
...TRIGGER WARNING!!...
...20+...
...MOHON PERHATIANNYA SEBELUM MEMBACA....
...PART INI TIDAK BERTUJUAN UNTUK MENYINGGUNG ATAU MEMBERI PENGARUH BURUK KEPADA SIAPAPUN....
...BAB INI DIPERUNTUKKAN UNTUK PEMBACA DIATAS USIA 20 TAHUN. BAGI PEMBACA DI BAWAH USIA, ATAU PEMBACA YANG TIDAK NYAMAN DENGAN ADEGAN SERTA BAHASA DEWASA, DIHARAPKAN SKIP SAJA....
...Bab ini lebih HARD dari cerita-cerita sebelumnya. Penjabaran kalimatnya lebih detail, jadi mohon diperhatikan peringatan tertulis....
...Untuk yang sudah siap,...
...Happy Reading......
...•...
Setelah bertemu Ivory, Green memutuskan untuk bertemu Junot di rumah tinggal laki-laki itu.
Memang, Green tidak terlalu kesulitan mencari lokasi dimana Junot tinggal, sebab dia pernah berada di Geogini selama beberapa hari. Ivory juga sesekali mengajaknya jalan-jalan mengelilingi seluruh bagian-bagian istana dan juga tempat-tempat tertentu yang dianggap penting. Termasuk tempat tinggal Junot.
Green melepas sepatu yang ia kenakan, berjalan mendekat ke arah daun pintu, menarik nafas, lalu mengetuk beberapa kali. Ada debaran gila yang tidak bisa ia jabarkan melalui tindakan apapun yang bisa ia ungkapkan. Lalu, debaran itu semakin tidak keruan ketika bilah pintu itu terbuka, dan seseorang dengan rambut basah dan tubuh yang menguarkan aroma segar menyapa penglihatan Green. Kulit pria itu putih bersih, dan tubuh bagian atasnya yang tidak ditutup oleh selembar kain itu terlihat begitu sempurna dengan lengan kokoh yang memiliki bisep, bahu lebar, dada bidang, kemudian pada bagian perut terdapat enam, oh tidak, delapan kotak yang terlihat padat dengan V-line yang membawa pandangan Green menuju area pribadi Junot yang sedikit menyembul dibalik celana hitam yang dipakai laki-laki itu.
Ah, sial. Darah Green berdesir cepat melihat pemandangan itu.
“Oh, sudah selesai melepas rindu dengan kawan lama?” tanya Junot santai sambil mengusuk rambut basahnya dengan handuk.
Green mengangguk kikuk ketika suara Junot menyentaknya kembali pada kesadaran.
“Baiklah, tunggu disini sebentar. Aku akan mengambil pakaian dan mengantarmu pada dayang yang tadi sudah aku minta untuk menyiapkan ruangan—”
“Aku ingin bicara denganmu.”
Gerakan tangan Junot terhenti. Wajahnya berubah datar, dan maniknya menyorot wajah Green yang sedang menatap lekat ke arahnya.
“Oh, baiklah. Aku harus berpakaian terlebih dahulu. Masuklah.” kata Junot, membuka lebar pintu dan mempersilahkan Green masuk kesana.
Green melangkah melewati bilah pintu, kemudian duduk di ruangan dengan karpet tipis sebagai alas, dan ditengah-tengahnya ada sebuah meja kayu berukuran tidak terlalu besar. Matanya masih menelisik setiap sudut ruangan tempat tinggal Junot. Hingga laki-laki itu muncul dengan pakaian santai, namun masih tidak meninggalkan kesan seorang panglima yang sudah melekat dan menjadi identitasnya.
__ADS_1
“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”
Green menelan ludah. Sebenarnya itu hanya akal-akalannya saja agar bisa bersama Junot lebih lama. Green masih bisa menghirup aroma segar dari presensi Junot. Dan dia sangat menyukai aroma yang membuat otaknya membayangkan hal-hal liar bersama laki-laki itu.
“Tidak terlalu penting, sih. Aku hanya ingin bersamamu lebih lama.” kali ini ia berkata jujur. Karena memang begitulah kenyataannya.
Sebuah dengusan keras berhembus dari hidung Junot, dan hal itu membuat Green sedikit kecewa dan merasa kehadirannya tidak diinginkan.
”Kalau begitu, ayo aku antar ke kamar tamu.”
“Apa jawaban atas pernyataanku tempo hari?” tanya Green tidak mau membuang waktu. Ia sudah kehabisan akal.
Sedangkan Junot, terkejut bukan main. Hal yang ia tunggu-tunggu dan malu untuk mengatakannya, akhirnya disinggung oleh orang yang bersangkutan.
Hari sudah gelap, dan lampu tempel di ruangan Junot itu menjadi satu-satunya sumber pencahayaan saat ini. Tidak terlalu terang, tidak juga terlalu redup. Lalu, pada waktu selanjutnya, Junot berdiri, lantas berjalan dan duduk didekat Green.
