Guzheng of The Moon

Guzheng of The Moon
XIX


__ADS_3

"Bibi! Kau di mana?" teriak Yue, gadis itu langsung menghambur ke dalam kedai dan meninggalkan Gu Zheng di depan pintu. Gu Zheng tahu Yue tidak sabar ingin bertemu dengan bibinya. Keinginan kecil Yue yang ingin ia kabulkan sebelum gerbang istana benar-benar tertutup untuk gadis itu.


"Nona!" pekik salah seorang pria.


"Feng Dong!"


Pria itu berlari menghampiri untuk menyambut Yue dan diikuti oleh beberapa pria di belakangnya. Gu Zheng yang melihatnya sedikit menyernyitkan dahi. Nyaris ia ingin menubruk pria itu agar tidak terlalu dekat dengan gadisnya.


Rasa kesal semakin kentara saat Gu Zheng memperhatikan sikap Yue yang biasa saja terhadap mereka. Ia tidak suka. Secara sembunyi-sembunyi ia memang memerintahkan seseorang untuk memata-matai Yue, melaporkan setiap keseharian gadis itu. Tapi ia tidak mengira akan begitu banyak pria yang singgah di kedai. Andaikan Gu Zheng tahu sebelumnya, ia pasti akan meratakan kedai itu dengan tanah agar para pria itu menjauh dari gadisnya.


Sikap yang sama sekali berbeda, batinnya. Yue telihat berbeda saat di sini, sedangkan saat bersama dengan dirinya, Yue tidak pernah tertawa lepas seperti itu.


"Nona, bagaimana kau bisa pulang?" tanya Feng Dong. "Nyonya bilang kau tidak akan pernah pulang lagi."


"Aish, ini rumahku. Aku bisa pulang kapanpun aku mau," balas Yue.


"Syukurlah. Kedai jadi sepi saat kau tidak ada, Nona." Feng Dong beralih pandang pada Gu Zheng. "Kau membawa teman, Nona?"


"Shhh, jangan bersikap tidak sopan padanya ya. Kalau kau tidak ingin ...," bisik Yue sambil menaruh kelima ujung jarinya pada leher jenjangnya. Dan mengerakkannya secara horizontal.


"Apa kau tidak ingin memperkenalkanku pada mereka?" tanya Gu Zheng dengan tidak sabar.


"Ah, maafkan saya. Ini Feng Dong, Yang ... Nona Gu." Yue menggigit kecil lidahnya yang nyaris kelepasan. "Dia salah satu pekerja di sini."


"Yang itu Ong Lan, Tse Xian, Ming Li," kata Yue sambil menunjuk dengan cepat.


Gu Zheng bahkan tidak peduli dengan nama mereka semua. Terserah saja. Ia memandang Feng Dong tajam. Mengintimidasi lebih tepatnya. Harusnya Gu Zheng tahu bahwa kedai Paman Hwang dipenuhi dengan para pria. Sekarang ia menyesali keputusannya karena telah menyerahkan Yue pada pria itu untuk diasuh.


"Nona, temanmu itu, kenapa dia memandangiku seperti itu? Apa dia suka padaku ya?" bisik Feng Dong.


"Itu tidak mungkin! Dia itu pri...." Yue melirik Gu Zheng cepat.


"Pri?"


"Primadona di desanya. Ya, dia dari desa seberang. Tidak mungkin dia akan menyukaimu." Yue mengatakannya sambil tertawa kering. "Lagipula dia sudah punya orang yang disukainya."


Yaitu, aku! Jerit Yue dalam hati.

__ADS_1


"Sayang sekali, padahal dia cantik sekali," kata Feng Dong dengan wajah kecewa yang tampak dibuat-buat.


"Apa Paman dan Bibi ada?"


"Sebenarnya, tadi Tuan pergi ke pasar dengan Nyonya. Tapi, entah apa yang membuat mereka pulang cepat dan tergopoh seperti orang kesetanan. Ia memerintahkan kami semua untuk bersih-bersih dan mengganti semua kelambu dengan warna merah," jelas Feng Dong. "Nyonya bahkan mengeluarkan manisan terbaiknya. Sekarang mereka ada di atas, Nona."


Tanpa berlama-lama, Yue menarik lengan baju Gu Zheng. Menggeretnya seperti sapi.


"Aku akan ke sana sendiri," ujar Yue pada Feng Dong. "Senang bertemu dengan kalian lagi."


