanya perlawanan dalam beberapa menit saja membuat pasukan mereka harus berkurang dalam jumlah yang cukup banyak.


“Sadar.” jawabnya singkat. “Aku sadar melakukan ini semua. Dan aku memang ingin memiliki Amber sejak lama, dan maaf untuk Shibu. Aku tidak bermaksud—”


“Paman sengaja, berarti paman juga tidak peduli setelah melakukan semua ini.”


“Ya. Aku tidak peduli.”


Mimik wajah Hinawa berubah begitu saja. Raut khawatir yang tadi muncul untuk Havier sirna, berubah menjadi wajah mengerikan yang angkuh. Havier tertawa mendapati itu. Ternyata penilaiannya kepada sang paman selama ini salah. Hinawa tidak sebaik yang ia kira.


“Kamu matipun, aku tidak peduli.”

__ADS_1


Havier tertawa semakin keras. Ia seperti orang tidak berakal menyadari kebodohannya sendiri karena sudah percaya kepada pamannya yang memakai topeng kebaikan selama ini. Dan ternyata, pada kenyataannya begitu menyakitkan. Pamannya adalah orang jahat yang gila akan tahta dan kekuasaan.


“Masih untung aku tidak menjadikan kerajaan ayahmu sebagai sasaran. Kamu harusnya berterima kasih kepada pamanmu ini, Vier.”


“Terima kasih? Untuk apa? Untuk penghianat seperti paman? Ah, lebih baik aku tidak menyebutmu paman lagi. Itu sangat memalukan untukku.”


Entah mengapa satu sisi pada diri Hinawa tersentil. Ia tersulut emosi dan berjalan mendekati keponakannya yang sedang menatap remeh padanya. Selama hidup, Hinawa tidak pernah merasa sesakit itu ketika di pandang oleh seseorang. Apalagi Havier adalah keponakannya sendiri.


“Jaga ucapanmu jika tidak ingin paman marah padamu—”


“Kamu bukan pamanku. Ingat itu.” sahut Havier cepat sebelum Hinawa menyelesaikan ucapannya. Dan kalimat yang keluar dari mulutnya kali ini, begitu menyakitkan untuk didengar oleh telinga Hinawa.


Refleks tangan Hinawa mendaratkan sebuah tamparan di pipi Havier hingga lelaki tak berdaya itu kini tersungkur diatas lantai. Maniknya kini menatap ke arah Green yang juga berada diatas lantai yang sama dengannya.


“Kenapa kamu melakukan ini pada orang yang mengaggap kamu baik, Panglima Hinawa?” tanya Havier pilu. Ia benar-benar masih belum bisa menerima kenyataan jika yang membuat semua kekacauan ini adalah pamannya. Ia begitu kecewa. “Kamu, yang selalu mengajarkan kebaikan padaku,” Havier menjeda untuk mengambil udara demi membuat paru-parunya tetap bekerja dengan baik. “Tapi kamu sendiri yang membuat aku kecewa dan tidak lagi mau percaya pada mu, juga pada sebuah kebaikan.”


Hinawa mengeratkan rahang mendengar Havier berkata demikian. Ia sakit hati, karena dia menyayangi Havier dengan tulus selama ini.


“Jika kamu ingin menguasai Amber, mengapa harus melibatkan aku? Mengapa aku yang harus menjadi umpan untuk memenuhi ambisi mu itu?”


Tanpa mau membalas setiap kata yang di ucapkan Havier, Hinawa terdiam dan hanya memperhatikan bagaimana keponakannya itu menahan luka di tubuhnya.


Hinawa memiringkan kepala. Ia tidak menduga Havier berkata demikian. “Benarkah? Apa kamu ingin mati ditangan ku?”


Havier memejamkan mata, ia menahan ngilu dan perih yang semakin mendominasi di tubuhnya. Luka menganga disisi perutnya masih belum mau berhenti mengucurkan darah.


Havier menganggukkan kepalanya lemah. “Ya. Habisi saja aku dengan tanganmu daripada harus merasakan sakit seperti ini. Lakukan.”


Hinawa berdiri dari jongkoknya, kemudian menatap pongah ke arah Havier yang meletakkan kepalanya di lantai. Lantas ia meraih samurainya dan mengarahkan ujungnya pada satu titik kehidupan Havier. “Yakin?” tanyanya lagi, meminta persetujuan.


“Ya. Lakukan.”


Sedangkan disudut lain, Junot melihat bagaimana Hinawa mengancam Havier. Ia tau hubungan Havier dan Hinawa karena Havier menceritakan semua padanya malam dimana mereka menangkap Retio. Namun disaat seperti ini, hubungan darah tidak berarti apa-apa. Semua bisa berubah dan berbanding terbalik dari sebuah kenyataan yang relevan.


Dengan langkah kaki cepat yang perlahan berubah lari, Junot menuju tempat dimana Havier dan Hinawa berada. Firasatnya sudah merasa buruk melihat Hinawa yang mengangkat samurai tepat diatas tubuh Havier.

