Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
X


__ADS_3

Yue memainkan sebuah lagu sesuai dengan permintaan sang Kaisar. Di bawah sinar rembulan mereka hanya berdua menikmati lagu itu. Para pelayan Kaisar berdiri tidak jauh di seberang jembatan.


Pantulan sinar bulan di atas kolam semakin membuat Yue gugup. Ia masih merasa bersalah dengan Putri Xiaoli. Meninggalkan hiruk pikuk pesta, terlebih sang Kaisar menyeretnya ke paviliun miliknya.


"Saya ... saya bukan gadis yang tepat untuk menjadi permaisuri," kata Yue tiba-tiba. Ia juga memberanikan diri untuk menatap Kaisar.


Sang Kaisar menanggapi datar perkataan Yue. "Bukan kau yang memutuskan pantas tidaknya dirimu menjadi permaisuri. Tapi aku."


Yue telah menyinggung sang Kaisar. Wajah yang tadi terlihat ramah kini berubah keras.


"Tidak juga Ibu Suri," tambah pria itu.


Yue terdiam seketika. Yue hanya mengatakan apa yang ia rasakan. Sebelum mempermalukan diri sendiri dan yang pastinya akan kalah dari Putri Xiaoli, ia memberanikan diri mengatakan hal itu.


Sang Kaisar berdiri dari tempatnya duduk. Pria itu bahkan membanting cangkir tehnya sebelum berdiri. "Aku hanya akan memilihmu, bukan yang lain."


Hanya itu yang Gu Zheng katakan dari balik bahunya sebelum pergi meninggalkan paviliun. Yue yang takut dengan kemarahan sang Kaisar, juga ikut berdiri dengan cepat dan mengekor di belakang Gu Zheng.


"Baiklah!" teriak Yue, "aku akan menjadi permaisuri terhebat di sepanjang sejarah kerajaan Yuhan. Aku juga akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku."


Gu Zheng menghentikan langkahnya. Langsung berbalik dan berjalan ke arah Yue. Spontan Yue berjalan mundur, takut Gu Zheng akan berbuat macam-macam. Pria itu menyambar lengan Yue dengan kasar dan mendorongnya hingga membentur pagar jembatan penghubung paviliun dengan istana. Gu Zheng memerangkap Yue dengan kedua lengannya.


"Ke-kenapa Anda seperti ini?" tanya Yue sambil gemetaran.


"Aku tidak sabar menunggu hari itu tiba," ucap Gu Zheng sambil tersenyum. Lalu melepas kedua tangannya dari jembatan. Pergi begitu saja meninggalkan Yue yang jatuh terduduk karena saking takutnya.


Setelah sang Kaisar tidak terlihat lagi, seorang gadis dayang segera menghampiri Yue yang masih duduk di atas jembatan.


"Yue. Kau benar Yue 'kan?" tanya dayang itu.


Yue menatap gadis itu. "Ah Mei?"


"Ternyata benar kau. Aku ... aku dengar sang Kaisar mengambil calon permaisuri dari kalangan rakyat biasa. Aku tidak menduga kalau itu kau, Yue."

__ADS_1


Yue segera memeluk sahabat sepermainannya itu dengan erat. Senang rasanya bisa melihat orang yang ia kenal di dalam istana yang sepi itu.


Setelah Ah Mei menjadi dayang istana, Yue jarang bertemu dengan gadis itu. Mereka hanya bisa bertemu ketika Ah Mei mendapatkan libur.


"Aku sangat senang melihatmu," kata Yue antusias.


"Ayo kita bicara di kamarmu, kita bisa membeku jika terlalu lama di sini. Lagi pula, sekarang kau calon permaisuri. Kau tidak boleh sakit," kata Ah Mei yang membantu Yue berdiri.


*****


"Kau lihat sendiri 'kan? Dia berbuat seenaknya," kata Yue kesal.


"Dia Kaisar," balas Ah Mei dengan santainya.


Yue mendesah dan kembali meminum teh buatan Ah Mei. Sepertinya ia harus menyerah untuk melawan sang Kaisar. Semua ini sudah menjadi suratan takdir.


"Tapi, benar-benar. Apa yang dikatakan Paman Liu menjadi kenyataan," kata Ah Mei.