Lagi-lagi senyum itu, senyum yang tidak pernah Gu Zheng lihat. Dan sayangnya ditujukan bukan untuk dirinya.


******


Gu Zheng berhasil menjadi sebuah tontonan. Beberapa pelanggan pria bahkan tidak segan bersiul untuk memuji pria itu. Yang bisa Yue lakukan hanya berusaha setenang mungkin. Ia tidak ingin kepulangannya malah menimbulkan kekacauan yang tidak perlu. Kalau dipikir-pikir salah Gu Zheng juga, kenapa pria itu begitu cantik.


Ia menggeret lengan baju Gu Zheng dan melepaskannya saat hendak menaiki tangga. Tapi pria itu malah berganti menyambar lengannya.


"Jangan lakukan hal seperti itu lagi," desis Gu Zheng.


Gu Zheng tidak menjawabnya dan berjalan mendahului Yue. Dalam hati Yue terus bertanya, apa salahnya?


Sesampainya di atas tangga. Yue kembali membimbing Gu Zheng ke sebuah kamar, tempat di mana biasa paman dan bibinya bersantai.


Setelah membuka pintu, apa yang ia lihat? Seakan mereka tahu akan kepulangan dirinya, Bibi Hwang langsung berdiri dari kursinya dan menghampiri. Nampaknya mereka sengaja menunggunya.


"Kau tampak sehat," kata Bibi Hwang.


Tentu Yue memeluk bibinya dan menghirup dalam-dalam aroma yang ia rindukan. Bau seorang ibu yang ia kenal.


"Aku merindukan kalian," isak Yue.


"Kau ini. Tidak baik anak gadis yang hendak menikah mengucapkan hal seperti itu, kau sudah menjadi milik keluarga laki-laki. Bukan begitu, Yang Mulia?" kata Paman Luo.


Yue sedikit terkejut saat pamannya mengenali sang Kaisar. Ia melotot saat melihat Gu Zheng. Ia menuntut penjelasan.


"Aku memang mengirimi mereka surat sebelumnya. Bahwa hari ini aku akan datang," jelas Gu Zheng santai.

__ADS_1


"Ah, silahkan dukuk. Mari, Yang Mulia."


Bibi Qing dengan cekatan menuangkan minuman untuk mereka semua. Dan menyajikan sekotak manisan yang bahkan dulunya Yue dilarang menyentuh kotak manisan itu. Ia tidak pernah diijinkan untuk mencicipinya barang sedikit pun.


"Ini manisan terbaik dari desa tempat asal saya, Yang Mulia. Silahkan dicicipi," kata Bibi Qing.


Gu Zheng dengan sopan mengambil manisan itu dan mencicipinya. Yue hanya bisa menelan ludah.


"Apa aku masih tidak boleh mencicipinya, Bibi?" tanya Yue blak-blakan.


"Kau ini, ini bukan untuk anak kecil," balas Bibi Qing.


"Mana ada manisan yang pilih-pilih seperti itu. Manisan ya manisan, dimakan oleh semua orang, dari anak kecil sampai orang tua."


Bukannya mendapat izin, Yue malah mendapatkan cubitan di pahanya. Bibi Qing mengedipkan matanya dan menyuruhnya untuk diam.


Gu Zheng terkekeh saat melihat Yue mengaduh. "Paman, boleh saya permisi? Saya merasa kurang nyaman menemui kalian dengan penampilan seperti ini."


"Oh, silahkan. Mari saya antar," kata Paman Luo cepat. "Sayang sekali padahal sangat cantik."


Kalimat terakhir Paman Luo yang diucapkan lirih terdengar oleh istrinya. Segera Bibi Qing melayangkan tepukan keras pada paha suaminya. Lalu tertawa segan pada sang Kaisar.


"Silahkan, Yang mulia."


Yue ditinggal sendirian bersama bibinya. Ia masih merasakan sakit bekas cubitan dari bibinya. Ia bahkan tidak segan mengusap pahanya di hadapan bibinya.


"Memangnya kenapa? Aku 'kan juga ingin mencicipi manisan itu," kata Yue sambil cemberut.


"Apa kau tidak ingat saat terakhir kali kau mencuri manisan itu dari rak di kamar bibi?"


"Kapan aku pernah mencurinya?" tanya Yue.


"Ini, ini. Karena itu kau jangan pernah sekalipun menyentuh manisan dari kotak hitam ini, mengerti?"


Dengan berat hati Yue mengangguk dan menurut.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2