GREEN

GREEN
Chapter 45


__ADS_3

...Cerita ini sekuel dari cerita IVORY. Silahkan mampir kesana jika penasaran. 🤭...


...Selamat membaca...


...🏰🏰🏰...



Green memiliki kegiatan baru setelah musim dingin berlalu. Dia membantu beberapa pekerja taman belakang istana merawat tanaman. Memilah tumbuhan itu satu persatu untuk mengetahui mana yang masih bertahan, dan sudah harus dicabut untuk diganti dengan tanaman baru.


Ia menyukai pekerjaan ini. Setidaknya, dia bisa merasa tenang karena ada sesuatu yang bisa ia jadikan pengalihan untuk setiap ingatan yang tiba-tiba muncul dan membuat hatinya merasa tertekan.


Junot melipat lengannya didepan dada, memperhatikan Green yang membaur bersama para pengurus kebun istana adalah hal yang menyenangkan. Kali ini, dia tidak memberitahukan kedatangannya ke Amber pada Green. Jadi, Green benar-benar tidak tau jika hari ini Junot sedang memperhatikannya di kejauhan.


“Putri, bukankah itu panglima Junot?” kata seorang perempuan bertopi lebar khas sambil menunjuk kearah dimana Junot berada.


Seketika Green menoleh. Ia lantas tersenyum bersamaan angin yang berembus hangat menerpa wajahnya. Musim telah berganti, sudah seharusnya lembaran baru terukir dalam perjalanan hidup semua orang, termasuk Green dan juga Junot.


“Aku akan kesana, tolong lanjutkan pekerjaan kalian.”


Para pekerja itu mengangguk patuh ketika Green membawa bobot tubuhnya untuk berdiri lantas memangkas jarak dengan Junot. Sembari berjalan, Green melepas topi lebarnya dan menyunggingkan senyuman untuk Junot ketika jarak mereka sudah semakin dekat.


Sesampainya di atas bukit yang terdapat sebuah gubuk yang biasa dipergunakan para pekerja, Green duduk dan mengipasi dirinya yang bercucur keringat dengan topi lebar yang ia bawa.


“Kenapa tidak memberi kabar jika datang?”


“Ini yang dinamakan kejutan, tuan putri.”


Green tersenyum. Melihat Junot memang bisa membuatnya terasa nyaman dan aman begitu saja.


“Apa kami sudah bertemu raja Aru?” tanya Green memastikan, kemudian menerima satu gelas air yang disodorkan Junot didepannya.


“Sudah. Kami juga sudah berbicara banyak.”


“Oh benarkah? Jadi, kamu sudah lama sampai disini?”


Junot hanya memberikan sebuah anggukan sebagai jawaban. Kemudian dia mengulurkan sebuah kue lembek yang hanya ada di Amber. Kue yang begitu disukai Green karena teksturnya yang lembut ketika dimakan, dan kue yang rasanya begitu lezat hingga tak ada alasan untuk tidak menyukai kue tersebut.


“Aku bahkan membicarakan sesuatu yang begitu penting dengan raja Aru.” celetuk Junot dengan tawa kecil di bibirnya.


“Hal penting apa? Strategi perang?”


Junot menggeleng. “Strategi untuk diterima menjadi menantu di istana Amber.”


Green membelalakkan matanya cukup lebar. Ia mengerti apa yang dikatakan Junot, tapi sungguh ia tidak ingin salah menebak dan di kira besar kepala jika berfikir Aruchi memberikan restunya.


“Bercandamu terlalu berlebihan, Jun.”


“Aku serius. Aku tidak berbohong. Raja Aruchi meminta padaku untuk mengatakan padamu, juga meminta persetujuan mu untuk ... kita menikah.”


Green menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Junot. Bisa saja lelaki itu hanya membual tanpa tujuan agar dirinya besar kepala.

__ADS_1


“Ayah merestui kita?”


“Dia bahkan meminta cucu padaku.”