Yue bahkan tidak mengingat hari di mana ia mendapatkan ramalan itu dari Paman Liu. Apalagi ia tidak pernah mengganggap serius perkataan di setiap ramalan pria baya itu. Karena memang ia hanya mendengarkannya sambil lalu. Yue sama sekali tidak percaya dengan ramalan serta mitos-mitos yang selalu mengiringinya.


"Aku ... lupa," kata Yue sembari tersenyum polos.


"Karena itulah kau selalu sial. Kau tidak pernah mendengarkan hal-hal semacam itu," ujar Ah Mei.


Siapa juga yang akan mendengarkan pria baya setengah gila? Bukannya Yue bermaksud tidak sopan. Hanya saja ia menganggap Paman Liu setengah gila. Pria baya itu terus saja berbicara mengenai Nian dan Phoenix. Serta berbagai hal yang sama sekali tidak ia mengerti.


"Hanya kebetulan," sanggah Yue.


Ah Mei mencebikkan bibirnya lalu bangkit dari tempatnya. "Kau harus segera tidur. Aku dengar besok pelatihanmu akan dimulai, kau harus dalam kondisi prima."


Ah Mei menata tempat tidur Yue sedemikian rupa. "Kau tidak perlu melakukan hal itu, kita masih teman."


"Benar. Tapi sekarang ini kau calon permaisuri. Jadi, aku harus memperlakukanmu sebaik mungkin, Nona Yue," ujar Ah Mei.

__ADS_1


"Jangan! Jangan pernah sekali-kali memanggilku seperti itu," ancam Yue sembari mengacungkan jarinya. Ia tidak ingin dianggap istimewa oleh teman baiknya. Ia masih Yue yang sama, teman sepermainan Ah Mei.


"Baiklah. Aku akan melakukannya saat tidak ada orang lain," balas Ah Mei.


*****


"Saya dengar, Yang Mulia meninggalkan pesta perayaan begitu saja," ucap Ibu Suri Han.


"Saya hanya berjalan-jalan untuk mencari udara segar," balas Gu Zheng.


"Dengan menyeret Yue. Pasti kau sangat kegerahan," celetuk Ibu Suri Jia yang tidak lain adalah nenek Gu Zheng.


Gu Zheng memilih diam. Ia tidak begitu suka saat ibu dan neneknya turut campur dalam masalahnya. Mereka lah yang mengundang Xiaoli meski mereka tahu bahwa Gu Zheng hanya akan meminang Yue, bukannya Putri dari kerajaan An.


"Kau harus adil. Semua mata sedang melihatmu," kata Ibu Suri Jia. "Fraksi oposisi siap menjatuhkanmu dengan memanfaatkan celah sekecil apapun."


"Nenek dan Ibu tidak perlu khawatir," kata Gu Zheng dengan melepas segala keformalitasannya.


Gu Zheng sepuluh langkah di depan mereka yang ingin menjatuhkannya. Ia sudah menyiapkan segalanya jika para fraksi oposisi bertindak. Tahtanya adalah warisan dari kakeknya ke ayahnya. Dan setelah ayahnya meninggal tahta itu diwariskan kepada Gu Zheng. Dan akan begitu seterusnya.


"Kami hanya ingin kau berhati-hati. Kami sama sekali tidak keberatan kau meminang gadis itu. Tapi apa tidak sebaiknya dia menjadi selir saja?"


Gu Zheng sama sekali tidak memiliki gagasan mengenai Yue yang hanya akan menjadi selir bukannya permaisuri. "Aku bisa mengatasi semuanya."


Dengan penuh percaya diri dan segala hormat, Gu Zheng meyakinkan ibu dan neneknya. Ia tidak ingin Yue menjadi selir. Keputusan itu sudah pasti.


"Kau memang keras kepala seperti ayahmu," kata Ibu Suri Han.


Gu Zheng tersenyum kecut. Sayang sekali, ia tidak ingin menjadi seperti Kaisar terdahulu. Karena tidak hanya tahta Yuhan yang pria itu tinggalkan. Tapi juga sederet selir dan pangeran yang siap merebut dan menggantikan posisi Gu Zheng saat ini.


"Aku hanya akan memiliki satu istri, yaitu Yue."


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2