
Tiga minggu berlalu sejak kepergian Yue dari istana. Ia memilih untuk ikut dengan Lai Xin dan rombongannya. Benar saja, rombongan itu memang tidak biasa. Sekilas terlihat seperti bandit tapi juga saudagar kain sutra.
Lai Xin membawa Yue ke perkampungan di daerah pinggiran Shicuan. Para penduduk menyambut kedatangannya dengan ramah. Kepala desa Hyang--Nenek Niu, bahkan mengijinkan Yue untuk tinggal bersama dengannya.
Tapi akhir-akhir ini Yue sama sekali tidak melihat Lai Xin di manapun. Nenek Niu bilang Lai Xin sedang menjalankan tugasnya. Tugas apa maksudnya? Merampok? Atau berdagang? Apapun itu dari lubuk hati yang paling dalam Yue berterima kasih pada gadis itu.
Lai Xin yang tiga tahun lebih tua darinya, jadi ini diperbolehkan atau tidak karena Yue hanya menganggapnya secara sepihak, ia sudah menganggap gadis itu seperti kakaknya sendiri. Seperti Ah Mei.
"Ah, lagi-lagi wajah suram itu," kata Nenek Niu.
"Nenek," sapa Yue yang tidak melihat kedatangan wanita tua itu.
"Saatnya kau minum obat," kata sang Nenek.
"Nenek aneh, aku 'kan tidak sakit. Tapi terus saja Nenek memaksaku untuk meminum obat ini," ujar Yue dengan tersenyum.
"Supaya kau sehat, apalagi memang? Hah, apalagi kau sudah melalui masa-masa yang sulit. Kurasa obat ini akan membantumu."
Tanpa membantah, Yue meminum obat pahit itu dalam sekali tenggak. Ia menyernyit saat rasa pahit itu masih ada.
"Apa Nenek perlu bantuan?"
"Semua pekerjaan rumah sudah beres, kita bisa bersantai sejenak sekarang," ujar Nenek Nui dengan lembut.
Desa Hyang terletak di pinggiran Danau Hyang. Mereka membuat desa ini seperti mengambang di atas danau. Sebagian besar rumah dan jalan penghubung terbuat dari bambu. Sungguh desa yang tenang. Seperti sekarang ini.
Yue duduk di jalanan bambu sembari mencelupkan kakinya di danau. Memainkan kakinya maju dan mundur. Memandang jauh tebing-tebing yang mengelilingi danau.
"Kurasa Lai Xin akan kembali hari ini."
"Benarkah, Nek?"
"Mungkin nanti sore," jawab Nenek Niu.
"Aku akan memasakkan sesuatu yang enak untuk Lai Xin dan Chang He juga Hong," kata Yue dengan tidak sabar. Senyumnya benar-benar mengembang penuh.
Yue berdiri dari tempatnya dan berlari menuju rumah. Sontak hal itu membuat Nenek Niu tertawa.
"Hati-hati, kau bisa terpeleset."
*****
"Apa kau yakin kalau dia Yue Bi?" tanya seorang gadis yang duduk di atas singgsana.
"Entahlah, Kak. Sudah tiga belas tahun berlalu," jawab Lai Xin. "Aku hanya melihatnya sekilas. Gadis yang memegang jepitan emas itu. Mungkin aku akan langsung mengenalinya saat bertemu dan bertatap muka langsung dengannya."
"Kita benar-benar gagal sebagai kakak, bukan?"
Lai Xin membesarkan hati sang kakak yang tidak lain adalah Ratu Kerajaan Shicuan. Yuan Hwei Yang selalu saja menyalahkan diri sendiri perihal Yue Bi. Mereka hanya memiliki keyakinan bahwa sang adik bungsu masih hidup.
__ADS_1
Saat antek Lai Xin mengabarkan bahwa mereka menemukan keberadaan Yue Bi, Lai Xin sendiri yang menyusup ke dalam Kerajaan Yuhan. Berpura-pura sebagai bandit yang tengah merampok pedagang, akhirnya ia berhasil masuk ke dalam istana meski dipenjara.
Sayangnya ia tidak bisa melihat dengan jelas seperti apa rupa adiknya sekarang. Tapi Lai Xin yakin bahwa adiknya sangatlah cantik seperti bulan. Seperti namanya.
"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Kak," kata Lai Xin masih belum berputus asa untuk menemukan adiknya.
Siapa yang tahu bahwa rombongan ibu dan adiknya akan diserang oleh para bandit. Kalau Lai Xin tahu, ia pasti sudah membabat habis leher mereka. Sekali lagi takdir mempunyai jalannya sendiri.
Sedari awal Lai Xin tidak setuju saat ayahnya menjodohkan Yue Bi dengan Putra Mahkota An. Tepat saat perjalanan kunjungan kedua mereka, yang artinya menyerahkan Yue Bi sepenuhnya pada Kerajaan An, ternyata hal itu sekaligus menjadi salam perpisahan mereka untuk selamanya.
Tidak. Tidak selamanya.
Ya, ia akan menemukan Yue Bi dan membawanya pulang ke Kerajan Shicuan. Itu janji yang selalu terpatri di hatinya. Juga janji pada ayah mereka yang telah meninggal.
*****
"Apa kalian menemukannya?" tanya Ah Mei pada salah satu dayang.
"Sudah, Nona."