Green bangkit dan berlari menerjang kepada presensi Junot. Laki-laki itu menyambut Green dan menyematkan beberapa kecupan di puncak kepala Green.


“Terima kasih sudah bertahan untukku dan juga bersedia menungguku, tuan putriku yang cantik.”


Green mengangguk dan memeluk Junot semakin erat.


***


Sebuah pemandangan mengejutkan lainnya berhasil membuat Green terpaku di tempatnya berdiri.


Tak jauh berbeda dengan Green, Junot juga tidak menduga jika kedatangannya ke Amber kali ini, membuatnya bisa bertemu lagi dengan sosok Havier. Ya, Havier. Pria yang sempat sekarat di Medan peperangan saat itu, kini berdiri didepan Junot dan Green dengan tubuh bugar.


“Selamat pagi menjelang siang, putri Green. Selamat pagi menjelang siang, panglima Junot.” sapa nya sopan, kemudian berjalan melewati beberapa petak marmer dengan sempat boots tingginya yang membalut kaki panjangnya. “Lama tidak bertemu.”


Havier mengulurkan telapak tangannya didepan Green terlebih dahulu. Bagaimanapun juga, Green pernah menempati hatinya meskipun kejadian tidak diinginkan dan sangat memalukan hingga menjatuhkan citra kerajaan Shibu itu, terjadi.


“Bagaimana kesehatanmu, pangeran Havier?” tanya Green disemati sebuah senyuman ketika menjangkau telapak besar Havier yang menangkup telapak tangannya.


“Seperti yang anda lihat, putri. Saya baik-baik saja.” jawab Havier singkat, kemudian mengulurkan telapaknya pada Junot. “Apa kabarmu, panglima Jun. Terakhir kita bertemu, hari itu kan?”


Junot menyambut telapak tangan Havier dan mengangguk. “Ya. Senang bisa bertemu dengan anda lagi, pangeran.”


Havier tertawa ringan, kemudian menepuk sisi lengan Junot. Ada sedikit perasaan mengganggu dan tidak nyaman hadir ketika melihat Junot bersama Green. Namun semua harus ia tepis dan terima dengan lapang dada ketika Green lebih memilih Junot dari pada dirinya. Hal itu memang sepadan mengingat perjuangan Junot begitu besar untuk melindungi dan mempertahankan Green.


“Aku dengar kalian akan menikah, benar bukan?”


Green terkejut bak di sambar petir siang bolong. Ia tidak menduga jika Havier akan tau hal ini lebih cepat dari perkiraannya. Padahal, Green ingin membicarakan hal ini baik-baik dengan Havier, mengingat mereka pernah terikat pada satu hubungan yang di jalin oleh kedua orang tua mereka. Namun nampaknya raja Aruchi telah lebih dulu memberi tau hal itu kepada Havier.


Tanpa membuang waktu lebih lama, Green menoleh ke arah Junot berada. Manik keduanya bersirobok, kemudian Junot mengangguk sebagai jawaban.


Dengan ragu, Green memperjelas semua itu.


“Y-ya. Kami akan menikah.” katanya sedikit canggung hingga tergagap. “Maaf.”


Havier tertawa mendengar permintaan maaf Green yang sebenarnya tidak perlu di dengarnya. Ia sama sekali tidak akan menghalangi keduanya untuk menyatukan kasih dan cinta mereka, karena sejak awal Green memang tidak pernah menaruh rasa padanya.


“Kenapa kamu meminta maaf pada ku, putri. Pilihan ada di tanganmu.”


“Tapi—”


Havier mengangkat telapak tangan dan mengibaskan diudara.


“Tidak, tidak. Aku senang pada akhirnya kalian bisa bersatu.”


Junot menatap Green dan Havier secara bergantian. Dari sudut pandangnya, dia bisa melihat jika Havier sedang menutupi sebuah perasaan. Perasaan berbeda dari seorang pria kepada wanita.


