Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XLVI


__ADS_3

Gu Zheng berharap kudanya bisa berlari lebih cepat lagi. Tapi nampaknya kuda itu pun sudah sampai pada batasnya. Ia memacu kuda itu secara gila-gilaan untuk bisa sampai di perbatasan Negeri Gong.


Kalau bukan karena surat dari An Xiaoli, Gu Zheng tidak akan di sini. Sungguh, ia bersyukur karena itu.


Harusnya Gu Zheng yang menjaga Yue, ia juga harusnya menggandakan jumlah pengawal untuk menjaga keselamatan istrinya itu. Mengingat Ah Mei bebas di luaran sana.


"Kumohon, bertahanlah."


Gu Zheng bersumpah, jika terjadi sesuatu pada Yue, ia akan mencari Ah Mei sampai ke liang lahat sekali pun.


Ia melepaskan Ah Mei hanya karena permintaan Xu Wei. Dan sekarang apa? Dengan lancangnya gadis itu hendak mencelakai ibu dan istrinya.


Tidak bisa disebut penyesalan. Lebih pada, kurang tepatnya Gu Zheng kali ini mengambil keputusan dengan melepaskan Ah Mei. Dan sekali lagi, harusnya ia melemparkan gadis itu ke tempat pengasingan.


Gu Zheng mengenyahkan pikirannya saat melihat tidak jauh di tepian tebing, Yue yang tengah dipojokkan oleh beberapa orang berpakaian hitam.


"Apa yang kalian lakukan?!"


Kikikan kuda Gu Zheng saja sudah membuat orang-orang itu mundur dan menjauh. Ditambah dengan suara teriakannya, berhasil membuat para pemburu bersiaga dengan senjata mereka.


Dengan lincah Gu Zheng menghampiri Yue dan menyembunyikannya di belakang punggungnya. Hatinya terasa ngilu saat melihat anak panah bersarang di punggung bahu kanan gadis itu.


Yakin suaranya akan bergetar khawatir saat dirinya angkat bicara ataupun bertanya pada Yue, sebab itu Gu Zheng lebih memilih diam dan berfokus pada sekumpulan pemburu di depannya.


Salah satu dari mereka yang paling berani mulai bergerak maju dan menyabetkan pedangnya. Harus Gu Zheng akui, mereka sangat ahli dalam berpedang.

__ADS_1


Paman Qing Xi yang masih tertinggal di bawah bukit sepertinya tidak bisa membantunya untuk melindungi Yue. Yang bisa Gu Zheng lakukan sekarang hanya bertaruh.


"Pergilah," perintah Gu Zheng.


"Tidak. A-aku akan membantumu."


"Apa tang bisa kau lakukan dengan bahu terluka seperti itu?!" bentak Gu Zheng.


Ini bukan saatnya untuk berdebat, tapi lucunya sekarang ia melakukannya dengan gadis yang berhasil mengambil seluruh kehidupannya.


"Aku bukanlah Yue yang lemah seperti dulu."


Tanpa diduga, Yue mengambil pedang pendek dari sisi kanan ikat pinggang Gu Zheng. Menariknya begitu mudah dan hanya menyisakan sarung pedang kosong.


Beradu punggung dengan Yue dalam sebuah perkelahian pedang sama sekali tidak ada di bayangan Gu Zheng, terpikirkan pun tidak pernah. Ia takjub saat melihat gadis itu melindungi bagian belakangnya.


Bahkan gaya berpedang Yue pun mirip dengan Lai Xin. Mudah bagi Gu Zheng untuk menyesuaikan diri karena Lai Xin, dirinya dan Fang Wei berasal dari perguruan yang sama.


"Setelah ini selesai, aku akan menguncimu di dalam istana selamanya. Jangan harap kau bisa dengan mudah keluar dari istanaku," seringai Gu Zheng di sela-sela tangkisannya.


"Coba saja kalau bisa, Yang Mulia."


****


Di balik pepohonan Ah Mei bersembunyi. Memantau keadaan. Sejauh ini masih bisa dikatakan aman.

__ADS_1


Sial sekali Xiaoli berbalik menghianatinya. Ia pikir, Putri dari kerajaan An itu tidak akan ikut campur lagi dalam urusannya. Tapi ternyata, ia salah.


Gadis itu malah mengirim orang untuk mengabarkan pada Gu Zheng tentang rencana penyerangannya terhadap Yue. Entah bagaimana gadis itu bisa tahu.


Akhirnya ia bisa melihat paras Gu Zheng lagi, batinnya. Ah Mei begitu merindukan pria itu hingga ingin mati rasanya.


"Aku ... tidak ada seorang pun yang bisa merebutmu dariku," gumamnya.


****


"Kumohon, pergilah. Aku tidak ingin melihatmu terluka lebih dari ini," pinta Gu Zheng dengan amat sangat.


"Kau tahu, aku tidak akan pergi dari sini."


"Kalau begitu pergilah kalian bersama ke neraka!" teriak salah satu dari pemburu yang mulai kewalahan.


Hanya untuk Yue. Ya, hanya itu yang bisa Gu Zheng lakukan. Tahu bahwa ayunan pedang dari pemburu itu tidak disadari kedatangannya oleh gadis itu. Alhasil, ia lah yang harus berkorban.


Merelakan mata kirinya tersayat. Sontak hal itu membuat Yue dan seorang gadis lain menjerit.


Gu Zheng terhuyung antara sadar dan tidak. Pandangannya kabur dan berubah merah. Ia bahkan tidak yakin bisa merasakan mata kirinya lagi.


Nahasnya kesempatan itu dimanfaatkan oleh pemburu yang bertahan untuk mendorong Gu Zheng ke tepian tebing.


"Tidak!"

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2