__ADS_1


Sekuat dan semampunya Junot menjangkau keduanya dan beruntungnya belum terlambat. Junot berhasil menepis samurai Hinawa yang hampir mendarat di atas tubuh Havier. Lantas dengan satu kakinya, Junot menendang keras tubuh Hinawa hingga laki-laki tamak itu jatuh terpental diatas lantai. Junot meraih Havier dan mencoba memberi teriakan dengan menyebut nama pria itu agar kesadarannya tetap ada.


Hingga tanpa diduga, Junot kini jatuh tersungkur tak jauh dari Green tergeletak. Dari sini, dia bisa melihat mata Green yang terkatup. Tidak ada suara rintihan atau keluhan sakit, Green sepertinya kehilangan kesadaran.


Junot menggeram marah dan berdiri gagah. Diangkatnya pedang miliknya, lalu berlari menerjang Hinawa yang juga sedang menuju dirinya. Keduanya seperti sedang di kungkung ambisi masing-masing. Hinawa yang ingin melenyapkan Junot agar tujuannya tercapai, dan Junot yang ingin menghabisi Hinawa agar semuanya ini berakhir dan suasana kembali damai.


Suara denting nyaring pedang beradu memenuhi rungu. Keduanya sama-sama kuat, tidak ada yang tumbang hingga sebuah pukulan diterima Junot di punggungnya. Seorang prajurit dari kubu Hinawa menyerangnya, dan pening mulai menyapa.


Ia terus mempertahankan kesadaran dan membalas serangan Hinawa yang bertubi-tubi menginginkan nafasnya terhenti. Tapi, Junot tidak akan mati semudah itu.


Mengesampingkan rasa sakit dan terus memaksa kesadaran, Junot membalas serangan Hinawa lebih kejam. Ia menerjang Hinawa sekali lagi hingga tubuh laki-laki itu jatuh kebelakang. Tanpa membuang waktu, Junot pun segera mengunci pergerakan Hinawa dengan menindih tubuh Hinawa dengan bobot tubuhnya.


“Katakan permintaan terakhirmu!” kata Junot sembari mencengkeram leher Hinawa yang kini berusaha melepas telapak tangan besar dan lengan kekar Junot yang sedang menghalangi jalan nafasnya.


“Kamu tidak akan bisa menang—”


Suara itu terputus lantaran Junot menekan semakin kuat hingga wajah pria itu semakin memerah.


“Kamu pantas pergi ke neraka. Kamu membuat kekacauan tidak masuk akal yang membuat banyak nyawa tidak bersalah ikut melayang.” tutur Junot dengan mata nyalang dan rahang mengerat sempurna. Ia benar-benar muak dengan wajah Hinawa saat ini. “Bahkan kamu hendak mengakhiri hidup Havier yang menghargai mu sebagai paman?”


Hinawa hanya berusaha melepas cengkeraman Junot karena nafasnya semakin tertawan.


“Sakit? Lalu, bagaimana rasa sakit yang kamu berikan pada Green?”


“Le-paskan!!” kata Hinawa sembari memukul-mukul lengan Junot, namun tidak berpengaruh apapun pada laki-laki itu.


Suasana berubah bergemuruh dan riuh ketika tanpa diduga, Shibu juga datang beserta rombongan prajuritnya untuk membantu melawan pengkhianatan yang sedang di lakukan oleh Hinawa.


Raja Nagawa terlihat dibarisan paling depan. Dan langkah kaki kudanya menerjang cepat ketika melihat Havier tergeletak di lantai bersimbah darah.


Amarah muncul di wajah Nagawa. “Siapapun yang hendak mengakhiri hidup Hinawa, entah dari tubuhnya.” titahnya tak terbantahkan. Junot tak mau menyalahi aturan perang, Hinawa telah bertemu dengan mautnya sendiri sekarang.


Shibu berhak sepenuhnya atas hukuman yang hendak Hinawa terima, lantas ia melepas cengkeraman tangannya dari leher Hinawa dan hal itu membuat Hinawa batuk terpingkal ketika kembali meraup oksigen.


Mata Nagawa kembali mengamati sekitar yang kini berubah senyap dari suara senjata, hanya tertinggal rintihan dan aroma anyir, lalu kembali mendapati tubuh putranya, tubuh seorang perempuan, dan tubuh seorang wanita yang tergeletak diatas lantai bangunan kumuh yang sekarang menjadi tempat kakinya berpijak. Lantas ia menatap Hinawa yang mencoba bangkit dari duduknya namun gagal kemudian jatuh lagi dan lagi.

__ADS_1


“Aku percaya padamu selama ini.” katanya, terus memangkas jarak dan kini berdiri tepat didepan Hinawa yang mendongak menatap raja Nagawa yang tidak lain adalah adik kandungnya sendiri. Hinawa seperti tidak menduga akan keterlibatan Shibu dalam hal ini. “Tapi kamu menghancurkan citra dan nama baik Shibu, serta membuat pangeran Havier seperti itu.”


Nagawa berjongkok untuk mensejajarkan posisi mereka. “Kamu akan mendapatkan hukuman berat atas hal ini.” katanya, kemudian melanjutkan kembali dengan menjatuhkan sebuah hukuman sebagai bayaran atas tindakan Hinawa. “Kamu akan mati. Atau, membusuk di penjara.” []


__ADS_2