Pintu ruangan itu sudah terkatup rapat. Mereka saling menatap lekat satu sama lain, hingga gejolak masing-masing pribadi itu terpatik.
Junot mendaratkan satu kecupan dibibir Green. “Memangnya, kamu tidak menyesal sudah menyukaiku?”
“Tidak.”
Junot bergerak mengubah posisi dibelakang punggung Green. Mendekatkan hidungnya pada ceruk leher gadis itu, menggosokkan hidungnya disana hingga Green menggelinjang karena merasa geli. Junot adalah pria pertama yang menyentuh permukaan kulitnya.
Gila.
Green sadar jika yang mereka berdua lakukan saat ini salah. Namun Green tidak bisa menghentikan pergerakan Junot karena sudah kepalang terbelenggu hasrat. Mereka sudah terbakar gairah hingga ubun-ubun.
Junot akhirnya bangkit, mengangkat tubuh Green dan membawanya menuju kamar tidur miliknya. Merebahkan disana dan kembali mencumbu birai manis milik si gadis.
Bunyi decapan basah pertemuan bibir mereka memenuhi ruangan. Kedua lengan Green tanpa sadar sudah melingkar di leher Junot, sedangkan telapak tangan pria itu sudah menyusup dibalik pakaian Green, meremat dada sintal itu penuh kelembutan.
“Berhenti!” pinta Green tiba-tiba saat merasa permainan yang ditawarkan Junot bergerak lebih jauh.
Junot berhenti, ia menatap Green dengan wajah sayu terbelenggu gairah, juga nafas memburu yang membuat rongga dadanya naik turun. “Kenapa? Kamu tidak menyukainya?”
Bukan, bukan begitu.
“Apa kamu melakukan ini hanya untuk memenuhi hasratnya, panglima Jun?”
Junot diam. Menatap lurus pada sosok Green yang berada dibawah kendalinya. Lantas ia menurunkan wajah untuk kembali meraup bibir Green. “Apa aku terlihat seperti itu? Apa aku terlihat hanya ingin memenuhi hasrat semata?” Apa aku terlihat tidak membalas perasaanmu?”
__ADS_1
Pertanyaan beruntun itu Green terima tanpa berhasil menjawab satu pun.
“Ti-tidak. Tapi kamu tidak pernah mengatakan perasaanmu kepadaku.” jawab Green sedikit bergetar takut ketika manik Junot yang semula sayu, berubah tegas. “A-aku takut jika kamu hanya akan mempermainkan aku dalam jeratmu, setelah itu kamu akan meninggalkan aku begitu saja.”
Junot kembali mengecup bibir Green sedikit lama. Kemudian bicara seduktif tepat diatas bibir Green yang memerah. “Kau akan mengetahui jawabannya nanti. Kamu juga akan tau bagaimana caraku menyentuhmu, putri Green yang cantik.” bisiknya sembari menyingkirkan anakan rambut Green yang sudah lembab dan basah oleh keringat. “Kau akan tau, seberapa aku memujamu selama ini. Dan kau tau sedalam apa aku menaruh perasaanku padamu.”
Green kembali larut. Dia menyambut ciuman panas Junot yang lagi-lagi membuatnya kehilangan akal.
Telapak tangan Junot meraih satu persatu kancing pakaian Green hingga semua terbuka. Membuka ikatan stagen yang melilit dada hingga pinggang gadis itu hingga terlepas dan menampakkan permukaan kulit Green yang terlihat bersih. Akan tetapi, Junot terpaku pada bekas luka di pinggang kanan Green yang sepertinya dulu pernah terluka parah.
“Digigit harimau, dan aku hampir mati karena luka itu.” jelas Green tanpa diminta oleh Junot. Ia takut Junot—sang pujaan hati—kecewa setelah melihat cacat pada tubuhnya. Tapi apa yang selanjutnya dilakukan Junot pada tubuhnya, membuat Green meringis ngilu. Junot mengecup seluruh permukaan kulitnya yang memiliki bekas luka itu penuh kasih, hingga tanpa sadar Green mengusap surai Junot yang masih setengah basah.
Setelah puas bermain di sana, Junot kembali bangkit dan menatap wajah sayu Green yang sangat menggoda benaknya untuk segera bergegas memiliki gadis itu seutuhnya.
“Setelah ini, aku akan membunuh siapapun yang berani menyentuh dan menyakitimu, wanitaku.” []
^^^to be continued.^^^
...🌼🌼🌼...
...Hai readers baik hati sekalian. Jangan lupa tinggalkan Like, komentar, vote dan hadiahnya ya......
...Serta masukkan Green ke dalam list cerita favoritmu agar tidak ketinggalan jika aku update bab terbaru....
...Mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:...
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
...Atas perhatiannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih....
...See You....
__ADS_1