“Lagi pula, aku tidak pantas menjadi bagian dari Amber setelah kejadian memalukan itu.”

__ADS_1


Ingatan Green dan Junot kembali dilempar pada hari mengerikan itu.


“Kerajaan kita hanya pantas untuk menjadi sekutu, bukan menjadi satu bagian utuh yang terjalin karena ikatan kekeluargaan.” lanjut Havier memperjelas status dua kerajaan yang dulu sempat ingin menjadi satu bagian utuh dengan cara menikahkan putri dan pangeran mereka. “Anggap saja aku kakak kedua bagimu.”


Mendengar itu, Green tak kuasa dan berjalan mendekat ke arah Havier berada. Kemudian dia memeluk singkat dan menyematkan sebuah senyuman hangat dan tulus untuk Havier.


“Kamu orang baik, pangeran. Semoga kamu menemukan pasangan yang jauh lebih baik dariku.”


Havier membalas senyuman Green dengan usapan di puncak kepala. “Ya, semoga do'a mu didengar Sang Maha Kuasa, agar aku mendapatkan seorang putri yang cantik dan anggun, tidak banyak tingkah seperti dirimu.” kelakarnya yang berhasil mengundang rasa kesal dalam benak Green.


“Ish...!” satu cubitan mendarat di pinggang Havier membuat pria bermata monolid itu meringis kesakitan. “Rasakan itu.”


Junot menahan tawa melihat bagaimana interaksi yang terjalin antara Havier dan juga Green.


“Meskipun kamu sudah membuatku kesal, aku tetap harus berterima kasih padamu pangeran. Tanpa dirimu, pasti aku tidak akan selamat saat itu.”


Havier mengangguk, kemudian melirik ke arah Junot yang hanya diam tanpa sepatah katapun di tempatnya berdiri.


“Lihat panglima Jun, kelakuan dari wanita mu ini. Apa kamu tidak cemburu?”


Seketika Green melebarkan mata, ia baru mengingat jika ada perasaan yang harus ia jaga mulai saat ini. Dan ketika menangkap ekspresi Green, Havier terbahak keras. Ia puas menggoda Green hari ini. Tawa Green adalah obat yang mujarab untuk rasa sepi dan kosong di hatinya saat ini.


“Panglima Jun,” panggilnya keras kepada Junot yang kini sudah menautkan matanya pada fitur wajah Havier. “Tolong jaga putri yang ceroboh dan suka bertingkah aneh ini.”


Tak terima, Green kembali mendaratkan sebuah pukulan di lengan Havier.


“Cintai dan sayangi dia dengan seluruh jiwa dan ragamu.”


Junot mengangguk disela senyumannya.


“Dan bahagiakan dia. Karena ... dia pantas mendapat kebahagiaan lebih dari apapun.” []


...—End—...


###


Tinggal satu bab epilog ya,


Sedih sebenarnya cerita ini harus berakhir disini, karena Green baru saja mendapat pembaca setia yang tak pernah putus memberi dukungan.


Tapi mau bagaimana lagi, cerita ini memang sejak awal hanya Othor susun dengan bab singkat dan tidak terlalu panjang, dan juga tidak ada extra bab. Mohon maaf untuk hal itu.🙏🙏🙏


Untuk pembaca yang sudah memberikan Vote, hadiah dan juga bersedia memberikan Rate, terima kasih sebanyak-banyaknya. Vi's hanya bisa mendo'akan semoga kalian selalu dalam lindungan Tuhan YME, dan juga urusan serta rezeki kalian selalu dilancarkan.


Sekali lagi terima kasih sudah membaca cerita buatan Author ya, maaf jika ada salah kata atau isi cerita yang kurang berkenan.


Silahkan mampir juga ke cerita lainnya yang pasti nggak kalah seru, jika berkenan. 😊 Othor tunggu ya...😉


Sampai jumpa di bab Epilog


See you

__ADS_1


(NB: Bab Epilog akan sedikit yahoot 🤫😂)


__ADS_2