Selama tiga minggu ini Ah Mei sama sekali tidak bisa tenang. Ia khawatir perihal Yue yang akan membongkar rahasianya. Sejauh ini Gu Zheng tetap menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak ada dari mereka yang saling membongkar rahasia.
Gu Zheng juga mengerahkan beberapa orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Yue. Ia yang akan menemukan Yue terlebih dulu dari pada pria itu ataupun Kaisar An.
Meski tidak sepenuhnya tahu apa tujuan Gu Zheng yang sebenarnya, tapi Ah Mei yakin kalau pria itu berniat tidak baik dengan memanfaatkan posisinya yang sekarang.
Bagaimanapun juga ia akan mempertahankan posisinya yang sekarang, apapun caranya. Ia tidak ingin kembali ke keluarga Huo. Kembali pada ayahnya. Tidak akan pernah.
Di luar dugaan bahwa jepit emas itu berasal dari Kaisar An semakin membuat Ah Mei terpojok. Ada kemungkinan Kasiar An tahu siapa pemilik jepitan emas itu yang sesungguhnya.
Tapi yang membuat Ah Mei sangat penasaran adalah kenapa Gu Zheng melakukan hal ini pada Yue yang jelas-jelas pria itu tahu siapa Yue sebenarnya?
"Mungkin aku bisa menjadikan ini sebagai senjataku," gumam Ah Mei. "Jadi di mana gadis penghianat itu?"
"Perbatasan Shicuan, Nona."
"Kau yakin tidak ada yang mengikutimu?"
"Tidak."
"Sampaikan salam hangatku untuk sahabatku tersayang," ujar Ah Mei sembari memberikan bungkusan kain sutra.
Segera setelah menerimanya, sang dayang menyembunyikan bungkusan itu di balik bajunya. Tepat pada saat itu juga seorang gadis menghambur masuk ke dalam kamar Ah Mei.
Dengan cepat Ah Mei mengibaskan tangannya dan menyuruh dayang itu pergi keluar. Tentu juga secara tersirat menyuruhnya untuk segera pergi ke perbatasan Shicuan.
"Kita perlu bicara," kata Xiaoli.
"Aku pikir kau sudah kembali ke kerajaanmu," balas Ah Mei.
__ADS_1
"Jangan sombong, Pelayan," desis Xiaoli.
"Berani sekali kau mengataiku pelayan!" hardik Ah Mei.
"Kau memang pelayan. Pelayan tetaplah pelayan. Aku tahu kau bukan gadis itu. Entah kakakku sadar atau tidak. Yang pasti aku tahu kau bukan gadis yang bertemu denganku tiga belas tahun silam."
"Benar 'kan?"
Saat itulah Ah Mei merasa pertahanannya luruh seketika.
*****
Pesta penyambutan rombongan Lai Xin tiba saat menjelang malam. Tepat saat makan malam hampir siap dihidangkan. Tidak hanya Yue yang menyiapkan makanan untuk mereka, namun juga para istri yang suaminya ikut bepergian dengan Lai Xin.
Yue merasa beruntung bisa berada di tengah-tengah mereka. Apapun akan Yue lakukan untuk membalas kebaikan mereka. Senang rasanya, seperti berada di kedainya sendiri.
"Tambah!" seru salah seorang pria.
Yue bergegas kembali ke dapur setelah mendengar seruan itu. Dibantu oleh beberapa gadis lain. Saat itulah Yue merasa ada yang aneh kala pintu belakang sedikit terbuka. "Nenek, apa itu kau?"
"Yue, bisakah kau membantu kami?" tanya salah seorang gadis.
"Ehm," jawab Yue sambil mengangguk.
"Astaga, kau ini. Apa kau belum meminum obatmu? Lihat, Nenek Niu sudah membuatkannya untukmu. Pasti beliau lupa memberikannya padamu karena terlalu sibuk. Cepat minum, sebelum dia marah," kata gadis itu.
"Kau benar." Segera Yue menyambar mangkuk itu dan menghabiskannya.
Seketika setelah meminum obat itu, Yue merasa sesak. Sulit untuknya bernafas. Ia bahkan terbatuk beberapa kali. Saat itu Yue tersadar gadis itu menjerit melihat darah yang Yue muntahkan.
Kakinya terlalu lemas untuk menopang tubuhnya yang seperti terbakar. Akhirnya Yue pun terjatuh di atas lantai dengan suara berdebum keras.
"Nenek!" seru gadis itu.
Sontak seluruh warga yang mendengarnya berbondong-bondong masuk ke dalam dapur umum termasuk Nenek Niu dan Lai Xin. Mereka berlutut di samping Yue yang berlumuran darah sembari memeriksa keadaan.
"Yu-Yue meminum obat dari Nenek, lalu dia jadi seperti itu," isak gadis itu.
Segera Nenek Niu mengedarkan pandangannya ke lantai dan menemukan benda itu. Wanita tua itu mengambil mangkok bekas obat dan mengendusnya. "Racun."
"Racun?" tanya Lai Xin memastikan.
"Cepat baringkan dia di atas tempat tidur," ujar Nenek Niu.
Dua orang pria maju untuk menggendong tubuh lunglai Yue dari lantai dan berlari kecil menuju kamarnya. Lai Xin terlihat sangat cemas begitu juga Nenek Niu.
"Semoga saja janinnya tidak apa-apa."
Tbc....
__ADS_1